Siapa sangka. Hidup bahagia bersama pria yang sangat dicintai Lala kandas begitu saja hingga akhirnya dia dijuluki sebagai pelakor. Kesabarannya telah habis hingga ia memutuskan menikah dengan pria lain. Sayangnya, Rama tidak membiarkan Lala bahagia. Dia terus mengusik hidup Lala karena baginya Lala adalah miliknya.
Bukan hanya itu saja. Pria yang dinikahi Lala juga memiliki segudang rahasia. Lala merasa frustasi melihat takdir hidupnya yang tidak pernah memihak kepadanya.
Akankah Lala bisa meraih kebahagiaan yang selama ini ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BP. Bab 17
Lala terbangun ketika mendengar suara petir. Hujan turun dengan deras dan cahaya kilat begitu mengerikan. Angin yang kencang juga membuat udara menjadi semakin dingin. Musim hujan telah tiba. Terkadang satu minggu bisa beberapa kali turun hujan.
Lala duduk di ranjang sambil memeluk guling. Wanita itu terlihat ketakutan. Jendela terbuka hingga menimbulkan suara benturan yang keras.
"Mas, tutup jendelanya," ujar Lala. Dia masih belum sadar kalau malam ini tidur di rumah Rena. Lala menyangka kalau dia ada di kamarnya dan di sampingnya ada Rama yang selalu siaga untuk menjaga dan melindunginya dari bahaya.
Lala menutup wajahnya ketika petir yang kesekian kalinya muncul. Debaran jantungnya menjadi tidak karuan. Kedua kakinya seperti kaku dan sulit untuk melangkah. Hal yang paling menakutkan pun muncul. Listrik padam hingga membuat suasana kamar itu semakin mengerikan. Suara benturan jendela dan kilat-kilat petir membuat Lala semakin tidak berani membuka mata.
"Mas Rama. Tolong Mas," lirih Lala.
Sebuah tangan memegang lengan Lala. Tangan itu sangat dingin hingga membuat Lala terperanjat kaget. Seorang pria berdiri dan membelakangi jendela. Lala semakin ketakutan. Dia berusaha mundur agar ada jarak antara dirinya dan pria asing tersebut.
"Siapa kau? Pergi!"
Lala baru sadar kalau dia tidak ada di rumah. Wanita itu semakin pucat ketika pria asing itu berjalan mendekatinya.
"Siapa kau? Pergi! Pergi!"
Lala menutup wajahnya dengan bantal. Ia memeluk bantal itu dengan tubuh gemetar. Ketakutan itu sungguh tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata lagi. Lala trauma dengan sebuah kejadian. Ya, ini bukan pertama kalinya dia di hadapkan keadaan menakutkan seperti itu. Dulu saat dia masih berusia belasan tahun, Lala pernah hampir di perkosa oleh sosok yang tidak dikenalinya. Beruntung tetangga ada yang mendengar jeritannya hingga akhirnya dia bisa selamat.
Malam ini, trauma masa lalu itu kembali muncul. Lala benar-benar takut. "Pergi! Tolong Tolong!"
"La, apa Lo baik-baik saja? La!" Rena menepuk pelan pipi Lala. Wanita itu menjerit dengan kedua mata terpejam. Rena sangat panik ketika mendengar teriakkan Lala di kamar. Ia khawatir. Dia takut terjadi sesuatu terhadap sahabatnya. "La ... bangun."
Lala segera membuka kedua matanya. Melihat Rena ada di sana ia cepat-cepat memeluk wanita itu. Menangis sejadi-jadinya karena masih terbawa-bawa mimpi buruk yang baru saja dia alami.
"Pria itu. Dia pasti ingin membunuhku. Dia pria jahat," ujar Lala dengan air mata yang mengalir deras.
"Siapa La? Gak ada siapa-siapa di sini," jawab Rena.
Lala memperhatikan ruangan tersebut dengan saksama. Napasnya terlihat putus-putus seperti baru saja lari mengitari lapangan bola. Keringat membuat baju yang ia kenakan basah. Lala berangsur tenang ketika dia sudah sadar kalau semua kejadian buruk itu hanya sebuah mimpi buruk. Walau memang terasa seperti nyata. Bahkan lokasi dan waktunya sama persis.
"La, mimpi buruk ya? Mimpi apa?" tanya Rena. Ia mengambil air minum yang ada di atas nakas dan memberikannya kepada Lala. "Maaf ya, karena tadi gue pulangnya lama. Tamu di resto rame banget."
Lala menerima gelas tersebut dan meneguk isinya secara perlahan. Ia mengatur napasnya agar bisa kembali tenang sebelum menanggapi penjelasan Rena.
"La, maaf ya," bujuk Rena lagi ketika Lala tidak juga menjawab.
"Ren, aku takut. Tadi ada seorang pria berdiri di sana." Lala menunjuk sosok misterius yang di dalam mimpi berdiri di dekat ranjang. Rena mengikuti arah yang di tunjuk Lala sebelum tersenyum.
"Gak ada siapa-siapa. Lo yang tenang ya. Semua akan baik-baik saja kok. Itu cuma mimpi," sahut Rena dengan santai.
Walau memang benar semua itu hanya mimpi, tapi entah kenapa rasa takutnya masih terasa hingga detik ini. Namun, Lala gak mau merepotkan Rena. Wanita itu baru pulang kerja. Sudah pasti dia butuh istirahat. Lala gak mau Rena jatuh sakit karena kurang istirahat.
"Maafkan gue ya," ucap Lala dengan suara serak.
"La, kamar kita deketan. Kalau ada apa-apa panggil aja ya. Gue mau lanjut tidur lagi," pamit Rena. Lala hanya mengangguk. Ia memperhatikan ke jendela yang tertutup gorden dengan begitu rapi. Di lihat-lihat tidak ada tanda-tanda habis turun hujan malam itu. Memang semua hanya mimpi. Sepertinya itulah isi pikiran Lala.
Rena segera beranjak dan melangkah ke pintu. Ia berhenti sejenak dan memandang Lala lagi sebelum memegang handle pintu dan menariknya. Setelah pintu di tutup, Lala tidak lagi bisa melanjutkan tidurnya. Ia mengambil ponsel karena berniat untuk mencari hiburan di sana. Entah itu video comedy atau apapun yang bisa membuatnya merasa kembali tenang.
Wajah Lala terlihat sangat serius ketika pesan yang di kirim Rama terpampang jelas di sana. Wanita itu segera membuka pesan tersebut agar bisa membaca isinya dengan jelas.
Satu persatu kalimat di baca Lala dengan saksama. Wanita itu terlihat sedih ketika selesai membaca pesan yang dikirimkan mantan pacarnya tersebut.
"Mas, sebenarnya berat bagiku untuk berpisah darimu. Tetapi, mau bagaimana lagi? Aku sudah memutuskannya. Keputusan ini sudah mantap. Kita tidak akan pernah bersatu lagi. Maafkan aku Mas," gumam Lala. Ia mengabaikan pesan dari Rama dan membuka sosial media. Wanita itu ingin menyibukkan dirinya sampai hati dan pikirannya kembali tenang.
"Sepertinya menonton kartun adalah solusi yang bagus," guna Lala sambil tersenyum bahagia.
Di detik yang sama. Rena memeriksa pintu dan jendela yang ada di rumahnya. Wanita itu terlihat panik dan ketakutan. Ia melangkah cepat seperti seseorang mengejarnya dari belakang.
"Aku harus menelepon Tuan Robbi. Semoga saja dia belum tidur," gumam Rena di dalam hati.
Rena mengambil ponselnya dan segera menekan nomor Robbi. Wajahnya terlihat berseri ketika panggilan teleponnya tersambung dan di angkat.
"Halo," sahut Robbi di kejauhan sana.
"Tuan, ini Rena. Maaf mengganggu."
"Ada apa Ren?"
"Pak, Lala ada di rumah Rena," ucap Rena. Ia mengatur napasnya sebelum melanjutkan pembicaraannya. "Pak, tolong kami. Seseorang ingin-"
Ponsel itu terjatuh di lantai ketika seseorang memukul kepala Rena dengan balok kayu. Rena tersungkur di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sosok yang sudah berhasil memukul Rena mengukir senyuman tipis.
"Ren, halo! Ren. Apa kau baik-baik saja?" teriak Robbi khawatir.
Sosok misterius itu segera mematikan panggilan telepon tersebut. Ia melempar ponsel Rena ke lantai. Setelah memastikan Rena tidak lagi sadarkan diri, pria itu memandang ke arah kamar Lala. Ia melipat lengan panjang kemejanya sebelum melangkah perlahan untuk masuk ke dalam.
"Mangsa baru. Sepertinya malam ini akan menyenangkan," gumam pria tersebut penuh semangat.