Penjara cinta yang suaminya ciptakan membuat Firda tak tahan lagi . Ia hidup namun tak bisa hidup dengan bebas seperti manusia pada umumnya . Suaminya itu menyuruhnya melakukan hal hal yang tak ia sukai mulai dari Memakai softlens berwarna biru setiap hari , menghadiri les memasak juga menghadiri les piano .
Bukan hanya itu saja , setiap ia pergi keluar dari rumah .Para bodyguard selalu mengikuti dirinya , ia merasa tak nyaman namun ia berusaha berpikir positif bahwa itu semua suaminya lakukan demi keselamatan nya .
Namun semakin hari ia semakin tak nyaman , ia seperti seorang boneka yang hanya bisa pasrah di mainkan dan di atur oleh orang lain . Kebebasan nya seakan terenggut saat ia menikah dengan suaminya itu . Karena merasa lelah dan muak dengan itu semua akhirnya Firda mulai tak menuruti apa mau suaminya . Ia mulai lupa mengenakan softlens biru yang suaminya suruh pakai setiap hari .
Awal nya ia kira suaminya tak akan marah namun justru ia salah . Suaminya murka dan mengamuk hingga berakibat kekerasan dalam rumah tangga yang ia alami .Hal itu semakin membuat Firda tak kuat lagi menjalankan rumah tangga nya , keinginan nya untuk mengakhiri rumah tangga nya semakin kuat setelah mengetahui fakta bahwa suaminya menikahi dirinya hanya karena ia mirip dengan istri laki aki itu yang sudah meninggal . Hatinya semakin hancur kala mengtahui jika perintah perintah yang suaminya berikan hanya lah agar dia terlihat semakin mirip dengan mendiang istrinya .
Hingga akhirnya wanita itu memilih pergi mulai dari meminta cerai yang suaminya tolak mentah mentah. Hingga memalsukan kematian nya sendiri agar terbebas dengan dari cengkraman sang suami .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 . Tinggal di rumah nya .
" Bagaimana teh buatan ku , apa kamu menyukainya ?" Tanya Farel yang baru datang setelah mengganti bajunya .
" Enak....ada aroma bunga di dalam teh nya . Apa kah ini terbuat dari bunga ?" Tanya Firda penasaran. Farel tersenyum dan duduk di hadapan Firda .
" Bukan ...aku hanya menambahkan sedikit ekstrak bunga di dalam nya . Oh iya ini baju ganti untuk mu . " Ucap Farel menyerahkan sebuah baju tidur untuk Firda kenakan .
" Terimakasih , tapi ini baju siapa ? " Tanya Firda begitu penasaran karena baju yang Farel serahkan adalah baju wanita .
" Itu milik istri ku . Kebetulan sudah lama tak di pakai jadi pakai lah . " Ucap Farel seraya meraih teh hangat untuk dirinya sendiri dan meminum nya perlahan .
" Kamu , sudah menikah ?, di mana istri mu aku akan berterimakasih padanya. " Ucap Firda mencari cari keberadaan istri Farel . Farel terkekeh pelan melihat Firda begitu kebingungan mencari keberadaan istrinya .
" Istri ku sudah lama pergi dan belum kembali sampai sekarang . " Ucap Farel terdengar sendu di telinga Firda . Rasa iba menjalar di hati Firda ...wanita itu juga merasa bersalah karena telah membahas hal yang membuat laki laki di hadapannya bersedih .
" Maafkan aku , aku tak tau kalau istrimu telah tiada . " Ucap Firda dengan wajah tak enak hatinya .
" Tak apa ...dia tidak meninggal . Dia hanya pergi ke suatu tempat yang aku sendiri tak tau di mana itu . Mungkin aku telah mengecewakan hatinya oleh sebab itu ia memilih pergi dari pada bertahan dengan orang seperti ku . " Ucap Farel tersenyum getir merenungi nasib nya .
" Jangan bilang begitu . Aku tau kamu orang yang baik , terlihat dari cara mu bicara dan berprilaku . Mungkin istrimu ingin sendiri dulu untuk menenangkan dirinya , aku yakin suatu saat istrimu akan kembali kedalam pelukan mu karena kamu orang yang baik . " Ucap Firda tersenyum tulus , Farel terdiam sesaat memikirkan apa yang Firda katakan membuat hatinya sedikit lebih tenang .
" Terimakasih sudah mengatakan hal itu , jujur saja aku sedikit tenang mendengar nya . Oh iya kenapa kita malah mengobrol . Cepat ganti baju mu dulu , aku takut kamu masuk angin nanti jika masih mengenakan baju itu . " Perintah farel tak dapat Firda tolak .
" Kamar mandi nya di mana ?"
" Di dalam kamar itu . " Tunjuk farel pada sebuah kamar yang berada di samping dapur .
" Kalau begitu aku pergi dulu . " Ucap Firda berlalu pergi seraya menenteng pakaian di tangan nya .
Farel kembali terdiam dan mengamati seisi rumah nya . Kenangan sang istri begitu kental di sana . Sekilas bayangan bayangan istrinya muncul membuat hatinya perih dan ingin rasanya ia menangis karena terlalu merindukan istrinya itu .
Terbesit niat ingin menyusul istrinya dan mencarinya ke luar negeri namun , ia takut istrinya marah dan meminta cerai padanya . Katakan lah farel terlalu mencintai sang istri hingga ia tak bisa marah ataupun kecewa padanya . Bahkan jika istrinya menyakiti hatinya ia hanya bisa memaafkan tanpa mau membalas .
Farel merasa dirinya sangat bodoh meski istrinya telah menyakitinya berkali kali tetap saja ia tak bisa membenci wanita itu karena terlalu mencintainya . Ia sudah di buatkan oleh cinta .
Setelah lama terdiam dengan pikiran nya sendiri , farel pun segera bangkit dan menengok bunga di rumah kaca nya yang sudah lama sekali tak ia lihat ...
Dengan penuh kasih sayang Farel menyirami bunga bunga itu . Meski tak pernah pulang kerumah ia selalu menugaskan seseorang untuk sesekali menengok dan merawat bunga bunga nya . Oleh sebab itu bunga bunga miliknya terlihat sangat indah dan segar .
" Ternyata anda di sini . " Ucap Firda yang telah berganti dengan pakaian yang Farel berikan . sesaat Farel terdiam mengamati wanita yang kini berada di hadapannya . Melihat baju istrinya di kenakan oleh wanita lain rasanya farel tak terima. Namun ia juga tak punya pilihan lain karena hanya baju baju istrinya yang ada di rumah itu .
" Boleh saya masuk ke rumah kaca ini dokter ?" Tanya Firda di ambang pintu rumah kaca itu membuyarkan lamunan Farel .
" Masuk lah . " Ucap Farel pelan ...
Dengan langkah perlahan Firda pun memasuki ruang kaca itu , banyak sekali bunga yang membuat suasana hatinya senang dan tenang .
" Apa ada bunga dandelion dokter ?" tanya Firda menelusuri penjuru rumah kaca itu berharap menemukan bunga kesukaan nya .
" Bunga itu sulit untuk di pelihara karena sangat rapuh . " Ucap Farel tersenyum tipis .
" Berarti dokter tak memelihara nya ya ?" Tanya Firda sedikit kecewa karena tak dapat melihat bunga kesukaan nya itu .
" Saya memang tak memiliki nya namun saya mempunyai lukisan dandelion di rumah kaca ini , sebentar saya perlihatkan padamu ya . " Ucap Farel berjalan pada sebuah meja yang berada di tengah tengah rumah kaca itu . Di tengah tengah meja terdapat sebuah lukisan bunga dandelion yang sangat cantik berada di tengah hamparan Padang rumput yang begitu indah .
" Ini lihatlah . " Ucap Farel meraih lukisan itu dan menunjukan nya kepada Firda .
" Wah ... ini sungguh lukisan yang inda , apa dokter juga bisa melukis ?" Tanya Firda penasaran .
" Tidak....saya tak bisa melukis , tapi istri saya bisa melakukan nya . Lukisan ini dilukis sendiri oleh nya . " Ucap Farel tersenyum bangga ketika bercerita tentang keahlian istrinya itu .
" Istri anda pasti wanita yang hebat . Terbukti anda begitu memuji dan mencintai dia . " Ucap Firda membuat Farel menghela nafasnya perlahan .
" Ya ...kamu benar . Dia wanita yang hebat , aku sangat mencintai dia namun sayang nya dia tak mau bersama ku lagi . " Lirih Farel pelan .
" Maaf ... lagi lagi saya membuat anda sedih.
" Tak apa , saya tak mempermasalahkan tentang hal itu . " Ucap Farel tersenyum tipis ...
" Dokter , sebaiknya saya mencari kontrakan untuk saya tinggali selagi menunggu jadwal operasi saya . "
" Tak usah pergi tinggalkan di sini saja , lagi pula saya jarang pulang ke rumah ini . Tinggallah di sini sampai oprasi mu berhasil . Kalau kamu tinggal di luar saya khawatir suami mu akan menemukan mu . " Ucap Farel berjalan menuju keran air untuk membersihkan tangan nya setelah selesai menyirami dan juga membersihkan daun daun kering yang tertinggal di batang pohon bunga peliharaan nya itu .
" Baiklah ...maaf sudah merepotkan dokter terlalu banyak . " Ucap Fida merasa tak enak hati karena telah merepotkan laki laki di hadapannya itu .
" Tak masalah ...saya senang bisa membantu wanita tangguh dan sabar seperti mu ." ,ucap Farel tersenyum ramah yang tentu saja membuat Firda sedikit baper dengan sanjungan yang farel berikan .
" Terimakasih dokter sudah mau memberi saya tumpangan tempat tinggal untuk sementara waktu . " Ucap Firda tersenyum tipis . Farel hanya mengangguk .
" Oh iya ...kamu mau makan malam apa . Biar saya masakan ?" Tanya Farel perhatian .
" Tak usah repot repot dokter ini sudah terlalu malam untuk makan . " Ucap Firda tak ingin makan terlalu malam karena tak baik untuk kesehatan .
" Takut gendut ya ..." Goda Farel seraya terkekeh pelan .
" Itu salah satu alasan nya sih hehehe . " Ucap Firda seraya tersenyum . Farel tersenyum melihat senyum kembali terbit di wajah cantik itu .
" Nah gitu senyum sekali kali . Masalah mu akan lebih mudah di hadapi saat kamu yakin dan selalu tersenyum . " Ucap Farel menasehati Firda . Firda hanya mengangguk saja , ia berharap masalah nya akan selesai secepatnya dan ia bisa kembali hidup dengan tenang tanpa gangguan Brian .
..
..
..
Jangan lupa like komen vaf dan hadiah ya.
Dukungan kalian sangat berarti untuk kami para author .
tapi seru juga ....
semangat otor.