COVER FROM PINTEREST
Max Winston menikahi Elena Gilbert bukan semata-mata untuk mempertahankan mansion tua nan mewah milik keluarga Gilbert. Tanpa Elena ketahui, Max telah jatuh cinta padanya sejak lama dan terus memperhatikannya selama 7 tahun. Mansion tua keluarga Gilbert memang salah satu alasan, tapi alasan terbesarnya hanya Max yang mengetahuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[15] Usil Pada Istri
MAX POV
Cahaya matahari masuk ke dalam celah jendela kamar kami. Aku menatap sekitar mengingat kami ternyata masih di hotel. Hari ini, aku harus ke kantor karena ada meeting penting membicarakan beberapa kerja sama yang sudah habis masa kontraknya.
“Hemmm,” Elena bergerak lucu mencari sesuatu yang bisa dia peluk begitu aku melepas pelukannya.
Setiap malam kami selalu tidur bersama dan saling berpelukan, tapi sepertinya itu tidak membuatnya cukup merasakan bahwa hatiku selalu berdegup keras untuknya. Memang sulit meyakinkannya bahwa aku mencintainya, tapi aku yakin hari itu pasti akan datang. Jika bukan hari ini, mungkin esok, keesokannya lagi, dan akan terus ada kesempatan untukku berusaha membuatnya mencintaiku.
“Sekarang atau selamanya, kau hanya milikku,” bisikku di telinganya lalu mengecup pelan keningnya.
Aku meninggalkan ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Semalam aku bertanya padanya mengenai malam pertama yang belum kami lakukan atau bahkan belum bisa tentukan kapan bisa terjadi. Sebenarnya, aku tidak menginginkan perjanjian itu. Ketika aku menyebutkan ingin memiliki keturunan, aku memang bersungguh-sungguh. Siapapun akan bahagia karena bisa memiliki buah hati dari wanita yang dicintainya, tapi aku bukan orang jahat. Aku mengatakan itu karena aku pikir dia tidak akan mungkin menyanggupinya. Nyatanya, El benar-benar ingin segera bisa lepas dari perjanjian kami.
Sekarang aku tidak tahu langkah apa yang sekiranya bisa aku lakukan untuk membuatnya tidak hamil. Aku ingin dia berada di sampingku lebih lama. Aku ingin kami baik-baik saja. Aku ingin semuanya cepat selesai dan aku bisa menceritakan segalanya pada El. Sayang, semuanya tidak mudah dilakukan karena aku harus lebih sabar menunggu kabar dari penyelidikan Teddy. Setiap hari aku sungguh menunggu kabar besar darinya, tapi hingga hari ini kami belum menemukan apapun tentang kematian ibuku dan juga siapa ayah kandungku.
“Max!”
Aku mendengar suara pintu diketuk dan suara serak Elena khas bangun tidur. Aku pun menyebulkan kepalaku dari dalam seraya memegangi pintu.
“Max! Aku ingin pipis, sebentar saja!” katanya membuatku ingin tertawa karena jelas kamar hotel ini tidak hanya memiliki satu ruangan kamar mandi, tapi mengerjainya, aku rasa tidak buruk.
“Aku lagi mandi El! Tubuhku penuh dengan busa!”
“Aku tidak akan melihat! Cepat! Cepat!” El terus mendorong pintu kamar mandi dan aku membiarkannya masuk begitu saja.
Wanita itu segera masuk ke dalam area toilet dan menutup tirai putih yang cukup transparan. Aku hanya bisa terkekeh ketika dia tidak menyadari bahwa aku bisa kapan saja menerkamnya. Rasanya aku ingin teriak padanya bahwa di sini ada serigala yang menyukai kelinci kecil sepertinya.
“Jangan mengintip!” teriaknya dan aku mengangkat bahuku sendiri.
“Kau yang mengintipku! Aku tidak pakai baju tahu!” ucapku menyadarinya yang disusul dengan teriakan serta tangan untuk menutup matanya.
“Kau mesum! Kenapa kau tidak pakai baju?!” marahnya.
“Aku sudah mengatakannya, aku sedang mandi, tapi kau tetap ingin masuk,” ucapku santai lalu berjalan menuju shower untuk membersihkan semua busa di seluruh tubuhku.
“Demi Tuhan! Aku semakin membencimu! Kau mesum! Kau brengsek!” lagi-lagi aku hanya bisa tertawa mendengar umpatannya.
“Aku kira kau sengaja ingin melihatku mandi, Sugar. Lagipula kita bukan lagi orang lain. Dua hari yang lalu, kita sudah sah menjadi pasangan suami-istri,” jelasku dan Elena nampak tidak tertarik dengan pembicaraan ini.
Dia langsung lari keluar begitu usai dengan urusannya, dan tentu saja tidak lupa dengan umpatan terakhirnya.
“Kau gila!” ucapnya membanting pintu kamar mandi dengan wajah marahnya.
***
Hari ini karena pekerjaan yang menumpuk, terpaksa aku tidak bisa pulang cepat. Padahal aku sudah sangat merindukan istriku yang tadi pagi terlihat sangat kesal karena ulah usilku.
“Pak, keputusan akhir dari tim film “Its You” mereka akan menjadikan Hans sebagai sahabat dari pemeran utama dan Queen sebagai pemeran utama wanita,” ucap Rain lalu memberikan beberapa laporan lainnya yang harus aku periksa.
“Untuk 4 film lainnya apakah ada masalah?”
“Tidak apa-apa, seperti biasa Pak Jackson mengenal Bapak dengan baik. Beberapa artis dari agensi kita juga diajak kembali untuk menggarap filmnya. Surat kontrak juga sudah diselesaikan, tidak ada masalah dan besok Bapak harus hadir ke ruang teater jam 10 siang. Kita ada casting untuk perekrutan artis baru dan juga penyanyi solo.”
“Oke, untuk hari ini selesai. Saya akan memeriksa beberapa berkas ini dulu dan kau bisa pulang duluan Rain.”
“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi!” kata Rain seperti biasa dia sangat professional dengan pekerjaannya.
Sekretaris yang menurutku sangat kompeten dan tahu bagaimana menjaga jarak dengan atasannya. Meski dia sangat mengenalku luar dan dalam. Baik hal yang aku suka sampai yang tidak aku suka, tapi dia orang yang tidak terlalu banyak bicara dan ingin tahu. Sesekali dia menunjukkan perhatiannya sama seperti Aaron. Bagiku, Aaron dan Rain sudah aku anggap seperti sahabatku sendiri.
“Oh ya, Rain!” panggilku sebelum dia menutup pintu. “Besok aku ingin kau belikan HP keluaran terbaru untuk El. Aku akan mengajaknya ke kantor untuk melihat casting di teater, dan aku rasa dia butuh HP baru,” ucapku mengingat betapa jahatnya aku pada El karena sudah menyita alat komunikasinya.
Sebenarnya aku tidak berniat mengambilnya. Hanya saja, entah kenapa aku jadi sedikit semakin posesif setelah bisa mendapatkannya berada di sisiku. Aku ingin El meninggalkan semua teman prianya, meski tidak ada hubungan spesial. Aku ingin El hanya menatapku dan aku tahu aku cukup egois mengenai hal ini.
“Baik, Pak!” ucap Rain tersenyum lebar ke arahku. Dia mengangguk dan hilang di balik pintu kantor.
“Senyuman apa itu?” dengusku menggeleng kepala dan ikut tersenyum aneh seperti apa yang Rain lakukan.
Sudah aku bilang, dia sangat mengenalku dengan baik. Pasti aneh menghadapi bos yang baru jatuh cinta sepertiku. Rasanya seperti anak remaja yang baru saja mendapatkan cinta monyetnya. Ya Tuhan! Elena! Kau benar-benar bisa membuatku seperti orang kasmaran.
Aku mengeluarkan HP-ku dari kantong celana dan segera menghubungi Tina. Sebenarnya Jon sudah melaporkan kalau Elena memilih untuk pulang saja daripada di hotel. Aku rasa, itu semua karena dia takut kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan kembali terjadi. Bagaimanapun, di rumah ada banyak pelayan yang pastinya akan menemaninya. Apalagi ada anak Jon yang juga sekarang tinggal di rumah. El pasti akan senang sekali dan merasa kembali hidup seperti memiliki punya keluarga.
“Halo Tuan?” suara Tina diseberang sana membuatku bersemangat ingin tahu kabar istriku. Betapa senangnya bisa menyebut Elena adalah istriku.
“Aku dengar dari Jon, Elena kembali ke rumah. Sekarang apa yang sedang dia lakukan?”
“Oh itu, Nona Elena baru saja kembali ke kamar setelah menghabiskan dessertnya Tuan. Seharian tadi, Nona Elena membantu Ryan mengerjakan tugas pertamanya di sekolah karena tahu Ryan baru saja masuk sekolah. Nona juga mengajarkan beberapa pelajaran lainnya pada Ryan.”
Aku tersenyum diam-diam. Sudah kutebak, dia pasti akan melakukannya. Membawa Ryan ke rumah pasti bukanlah hal yang buruk. El pasti menyukainya.
“Nona Elena sepertinya terlihat semakin baik daripada sebelumnya. Wajahnya tidak lagi pucat dan sangat cantik,” pujinya dan tentu Elenaku memang seperti itu.
Aku senang karena Elena sudah kembali seperti semula. Semoga hal menyeramkan kemarin tidak akan terjadi lagi pada kami. Aku sudah berjanji akan menjaganya lebih ketat dan Jon pun sudah berjanji padaku
“Baiklah, katakan padanya untuk tidak menungguku karena aku masih ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.”
“Baik, Tuan. Saya akan menyampaikannya,” ucap Tina dan aku pun memutuskan sambungan telepon.
Sejenak aku menggelengkan kepalaku dan kembali sibuk dengn pekerjaanku. Aku harus cepat pulang. Aku harus segera menemui istriku! Aku merindukannya.