Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan Pertahanan dan Debu di Ruang Rahasia
Bagi Alistair Thorne, ruang bawah tanah mansionnya adalah sebuah kuil kedisiplinan. Ruangan itu luas, dengan lantai matras hitam yang empuk namun kokoh, dinding yang dilapisi peredam suara, dan rak-rak senjata yang tertata dengan simetri yang sempurna. Setiap pagi, Alistair menghabiskan waktu dua jam di sini, menempa tubuhnya hingga menjadi senjata yang paling mematikan di London.
Namun, pagi ini, kesunyian kuil itu terganggu oleh suara mencicit dari sepatu lari taktis yang sangat dikenalinya.
"Alistair! Kau tahu ini jam berapa? Ini jam tujuh pagi! Bahkan burung-burung di Hyde Park saja masih mengantuk!" Sloane Sterling melangkah masuk ke ruang latihan dengan wajah cemberut. Ia mengenakan kaus kebesaran bergambar kartun yang sudah pudar warnanya dan celana legging hitam. Di tangan kanannya, tentu saja, ada kemoceng bulu ayam yang tampak seperti pedang kehormatannya.
Alistair yang sedang melakukan pull-up di bar besi berhenti sejenak. Otot-otot punggungnya yang keras dan berpeluh tampak menonjol di balik kaus kompresi hitam yang ketat. Ia turun dengan pendaratan yang tanpa suara.
"Nona Sterling," suara Alistair berat, napasnya masih sedikit memburu. "Berdasarkan analisis risiko pasca-insiden di toko sabun tempo hari, saya menyimpulkan bahwa parameter keamanan pribadi Anda berada dalam zona merah. Keberuntungan bukan merupakan strategi pertahanan yang bisa diandalkan. Saya akan melatih Anda teknik bela diri dasar."
Sloane berkacak pinggang, Kaku, kau lupa siapa yang menjatuhkan pria bersenjata itu dengan botol cairan pembersih? Aku ini lulusan jalanan London Timur! Aku bisa mencium bahaya sebelum bahaya itu sendiri menyadarinya!"
Alistair melangkah mendekat, wajah datarnya tidak berubah, namun matanya menatap tajam. "Jalanan melatih Anda untuk lari dan bertahan hidup secara liar. Saya akan melatih Anda untuk melumpuhkan lawan secara sistematis. Serang saya."
Sloane mengerjap. "Apa? Kau serius?"
"Sangat serius secara administratif. Gunakan apa pun yang Anda inginkan. Bayangkan saya adalah debu membandel yang tidak mau hilang dari karpet kesayangan Anda."
Mendengar kata "debu membandel", mata Sloane menyipit. "Oh, kau menantang mawar jalanan ini, ya? Rasakan ini!"
Sloane berlari ke arah Alistair. Ia mencoba melakukan tendangan menyamping yang ia lihat di film-film laga. Namun, karena ia terlalu bersemangat dan tidak memiliki dasar keseimbangan yang benar, kaki tumpuannya justru terpeleset di atas matras.
"Waaaa—!"
Sloane terhuyung ke depan dengan posisi yang sangat ceroboh. Alistair, dengan refleks yang telah terasah selama belasan tahun, tidak menghindar. Ia justru melangkah maju, menangkap kedua pergelangan tangan Sloane, memutar tubuh gadis itu dalam satu gerakan halus, dan menariknya ke dalam kuncian dari belakang.
Dalam sekejap, punggung Sloane menempel erat di dada bidang Alistair yang panas dan lembap karena keringat. Lengan Alistair yang kuat melingkar di bahu Sloane, mengunci pergerakannya sepenuhnya.
"Variabel pertama: Keseimbangan," bisik Alistair tepat di samping telinga Sloane. Suaranya yang rendah dan dalam membuat bulu kuduk Sloane berdiri. "Tanpa pijakan yang logis, serangan Anda hanya akan menjadi senjata bagi lawan Anda untuk menjatuhkan Anda."
Sloane membeku. Seluruh tubuhnya menegang. Ia bisa merasakan detak jantung Alistair yang kuat di punggungnya, aroma maskulin yang bercampur dengan bau keringat yang anehnya tidak membuat Sloane merasa jijik—malah membuatnya merasa... pening.
"Lepaskan... kau terlalu kencang," bisik Sloane, suaranya mendadak kehilangan keberaniannya.
Alistair baru menyadari betapa kecil dan rapuhnya tubuh Sloane di dalam dekapannya. Ia juga menyadari bahwa kulit leher Sloane yang terkena napasnya mulai merona merah. Secara administratif, ini adalah posisi kuncian standar, namun secara emosional, Alistair merasa sistem operasinya sedang mengalami crash.
Ia perlahan melepaskan pegangannya dan mundur dua langkah, berdeham kaku untuk menutupi kecanggungannya. "Ehem. Itu adalah... demonstrasi efek gravitasi terhadap serangan yang tidak terencana."
Sif. "Kau! Kau sengaja pamer kekuatan, kan? Dan... dan kau bau keringat! Kau jorok sekali, Alistair Thorne!"
Sloane berniat membalas perkataan Alistair, namun matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di pojok rak senjata yang terbuka. Ia menyipitkan mata, melangkah mendekat, dan auranya mendadak berubah menjadi jauh lebih berbahaya daripada Alistair saat memegang pistol.
"Alistair Thorne!"
Alistair refleks berdiri tegak dengan posisi siap tempur. "Ya? Apakah ada ancaman infiltrasi?"
"INFILTRASI DEBU!" Sloane menunjuk ke arah rak tempat Alistair menyimpan koleksi pisau taktisnyaannya?! Bagaimana kau bisa bilang tempat ini aman kalau kuman-kuman sudah mulai membangun peradaban di atas pisaumu?!"
Alistair menatap rak pisaunya dengan bingung. "Itu hanya debu mikro, Nona Sterling. Secara teknis tidak mengganggu ketajaman bilahnya—"
"TIDAK PEDULI! Debu itu bisa membuat pisaunya bersin kalau dia punya hidung!" Sloane berteriak, ia benar-benar marah sekarang. Ia kemudian melihat ke lantai matras tempat Alistair tadi melakukan latihan. "Dan lihat noda keringat ini! Kau meneteskan keringat di atas matras dan tidak langsung mengelapnya?! Kau tahu berapa banyak bakteri Staphylococcus yang bisa tumbuh di sini dalam suhu ruangan?!"
Alistair Thorne hanya bisa menghela napas panjang. Ia merasa lebih mudah menghadapi sepuluh pembunuh bayaran daripada menghadapi satu Sloane yang sedang memegang botol disinfektan.
"Nona Sterling, saya baru saja selesai latihan, saya berniat membersihkannya setelah—"
"TIDAK ADA SETELAH-SETELAH! GANTUNG JAKET TAKTISMU DI LUAR SEKARANG DAN KELUAR DARI SINI!" Sloane menyambar sebuah botol semprotan cairan pembersih yang entah bagaimana sudah ada di kantong legging-nya. "Aku tidak bisa belajar bela diri di tempat yang belum lulus uji higienis! Pergi! Mandi! Dan jangan berani kembali sebelum kau harum sabun!"
Sloane mulai menyemprot matras dengan semangat juang yang luar biasa, seolah-olah ia sedang menembaki musuh bebuyutannya.
Alistair menatap jas taktisnya yang tadi ia letakkan di bangku. Ia mengambilnya dengan wajah pasrah. "Baiklah. Saya akan... melakukan prosedur pembersihan diri secara menyeluruh."
Ia berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia berhenti dan berbalik sejenak melihat Sloane yang sedang menggosok matras dengan sangat bertenaga sampai-sampai wajahnya memerah.
"Nona Sterling?"
"APA LAGI?!" teriak Sloane tanpa menoleh.
"Gerakan kaki Anda tadi... sebenarnya cukup lincah. Hanya saja... Anda terlalu banyak bicara saat menyerang."
Sloane membeku sejenak, wajahnya kembali memanas mendengar pujian (atau kritikan?) itu. Ia tidak menoleh, tapi ia melempar kemocengnya ke arah pintu—yang tentu saja ditangkap oleh Alistair dengan mudah.
"PERGI SANA, TUAN KAKU! SEBELUM AKU MENYEMPROT MATAMU DENGAN CAIRAN LEMON INI!"
Alistair Thorne melangkah keluar dari ruang bawah tanah dengan senyum tipis yang sangat langka menghiasi wajahnya. Ia menyadari satu hal: meskipun Sloane Sterling adalah asisten rumah tangga yang paling ceroboh dan paling berisik di London, ia adalah satu-satunya orang yang bisa membuat sang penguasa kegelapan merasa... seperti berada di rumah.
To be continued....