kisah ini bercerita tentang seorang Dewa yang bereinkarnasi. saat kelahirannya dia terpaksa harus melihat kematian ibunya.
Dia tumbuh menjadi seorang genius yang berdiri di atas orang lain dengan tujuan untuk membalaskan kematian ibunya.
peringatan!! banyak adegan dewasa.
di sarankan pembaca harus bijak!!!
jika suka mohon tinggalkan jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahrul Hadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter.17 Siasat Klan Qin.
"Apa yang dilakukannya?. Dia tidak mungkin melakukan tindakan pengecut seperti itu!" Xia Zhi merenung, setelah mendapatkan berita dari pelayannya. Karena penasaran, ia segera pergi meninggalkan istana untuk menemui Yun Ling.
Di kamar. Yun Ling sedang melakukan alkemia, membuat pil. Api tengah membakar tungku, butiran-butiran keringat membasahi dahi Yun Ling.
Tok... tok...
Suara ketukan di pintu kamar, tidak lama kemudian pintu di buka. Masuk Xia Zhi kedalam kamar, Dia melihat Yun Ling yang tengah melakukan alkimia.
''Dia... seorang alkemis?" Batin Xia Zhi terkejut, tidak menyangka bahwa Yun Ling adalah seorang alkemis.
Xia Zhi duduk diam di sana. Dia menunggu dan mengamati Yun Ling.
Deg... deg...
Berdebar jantung Xia Zhi, saat Dia terpesona. Melihat wajah serius Yun Ling tanpa topeng yang di hiasi butiran keringat.
''Argh... Dia begitu tampan. Saat Dia serius.'' gumamnya.
Tungku mulai bergetar, menandakan ini adalah tahap terakhir dalam pembuatan pil. Kemudian tungku kembali tenang, Yun Ling menghembuskan nafasnya.
Yun Ling telah selesai membuat pil. Dia berdiri membuka tutup tungku, dan lalu mengeluarkan 5 pil tingkat 4.
''Ini pasti pil melebihi tingkat 3. Apakah kamu alkemis lebih dari bintang 3?" tanya Xia Zhi mendekati Yun Ling, saat Dia mencium aroma yang di keluarkan pil.
"Ya... ini pil esensi spirit tingkat 4 kualitas tinggi. Ambilah,.. ini untukmu?" Yun Ling menaruh pil di dalam sebuah wadah dan menyerahkannya pada Xia Zhi.
"Aku belum memerlukannya! kamu simpan saja. Nanti aku minta, jika aku sudah memerlukannya." Xia Zhi tidak menerima pil itu.
"Ambil saja.., aku masih banyak pil ini." Yun Ling mengambil tangan Xia Zhi, dan menaruh pil diatasnya.
"Baiklah.. kalau begitu, terimakasih!" Ucap Xia Zhi menyimpan pil kedalam cincin penyimpanannya.
"Aku tunangan mu.., jadi tidak perlu berterimakasih. Kelak semua milikku juga milikmu!" Ucap Yun Ling sambil duduk di kursi. Lalu Dia meminum teh di atas meja.
Blush...
Wajah Xia Zhi bersemu merah, mendengarkan ucapan Yun Ling. Dia berjalan dan ikut duduk di sebelah Yun Ling.
"Ada apa kamu kesini? tidak mungkin kamu hanya ingin melihatku, kan." tanya Yun Ling.
''Ah... hampir lupa aku. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar kau memotong tangan tuan muda Qin?" Xia Zhi teringat tujuannya mendatangi Yun Ling, yang hampir saja Dia lupakan.
"Oh... iya, aku melakukannya. Itu sebuah anugrah untuknya karena aku tidak membunuhnya. Jika saja Asosiasi alkemis tidak melindunginya, dengan cara menahannya." ucap santai Yun Ling sambil menikmati teh.
"Kenapa kau begitu gegabah? berita kau dengan arogannya menggunakan status sebagai tunangan ku untuk memotong tangan Tuan muda Qin. Sudah menyebar di ibukota." ucap Xia Zhi sedikit kesal, membahas berita yang beredar.
"Apa kamu mempercayainya?" tanya Yun Ling menatap Xia Zhi.
"Tidak.., aku hanya kesal Orang-orang menjelekan kamu!'' balas Xia Zhi menatap Yun Ling.
Yun Ling menarik Xia Zhi, sampai duduk di pangkuannya. ''Tidak perlu kesal. Hanya karena berita sepele seperti itu?'' Yun Ling memainkan anak rambut Xia Zhi.
Sedangkan Xia Zhi terdiam, syok. Ketika Yun Ling membuat dirinya duduk di pangkuannya. Namun Dia tidak menolak duduk di pakuan Yun Ling, malah menikmati momen itu.
Cup... saat Xia Zhi masih diam, duduk di pangkuan. Yun Ling mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Xia Zhi.
''kamu mencuri ciuman pertamaku!'' Xia Zhi memelototi Yun Ling.
''Apa aku tidak boleh mencium mu?'' Yun Ling tersenyum melihat keterkejutan tunangannya ini.
''Bukan begitu, setidaknya kamu bilang kalau mau mencium ku.'' Xia Zhi menundukkan kepala, malu.
Yun Ling menarik dagu Xia Zhi, membuat mereka bertatapan. ''Apa aku boleh mencium mu?''.
Xia Zhi hanya mengangguk kecil, sebagai jawaban. Yun Ling mendekatkan wajahnya ke wajah Xia Zhi. Cup... bibir mereka berdua bertemu. Xia Zhi hanya diam, membiarkan Yun Ling menikmati bibir tipis miliknya.
''Emz... emz...'' lenguh Xia Zhi terbuai permainan lembut bibir Yun Ling. Membuatnya perlahan membalas secara alami.
Xia Zhi membuka mulutnya, membiarkan lidah Yun Ling membelit dan bermain dengan lidahnya. Mereka saling bertukar air liur, hingga membuat jembatan. Saat bibir mereka terpisah.
''Apa itu miliknya? itu terasa besar dan keras!'' Di saat itu juga, di bawah Xia Zhi merasakan benda keras menyentuh bokong bulatnya. membuat hasrat dalam diri Xia Zhi, mulai meningkat.
''Urgh...'' Xia Zhi bergerak-gerak, membuat benda keras bersentuhan dengan celah yang sudah basah. Dia semakin terbuai saat mencium aroma feromon tubuh Yun Ling. Yang semakin menenggelamkannya dalam dasar jurang gairah.
''Argh... ini gila. Apa yang terjadi? tubuhku terasa nikmat.'' desa*han Xia Zhi, saat tangan Yun Ling menelusup kedalam pakaian atasnya. Dan memainkan buah ceri di atas gundukan indahnya.
"Ja-jangan... bajingan mesum. Kita belum menikah. kau bisa melakukannya saat kita telah menikah." ucap Xia Zhi dengan susah payah menahan hasratnya. Saat merasakan tangan Yun Ling mulai menyibak pakaian bawahnya.
''Baiklah.. Aku hanya akan menyentuhnya saja. kamu nikmati saja?'' Yun Ling melanjutkan aksi tangannya di bawah.
''Apa yang kamu lakukan? bajingan mesum. Argh... berhenti itu membuatku ingin pipis!'' teriak Xia Zhi, saat jari Yun Ling semakin cepat berlarian di tombol celah yang sudah basah.
Tidak lama kemudian tubuh Xia Zhi melengkung dan bergetar, ''Argh... bajingan mesum, sialan.. Aku pipis jangan lihat..'' pekik Xia Zhi tak mampu menahan lagi.
Byur...
Air hujan turun membasahi pakaian mereka berdua. nafas Xia Zhi terengah-engah. Dia menyandarkan kepalanya di pundak Yun Ling.
''Bajingan mesum, kenapa kamu begitu mahir? Jangan bilang kamu sudah pernah melakukannya?'' ucap Xia Zhi menatap Yun Ling dengan nafas yang masih terengah-engah.
''Aku belajar dari buku. apa kamu ingin merasakannya lagi?'' ucap Yun Ling, menunjukkan wajah polosnya menggoda Xia Zhi.
''Sudah cukup. Aku tidak ingin nanti lepas kendali dan melakukannya.'' Xia Zhi menggelengkan kepala.
''Kamu sudah dapat. Tetapi aku belum. kamu harus membuatnya keluar, seperti kamu tadi?'' bisik Yun Ling di telinga Xia Zhi.
''Dengan tangan saja.. ya!'' wajah Xia Zhi memerah dan mengangguk. Perlahan Dia memasukan tangannya, mencari sesuatu.
Di suatu ruangan Asosiasi alkemis.
''Apa ini yang ayah harapkan? kenapa ayah membiarkan Orang-orang menjelekan nama pangeran Yun?'' Ucap Bi Laoha, kesal dan marah.
''Ayah berhutang budi dengan patriark, klan Qin. Jadi ayah hanya bisa diam!'' Bi Luggong menghela nafas. Mengingat saat patriark klan Qin, memintanya untuk tidak membeberkan kejadian sebenarnya. Menggunakan satu permintaan yang Bi Luggong janjikan. Sebagai hadiah atas pertolongan patriark klan Qin padanya dahulu.
''Dengan sikap yang ayah tunjukan ini. Ayah telah merusak hubungan Asosiasi dengan Yun Ling. Ayah membuat permusuhan dengannya. Aku harap kelak, ayah tidak menyesalinya.'' ucap Bi Laoha pergi meninggalkan ruangan.
...***Bersambung***...