Sebagaimana Tata Surya berada dalam lintasan rotasinya, demikianlah hidup seseorang berada dalam lintasan garis kehidupannya.
Diantara banyaknya garis kehidupan, yang paling sering menjadi perbincangan dan menarik untuk dikisahkan adalah :
*Garis Kehidupan Percintaan*
Karena di garis ini, ada banyak unsur dalam diri seseorang yang bisa mempengaruhi hidupnya dan hidup orang lain.
Sebagaimana garis kehidupan percintaan gadis bernama Kandara Suwendra, seorang Programmer dari Indonesia dengan Darel Kei, seorang member boyband yang terkenal dari Korea Selatan.
Mungkin menurut perspektif kita, Darel dan Kandara berada dalam lintasan garis kehidupan yang berbeda.
Tetapi bukankah ;
"Kehidupan ini, ada yang mengaturnya?"
*Ini karya pertamaku. Mohon dukungannya, ya.🙏🏻❤
*Selamat Membaca.*
🙏🏻Semoga terhibur dan tetap semangat.😊❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Kejujuran.
...~•Happy Reading•~...
Di bagian bumi yang lain ; Setelah memikirkan baik buruknya, Darel memutuskan untuk bertemu dengan Lanna untuk menyelesaikan apa yang terjadi di antara mereka. Karena dia ingin berkonsentrasi untuk persiapan Mini Album Melo.
Darel menghubungi Mikha untuk mengatur pertemuan mereka di Cafe Relkha Hotel. Karena Darel telah mengirim pesan untuk Lanna, dan dia bersedia bertemu dengan Darel sesuai waktu dan tempat yang ditentukan oleh Darel.
Menjelang waktu pertemuan, Darel duduk dan berbicara dengan Mikha di ruang kerjanya. "Kau sudah siap?" Tanya Mikha sambil memegang bahu Darel.
"Kalau bisa memilih, aku sudah tidak ingin bertemu dengannya." Darel tidak bersemangat.
"Tapi ada hal-hal yang tidak bisa dibiarkan. Suatu saat bisa menjadi bola salju yang menghalangi jalan atau menghantam diri kita." Ucap Darel lagi.
"Aku setuju denganmu, jadi mari kita selesaikan ini, sebelum mengganggu atau menghantam kita." Ucap Mikha sambil berdiri.
Setelah itu mereka keluar dari kantor Mikha menuju cafe. Darel duduk di meja seperti pada malam pertemuannya dengan Lanna. Dia datang lebih awal dari waktu yang sudah dikatakan kepada Lanna. Karena dia ingin melihat situasi dan cek semua persiapan.
Suasana cafe belum terlalu ramai, karena semua telah di atur oleh Mikha. Lanna datang sambil senyum senang, sesuai waktu yang telah ditentukan Darel.
Lanna merasa senang sekali, karena bisa bertemu dengan Darel lagi. Sehingga dia ingin mencium Darel, ketika bertemu dengannya. "Sudah kukatakan, jaga sikapmu." Ucap Darel dingin, sambil menyuruhnya duduk.
Melihat sikap dan suara Darel, Lanna langsung duduk tanpa suara. Darel memanggil pelayan untuk minta dibawakan air mineral. Setelah minumannya datang, Darel mengambil minuman tersebut dan meminumnya. Darel juga mempersilahkan Lanna untuk minum.
Darel menatap Lanna serius dan tajam. "Lanna, sekarang untuk kedua kalinya kita bertemu di meja ini. Kau masih ingat itu?" Tanya Darel.
"Iyaa, Darel. Bagaimana aku lupa. Waktu itu aku kembali dari toilet kau sudah tidak ada. Aku telpon mencarimu tetapi kau tidak menerima panggilanku." Lanna menjelaskan tanpa curiga. Darel mengangguk.
"Sekarang aku mau bertanya dan kau harus jujur menjawab. Apa yang kau lakukan dengan minumanku malam itu?" Darel menatap serius wajah Lanna untuk melihat reaksinya. Hanya sesaat matanya panik, namun kembali tenang.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Darel. Aku hanya pesan minuman yang kau minta." Ucap Lanna berusaha tetap tenang, tetapi jantungnya mulai berdetak tidak teratur.
"Lanna, mungkin kau tidak mengenalku dengan baik. Aku tidak suka orang yang tidak jujur. Bagiku, orang yang tidak jujur itu seperti ular." Darel terus menatap Lanna, dingin.
"Jadi sekali lagi aku memberikan kesempatan padamu untuk berkata jujur. Apa yang kau masukan ke minumanku malam itu?" Tanya Darel.
"Benar, Darel. Aku tidak memasukan apa-apa keminumanmu. Aku bersumpah." Ucap Lanna sambil mengangkat dua jarinya untuk meyakinkan Darel. 'Kalau aku berkata sebenarnya, Darel pasti murka dan tidak akan bertemu denganku lagi. Aku tidak mau kehilangan dia.' Lanna membatin.
"Baiklah, kalau itu jujurmu." Darel memberikan kode untuk Mikha agar karyawan cafe datang ke mejanya. Ketika orang itu berdiri di samping meja dan menyapa Darel, Lanna membeku.
"Kau mengenal wanita ini?" Tanya Darel dingin kepada karyawan bar tersebut.
"Kenal, tuan. Wanita ini yang memasukan sesuatu ke minuman tuan beberapa waktu lalu." Ucap karyawan cafe, meyakinkan Darel.
"Dia berbohong, Darel. Bagaimana mungkin aku lakukan itu padamu. Aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu."Lanna masih mencoba mengelak.
"Wanita ini yang berbohong tuan. Dia memberikan uang kepada saya supaya diam, karena saya menegurnya ketika melihat dia memasukan sesuatu ke dalam minuman. Ini saya kembalikan uangmu, Nona. Saya mohon maaf tuan, tolong jangan pecat saya." Pinta karyawan cafe, sambil membungkukkan badannya.
"Dia yang berbohong dan memfitnahku, Darel. Mana mungkin aku mau mencelakaimu." Lanna mengelak lagi, sambil menyingkirkan uang dengan tangannya hingga berserakan di lantai.
...°-° Ketidak jujuran akan melahirkan kebohongan °-°...
Darel jadi geram melihat yang dilakukan Lana. Ternyata wanita yang pernah dekat dengannya seorang pembohong. 'Seharusnya dia jangan jadi penyanyi, tetapi menjadi aktris drama atau film. Aktingnya yang sangat hebat dan memukau.' Darel membatin sambil geram.
"Karena kalian saling menuduh, berarti diantara kalian ada yang tidak jujur. Kalau begitu, kau kembali ke bar dan bawa laptop serta rekaman cctv malam itu." Perintah Darel yang sudah geram, dan menatap kepada karyawan cafe. Mendengar itu, wajah Lanna langsung memucat.
"Eeeh, tidak usah." Ucap Lanna dengan suara bergetar sambil mencegah karyawan cafe itu melangkah. Darel tetap diam menanti apa yang akan di katakan Lanna.
"Iyaa Darel, aku melakukannya. Karena aku menyukaimu, aku ingin bersamamu. Tolong maafkan aku." Ucap Lanna pelan, sambil memohon.
"Kau boleh kembali bekerja." Karyawan cafe itu membungkukan badannya memberi hormat dan berterima kasih. Ketika dia hendak memungut uang yang berserahkan di lantai, Darel melarangnya.
"Biarkan uang itu di situ dan mulai sekarang nikmati uang dari kerja yang benar." Ucap Darel.
"Baik, tuan. Terima kasih." Karyawan bar membungkuk, lalu kembali ke bar.
"Dan untuk kau, aku pikir kau wanita baik-baik. Sehingga aku menjadikanmu teman. Aku bersedia membantumu dalam berbagai hal. Baik itu hidupmu maupun kariermu." Ucapan Darel membuat Lanna terdiam, menunduk dan mulai menangis.
"Tetapi apa yang kau lakukan padaku? Hapus air matamu, karena air matamu itu membuatku makin muak. Sekarang, silahkan ambil uangmu itu. Kalau uang itu kau dapatkan dengan cara yang tidak benar, nikmati saja sendiri. Jangan berikan buat orang lain." Ucap Darel dingin.
Mendengar suara Darel, Lanna langsung memungut uang yang berserahkan di lantai dengan rasa malu dan menahan tangis. Dia terus berpikir, cari alasan agar dia tidak terlalu jelek di mata Darel. Sehingga jika mungkin, masih bisa bertemu dengan Darel lagi.
"Darel, aku minta maaf. Sebenarnya bukan aku yang mau melakukan itu, tapi Baek menyuruhku. Dia bilang dengan cara itu aku bisa mendapatkanmu dan juga dia akan membuat lagu untukku. Aku telah salah menerima sarannya." Lanna meneteskan air mata.
"Sekarang kau bawah-bawah Baek? Kau tahu apa resikonya dengan ucapanmu itu, jika kau berbohong?" Tanya Darel sambil menatap Lanna, tajam.
"Aku tidak berbohong, Darel. Aku bersedia bertemu dengannya atau aku bisa menelponnya sekarang." Ucap Lanna sambil mengambil ponselnya.
"Tidak perlu." Bentak Darel, membuat Lanna terkejut dan diam membeku.
"Dan juga, kau tidak perlu mengatakan kepada Baek bahwa kau sudah mengatakan hal ini kepadaku. Kau mengerti?" Darel menahan emosinya. Lanna mengangguk mengiyakan tanpa suara, sebab dia baru pernah melihat wajah Darel yang begitu serius dan dingin.
"Maafkan aku, Darel." Ucap Lanna pelan penuh penyesalan. Dia sadar telah kehilangan Darel.
"Kau beragama bukan?" Tanya Darel. Lanna kembali mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, jangan minta maaf padaku, tetapi mohon ampun pada Tuhanmu. Karena kau sudah mempermalukan-Nya dengan perbuatanmu yang memalukan." Ucap Darel.
"Mulai dari saat ini, menyingkirlah dari hadapanku. Dan jika nanti bertemu denganku, kita tidak pernah kenal. Aku harap kau mengerti maksudku." Ucap Darel tegas dan dingin.
"Jika kau mencoba ber'ulah lagi denganku, aku tidak segan-segan menjatuhkanmu dengan rekaman ini." Ucap Darel lagi, karena orang seperti Lanna tidak bisa dipercaya. Lanna tersentak dan baru menyadari kalau Cafe dalam keadaan sepi. Hanya mengalun permainan piano yang pelan. Ternyata Darel merekam semuanya.
Darel berdiri dan sebelum meninggalkan Lanna, dia berkata : "Ingatlah kata-kataku ini. Jika tujuanmu baik, lakukanlah dengan cara yang baik untuk mencapai tujuanmu. Karena sesuatu yang diperoleh dengan cara yang tidak baik, sangat memalukan." Ucap Darel, lalu segera meninggalkan Lanna yang diam, tertunduk malu dan sedih.
...°-° Jika mulai berbohong, akan melahirkan kebohongan berikutnya dan akan berakhir memalukan °-°...
...~***~...
...~●○♡○●~...