Nia seorang gadis yang baru lulus sekolah mengalami "kecelakaan" hingga mengakibatkan dia mengandung anak yang tak pernah ia harapkan.
Kekasih yang menodainya tanpa berdosa meninggalkannya tanpa rasa tanggung jawab. Menimbulkan kekecewaan dan frustasi hingga ingin menggugurkan kandungannya.
Namun akhirnya, Nia dipertemukan orang-orang baik yang menyayanginya. Bahkan, seseorang merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rossa Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
"Maaf aku sedikit telat," ucap pria yang baru saja bergabung di meja Nia berada.
"Santai saja! Kami juga baru datang, kok," jawab Tari.
"Kalau udah jadi dokter gak baik suka telat," tambah Dokter Tama.
"Hehe, iya, Om. Inikan bukan acara resmi."
Pria itu duduk tepat di depan Nia, mereka berhadapan hanya terhalang sebuah meja. Nia meremas ujung bajunya, rasa mual yang tadi ia rasakan semakin bertambah. Bahkan keringat dingin mulai keluar dari punggung lehernya.
"Oh, iya, kenalkan ini dokter baru kita, Dokter Raka," ujar Dokter Tama seraya memperkenalkan pada pria itu.
"Dan ini Angga, keponakanku, masih kuliah tingkat dua. Kelak ia yang akan meneruskan klinikku setelah lulus nanti," sambung dokter Tama seraya memperkenalkan pada Raka.
Raka tersenyum sambil sedikit membungkuk seraya menyapa, Angga pun membalasnya.
Tak lama kemudian makanan datang. Tersaji berbagai macam menu yang membuat siapa saja yang melihatnya akan meneteskan air liur. Namun tidak dengan Nia, aroma dari bumbu makanan itu terasa sangat menyengat dan sukses membuat isi perutnya terkoyak.
"Mohon maaf saya permisi ke toilet sebentar," ujarnya bergegas menuju toilet.
Sesampainya di toilet isi perutnya termuntahkan semua. Rasa pusing kembali menyerang kepalanya membuat ia sedikit kesulitan untuk berdiri. Nia memilih untuk duduk sebentar di toilet, sejurus kemudian ponselnya berdering. Dirogohnya ponsel dalam tasnya, terdapat nama "Mbak Febi" si penelpon.
"Assalaamu'alaikum. Dek, tumben kamu telat lagi!" Terdengar suara wanita dari sebrang sana.
"Wa'alaikum salam. Ada acara makan-makan di restoran, Mbak, bareng teman-teman di klinik."
"Oh, syukurlah. Mbak sedikit khawatir, sebelumnya kirim pesan WA sama Tari tapi gak ada jawaban."
"Oh, mereka lagi makan, Mbak."
"Mereka lagi makan? Kamu sendiri tidak ikut gabung?"
"Itu dia, Mbak. Sejak keluar dari klinik tadi tiba-tiba pusing dan mual, sekarang ditambah mencium aroma makanan mualku semakin menjadi-jadi. Kenapa, ya, Mbak? Padahal udah masuk trimester kedua."
"Memang kadang terjadi hal seperti itu, Dek, apalagi perut kosong. Kamu tadi makan siang 'kan?"
"Ah, iya, aku tadi gak makan siang, Mbak."
"Kenapa?"
"Gak tau. Tiba-tiba aja hilang nafsu makanku."
"Nah, itu sebabnya kamu pusing dan mual. Jangan sampai terulang, utamakan selalu kesehatanmu! Mau nafsu atau tidak, jangan biarkan perut kosong! Mengerti?"
"Oke, Mbak! Sekarang gimana, ya, kalau kembali lagi sepertinya mualku akan datang lagi. Tapi masa ia pergi gitu aja ninggalin mereka?"
"Samperin dulu aja mereka, terus pamit. Perlu Mbak jemput?"
"Gak usah, Mbak. Udah malem juga, Mbak pasti lelah. Ya, sudah aku tutup telponnya, ya. Assalaamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
***
Setelah panggilan diakhiri Febi dengan cepat mengetik pesan pada Raka.
[Barusan aku telponan sama Nia, dia sedang gak enak badan. Tolong antarkan sampai rumah, ya! Jangan biarkan dia pulang sendiri!]
Ya, Febi benar-benar khawatir kali ini. Bukan, kali ini bukan karena ia ingin mendekatkan mereka, tapi murni karena rasa khawatirnya.
Beruntung, Raka menyimpan ponselnya di atas meja dan mengaktifkan nada notifikasinya, sehingga saat pesan masuk otomatis akan langsung diketahuinya.
Ia segera membuka pesan. Sejurus kemudian terlihat Nia melangkah menuju kembali ke meja. Raka tak melepas pandangannya hingga Nia duduk.
"Kenapa lama sekali di toiletnya?" tanya Tari.
"Aku tadi terima telpon dulu dari Mbak Febi, Mbak," jelas Nia.
"Oh, iya, mohon maaf Dokter saya gak bisa lama-lama bergabung, tiba-tiba kepalaku pusing," ujar Nia pada dokter Tama.
"Kamu 'kan belum makan, masa mau pamit?" imbuh Dokter Tama.
"Gak papa, Dok. Terima kasih atas penyambutannya."
"Ya, sudah hati-hati dijalan. Pulang sendiri?"
"Eemmm iya, Dok."
"Eh, biar aku antar!" Tiba-tiba Raka menyambar obrolan mereka membuat semua mata tertuju padanya.
"A-anu, aku juga buru-buru. Tiba-tiba ada pesan masuk dari ibu suruh pulang," sambungnya memberi alasan, namun justru membuat semua orang yang ada membulatkan matanya.
"Eh, gimana sih. Ini kan acara penyambutan kalian?!" Tari membuka suara.
"Biar Nia saja yang pulang. Dokter Raka tolong lebih lama lagi di sini, jarang-jarang kita ngadain acara seperti ini," ujar Dokter Tama.
"Iya. Biar Angga saja yang antar Nia!" Tari menambahkan.
Seketika Angga yang sedang mengunyah makanan tersedak. Dengan cepat ia meneguk air minum yang sudah tersedia di kanannya.
"Ah, gak papa. Aku bisa pulang sendiri," balas Nia.
"Mohon maaf semuanya, saya pamit." Nia sedikit membungkukan badannya, menghormat.
Nia melenggangkan kaki meninggalkan mereka semua. Dadanya bergemuruh mendengar tawaran Tari, "Mana mungkin aku mau diantar dia!" lirihnya. Sedikit rasa kecewa melihat ekspresi Angga yang sama sekali tak peduli pada kondisinya saat ini.
Banyak mobil berlalu lalang, namun tak ada angkutan umum yang bisa dinaiki. Karena jam-jam segini mereka sudah jarang yang beroperasi. Nia merogoh ponsel ke dalam tasnya hendak memesan ojol. Namun baru saja ia menyentuh layar hp tersebut tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Mobil yang tadi ia naiki menuji restoran.
Saat kaca mobil terbuka, rupanya yang berada di balik kemudi merupakan keponakan si pemilik mobil, Angga. Nia mengernyitkan dahi, tak mengerti apa maksudnya.
"Ayo, naik!" Terdengar suara bariton dari dalam mobil. Sejurus kemudian pintu mobil terbuka.
Seperti terhipnotis, tanpa sadar Nia masuk dan duduk di kursi depan menemani sang pengemudi mobil tersebut. Tak lama mobil pun melaju.
"Kita ke arah mana?" tanya Angga setelah melajukan mobilnya.
"Lurus saja!" jawab Nia ketus, memalingkan wajahnya ke arah luar.
Hening. Hingga sekitar lima menit kemudian Angga membuka suara.
"Kamu gak enak badan?" tanyanya dengan mata fokus ke depan.
"Kamu peduli?" balas Nia.
"Ayolah, jangan bersikap seperti itu. Tentu saja aku peduli, bukankah aku masih pacarmu!"
"Pacar? Setelah meninggalkan aku tanpa sehelai kain kamu masih mau ku anggap pacar?"
"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya. Tapi tolong jadilah kekasihku selamanya!"
"Tak ada yang perlu dijelaskan. Bukankah kamu sendiri yang ingin kita menganggap tidak pernah terjadi sesuatu di antara kita? Sudahlah turunkan saja aku di sini!"
"Sebentar, kita bicarakan dulu sebentar saja. Biar kita luruskan saja sekarang, mumpung ada waktu untuk kita berdua."
"Baiklah. Apa maksudmu meninggalkanku setelah menodaiku?"
"Sayang, aku sudah tak sanggup berada di dekatmu dengan keadaan kita sekarang. Kamu, kamu terlalu menggoda bagiku. Dari dulu aku memang selalu mencari kesempatan untuk menjamah tubuhmu."
"Apa benar itu cinta? Kamu hanya nafsu padaku, Ga!" Air mata Nia luruh seketika.
"Aku mencintaimu, tapi aku tak mungkin menikahimu sekarang. Meninggalkanmu merupakan pilihan yang tepat, karena setelah melakukannya aku akan kembali ingin melakukan hal yang sama."
"Menjijikan!"
"Begitulah seorang pria. Aku mohon, kamu bersabar sampai aku sudah siap menikahimu."
"Kamu tau? Benih yang kamu tanam itu tumbuh menjadi janin!"
Angga membelalakan matanya.
"Benarkah? Aku tak percaya Nia, kita melakukannya hanya sekali dan aku menggunakan alat kontrasepsi. Apa jangan-jangan kamu pernah melakukan hal itu dengan yang lain setelah denganku?"
Nia geram mendengarkan perkataan Angga. Tak segan ia menampar pipinya.
"Sialan kamu Angga! Setelah menodai dengan tanpa dosa sekarang memfitnahku? Aku mengurung diri di rumah setelah kamu meninggalkanku hingga aku tau bahwa benih yang kamu tanam tumbuh di rahimku."
Nia menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya, menangis sejadi-jadinya. Kecewa menjalar di tubuhnya menyisakan luka yang mampu melemahkan, hingga tak bisa bangkit dari tempat duduknya.
Tiba-tiba sepasang tangan memegang kepalanya, mengarahkannya berhadapan dengan pemilik tangan itu.
"Aku akan menikahimu setelah kuliahku selesai, Nia. Tapi ku mohon rahasiakan semua ini dari keluargaku."
Nia memejamkan matanya saat sebuah kening menempel di keningnya. Terasa ada tetesan air yang jatuh selain air matanya.
"Aku tau ini sangat berat untukmu, tapi aku tak bisa melepaskan keluargaku juga tak bisa melepaskanmu," ucap Angga seraya memeluk tubuh yang terguncang oleh tangisnya.
crt bagus tulisan dn tata bahas bagus 👍