Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.
Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.
[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 Rencana
Di sebuah sudut area terbengkalai yang sepi di pinggiran wilayah Indonesia.
Sesosok figur misterius mengenakan jubah merah darah tebal dan topeng porselen putih tampak berdiri tegak di bawah bayangan pohon tua.
Sosok itu adalah No. 010, salah satu eksperimen tingkat tinggi milik organisasi Fractnation yang baru saja mendarat di teritori ini.
Kedua matanya di balik topeng menatap fokus ke arah sebuah layar tablet taktis yang memuat seluruh rangkuman data biometrik, riwayat hidup, hingga aktivitas harian milik Arkana Herssen.
Sedetik kemudian, sebuah suara kekehan lembut dan manis khas seorang wanita terdengar mengalun dari balik topengnya.
‘Menangkap pria ini... ternyata bisa menjadi jauh lebih mudah dari yang diperkirakan oleh Bapak Agung,’ batin No. 010 penuh kemenangan.
‘Dia memiliki satu kelemahan yang teramat sangat fatal. Jika aku memanfaatkan titik lemah ini, aku bahkan tidak perlu membuang-buang energi untuk bertarung sekuat tenaga melawannya.’
Pandangan matanya terkunci pada baris data nama Raisilya Putri. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, No. 010 langsung mematikan layar tabletnya dan bergerak melesat secepat kilat di balik bayangan, mengeksekusi rencana yang sudah tersusun rapi di otaknya.
Sementara itu, di sebuah distrik perbatasan berhutan di luar kota Jakarta.
Arka baru saja menyelesaikan sesi berburu monster harian rahasianya di dalam sebuah retakan dimensi liar berlevel tinggi.
Pemuda itu tampak berjalan santai menyusuri trotoar jalan setapak bersama Handji, asisten pemburu setianya yang membawa tas perlengkapan.
"Apakah Anda sudah menyaksikan siaran langsung berita internasional hari ini, Tuan Arka?" tanya Handji dengan nada suara yang dipenuhi kekhawatiran.
"Kondisi wilayah Korea saat ini beneran sedang dalam keadaan darurat akibat serbuan ratusan monster raksasa."
Arka memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, berucap acuh tak acuh. "Ya, aku sempat melihat sekilas di berita internet. Tapi sudahlah, barisan Userator tingkat atas di sana pasti memiliki cara untuk mengatasinya. Kita yang berada di benua berbeda tidak perlu ikut pusing memikirkannya."
"Tapi tetap saja, Tuan... itu adalah robekan dimensi terbesar yang pernah kusaksikan seumur hidupku. Visualnya sangat mengerikan. Aku bahkan tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika monster inti di dalam sana keluar," tutur Handji bergidik ngeri.
IKUZZ~ IKUZZ~
Tiba-tiba, ponsel pintar milik Arka berdering nyaring, menampilkan visual nama kontak panggilan masuk dengan emotikon hati merah jambu di layarnya.
Gurat wajah Arka yang semula dingin langsung mencair, digantikan oleh senyuman hangat yang teramat manis. Ia segera menggeser tombol hijau.
"Halo, Istriku sayang? Ada apa?" sapa Arka lembut, mengabaikan total eksistensi Handji di sebelahnya.
Dari seberang saluran telepon, suara merdu dan manja Sisil terdengar diiringi latar belakang suara bising supermarket mewah.
"Mas Arka... hari ini Mas sedang ingin makan menu apa? Aku sekarang lagi di luar nih, lagi belanja sayur dan cari bahan-bahan segar buat masak makan malam kita."
Arka menyeringai jahil, menurunkan nada suaranya menjadi bisikan menggoda. "Hmm... Mas sedang ingin makan kamu malam ini, Sayang."
"Ihh, Mas Arka! Serius sedikit dong!" pekik Sisil dari seberang telepon dengan nada ketus yang dibuat-buat, meskipun Arka bisa mendengar dengan jelas suara detak jantung istrinya yang mendadak salah tingkah dan tersipu malu.
Arka melepaskan tawa kecil yang renyah. "Hahaha, iya, iya. Masakan apa saja pasti Mas makan kok, Sayang. Mas tidak pernah pilih-pilih selama itu adalah hasil buatan tanganmu."
"Beneran nih? Tidak ada menu khusus yang lagi Mas pengen banget makan hari ini?" tanya Sisil memastikan sekali lagi.
"Iya, Istriku. Selera makan kita kan selalu sama. Jadi, apa pun bahan makanan yang kamu beli hari ini, Mas pasti akan sangat menyukainya," jawab Arka lembut.
"Yaudah deh kalau gitu... aku lanjut keliling belanja dulu ya, Mas Arka. Sampai ketemu di rumah nanti, dadah~" Panggilan telepon pun terputus dengan bunyi klik pelan.
Handji yang berjalan di sebelah Arka hanya bisa terkekeh pelan sembari menggelengkan kepalanya. "Istri Tuan Arka benar-benar seorang wanita yang sangat perhatian ya."
Mendengar pujian tulus tersebut dialamatkan untuk Sisil, dada Arka mendadak dipenuhi rasa bangga. Ia hanya tersenyum kecil tanpa membalas ucapan Handji, terus melangkah maju menikmati trotoar kota.
Di tengah perjalanan mereka menyusuri area pertokoan distrik bawah, langkah kaki Handji mendadak terhenti saat pandangan matanya menangkap sesosok kakek tua ringkih berpakaian compang-camping yang sedang duduk bersandar di pojok tiang listrik, menadahkan sepasang telapak tangannya yang gemetaran ke arah para pejalan kaki.
Melihat pemandangan memprihatinkan tersebut, rasa iba dan empati di dalam dada Handji langsung bergejolak.
Ia meraba saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas ITD bernilai cukup besar, lalu melangkah mendekati sang kakek tua.
"Pak... ini saya ada sedikit rezeki tambahan untuk Bapak. Semoga uang ini bisa bermanfaat untuk membantu membeli makanan ya," ucap Handji dengan senyum tulus sembari mengulurkan uangnya.
Sepasang mata rabun sang pengemis tua langsung berbinar haru. "Terima kasih banyak, Nak... Semoga hidupmu selalu diberkahi oleh kebaikan dan kemudahan sepanjang waktu."
Namun, tepat di saat ujung jemari Handji hendak melepaskan lembaran uang tersebut ke atas telapak tangan sang kakek... GREEP!
Sebuah cengkeraman tangan yang sangat kuat dan kokoh mendadak menahan pergelangan tangan Handji di udara.
Handji tersentak kaget dan menoleh ke samping, mendapati bahwa sosok yang sedang menahan tangannya dengan tatapan mata dingin adalah Arka.
"Tuan Arka? Ada apa?" tanya Handji dengan dahi berkerut bingung. Pengemis tua itu juga tampak tertegun dan kebingungan menyaksikan intervensi mendadak dari pemuda tampan di hadapannya.
Arka tidak menjawab pertanyaan Handji. Ia justru melangkah satu langkah ke depan, menatap datar ke arah sang pengemis tua lalu mengeluarkan perintah dengan nada suara yang tegas dan dingin. "Kakek... bersihkan seluruh permukaan sepatu milikku dan dia ini sekarang juga."
DEG!
Handji membelalakkan matanya sempurna, seluruh darahnya mendadak berdesir panas akibat rasa syok.
"T-Tuan Arka?! Kenapa Anda malah bertindak sekasar ini dan memerintahkan beliau untuk melakukan hal serendah itu?!" desak Handji dengan nada suara yang mulai meninggi karena emosi.
Bagi moralitas Handji, memaksa seorang kakek tua pengemis yang ringkih untuk membersihkan sepatu kotor mereka adalah sebuah tindakan penghinaan dan penindasan martabat kemanusiaan yang teramat kejam.
Arka tetap memasang wajah tenangnya. "Lakukan saja perintahku, Kakek. Jika hasil kerjamu bersih, aku akan memberikan upah uang yang jauh lebih banyak dari apa yang ingin diberikan oleh dia ini."
"B-Baik... Baik, Tuan Muda," ucap sang pengemis tua dengan suara bergetar.
Tanpa banyak membantah, kakek itu langsung berlutut di atas aspal dan mulai menggosok permukaan sepatu laras milik Arka yang kotor menggunakan ujung kain lengan bajunya sendiri yang memang sudah lusuh dan robek di berbagai sisi.
Bagi Handji yang terpaksa menyaksikan pemandangan tersebut dari atas, dadanya terasa sangat sesak. Sosok Arka di matanya saat ini mendadak menjelma menjadi sosok pemuda kaya raya yang arogan dan gemar merendahkan kaum miskin jelata.
Begitu selesai membersihkan sepatu Arka, sang kakek tua menggeser tubuh ringkihnya ke arah kaki Handji, bersiap untuk menggosok sepatu milik pemuda itu juga.
Namun, Handji dengan cepat menarik kakinya mundur ke belakang, menolak dengan tegas. "Tidak usah, Pak! Tidak perlu dilakukan! Saya akan memberikan uang ITD ini secara langsung kepada Bapak sekarang juga tanpa perlu membersihkan apa pun!" Tegas Handji menyelamatkan moralnya.
Bersambung...
klo bsa ceritanya jgan terlalu lma ke yg lain
fokus ke arka aja kan dia MC
klo ke yg lain sebisanya agak dipersingkat
gitu aj dan ceritanya bagus kok
semangat buat ceritanya thor
tak kasih kopi 1👍