NovelToon NovelToon
Married By Accident

Married By Accident

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.7
Nama Author: 1PM

spin-off dari novel Menjadi Istri Tuan Muda.

Karena menunggu di kamar seseorang yang menjadi Nyonya Mudanya. Bunga Florencia harus mengalami kejadian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dia harus kehilangan kesucian yang dia jaga selama ini.

Maxime Anderson pulang dalam keadaan mabuk dan masuk ke dalam kamar orang yang dicintainya, dan berpikir untuk memilikinya seutuhnya. Tapi tidak pernah dia duga jika gadis yang menghabiskan malam bersamanya adalah gadis lain yang dia ketahui sebagai pelayan pribadi Kakak iparnya.

Karena kejadian itu mereka akhirnya menikah, Akankah keduanya akan sama-sama membuka hati dan membuat cinta akan bersemi diantara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Mobil mewah berwarna putih yang Max kendarai kini sudah berada di halaman rumah sakit setelah menempuh perjalanan 45 menit.

Max berjalan menyusuri lorong rumah sakit di lantai paling atas dimana ruang rawat Ibunya berada.

Begitu Max membuka pintu, dilihatnya Papinya sedang menyuapi Ibunya makan. 

William dan Tiffa yang melihat pintu terbuka menoleh bersamaan, dan didapati putra keduanya yang datang.

"Bagaimana apa sudah kau bereskan?" Tanya William yang berhenti melakukan kegiatan menyuapi istrinya.

"Sudah Pi, aku sudah berhasil menghentikan dan menghapus gosip itu dari media, tapi sampai saat ini aku belum mengetahui siapa pelakunya," jawab Max yang memang sebenarnya tadi pergi karena mengurus tentang gosip yang beredar itu.

"Apa kau mencurigai seseorang?" Tanya William sambil kembali menyuapi istrinya.

"Entahlah Pi, kadang orang susah ditebak, jadi Max tidak mau asal tuduh dulu sebelum Max menemukan buktinya," kata Max menahan amarah.

"Memangnya ada siapa saja di tempat itu, kamu bisa memulainya dari situ sayang," kata Tiffa yang sedari tadi hanya diam sambil menerima suapan dari suaminya.

"Aku sedang menyuruh orang mengawasi mereka Mi," kini Max menjawab pertanyaan Maminya dan berjalan menuju sofa untuk duduk disana.

"Sepertinya orang ini orang yang berpengaruh dan mungkin sudah lama merencanakan ini, karena Max belum bisa menemukan bukti apapun," jelas Max.

Tiffa menganggukkan kepalanya mengerti. "Sayang jika kamu memang butuh bantuan jangan sungkan-sungkan, minta tolonglah kepada Mami dan Papi kalau tidak sama Kakakmu, jangan kamu tanggung sendiri ya," pesan Tiffa yang melihat raut wajah lelah putranya.

Max tersenyum mendengar apa yang Maminya katakan, "Tentu saja Mi, jika aku tidak sanggup lagi mengatasi semua masalah yang terus menimpaku, aku akan meminta bantuan kalian," ucapnya kemudian.

William bangun dari duduknya setelah selesai menyuapi istrinya. Dia kemudian duduk di samping Max dan menatap putranya itu. 

"Bagaimana dengan istrimu? Apa dia tahu tentang berita itu?" Tanya William.

Max bingung harus menjawab apa karena dia sendiri tidak tahu apa istrinya sudah mengetahui tentang gosip itu apa belum. 

"Max," panggil William yang melihat putranya itu justru melamun.

"Dia baik-baik saja Pi, dia bilang dia percaya pada Max," kata Max berbohong.

"Syukurlah," kata William bernafas lega. Dia seperti takut jika menantunya tidak percaya pada putranya, seperti apa yang dia lakukan dulu pada istri dan kakaknya.

"Bagaimana apa cucu Mami baik-baik saja," tanya Tiffa yang tiba-tiba merasakan ruangan hening karena putra dan suaminya tiba-tiba terdiam dengan pikiran masing-masing.

"Max!" Tiffa memanggil putranya yang kembali melamun.

"Kenapa Mi, apa Mami perlu sesuatu?" Tanya Max yang sadar dari lamunannya.

"Mami tidak memerlukan sesuatu, Mami bertanya bagaimana kandungan istrimu? Apa anak kalian baik-baik saja, Mami khawatir karena takut jika istrimu stress karena mendengar pemberitaan yang selalu memojokkannya," kata Tiffa mengatakan apa yang ditakutinya.

"Semuanya baik-baik saja Mi, tadi Olive dan Liora juga di apartemen kami dan mereka menemani istri Max," kata Max menjelaskan.

"Syukurlah, kamu juga harus sering-sering mendukung dan menguatkannya, bagaimanapun sekarang dia dalam kondisi hamil dan pasti akan lebih sensitif terhadap apapun," tambah Tiffa.

"Iya Mi, Max mengerti," jawab Max.

Tiffani menatap langit-langit kamar rawatnya, dia teringat akan percakapannya bersama Bibi Arum saat Tiffa belum drop hingga koma di rumah sakit. Tentang Bi Arum yang tahu jika Bunga hamil anak Max dari apa yang dikatakan Jason. Tiffa benar-benar terkejut, Tiffa lalu menatap Bibi Arum yang gemetar.

"Sekarang bisa Bibi jelaskan siapa Bunga dan bagaimana dia ada di sini, aku tahu Bibi Arum berbohong waktu itu jika Bunga adalah keponakan Bibi, karena yang aku tahu Bibi hanya memiliki satu adik, dan itu Bi Sekar yang dulu pernah bekerja di sini, menjadi pengasuh sekaligus menjadi pelayan pribadi Max selagi dia kecil. Dan Bi Sekar hanya memiliki satu anak dan dia sudah meninggal, dan aku juga tahu jika Bi Arum memiliki anak dan dua-duanya laki-laki. Bibi mungkin bisa membohongi semua orang tapi tidak denganku, aku sudah sangat mengenal keluarga Bibi. Apa Bibi lupa, bahwa Bibi sudah lama bekerja di keluargaku bukan di keluarga suamiku?" Tanya Tiffa menatap Bibi Arum dengan tatapan mengintimidasi.

Bibi Arum pun menjelaskan siapa Bunga sebenarnya, kenapa bisa dia di tempat ini hingga Bibi Arum mengakui Bunga sebagai anaknya agar bisa bekerja di tempat Bi Arum bekerja, tanpa ada sedikitpun yang Bibi Arum tutupi dari Tiffa.

Tiffa menghela nafas berat, kemudian dia memutuskan sesuatu dan saat dia akan membicarakan hal ini dengan suaminya dia mendengar berita besar yang selama ini disembunyikan William, apa yang William lakukan pada Steven kakak kandungnya sekaligus orang yang pernah menjadi Tiffa. Dia mendengar semuanya yang selama ini dia tidak tahu, hingga kemudian dadanya terasa amat sakit dan tiba-tiba pandangannya menggelap. Hingga saat Tiffa sadar dia merasa senang sekaligus sedih. Senang karena mendengar putranya mau bertanggung jawab dengan menikahi Bunga, sedih karena pernikahan itu terjadi hanya karena sekedar tanggung jawab putranya saja.

"Sayang," William memanggil istrinya sambil menaik turunkan telapak tangannya tepat di depan mata Tiffani karena sedari tadi dia memanggil istrinya tidak meresponnya karena dia sepertinya sedang melamun.

"Ah iya, kenapa? Tanya Tiffa begitu lamunannya buyar.

"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya William khawatir.

"Aku baik-baik saja tidak perlu khawatir," jawab Tiffa yakin.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya William lagi.

"Tidak ada," jawabnya kemudian menatap Max yang juga menatapnya.

"Ini sudah pukul berapa?" Tanya Tiffa menatap suaminya.

"Pukul 10 malam, ada apa? Apa ada sesuatu?" Jawab William balik bertanya.

Tiffani menggeleng, kemudian berkata pada Max, "Max sebaiknya kamu pulang sekarang, kasihan istri kamu di tempat tinggal kalian sendirian, apalagi dia sedang mengandung anakmu, bagaimana jika dia tiba-tiba menginginkan sesuatu tapi kamu tidak ada di sampingnya, Mami tidak apa-apa disini sendiri, disini ada perawat yang menjaga Mami. Sementara istrimu tidak ada, dia lebih membutuhkanmu disaat seperti ini, Nak. Jadi lebih baik kamu pulanglah sekarang."

"Mami tidak perlu khawatir, Max akan tetap disini menjaga Mami menggantikan Papi, dan masalah istri Max dia sekarang ada di mansion utama. Ada Kak Vano, Olive dan Liora serta para pelayan yang bisa menjaganya," ucap Max menenangkan.

"Tapi pasti rasanya beda sayang, dia pasti lebih menginginkan suaminya yang berada di sampingnya," kata Tiffa menatap putranya lekat.

"Ini sudah malam lebih baik Mami istirahat, Max akan keluar sebentar untuk membeli makanan, nanti Max panggilkan perawat untuk menjaga Mami dulu sementara Max pergi. Ayo Pi, lebih baik Papi juga pulang sekarang untuk istirahat, Papi harus menjaga kesehatan Papi," kata Max mencoba mengalihkan pembicaraan.

William menatap Tiffa, "Aku pulang dulu, tidak apa-apakan di tinggal sebentar?" Tanya William yang diangguki Tiffa. Kemudian William mencium kening istrinya dan berjalan mengikuti Max yang keluar terlebih dulu.

Tifa menghela nafas berat, memandangi punggung putranya yang sudah tampak jauh dan kemudian menghilang di balik pintu.

1
Anonim
Lumayan
anikbunda lala
bunga kayak oon ya
Alvino Irawati
Buruk
Rahble
Luar biasa
fatmah nolly
gak gak jadi baca bahasa kata2 nya membosankan, bertele2
Andini Putri Sylvia
Lumayan
Yasmin Risno
🤣🤣🤣🤣🤣
Erviana Erastus
dr max tau ya kalo ank dlm kandungan flo laki2 wong cek ke dokter kandungan aza nggak pernah 😂
Erviana Erastus
mampus loe Gracia ...blm tau siapa bunga sebenarnya
Rini Agustini
,
, , .

,
,
Winda Oriza Mutia
cusssss
R@3f@d lov3😘
awas ntar bucin🤭🤭max
R@3f@d lov3😘
menarik 😁
Santi Djailani
bertele tele
💜bucinnya taehyung💜
rekan bisnis lu orangtuanya bunga max ..
Jeankoeh Tuuk
salut Thor dg ceritanya...
1PM: Terima kasih Kak😊. Bisa mampir juga di cerita selanjutnya berjudul Please Love Me, tentang Jason dan Lily. Semoga suka😉🙃
total 1 replies
Jeankoeh Tuuk
sweet.....
Jeankoeh Tuuk
koq bisaa...
Jeankoeh Tuuk
mom Jessy & dad davian ...ortu yg pengertian
Jeankoeh Tuuk
siapa thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!