Ini adalah kisah cinta anak sekolah yang duduk di bangku SMA.
Alvi, entah apa yang dia miliki dalam dirinya, hingga mampu menarik perhatian ketiga Ketua OSIS. Ia hanya siswi biasa yang suka berulah dan berbuat nakal. Pandai berkelahi tapi sangat payah dalam pelajaran.
Moto hidup Alvi adalah hidup untuk bersenang-senang.
Suatu hari, ia dihadapkan oleh situasi yang menyebalkan, situasi yang pada akhirnya mengenalkan dirinya dengan Arfi, Ketua OSIS di sekolahnya.
Dalam kejadian lain, ia dipertemukan oleh Arif yang sangat mempercayai cinta pada pandangan pertama.
Dan yang terakhir, Alif, dia lebih lama mengenal Alvi. Karena mereka pernah bersekolah di SMP yang sama.
Hidup Alvi memang menyenangkan karena bergulat dengan perasaan. Namun masalah perceraian kedua orangtuanya, membuat gadis remaja ini memiliki kebencian terhadap Papanya. Jarak diantara mereka semakin jauh, terlebih sang Papa kerap kali menghabiskan waktu diluar kota untuk bekerja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atps0426, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A - 17
Ayah Arfi hanya sejenak masuk kedalam rumah, lalu kembali keluar rumah dengan bungkusan sate dan pizza ditangannya. Beliau tersenyum begitu megah, membawa bingkisan dari calon menantunya.
"Dari pacarnya Arfi, makan-makan"
"Wih, putramu memang idola, banyak sekali yang menyukainya" puji salah seorang warga.
"Sssttt, yang ini beda. Anak ini benar-benar kekasihnya Arfi, kalian tidak lihat betapa terkejutnya dia"
"Hahaha kau ini, anakmu itu"
Disisi lain, Alvi sedang duduk bersama Bunda Arfi. Beliau menanyakan banyak hal pada Alvi, begitu juga dengan Arka yang selalu saja menyela kedua wanita itu.
Deheman Arfi membuat Bundanya dan Arka tersadar, padahal Alvi ingin menemui Arfi, malah mereka berdua yang mengambil waktu Alvi. Bunda sudah menyiapkan dua mangkuk lontong balap dan juga sate kikilnya. Arfi mengajak Alvi untuk makan berdua didepan teras rumah.
Alvi yang memang lapar, lupa jika dirinya datang untuk minta maaf. Ia malah sibuk melahap makanannya, membiarkan Arfi diam memperhatikan dirinya.
Tring...
Ponsel Arfi berdering..
From Arif :
***Apa loe senang menghabiskan waktu dengan kekasihmu?
To Arif :
Bagaimana denganmu? Bukankah loe nganterin dia pulang
From Arif :
Loe gila, dia pergi balik ke sekolah ninggalin gue yang udah nunggu lama***.
Arfi mengernyitkan dahinya, menatap Alvi yang masih sibuk makan.
"Vi, kamu tadi pulang sama Arif kan?"
"Gak jadi, tadi aku dengar dari Dika kamu lagi marah. Aku balik lagi ke sekolah, eh kamu udah pulang"
"Kenapa kamu kesini?"
"Mau minta maaf. Maaf udah bikin kamu marah, aku... anu..."
Belum saja Alvi menyelesaikan perkataannya, Arka datang dan menyela keduanya. Ia meminta pada Alvi agar membonceng dirinya memakai sepeda motor Alvi keliling tempat tinggalnya.
"Bunda, Arka ganggu nih" teriak Arfi.
"Arkaaa, sudah sana pergi bermain dengan teman-teman mu. Jangan ganggu Kakak mu" sahut Ayah Arfi.
Arfi menatap adiknya, Arka segera pergi setelah mendengus kesal karena Arfi begitu kejam. Alvi hanya bisa tertawa melihat pertengkaran Kakak dan Adik ini. Sangat mirip dengan dirinya dan juga Oddy.
Setelah Arka pergi, Arfi tak bisa menyembunyikan senyumannya. Ia segera melahap lontong balap dihadapannya itu. Ia tak pernah menyangka jika Alvi akan lebih memilih dirinya daripada Arif.
Drrrtttt.....
Papa Calling
Alvi sejenak melirik ponselnya yang ada diatas meja, ia tidak peduli dan malah terus melanjutkan makannya. Berbeda dengan Arfi yang juga melihat semuanya, ia menyambar ponsel Alvi dan langsung mengangkat panggilan tersebut.
Arfi terlihat begitu santai berbincang dengan Ardi. Ia juga menjelaskan jika kini Alvi sedang berada dirumahnya. Dengan begitu, kekhawatiran Ardi mereda. Karena Alvi tidak mengatakan apapun saat pergi dari rumah.
"Kamu gak bilang Papa kalau mau kesini?"
"Gak, kenapa aku harus bilang? Pasti Papa bakal ngelarang"
"Itu demi kebaikanmu"
"Tapi aku pingin ketemu kamu"
"Vi"
"Terserah, aku mau pulang aja"
Alvi merasa kesal karena merasa seolah kehadirannya tak pernah Arfi inginkan. Ia pergi begitu saja menuju motornya, Arfi tentu saja mengejar sang kekasih yang sedang marah.
"Mana hp ku, aku mau pulang"
"Gak, aku anter kamu"
"Yaudah ambil aja, aku gak butuh"
Alvi sudah bersiap untuk pergi, tapi secepat kilat Arfi mengambil kunci motor Oddy. Gadis itu kembali merasa kesal. Ia kembali mengoceh dan memarahi Arfi. Tapi pemuda itu tak bergeming, ia hanya diam menatap Alvi yang tengah marah. Seolah menikmati momen itu.
"Assalamualaikum"
Suara itu menghentikan ocehan Alvi, Arfi dan Bapak-bapak disana menjawab salam dari gadis muda yang datang membawa bungkusan gorengan.
"Kak Alvi, mereka semua naksir Kakak aku loh" bisik Arka pada Alvi
Alvi mengalihkan pandangannya, menatap beberapa gadis remaja yang sepertinya habis pulang mengaji. Matanya tak sengaja menatap para gadis yang mencoba mencuri-curi pandang pada Arfi.
"Nah, yang paling cantik itu namanya Kak Aisya. Kayaknya Kak Arfi suka dia deh"
Gadis itu kembali mengalihkan pandangannya, pada gadis yang membawa bungkusan gorengan untuk para Bapak-Bapak. Dia memang cantik, sepertinya solehah, pantas saja jika Arfi menyukainya.
Alvi mencoba melirik Arfi, pemuda itu tampak memandangi Aisya, sepertinya apa yang dikatakan Arka itu benar. Tanpa alasan, hati Alvi menjadi sedih. Tapi ini adalah kesempatan, ia langsung menyambar kunci motor yang ada ditangan Arfi dan mulai menyalakan motornya.
Arfi yang terkejut refleks berdiri di depan motor. Ia menghadang laju motor yang hendak pergi.
"Minggir Fi"
"Jangan keras kepala, aku antar kamu pulang" sentak Arfi kesal. Semua orang yang ada disana bahkan terkejut karena Arfi terlihat sangat marah.
Sekali lagi Arfi mencabut kunci motornya, ia tak ingin terjadi sesuatu pada kekasihnya karena hari sudah malam.
"Khawatir apa sih Fi? Aku bisa kok ngelawan banyak orang jahat"
"Bandel ya kamu, di jalanan depan kampung itu kan sepi. Emangnya kamu mau..." belum sempat Arfi menyelesaikan perkataannya, Alvi sudah merengek. Ia memarkirkan motornya lalu duduk disamping Ayah Arfi.
Para Bapak-Bapak itu tertawa melihat Alvi yang ketakutan karena candaan Arfi. Sedangkan para gadis remaja itu merasa kesal memandangi Alvi sebab Arfi begitu perhatian padanya. Bahkan Aisya juga terlihat tak menyukai Alvi, karena Arfi bahkan menggunakan panggilan lain untuk Alvi.
Segera setelah Arfi masuk kedalam rumah, Aisya bertanya pada Ayah Arfi mengenai gadisnya yang tak ia kenal ini.
"Pacarnya Arfi, Sya"
"Pacarnya Arfi? Mana mungkin Om"
"Tanya aja kalau gak percaya"
Alvi tidak memedulikan perbincangan Aisya dan Ayah Arfi mengenai dirinya. Ia terus saja menatap sekitar dengan hati yang was-was. Padahal disana sangat ramai, tapi tetap saja Alvi merasa tak tenang.
"Hihihi huaaa" Arka mencoba menjaili Alvi.
"Aah" gadis itu terkejut bukan main, ia menutupi wajahnya dengan tangan. Sedangkan Arka tertawa puas melihatnya.
"Arka, wah parah, dimarahin Arfi nanti. Di sekolah aja anak-anak pada dimarahin karena berani godain dia" celetuk Rama yang baru saja tiba bersama remaja lainnya.
"Dia beneran pacarnya Arfi, Ram?" Tanya Aisya yang masih tak percaya.
Rama mengangguk dan membenarkannya.
"Vi, pamitan sama Bunda dulu gih" pinta Arfi yang keluar dari rumah.
Alvi sekali lagi menatap sekitar, setelah dirasa aman, ia baru lari memasuki rumah Arfi untuk berpamitan pada Bunda.
"Arfi, dia pacar loe?" Tanya Aisya untuk yang ketiga kalinya.
"Iya Sya, dia cewek gue. Kenapa?"
"Kok loe suka sih sama cewek kayak dia? M..maksud gue dia kan, gimana ya"
"Dia gak pernah memandang orang lain berbeda Sya"
Satu kalimat itu terasa sangat menusuk hati Aisya. Tak ada yang ingin menyela atau menambahkan sesuatu pada perkataan Arfi, mereka yang ada disana hanya mendengarkan saja.
Tak berselang lama, Alvi keluar rumah. Ia juga berpamitan pada Ayah Arfi dan Bapak-bapak yang lain, juga Aisya dan teman-temannya.
"Fi, nanti kamu pulangnya gimana?"
"Kan si Rama ikut kita"
Alvi mengerti, pantas saja tiba-tiba Rama datang. Rupanya Arfi sudah lebih dulu menghubungi Rama.
"Aku ikut Rama aja boleh gak?"
"Kok gitu?"
"Gak enak sama mereka" bisik Alvi seraya melirik para gadis yang sedang menatapnya.
"Mana bisa gitu, kamu kan pacarku. Lagian kenapa mikirin mereka? Mereka aja gak mikirin kamu kok, ayo naik"
Alvi masih ragu menaiki motornya, karena Arka bilang sepertinya Arfi menyukai Aisya. Ia tak ingin jika hubungan Arfi tiba-tiba renggang karena dirinya. Walau kenyataannya dia adalah kekasih Arfi yang sudah diketahui banyak orang.
arfi, arif, alvi 😵
galfok aku baca nya
kl ngajarin tuh yg ikhlas
sing sabar....
aaaaaaaa mo. dekat2 Arfiiii...
🤔🤥
cuittt. cuiittt...
aduh duhhhh thor...
berasa muda aqu nih....
gmn nih thor?
Help meeeeeee........
baru Novel. ini nih yg buat aqu TerSmile..
kl Novel yg lain mah, lbh byk serius nya..
Alvi.. Arfi... love u polll😘🥰😍
ini msh satu A...
blm. muncul kembarannya 😁🤣😘
menarik banget. sukses selalu ya thor
wedding nya belum, bikin debay nya belun, anak nya belum luonching :(
apa adakah S2 nya ??😔