NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Mengunjungi Kedua Orang Tua

Sore itu, Arkana pulang lebih awal dari biasanya.

Suara motor yang berhenti di depan rumah membuat Hanifah segera keluar dari dalam. Kali ini ia tidak berlari. Ia berjalan pelan sambil sesekali memegang perutnya yang mulai membuncit.

Arkana yang baru saja melepas helm langsung tersenyum.

"Nah, gini kan bagus."

Hanifah mengerutkan dahinya. "Apa?"

"Jalannya pelan. Mas jadi tidak khawatir." goda Arkana sambil terkekeh.

Hanifah menyambut kotak bekal yang diulurkan suaminya dengan senyuman tipis "Mas selalu bilang begitu."

"Soalnya Mas memang khawatir." sahut Arkana lembut sembari mengusap pelan puncak kepala Hanifah yang tertutup jilbab sebelum melangkah masuk ke dalam rumah untuk menaruh tas kerjanya. "Bagaimana, kamu sudah siap untuk pergi?"

"Sudah. Tinggal ambil tas saja." jawab Hanifah.

Kemudian ia masuk ke kamar mengambil tas selempangnya. Di dalam tas itu sudah ia masukkan dompet, ponsel, buku kontrol kehamilan, serta botol minum yang selalu dibawa ke mana pun.

Beberapa saat kemudian, ia kembali keluar dengan tas yang sudah tersampir di pundak. "Ayo, Mas."

Arkana mengangguk. Lalu ia mengunci pintu rumah, lalu memastikan semua jendela telah tertutup rapat.

Baru saja mereka hendak menuju motor, pintu rumah sebelah terbuka. Bu Sulastri keluar sambil membawa sapu lidi.

​"Loh, Nak Arkana, Hanifah, kalian berdua sudah rapi mau pergi ke mana sore-sore begini?" tanya Bu Sulastri dengan suara agak keras dari balik pagar pembatas.

Hanifah tersenyum. "Iya, Bu. Mau ke rumah orang tua Mas Arkana dulu. Setelah itu sekalian ke rumah orang tua saya. Besok kan hari libur, jadi kami menginap di sana."

"Wah, enak itu." sahut Bu Sulastri dengan wajah berbinar ikut senang. "Pasti orang tua kalian sudah kangen."

"Iya, Bu," jawab Arkana.

Bu Sulastri mengangguk pelan.

"Tunggu sebentar ya." Beliau tiba-tiba kembali masuk ke dalam rumah.

Arkana dan Hanifah saling berpandangan.

"Mas..." bisik Hanifah pelan sambil menyenggol lengan suaminya.

"Iya?"

"Bu Sulastri mau ngapain ya?"

Arkana mengangkat bahu. "Tidak tahu. Ya kita tunggu saja."

Tidak sampai dua menit, Bu Sulastri kembali keluar. Di tangannya terdapat sebuah peniti kecil berwarna perak dan sebuah pisau lipat mungil yang telah dibungkus kain bersih. Beliau menghampiri Hanifah.

"Nak, Ibu izin ya sebentar ya?" pinta Bu Sulastri pelan.

Hanifah terlihat bingung. "Eh... boleh, Bu."

Bu Sulastri membuka sedikit bagian samping gamis Hanifah, lalu menyematkan peniti kecil itu di bagian dalam kain sehingga tidak terlihat dari luar. Setelah itu, beliau memasukkan pisau kecil tersebut ke dalam tas Hanifah.

Arkana dan Hanifah saling menatap penuh tanda tanya.

"Bu..." Hanifah akhirnya memberanikan diri bertanya. "Ini untuk apa ya?"

Bu Sulastri tersenyum kecil.

"Jangan kaget. Ini cuma kebiasaan orang-orang tua di kampung Ibu. Khusus untuk ibu hamil."

Arkana mengangguk pelan. "Kebiasaan bagaimana, Bu?"

"Dulu Kalau ada perempuan hamil bepergian jauh, orang tua selalu menyuruh membawa benda dari besi. Bisa peniti, gunting kecil, atau bisa juga pisau kecil seperti ini." jelas Bu Sulastri dengan nada bercerita.

Hanifah masih terlihat penasaran. "Memangnya kenapa harus benda dari besi?"

Bu Sulastri tertawa kecil.

"Katanya supaya perjalanan lebih aman. Orang zaman dulu percaya besi bisa menangkal hal-hal yang tidak baik."

Arkana tersenyum canggung. "Berarti ini mitos ya, Bu?"

"Iya. Namanya juga kepercayaan orang-orang dulu." Sekarang mungkin banyak yang tidak percaya lagi." ujar Bu Sulastri tanpa merasa tersinggung. Beliau kemudian memegang tangan Hanifah. "Tapi Ibu tidak menyuruh kalian percaya mentah-mentah. Anggap saja ini bentuk ikhtiar. Yang menjaga tetap Allah. Bukan peniti atau bukan pisaunya."

Hanifah mengangguk pelan. "Iya, Bu."

Bu Sulastri melanjutkan, "Kadang orang tua punya cara sendiri menunjukkan rasa sayangnya. Kalau disuruh membawa begini, ya dibawa saja. Tidak ada ruginya, yang penting hati tetap bergantung kepada Allah."

Arkana tersenyum hangat.

"Baik, Bu. Kami mengerti."

Bu Sulastri lalu mengusap pelan perut Hanifah. "Nak... Jaga tiga adik kecil itu baik-baik ya."

Hanifah tersenyum. "Insyaallah, Bu."

"Tapi jangan bandel. Kalau badan sudah capek, langsung istirahat. Jangan memaksakan diri." wanti-wanti Bu Sulastri dengan nada protektif.

"Iya, Bu. Terima kasih."

Bu Sulastri lalu menoleh kepada Arkana. "Kamu juga. Jangan terlalu sering lembur. Kasihan istrimu kalau ditinggal sendirian."

Arkana terkekeh.

"Iya, Bu. Kalau bukan demi beli popok tiga sekaligus, saya juga tidak mau lembur."

Bu Sulastri langsung tertawa. "Baru sekarang kamu sadar. Tiga bayi itu bukan cuma lucu. Tapi juga bikin bapaknya rajin cari uang."

Arkana menggaruk tengkuknya.

"Doakan saja rezekinya ikut bertambah, Bu."

"Aamiin."

Mereka bertiga tertawa bersama. Suasana sore itu terasa hangat.

"Hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai, kabari Ibu lewat pesan."

Hanifah tampak terharu. "Iya, Bu. Terima kasih. Sudah perhatian sama kami."

Bu Sulastri tersenyum lembut.

"Ibu ini cuma tetanggamu. Tapi sejak pertama kali melihatmu... Ibu sudah menganggapmu seperti anak sendiri."

Mata Hanifah mulai berkaca-kaca. Tanpa sadar ia memeluk Bu Sulastri.

"Terima kasih banyak, Bu."

Bu Sulastri membalas pelukan itu.

"Sudah. Nanti keburu magrib."

"Ayo berangkat."

Arkana menyalakan mesin motornya. Hanifah naik perlahan ke jok belakang. Sebelum motor melaju, mereka kembali melambaikan tangan kepada Bu Sulastri.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Motor itu perlahan meninggalkan halaman rumah. Bu Sulastri masih berdiri di depan pagar hingga kendaraan mereka menghilang di tikungan jalan.

...​✧─────────── ✦ ───────────✧...

Sekitar tiga puluh menit kemudian, Arkana dan Hanifah tiba di rumah orang tua Arkana. Motor berhenti di halaman sederhana yang sudah begitu akrab bagi mereka.

Belum sempat Arkana mematikan mesin motor, pintu rumah lebih dulu terbuka.

"Nah, akhirnya sampai juga." sapa Ibu Arkana dengan senyum lebar.

"Assalamu'alaikum," Arkana masih dimotor sambil melepaskan helm.

"Wa'alaikumsalam," jawab kedua orangtua Arkana serempak.

Hanifah segera turun dari motor. Seperti biasa, ia menyalami kedua mertuanya terlebih dahulu.

​"Bagaimana kabarnya hari ini, Bu? Sehat?" tanya Hanifah ramah.

"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri bagaimana? Mualnya masih sering?" tanya Ibu Arkana balik dengan nada penuh perhatian sambil mengusap pipi menantunya.

Hanifah tersenyum tipis.

"Masih sesekali, Bu. Tapi sudah lebih baik."

"Masuk dulu." Ayah Arkana membukakan pintu lebih lebar. "Jangan berdiri di luar."

"Iya, Yah." sahut Arkana sambil menuntun istrinya masuk.

Mereka pun masuk ke ruang tamu. Ibu Arkana segera membawakan teh hangat untuk Arkana dan segelas susu hangat untuk Hanifah.

"Nih, kamu minum susu saja. Dokter pasti menyuruh banyak minum susu, kan?" ucap Ibu Arkana sambil meletakkan gelas tersebut di atas meja kaca.

Hanifah menerima gelas itu dengan kedua tangan. "Terima kasih, Bu."

Ayah Arkana memperhatikan perut Hanifah yang kini mulai terlihat membesar. "Wah... Sudah mulai kelihatan."

Hanifah tersipu malu. "Iya, Yah. Padahal baru tiga bulan."

Ayah Arkana tersenyum kecil. "Namanya juga kembar tiga. Kalau nanti lahir... Rumah pasti langsung ramai."

Arkana ikut tertawa.

"Ramai sekali, Yah. Saya saja sudah mulai pusing menghitung biaya popok."

Semua orang tertawa.

Ibu Arkana menimpali, "Jangan popok saja. Susu juga tiga. Pakaian juga tiga."

Ayah Arkana menambahkan, "Nanti kalau sudah besar... Mainnya juga bertiga."

Hanifah ikut tertawa membayangkannya.

"Semoga mereka sehat semua."

"Aamiin," jawab mereka hampir bersamaan.

Suasana rumah terasa hangat.

Beberapa menit mereka berbincang tentang pekerjaan Arkana, kondisi rumah baru, hingga tanaman cabai yang ditanam Hanifah di halaman belakang.

Setelah suasana mulai tenang, Ayah Arkana meletakkan cangkir tehnya.

Beliau berdeham pelan. "Sebenarnya... Ayah meminta kalian datang hari ini karena ada satu hal yang ingin dibicarakan."

Arkana dan Hanifah saling berpandangan.

"Ada apa, Yah?" tanya Arkana.

Ayah menarik napas panjang.

"Kakak Ayah, Arkana pasti tau... Bibi Ratna. Beliau sebentar lagi akan datang ke kota ini."

Hanifah mendengarkan dengan saksama.

"Beliau mendapat tugas dari kantornya. Kurang lebih sekitar satu bulan."

Arkana mengangguk pelan.

"Lalu?"

"Tempat kerjanya dekat dengan rumah kalian." Ayah berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Awalnya Ayah ingin meminta Ratna tinggal di sini. Tapi jaraknya cukup jauh. Kasihan kalau setiap hari harus bolak-balik."

Ruangan mendadak hening. Ayah kembali memandang Arkana dan Hanifah bergantian.

"Kalau... Kalau kalian tidak keberatan. Bolehkah Ratna tinggal sementara di rumah kalian?"

Hanifah spontan menoleh ke arah Arkana. Begitu pula Arkana. Keduanya saling bertukar pandang.

Bukan karena tidak mau. Namun, rumah yang mereka tempati memang sangat sederhana. Hanya memiliki satu kamar tidur.

Arkana menggaruk tengkuknya. "Rumah kami kecil, Yah. Saya takut Bibi kurang nyaman."

Ayah tersenyum tipis.

"Soal itu Ayah sudah bilang kepada Ratna. Beliau tidak mempermasalahkannya."

Ibu Arkana ikut berbicara. "Paling hanya satu bulan. Setelah tugasnya selesai, beliau akan pulang lagi."

Hanifah menatap wajah suaminya. Pelan-pelan ia menganggukkan kepala. Arkana memahami maksud istrinya. Ia kembali menoleh kepada kedua orang tuanya.

"Kalau memang Bibi tidak keberatan... Kami juga tidak keberatan."

Wajah Ayah Arkana langsung terlihat lega.

"Alhamdulillah. Terima kasih."

Hanifah tersenyum sopan. "Semoga Bibi juga betah di rumah kami."

Ibu Arkana membalas senyum itu.

"Ibu tahu ini merepotkan. Terima kasih sudah mau membantu."

"Tidak apa-apa, Bu," jawab Hanifah. "Selama kami bisa membantu."

Perbincangan kemudian berlanjut dengan topik lain hingga azan Maghrib berkumandang. Mereka melaksanakan salat berjamaah terlebih dahulu.

Setelah makan malam bersama, Arkana melihat jam di dinding.

"Yah, Sepertinya kami harus pamit. Kalau berangkat sekarang, tidak terlalu malam sampai rumah orang tua Hanifah."

Ayah mengangguk.

"Iya, Sampaikan salam Ayah dan Ibu untuk besan."

"Insyaallah, Yah."

Hanifah kembali menyalami kedua mertuanya.

"Assalamu'alaikum."

"Hati-hati di jalan," pesan Ibu Arkana.

"Iya, Bu."

Motor kembali dinyalakan. Perlahan kendaraan itu keluar dari halaman rumah.

Ayah dan Ibu Arkana tetap berdiri di teras hingga lampu belakang motor mereka menghilang di ujung jalan.

Suasana mendadak sunyi. Ibu Arkana memecah keheningan.

"Apa tidak apa-apa dengan keputusan ini, Yah?" tanya Ibu Arkana dengan nada suara yang bergetar penuh keraguan.

Ayah mengembuskan napas panjang. "Semoga Ratna bisa menjaga sikap."

Ibu terdiam beberapa saat.

"Saya hanya takut... Hanifah kepikiran."

Ayah memandang jalan yang kini mulai lengang.

"Semoga kekhawatiran kita tidak terjadi."

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!