Bercerita tentang seorang wanita bernama Anita Sheila, seorang gadis yang memiliki sifat cuek terhadap hal yang menurutnya tak penting. Fokus terhadap nilai dan prestasinya semasa sekolah, justru membuatnya tak memiliki teman dan susah bergaul.
Namun pandangan Anita berubah ketika suatu hari ia bertemu Zain Azriel. Zain yang memiliki sifat berkebalikan dengan Anita memberi kisah baru dalam romansa tersebut.
Zain merupakan lelaki yang ceria, suka bermain, nakal dan bahkan dihari pertama sekolah ia bertengkar dengan seniornya, walau sebenarnya ia lelaki jenius dalam mata pelajaran.
Hubungan keduanya terbentuk ketika pertama kali Anita mengunjungi Zain untuk mengantarkan sebuah catatan. Namun saat itu juga Anita melihat sisi berbeda Zain dari rumor yang selama ini ia dengar. Dari situlah pertemanan keduanya dimulai.
Saat ini hubungan mereka semakin dekat, namun keduanya bingung dengan ikatan tersebut karena belum pernah memiliki pengalaman sebelumnya.
bagaiman kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Sentuhan Senja.
Setelah menyatakan sebuah ungkapan yang mengejutkanku, Aldi berdiri jalan mendekati pagar pembatas air mancur.
"Kamu tau Anita? Saat ini Zain tinggal bersama Rio bukan?"
"Iya, Aku tau itu."
"Ayah kami itu bisa dibilang kolot banget dan tipe yang sangat keras kepala. Beliau mengusir Zain dari rumah sebelum dia masuk SMP. Soalnya anak itu memang biar onar sih. Aku sendiri juga gak tau kenapa ayah berubah pikiran, tiba-tiba aja dia ingin Zain pulang."
"Begitu ya."
"Yups, jadi aku di utus untuk membujuknya agar mau pulang. Zain itu benci banget dengan kami berdua, makanya terasa sulit bagiku untuk bisa sekedar berbicara dengannya. Kamu tau sendiri kan ketika Zain hanya melihatku, dia langsung melarikan diri," jelas Aldi berbalik arah.
"Apa Zain pernah bilang sesuatu walau hanya sekali?"
"Rio pernah bilang padaku jika Zain gak bakal mau pulang. PEDULI SETAN! begitulah jawaban Zain. Tapi ya wajar aja sih. Nah sekarang giliranmu, aku yakin kau merasa kesepian jika jauh dari Zain kan Anita? Apa kau bisa membantuku?"
"Hah? Sebenarnya aku masih belum mengerti maksudmu, bukannya kamu datang kesini untuk membujuk Zain seorang diri?"
"Memang iya sih, tapi itu hanya keinginan ayah kami aja. Sebenernya aku sangat terganggu kalau Zain pulang."
"kok-"
"Yah udah bisa ketebak sih, kalau Zain pulang nih ya, mungkin kami bisa saling bunuh," jelas Aldi tersenyum tipis kemudian terbahak.
"Apa-apaan itu,"pikirku singkat.
"Mengenai sekolah Zain, perlu kamu tau Anita, aku dan ayah sudah capek sangat capek membujuknya sekolah tapi tetep dia abaikan kami. Tapi sekarang, ternyata dia mau juga pergi kesekolah. Memang aku dengar ada sedikit insiden, tapi dia tetep rajin pergi sekolah, kenapa begitu?" lanjut Aldi berjalan kembali mendekatiku.
"Kenapa?"
"Jawabanya karena ada kamu disana," jelas Aldi membukkukan badan mulai terlihat serius.
"Aku?"
Wajah aldi sekaligus senyum sebelumnya yang sangat ceria berubah, menekuk alis menatapku cukup serius, "Zain gak bakal pernah berhenti sekolah jika kau masih ada disana, Anita. Cuma itu alasan kenapa sampai saat ini Zain masih ada disini. Jadi, kau seharusnya sudah paham yang akan kulakukan saat ini bukan?"
Untuk sesaat aku terdiam, hal yang saat ini aku renungkan, tentang apa yang akan Aldi lakukan padaku.
"Nah, sekarang bagaimana?" lanjut Aldi memegang kedua pundakku.
"ANITA!" Teriak Zain langsung menarik tubuhku melempar tas sekolah miliknya ke wajah Aldi.
"Zain?" ucap Aldi.
"KEPARAT! Apa yang kau lakukan, bangsat!"
"Maaf, habisnya aku lihat kau dari kejauhan berlari kencang sih, sekalian aja aku kerjain."
"Gerrrrrrrrr.....rrrrr," gerutu Zain.
"Lama gak bertemu, kau baik-baik dan selalu sehat kan Zain?"
"Aku gak tau apa maksud dan tujuan yang kau lakukan dengan ayah, intinya aku gak bakal pulang! Bahkan kalau kau mau mengeluarkanku dari sekolah, coba saja!"
Kemudian Zain menarik tangganku, "Lebih baik kita pergi."
Zain membawaku pergi berlari, tapi ketika aku menoleh berbalik arah menatap Aldi, ada sesuatu yang masih mengganjalku tentang pikiran Aldi yang juga menatapku.
"Tunggu, Zain," ucapku menghentikan langkahnya.
"Ha!"
"Dengarkan dulu penjelasan Aldi, tujuan dia kemari bukan untuk menjemputmu."
"Apa! Kamu lebih percaya sama dia?" umpat Zain bernada tinggi.
"Maaf, tapi bukan masalah percaya atau gak Zain, aku juga gak mau kamu keluar dari sekolah. Lebih baik kita dengar dulu penjelasannya."
"Mau apapun yang dia katakan, gak bakal bisa buat aku percaya dengan omongannya!" pekik Zain melirik Aldi.
"Dengarkan dulu, Zain."
"Oh aku tau, jangan-jangan? Hah! Itu berarti karena ulahmu kan Anita!" bentak Zain padaku.
"Cukup Zain! Kau harus dengarkan permintaan pacarmu! lagian aku juga mau bilang kalau kau selalu saja kabur dan dia yang bakal menggantikan posisimu, contohnya hari ini," sahut Aldi mendekati bernada serius.
"Baik, cepat katakan!" Zain menghalangi tubuhku bermaksud melindungi.
"Singkatnya begini, aku cuma ingin kau berjanji untuk terus masuk sekolah!"
"Cuih! Jangan memutar mutar bahasan membicarakan hal bodoh. Cepat katakan!"
"Ayah pikir kau masih sama seperti yang dulu yang suka bolos sekolah. Makanya ayah mau kau keluar dari sana dan memindahkanmu ke sekolah yang lebih baik. Tapi kalau kau udah tau caranya bergaul, rasanya gak perlu lagi menyuruhmu pulang. Biar aku yang yakinkan ayah. Bagaimana? Kesepakatan yang bagus kan?"
Butuh waktu sekitar 5 menit bagi Zain untuk bisa mempercayai ucapan Aldi tersebut, hingga akhirnya, "Baiklah, aku janji."
"Bagus, selesai," jelas Aldi.
"Ayo pergi, Anita," singkat Zain menarik kembali tanganku.
Belum berjarak begitu jauh Zain berhenti, "Oh iya, satu lagi pesanku, jangan pernah tunjukkan batang hidungmu!"
"Gak perlu kamu kasih tau aku sudah paham itu. Tapi jika ayah berubah pikiran lagi, kita akan buat kesepakatan baru," balas Aldi bernada tipis.
Terus berjalan di depanku menggandeng tanganku, sedikit banyak aku mulai mengerti situasi sulit yang Zain alami.
Dirinya yang masih berusaha merubah semua sifat buruk di masa lalu, terus meyakinkan semua orang bahwa ia mampu menjadi pribadi yang lebih baik.
Tapi bagaimana jika Zain pergi meninggalkan sekolah? Hal itu cukup berat dan sedikitpun gak pernah terbayang olehku.
"Kenapa berhenti, Zain?" ucapku ketika Zain berhenti melangkah.
"Kenapa kamu mau pergi ikut dengan Aldi! Kenapa?"
"Dia cuma ingin berbicara denganku Zain. Maaf, aku mau pergi dengannya karena aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi."
Zain menghela nafas, "Jangan dekati Aldi lagi."
"Kenapa?"
"Pokoknya kalau kau bertemu dengannya langsung lari. Aku sendiri gak tau apa yang ada di dalam isi kepalanya itu, ngerti?"
"Aku gak janji," balasku mengalihkan pandangan Zain.
"Hah? Kenapa?"
Aku berbalik arah kembali menatap Zain, "Kau gak punya hak untuk memerintahku."
"Ini demi kebaikanmu sendiri, Anita!" bentak Zain.
"Enggak!"
"Cukup turuti saja apa yang aku katakan!"
"Gak mau!" balasku membentak Zain.
Amarah Zain kembali merasuki jiwanya, kedua tangan Zain langsung menarik kera bajuku. Namun berselang beberapa detik, ia tersadar dan melepaskan cengkramannya, berbalik arah membelakangiku.
"Padahal kau bilang, kau itu suka denganku."
"Kenapa malah di ungkit sekarang?"
Zain kembali berjalan, "Ayo pulang."
Di perjalanan, Zain menceritakan semua masa lalunya yang ia rahasiakan sebelumnya.
"Dulu, aku suka main bareng Aldi. Kami suka main jago-jagoan. Aku jadi jagoannya dan aldi jadi monsternya."
"Bukanya kebalik tuh? Masa sih?"
"Kami selalu bersama dalam hal apapun dan bahkan ketika Aldi lagi menggila, aku sempat hampir mati 3 kali, masa itu begitu seru sih. Terus ibu pulang kerumah dan membawakan kami seekor kera kecil, lucu sekali imut, kami beri nama monkey. Nah saat itu kami semakin..."
Belum selesai Zain berbicara, aku menarik lembut baju Zain menghentikan langkahnya, "Zain, apa sebenarnya kamu ingin pulang?"
"Hem? Ah, enggak juga. Tempat itu sarangnya setan sih. Kenapa?"
"Yang kutau, ketika seseorang terlihat gelisah, mereka sangat butuh sentuhan. Boleh aku menyentuhmu?" lirihku.
"Kenapa begitu?"
Tanpa sadar tangan ini langsung menyentuh mengusap lembut pipi Zain.
"Kalau kamu pergi, mungkin aku bakalan sedih. Tapi kalau kamu lebih senang berada di tempat lain, kamu harus jujur, jangan sampai kamu kehilangan seseorang yang kamu dambakan," lirihku menunduk masih menyentuh pipi Zain.
Zain menyentuh tanganku yang masih memegang lembut pipinya, "Oke, siap bos."
Menikmati senja sore hari sembari berbagi senyuman dengan Zain, satu kenangan indah kembali hadir dalam hidupku.
****
Sampai disini dulu minna san, jaga ksehatannya, sekarang musim ujan panas gak menentu, musim pelakor juga, kandangin aja kayak rahul biar paksu gak di culik..ahehehe....lanjut.
biasanya berhati lembut dan penyayang 🙄
sebenarnya kenapa zain bisa di cap pembuat onar😑
hanya karna game nya kalah😤
pasti ada sebab akibat nya tak mungkin mencelakai orang tanpa alasan 🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️
peristiwa berdarah apa 😧
Segala rasa membelenggu jiwa