Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.
Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.
Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.
Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lawan Yang Salah
“Yang Mulia, mereka membawa manusia itu ke desa perdagangan manusia.”
Suara salah satu bawahan Evander terdengar tegang. Tatapan merah gelap Evander langsung berubah semakin dingin.
Desa perdagangan manusia.
Tempat paling kotor yang sering dijadikan lokasi jual beli budak, manusia, bahkan darah segar untuk bangsa malam.
Dan sekarang, Evelyn dibawa ke sana.
Aura mengerikan langsung keluar dari tubuh Evander hingga udara di sekitar mereka terasa jauh lebih berat.
“Siapa yang membawa dia?” tanya Evander rendah.
Salah satu bawahannya segera menundukkan kepala.
“Vampir dari klan Varkel, Yang Mulia.”
Sunyi.
Namun justru kesunyian itu terasa lebih menakutkan dibanding amarah biasa.
Keempat bawahan Evander langsung menegang.
Mereka tahu persis apa arti tatapan itu.
Klan Varkel baru saja mencari masalah dengan orang yang salah.
“Berani sekali mereka menyentuh milikku,” ucap Evander dingin.
Brak!
Tanah di bawah kaki mereka langsung retak karena tekanan aura Raja Vampir itu.
Sementara itu.
Di desa perdagangan manusia. Tubuh Evelyn didorong kasar hingga membuatnya hampir terjatuh.
“Akh!”
Dia langsung menahan tubuhnya sambil menatap sekitar dengan wajah pucat. Tempat itu jauh lebih mengerikan dibanding cerita yang pernah ia dengar.
Banyak manusia dikurung di dalam kandang besi. Beberapa terlihat menangis. Beberapa lainnya hanya diam dengan tatapan kosong.
Dan yang paling membuat Evelyn takut.
Banyak pria bermata merah berjalan di tempat itu. Mereka semua menatap manusia seperti melihat mangsa.
“Lihat itu… manusia baru.”
“Aromanya manis sekali.”
“Masih muda juga.”
Bisikan-bisikan menyeramkan mulai terdengar dari berbagai arah. Tubuh Evelyn langsung gemetar.
“Tidak…” lirihnya pelan.
Namun vampir yang membawanya justru menyeringai puas.
“Diam saja. Kau akan dijual dengan harga tinggi.”
Mata Evelyn langsung membesar.
Dijual…?
Air matanya mulai jatuh tanpa sadar. Dia benar-benar ketakutan sekarang. Namun tanpa siapa pun sadari.
Di luar desa perdagangan itu, sesosok pria sedang berdiri di atas atap bangunan dengan tatapan merah menyala penuh amarah.
Evander Nocturne.
Dan pagi itu.
Desa perdagangan manusia berubah menjadi tempat paling berbahaya bagi siapa pun yang berada di dalamnya.
“Serang mereka sekarang juga,” ucap Evander dingin.
Keempat bawahannya langsung menoleh terkejut.
Mereka adalah:
Raven, Ciel, Kaizer, dan Luthen
Keempatnya merupakan vampir kepercayaan Evander yang sudah mengabdi selama ratusan tahun.
Namun kali ini.
Mereka benar-benar terkejut dengan perintah tersebut.
“Y-Yang Mulia…” ucap Raven hati-hati.
Ciel langsung maju selangkah.
“Itu tidak mungkin, Yang Mulia,” katanya tegang. “Kita tidak bisa menyerang di pagi hari.”
Cahaya matahari masih menyinari wilayah desa perdagangan itu. Walaupun vampir berdarah murni seperti
Evander masih mampu bertahan di bawah sinar matahari untuk beberapa waktu, kekuatan mereka tetap melemah.
Sedangkan vampir biasa bisa terbakar jika terlalu lama terkena cahaya matahari langsung.
Namun tatapan Evander tetap dingin.
“Aku bilang,” suaranya berubah rendah dan penuh tekanan. “Serang sekarang juga.”
Bentakannya membuat udara sekitar langsung terasa berat.
Keempat bawahannya langsung menegang.
Mereka belum pernah melihat Evander semarah ini hanya karena seorang manusia.
Tatapan merah Raja Vampir itu terus tertuju pada bangunan besar tempat Evelyn ditahan.
Aura membunuh perlahan menyelimuti seluruh area.
“Tidak ada yang menyentuh Evelyn,” ucap Evander dingin. “Dan tetap hidup setelahnya.”
Sunyi.
Lalu perlahan.
Sudut bibir Kaizer terangkat tipis.
“Kalau begitu…” gumamnya pelan sambil menatap desa di depan mereka. “Klan Varkel benar-benar mencari mati.”
Brak!
Dalam sekejap, Evander langsung menghilang dari tempatnya berdiri. Dan beberapa detik kemudian. Terdengar suara ledakan besar dari dalam desa perdagangan manusia.
Hanya dalam hitungan detik setelah ledakan besar itu terjadi.
Evander sudah berada di tempat Evelyn ditahan.
Brak!
Pintu besi ruangan itu hancur begitu saja.
Aura mengerikan langsung memenuhi seluruh bangunan hingga semua orang membeku ketakutan.
“Evander Nocturne…” gumam salah satu vampir dengan wajah pucat.
“R-Raja Vampir…”
“Kenapa dia ada di sini?!”
Kepanikan langsung menyebar ke seluruh ruangan.
Beberapa vampir bahkan mundur perlahan dengan tubuh gemetar. Sementara itu, Evelyn langsung menoleh saat mendengar ucapan mereka.
Tatapannya membeku menatap sosok pria tinggi yang berdiri di tengah reruntuhan pintu.
Jubah hitam panjangnya bergerak pelan tertiup angin.
Mata merah gelapnya menyala tajam penuh amarah. Aura dingin yang keluar dari tubuhnya terasa sangat berbeda dibanding Evander yang selama ini tinggal di gubuk kecil bersamanya.
Kini.
Pria itu benar-benar terlihat seperti penguasa monster malam.
“R-raja Vampir…?” gumam Evelyn pelan.
Wajahnya perlahan memucat.
Tatapan matanya dipenuhi keterkejutan saat menatap Evander. Semua ucapan pria itu sebelumnya tiba-tiba teringat jelas di kepalanya.
Hutan ini berbahaya bagi manusia.
Jangan keluar malam hari.
Jika kau tahu siapa aku sebenarnya, mungkin kau tidak akan membiarkanku tinggal di sini lagi.
Tubuh Evelyn mulai sedikit gemetar. Dan untuk pertama kalinya. Dia akhirnya memahami siapa pria yang selama ini berada di dekatnya.
Evander Nocturne.
Raja Vampir yang ditakuti semua makhluk malam. Sementara itu, tatapan Evander langsung tertuju pada Evelyn.
Begitu melihat gadis itu masih selamat, aura membunuh di sekitarnya sedikit mereda. Namun saat matanya melihat bekas cengkeraman merah di tangan Evelyn.
Tatapan Evander berubah jauh lebih gelap.
Sangat gelap.
“Siapa,” suaranya terdengar rendah dan mengerikan. “Yang menyentuh dia?”
Tidak ada satu pun yang menjawab.
Ruangan itu justru semakin sunyi dan mencekam.
Tatapan merah Evander perlahan menyapu seluruh vampir yang ada di sana. Aura membunuh dari tubuhnya semakin terasa berat hingga beberapa vampir mulai gemetar ketakutan.
“Katakan…” suara Evander terdengar jauh lebih rendah. “Siapa yang sudah berani menyentuhnya?”
Brak!
Ledakan aura langsung menghancurkan sebagian dinding ruangan.
“Aaaakh!”
Beberapa vampir langsung terpental dan jatuh ke lantai.
“Y-Yang Mulia, ampuni kami!”
“Kami tidak tahu manusia itu milik Anda!”
Namun Evander sama sekali tidak peduli. Tatapannya tetap gelap dan mengerikan.
Sementara itu, Evelyn tersentak pelan. Baru sekarang dia menyadari tangannya terasa sangat panas.
“Akh…” Evelyn meringis kecil.
Bagian lengannya yang tadi dicengkeram vampir itu perlahan memerah lebih jelas dibanding sebelumnya.
Rasa nyeri seperti terbakar mulai menyebar pelan di kulitnya. Evelyn refleks memegang lengannya sendiri dengan wajah pucat.
“Sa-sakit…”
Suara lirih Evelyn membuat Evander langsung menoleh. Dan saat tatapannya jatuh pada tangan gadis itu.
Mata merahnya langsung menyala tajam.
Aura membunuh di sekitarnya berubah jauh lebih mengerikan.
Racun vampir.
Bekas cengkeraman itu meninggalkan racun.
Tatapan Evander perlahan berubah dipenuhi kemarahan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Seluruh ruangan mendadak terasa dingin.
Sangat dingin.
“Siapa pelakunya?” suara Evander kini terdengar begitu menyeramkan hingga membuat seluruh vampir membeku. “Aku akan membunuhnya perlahan.”
Seketika.
Salah satu vampir di belakang mulai mundur ketakutan. Dan gerakan kecil itu langsung ditangkap oleh Evander.
“Luthen.”
Suara Evander terdengar dingin dan penuh tekanan. Luthen yang sejak tadi berdiri di belakang langsung menundukkan kepala.
“Baik, Yang Mulia. Akan saya selesaikan.”
Seketika tubuh Luthen menghilang dari tempatnya berdiri lalu muncul tepat di depan vampir yang mencoba kabur tadi.
“A-ampun—”
Brak!
Luthen langsung menghantam tubuh vampir itu ke dinding dengan brutal. Suara teriakan mulai memenuhi ruangan.
Sementara itu.
Evander sudah berada di depan Evelyn hanya dalam hitungan detik. Gerakannya terlalu cepat untuk dilihat manusia biasa.
Evelyn refleks menegang saat Evander memegang perlahan tangannya yang memerah.
Rasa panas di lengannya semakin menyakitkan.
“Diam,” ucap Evander rendah sambil memperhatikan luka itu. “Aku akan mengisap racun ini.”
Mata Evelyn langsung membesar.
“K-kamu akan mengisap darahku?”
Tatapan merah Evander perlahan terangkat menatap Evelyn.
“Tidak,” jawabnya tenang. “Tapi aku akan mengisap racun yang ada di tanganmu.”
Evelyn masih terlihat gugup.
Bagaimanapun juga.
Dia baru saja mengetahui bahwa pria di depannya adalah Raja Vampir. Namun rasa panas di tangannya semakin menyebar.
“Akh…”
Evelyn kembali meringis kesakitan.
Tatapan Evander langsung berubah dingin. Tanpa menunggu izin lagi, Evander perlahan mengangkat tangan Evelyn lalu mendekatkan luka itu ke bibirnya.
“Sedikit sakit,” ucapnya pelan.
Dan beberapa detik kemudian. Taring tajam Evander perlahan terlihat untuk pertama kalinya di depan Evelyn.