ALANGKAH BAIKNYA JANGAN DIBACA KARENA JUDUL INI HANYA PELATIHAN PERTAMA KALI AKU BELAJAR NULIS, TYPO DAN PUEBINYA MASIH AMBURADUL
Hati yang sudah terlanjur rapuh akan sangat sulit untuk bisa disembuhkan. Wajah yang dulunya dipenuhi dengan kebahagiaan dan keceriaan, kini yang tersisa hanyalah penderitaan dan air mata yang terus menggaliri dari kedua sudut matanya. Siapa sangka kejadian pertemuan tak sengaja dengan seseorang yang tidak ia kenal, akan jadi bencana baru dan awal baru bagi kehidupannya nanti.
* * * * * * * *
Kenapa hidupku harus se menderita ini, jika kebanyakan orang bisa merasakan apa arti itu kebahagiaan, kenapa hanya aku orang yang harus merasakan penderitaan ini. Hidup bersama dengan Mama tiri sama halnya dengan hidup didalam jeruji besi, tidak ada kasih sayang yang ia tunjukkan padaku, yang ada hanyalah siksaan dan hinaan yang ia tunjukkan padaku setiap harinya. Untuk apa aku hidup jika pada kenyataannya kehidupan bahagia ti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 CIUMAN KEDUA.
Pov Resya
Aku tidak pernah tau kenapa hidupku harus menderita dengan cara seperti ini, dulu pada saat aku masih bersama dengan kedua orang tuaku hidupku tidak pernah se'menderita ini, tapi kenapa engkau tega mengambilnya dariku.
Dan kenapa sekarang pada saat aku sudah menikah dan sudah memiliki seorang Suami, kenapa hidupku harus mengalami penderitaan seperti ini. Bahkan Suami yang harusnya melindungi sang Istri dari mara bahaya, ia malah tega menembak-ku tidak perduli dengan kondisiku mau pun menghargai-ku sebagai Istrinya. Apa aku memang sangatlah tidak pantas untuk bisa merasakan apa arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Ternyata untuk menggapai apa yang kita inginkan, ada banyak sekali cobaan yang harus kita hadapi terlebih dulu. Aku sadar aku ini siapa, aku hanya wanita yang beruntung karena bisa menikah dengan seorang laki-laki tampan seperti Richard, tapi wanita sepertiku memang sangatlah tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga mereka
Bukan aku yang menginginkan semua ini, tapi kamu sendiri yang memaksaku berbuat tega seperti ini.
"Tuan sekarang apa yang harus kita lakukan?"tanya Gibran pada Richard yang sedari tadi sibuk merapikan beberapa senj*ta.
"Maksud kamu apa?" tanya Richard kemudian.
"Tuan sendiri juga tahu dengan Tuan membebaskan istri tuan, jika nasib wanita itu selamat dan dia melaporkan masalah ini dan memberitahu polisi apa yang harus kita lakukan?"tanya lelaki itu.
"Soal itu, kenapa? Apa kamu takut? Apa kamu takut dipenjara?" tantang Richard yang akhirnya membuat Gibran hanya bisa terdiam, sesaat kedatangan anak buahnya yang diselimuti rasa cemas membangkitkan ekpresi Richard.
"Ada apa?"tanya Richard.
"Markas kita telah didatangi orang-orang dari luar wilayah kekuasaan kita, tuan?" seru anak buahnya.
"Maksud kamu apa Rez? Memangnya alat pendeteksi yang kamu pegang tidak memberikan kode akan kedatangan tamu yang tidak diundang?" tanya Richard dengan tegas.
"Biar lebih jelas lagi sekarang Tuan lihat sendiri."
"Baiklah."
"Sinyal dan kode merah telah nyala yang artinya menandakan jika ada seseorang yang berhasil menyelinap masuk kedalam markas ini,"jelasnya.
"Sial, coba kamu perlihatkan cctv nya. Sebelum kita melarikan diri dari sini aku inggin melihat siapa orang itu."
"Baik tuan."
Mata Richard mencipit sadar gerombolan polisi telah mengepung markasnya.
"Polisi ...benar dugaan-ku kan baru saja aku bungkam ketakutanku benar-benar terjadi, sekarang tunggu apa lagi ayo kita segera pergi dari sini sekarang!"ujar Gibran.
"Sial polisi lagi, dari mana mereka tahu tempat persembunyian kita. Semua ini pasti ulah wanita itu!"
"Tuan, kita tidak ada waktu lagi, secepatnya kita harus segera pergi meninggalkan tempat ini jika tidak inggin kita mendekam dipenjara,"seru Gibran menyarankan.
"Baiklah kita bawa alat pendeteksi. Dan beberapa senj*ta kita, kemudian kita lewat terowongan bawah tanah yang akan tertuju pada pintu keluar nanti."
"Baiklah. Semua senjata sudah aku bawa tuan sekarang cepat kita pergi dari sini."
"Baik, cepatlah."
Pergi meninggalkan ruangan ini dan lewat terowongan yang bisanya hanya mampu dilewati satu per orang, dengan membungkuk Akhirnya mereka berhasil keluar dari ruangan yang telah dikepung oleh para Polisi.
Resya yang saat ini masih terbaring diatas brangkar Rumah sakit. Tiba-tiba ia kepikiran Richard.
"Kenapa sekarang perasaanku jadi tidak tenang kaya gini? Harusnya setelah aku memberitahu mereka tentang keberadaan Richard dan anak buahnya aku menjadi senang, tapi kenapa yang aku rasakan kenapa aku malah jadi gelisah gini. Apa mereka akan tertangkap?"
"Tidak usah kamu mikirin mereka Res, apa yang mereka lakukan tidak sebanding dengan perbuatan yang kamu lakukan ini. Jadi jangan kamu merasa kasihan kepada mereka," gumam Resya dalam hati, berusaha gadis itu mencoba untuk menenangkan.
" Sandra ...sebenarnya apa motif yang sebenarnya yang telah ia sembunyikan dari Richard? Jujur sebagai seorang wanita harusnya dia tidak semudah itu merelakan Suaminya untuk menikah lagi, tapi apa yang ia lakukan dia malah menyuruh Richard menikah lagi tanpa sebab yang pasti. Aku rasa semua ini ada yang tidak beres dan aku harus menyelidiki masalah ini,"kata Resya.
Dipenuhi rasa was-was yang tiba-tiba menyerangnya. Resya sudah tidak ada pilihan lain selain nekat melarikan diri dari Rumah sakit ini itulah yang ia lakukan sekarang. Mencabut infus yang masih tertempel pada telapak tangannya dan bergegas ia pergi dari ruangan ini dengan cara mengendap-endap, beberapa saat.
"Akhirnya kita bisa keluar dari pintu darurat ini, sekarang ayo cepat kita pergi dari sini sekarang!"titah Richard memerintahkan.
"Tunggu! Untuk mengelabui mereka mendingan kita berpencar karena jika kita berkumpul jadi satu, Polisi akan tambah mudah menangkap kita, jadi jika diantara kita ada yang tertangkap salah satu dari kita ada yang berhasil meloloskan diri,"ujar Richard menyarankan.
"Baik, itu ide yang bagus tuan," timpal Gibran setuju.
"Baik, jaga diri kalian, kita mulai berpencar sekarang!"
"Baik tuan," balas Gibran.
"Hei ...jangan lari," teriak salah satu Polisi yang memergoki mereka.
"Sial polisi itu melihat kita, cepat kita pergi dari sini," perintah Richard, mereka berbondong-bondong berlari meninggalkan lokasi ini.
Dor
Dor
Dir
"Hei jangan kabur! Kapten mereka melarikan diri ke-beberapa arah, kapten."
"Sial cepat kejar mereka dan jangan sampai mereka berhasil meloloskan diri,"perintah Kapten Revan, mereka semua pun berpencar.
Door
Tembakan tepat mengenai lengan Richard, menahan sakit bagi lelaki itu hal yang tidak susah untuk ia lakukan.
"Dasar breng*ek dia menembak lenganku rasakan ini!"
Membalas Richard menembakkan dua peluru kearah polisi itu.
Dor
Dor
"Sial, dia melawanku," gertak Polisi berhasil menghindari serangan pelu*u yang hampir mengenainya.
"Aku harus segera pergi dari sini, aku tidak mau sampai tertangkap. Apalagi dengan luka tembakan yang aku alami ini, bisa-bisa aku kehilangan banyak darah jika tidak segera meloloskan diri dari mereka," ucap Richard sambil berlari dan menggenggam lengan tangan kirinya dengan keras.
Tepat di perbatasan kampung yang jalannya terbilang sangat sempit, tiba-tiba ada seseorang yang langsung menarik tangan kanannya dan membawanya di gang sempit yang terlihat sepi dan sedikit gelap karena kurangnya lampu penyinaran.
Wajah Richard seketika terkejut setelah ia tahu siapa orang yang telah membawanya ketempat sempit seperti ini.
" Kamu? Apa yang kamu lakukan kenapa kamu malah menolongku dan membawaku kesini?" tegas Richard dengan menunjukkan tatapan sinisnya, Resya yang mendengarnya ia seketika membungkam mulut Richard.
"Jangan banyak bertanya, di sekitar sini masih ada polisi yang mengincar-mu diamlah,"perintah Resya yang seketika membuat Richard terdiam.
"Kamu pikir kamu siapa?" bentak Richard yang langsung menghempaskan tangan Resya darinya.
Membawa kabur Richard dan menyembunyikannya disalah satu gang sempit, perasaan Resya tiba-tiba jadi kurang tenang. Membawa kabur seorang buronan maka taruhannya adalah nasib dia sendiri.
Bahkan lebih parahnya resiko yang akan ia dapat jika ia sampai ketahuan oleh para Polisi, mungkin ia juga bisa mendekam didalam jeruji besi akibat kecerobohan atas tindakan yang ia lakukan saat ini.
Mendengar ada suara polisi yang bertanya pada salah satu seorang penguna jalan, Resya menatap kearah Richard dengan tatapan bingung, tidak ada pilihan lain lagi Resya segera melepas jaket hitam yang ia kenakan beserta topi hitam yang sengaja Resya kenakan sebagai penjagaan, tanpa adanya perintah Resya memakaikan pada tubuh Richard.
"Apa yang kamu lakukan? Aku tidak butuh semua ini?"gertak Richard yang merasa sedikit marah, akan tetapi melihat Resya yang menatap dirinya dengan tatapan serius Richard dibuat terkejut lantaran Resya yang semakin menatap dirinya, sekaligus perlahan Resya semakin mendekatkan wajahnya ke arah Richard yang seketika membuatnya tambah semakin bingung.
"Wanita breng*ek! Apa yang ingin kamu lakukan? Kamu lupa siapa orang yang sedang kamu tatap sekarang?" tegas Richard, masih ditatap sinis oleh sang suami namun tidak bisa berbohong lelaki itu terlihat gugup berbalik berjalan mundur secara perlahan.
Alih-alih hatinya merasa lega, jantung Richard semakin berdecak tak karuan sadar posisinya sudah sangat terpojok, posisi tubuhnya yang belakangnya sudahlah mentok pada tembok kokoh itu.
Mendengar pria dihadapannya terus mengoceh, ditambah tatapan tajam yang tak henti-hentinya sang suami layangkan ada keraguan dalam hati Resya.
Hatinya semakin gundah gulana mendengar suara polisi semakin jelas terdengar ditelinga, tanpa berkata lagi Resya menci*m bibir Richard dengan perlahan. Tersadar dengan apa yang dilakukan wanita ini, tubuh Richard rasanya seperti terikat bahkan mulutnya tidak mampu untuk dia ucapkan sepatah kalimat pun, bahkan untuk memberontak rasanya ia tak sanggup.
"Gimana apa kamu menemukan buronan itu?"tanya Polisi masih terheran begitu cepatnya sasarannya melarikan diri.
"Tidak! Sepertinya dia sudah pergi jauh, dia sudah berhasil melarikan diri dari kejaran kita," balas rekan ikut frustasi, tak sengaja melihat dua sejoli yang sedang berci*man semakin menambah nafas keduanya ikut memburu.
"Orang jaman sekarang sudah hilang rasa malu lihatlah?" Ditunjuk kearah dua seseorang yang sedang berciuman mesra.
"Sudah-sudah ayo kita pergi, lagian disini tidak ada apa-apa lagi!"
Sesaat dua Polisi itu bergegas pergi dari tempat ini.
Perginya para preman tak membangkitkan tindakan mereka untuk mengakhiri ciumannya. Richard yang melihat kepergian mereka, dia merasa sangat lega, tapi merasakan dua bibir yang masih tertempel dalam satu sama lain Richard seketika terdiam dan tidak berkutik, terlihat lelaki itu menikmati santapan yang tak biasanya penikmat ini ia rasakan.
Resya sendiri yang sudah tersadar akan kepergian Polisi hatinya ikut lega, namun sadar lelaki yang ia kecup tak kunjung melepaskan kenikmatan yang tiada Tara alisnya ikut naik tak mengerti lagi dengan isi pikiran lelaki ini.
Mengakhiri ciuman dengan melepaskan secara paksa bibir keduanya, Richard terlihat diam tak ada balasan entah sepatah kata,
Resya sendiri menatap kearah lelaki itu dengan tatapan sedikit bingung ikut tak mengerti dengan isi pikirannya sendiri.
BERSAMBUNG.
😡😡😡
Masak hanya karena mata dia memilih bunuh diri, emang kemampuan Mafia Kejam nya sampe mana?!
😤😤😤
Makin kesini makin gak ngawur!!!
😤😤😤
😤😤😤
🤣🤣🤣
🤣🤣🤣