cerita ini hanya lucu lucuan saja. jangan pernah pakai logika untuk membaca cerita ini.
kisah Pocong yang jadi pakboy di dunia hantu. berjuang demi istri istrinya, yaitu Kuntilanak dan beberapa hantu cantik dari teror manusia
Rumah Kosong menjadi tempat hunian mereka. Namun semenjak kedatangan Bodong Family. Pocong Family mulai tidak tenang. Keributan mulai terjadi antara Pocong Family dan Bodong Family.
akan kah mereka bisa damai.
Baca Kisahnya...
WARNING...!
JANGAN GUNAKAN LOGIKA UNTUK MEMBACA CERITA INI. AGAR TIDAK MENIMBULKAN PRO DAN KONTRA DI JIWA KALIAN.
SELALU TERSENYUM DAN TERTAWA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jo doang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
"Pah... Itu suara apaan ? Mama jadi takut! jangan jangan itu Kuntilanak yang lagi loncat loncat di atas genteng" Ujar Bu Bodong yang sudah merapat di pangkuan Pak Bodong.
Karena rasa takutnya, ia tidak perduli tentang Putri yang melihatnya sedang berada di pangkuan Pak Bodong. Bu Bodong tidak ada rasa malu lagi di hadapan Putri. Yang terpenting dia nyaman.
"Mah... Turun ah. Malu tuh dilihatin Putri terus.!"
Pak Bodong ternyata risih dengan tingkah Bu Bodong. Dia akhirnya mendorong tubuh istrinya tersebut kesamping.
"Pah... Takuuuuttt!"
"Ayo kita lihat keluar. mana tau itu cuman bocah yang lagi melempar buah mangga.!" Ajak Pak Bodong.
Di depan rumah Pak Bodong memang ada pohon mangga yang tumbuh dan kebetulan sedang berbuah lebat. Jadi Pak Bodong berasumsi kalau suara dentingan di genteng, akibat ulah seseorang melempar mangga yang ujung ujungnya mengenai genteng.
mereka bertiga menuju depan rumah. Pak Bodong di depan, Bu Bodong di tengah dan Putri di belakang.
Sebelum pak Bodong membuka pintu. Tiba tiba mereka mendengar suara grasak grusuk bercampur teriakan dan tangisan dari luar rumah. Seketika merekapun terkejut dan mengehentikan langkah mereka. Mereka bertiga mulai merinding.
Pak Bodong mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, dia memutuskan untuk mengintip saja lewat jendela kaca. Dan mereka bertiga akhirnya mulai mengintip.
Dan Abra kadabra.. Wajah mereka langsung berubah pucat saat itu juga, mereka merinding dan ketakutan. Sura berisik yang mereka dengar saat berada di dalam rumah tadi semakin kencang. Tapi mereka tidak melihat apapun. Jangankan manusia, lalat saja tidak mereka temukan.
Tiba Tiba muncul sosok Pocong yang begitu menyeramkan di hadapan mereka, sangat dekat dan jelas, jaraknya hanya terhalang kaca jendela.
AAHHHHHHHHHHHHHHHH......
Mereka bertiga langsung berlari menuju kamar pak Bodong dan naik keatas tempat tidur, mereka bertiga langsung berpelukan di dalam selimut.
Bagi Bu Bodong, ini bukan yang pertama baginya di ganggu mahluk astral. Dia sudah mengalami beberapa kalai semenjak menempati rumah tersebut.
"Paahhh... Gimana Nih. Mama kan udah bilang rumah ini ada hantunya..?" Ujar Bu Bodong ketakutan.
"Iya pah... putri takut... Abang kemana sih....!!?" Sambung Putri Bodong dan malah menanyakan keberadaan Putra yang jelas jelas dia sudah tau kalau kakaknya tersebut sedang nginap.
"Kalau kalian semua ngeluh.. Aku ngeluh sama siapa dong...!" Ujar Pak Bodong yang mulai ikutan panik.
"Papaaaaa........!!" Teriak Ibu dan anak tersebut dengan serentak.
Sedangkan di kediaman Junaidi. Putra Bodong sedang VC dengan seorang janda beranak satu, gebetan Putra Bodong yang sudah hampir jadi pacarnya. Kebetulan janda tersebut anak seorang seorang Dukun hebat di RT nya.
Keesokan paginya. Mata Ayah, ibu dan anak tersebut kelihatan sembab. Asli... Semalaman mereka bertiga begadang, bukan karena nonton liga. Tapi karena rasa takut yang begitu mencekam.
®®®®®®®®®®®®®®®®®®
Saat BMKG menyatakan kalau hari ini sangat cerah di sore hari. Tv Nasional juga memberitakan kalau prakiraan cuaca menyatakan kalau malamnya tidak berawan.
Putra Bodong dan Junaidi berangkat untuk menjumpai seorang Dukun terkenal, Dukun sakti diantara Dukun yang tidak sakti. Seorang Dukun dengan jenis kelamin Betina. Seorang Dukun yang bernama Encrot, dengan nama panjang Encrotis ... Tapi, di dunia supranatural. Dia biasa di panggil Mak Encrot.
Mak Encrot adalah seorang janda beranak satu yang juga berstatus janda beranak satu.
Sebelum menemui Mak Encrot. Putra Bodong sebelumnya sudah membuat janji dengan sang Dukun melalui Sapinah. Karena dari kabar yang didapat Putra Bodong, si dukun sangatlah sibuk. Tapi bukan karena kebanjiran pasien, melainkan karena bulan ini musim panen padi. Jadi Mak Encrot kerja sambilan dengan memanen padi warga.
"Bro.. Lu yakin ama itu Dukun..?" Tanya Putra Bodong pada temannya yang ngerekomen si Dukun beberapa waktu lalu.
"Yakin lah....! Aku pernah berobat ama dia waktu aku sakit kurap. Sembuh Bro.. Cuma sekali sembur..!" Ujar Junaidi meyakinkan.
Putra Bodong percaya dengan ucapan Junaidi, mereka akhirnya menemui Si Dukun di kaki bukit yang rimbun akan pohon Alpokato.
"Apa tujuanmu anak muda..?" Tanya si Mak Encrot ketika Putra Bodong tiba di rumahnya.
Saat itu Putra Bodong hanya diam. Dia hanya terpaku melihat wajah Mak Encrot. Wajah Mak Encrot memang tidaklah cantik, dia sudah kepala lima. Tapi aura wajahnya mampu membuat pria seperti Putra Bod terpukau.
"Hei.... Anak muda... Jangan kau pandangi aku seperti itu. Nanti kau jatuh cinta.. Itu berat... Nanti kau tidak akan sanggup. Biar Dia saja. Karena aku juga tidak akan sanggup..!" Ujar Mak Encrot menirukan gaya omongan aktor salah satu film remaja.
"Anu Mak.. Rumah saya banyak setannya. Kami satu keluarga sering di ganggu.!" Ujar Putra Bodong seraya melirik Junaidi yang duduk di sampingnya.
"Ooooo.....! Sebentar ya, Saya liat dulu..!" Ujar Mak Encrot.
Mak Encrot mengambil bungkus kemenyan dari balik kutangnya, kemudian menaburkan sedikit kemenyan keatas batok kelapa yang sudah di beri bara yang terbuat dari arang pohon bakau.
SSSSSSSSTTTTTTT....!
Beserta terdengarnya suara kemenyan terbakar, asap tebal muncul dan mengepul ke udara, kemudian aroma dari kemenyan mulai menyengat dan memenuhi seluruh ruangan,
"Haaachimmm..... Hachimmm... !"
Putra Bodong, junaidi dan juga Mak Encrot serentak bersin.
"HAAACHHIMMM..... HAAAACHHIMMM..!
"Hmmm... Hmmm..!" Mak Encrot menggumam seraya manggut manggut "Sepertinya kita berjodoh.!" Ujar Mak Encrot lagi.
"Maksudnya Mak!" Tanya Junaidi heran.
"Aku dan Dia sama sama bersin!" Ujar Mak Encrot sambil menunjuk Putra Bodong dengan lirikan matanya.
"Kampret... Hubungan bersin ama jodoh apaan.. Gendeng juga ...!" Batin Putra Bodong. Junaidi tertawa terbahak bahak di dalam hati.
"Dari apa yang aku lihat... Di rumahmu terlalu banyak mahluk halus tinggal di sana..!" Ujar Mak Encrot.
"Tolong keluargaku Mak..!" Putra memasang wajah sedih.
"Tenang.... Tenang.... Semuanya bisa aku atasi. Kau tinggal menaburkan beberapa ramuan saja di sekitar rumahmu.Tapi...!" Mak Encrot menghentikan kalimatnya dan menatap Putra Bodong. Ia menunggu untuk di tanya..
"Tapi kenapa Mak..?"
"Ini ramuan langka. Campuran darah putih pria lajang sama garam dan cuka.. Kalau garam dan cuka aku punya. Tapi kalau darah putih putih pria lajang, Itu harus darimu..!" Mak Encrot menjelaskan.
Putra Bodong saat itu hanya mengerutkan keningnya, sangat jelas keningnya berlipat tiga.
"Maksudnya gimana Mak. Aku nggak ngerti apa itu darah putih.?" Tanya Putra Bodong.
Junaidi hanya tersenyum penuh misteri. Dia paham apa maksud Mak Encrot tentang darah putih pria lajang. Karena dia juga pernah melakukan hal tersebut.
"Buka celana mu...!"
Bukannya menjawab pertanyaan Putra Bodong. Mak Encrot malah menyuruh Putra membuka celana. Tentu saja perintah tersebut tidak langsung dilaksanakan oleh Putra, ia melirik kearah Junaidi yang hanya mengangguk, pertanda kalau Putra Bodong harus menurut.
"Jangan takut dan jangan ragu. Aku tidak akan memperkosa kamu, Aku hanya butuh spe rma darimu. Apakah kau tidak ingin rumahmu terbebas dari teror mahluk ghaib itu...?" Tutur Mak Encrot mencoba menenangkan Putra Bodong.
"Jadi maksud Mak, darah putih itu...!" Ujar Putra Bodong terkejut
"Itu kan hanya kata kata sensor saja!" Mak Encrot tersenyum licik pada Putra Bodong.
Setelah berpikir matang. Akhirnya Putra Bodong pasrah. "Tapi Mak janji.. Nggak akan memperkosaku... Aku masih perjaka Mak.. Jangan nodai aku ya...!" Suara Putra bergetar mengiba.
"Hahahahahahah.... Ada ada saja kau ini...! Cepat.. Kau buka celana kamu.. Mak mau motong padi pak Kusir bentar lagi.! Ujar Mak Encrot.
Walau ragu. Putra Bodong membuka celananya dengan perlahan. Dan... Ting...tong... Putra Bodong junior yang masih ngorok memberi hormat dengan menunduk kearah Mak Encrot. Mak Encrot hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Lumayan... Mendekatlah....!" Perintah Mak Encrot.
Terakhir liat postingan engkau telah pergi 😭😭😭😭😭
mampir thor
yg biasa berperan menjadi hantu yg fenomenal seperti kunti pocong dllnya
Hai kak, aku mampir lg, msh dicicil bacanya, semangat terus ya kak💪
Salam dari silence 🤗
Hai kak, aku mampir lagi nih kasih dukungan utk kakak. Masih di cicil dulu bacanya😊
Semangat terus ya💪salam dari silence🤗