Masalalu,
Semuanya berasal dari masalalu.
Masalalu yang mengubah hidupku.
Mengobrak abrik hati yang telah lama tersakiti.
Sebuah rahasia yang berawal dariku, membuat berbagai macam pertikaian dan perebutan terjadi. Mencari titik celah untuk mendapatkan rahasia yang tersimpan rapat dalam memori.
Aku...
Adalah titik pemicu peperangan terjadi.
Barang berharga yang mereka incar yang telah lama hilang kini mulai terkuak kembali.
Memaksaku untuk melindungi diri dari para musuh yang berniat ingin mencelakai.
Dia...
Suamiku.
Pria yang dengan tulus mencintaiku, meski harus melalui masa panjang untuk akhirnya bersama.
Pun tak luput melindungiku hanya untuk harta berharga.
Apa aku...
Hanya barang yang diperebutkan?
Atau hanya manusia yang perlu dimusnahkan?
follow akun ig author : @maulidamaulida84
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MA84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta tinggal
Aku kembali ke kota Bandung bersama dengan Bunda dan juga Arkan. Di sepanjang jalan mulut pria itu seolah tidak bertulang, lemes. Terus saja mengoceh, hingga dengan sekali tatapan mampu membuatnya diam.
" Lo tuh cewek paling beruntung karna mau married sama bang Er. Karna selama ini, banyak cewek cewek ngantri buat jadi nyonya di keluarga Bagaskara. Yah, meskipun gak seberuntung orang yang dapetin gue sih... " sombongnya.
" Beruntung sih beruntung, tapi kalo cuma jagain jodoh orang. Mending mundur teratur! " sinisku.
" Iyain aja biar cepet " dengusnya.
Menempuh waktu beberapa jam akhirnya kami sampai di bandara Husein Sastranegara. Kami di jemput pulang orang suruhan Bunda yang mengantar kami ketempat tujuan masing masing.
" April sayang... berhubung sekarang kamu udah jadi calon menantu Bunda. Bunda pengen kamu tinggal di apartemennya calon suami kamu. Bunda gak tenang kamu tinggal di kontrakan sayang... " ucap Bunda di sela sela perjalanan.
" Gak apa apa Bunda, Aril tinggal di kontrakan aja. Di sana aman kok bun, kan khusus putri. Jadi Bunda gak perlu khawatir. " tolakku halus dengan ekspresi masih datar namun halus.
" Tapi... "
" Udah bun, biarin aja. Lagian kalo dia tinggal di Apartemen bang Er, Itu jauh lebih berbahaya bun. Gimana kalo bang Er atau orang yang tahu pasword itu masuk? Itu benar benar bahaya bun. " bela Arkan. Untung kali ini kamu bela Ar, kalo enggak tiap hari ku jahilin kamu.
" Benar juga. Kalo gitu kamu tinggal di rumah Bunda aja.. " putus Bunda membuatku gelagapan. Gue pengen menikmati masa masa terakhir sebelum melepas masa lajang.
" NO!! Itu jauh lebih berbahaya lagi! " belum sempat aku menolak, Arkan lebih dulu berteriak heboh.
" Bahaya? Apanya yang bahaya? "
" Bahaya bun. Bang Er aja tatapannya aja udah bikin merinding, di tambah si tembok lengkap sudah penderitaan Arkan bun... " rengeknya manja.
" Trus Bunda harus gimana? "
" Bunda gak usah khawatir, insyaallah Aril bisa jaga diri kok. " tuturku mencoba meyakinkan wanita dua anak itu bahwa aku bisa tinggal sendiri.
" Emm ya udah. Tapi, Bunda bakal kirim supir buat antar jemput kamu selama kuliah, dan ini tidak ada penolakan! " tegas Bunda tak terbantahkan.
Tidak ada penolakan!
Kok kalimat itu kayak familiar ya? Kayak... Ah kok aku malah keinget sama si bayangan itu sih? Duh, kok tiba tiba aku khawatir ya sama acara pernikahanku nanti? Gimana kalo dia nekat ancurin acara pesta lalu menculikku untuk di paksa kawin lari? Gue belum siap di gorok ama Abah.
Tak lama kemudian, mobil itupun berhenti di depan kontrakanku. Setelah berpamitan dengan Bunda sebentar, akupun menarik koperku masuk kedalam pekarangan rumah berlantai dua yang merupakan kostan khusus putri.
Tap
" Nana? Kak Daniel? " gumamku lirih saat melihat dua manusia itu tengah duduk di teras sembari berbincang bincang hangat dengan tetangga kostanku.
" Assalamu'alaikum " salamku.
" Wa'alaikumussalam "
" Aril Nana kangenn... " aku telah menyiapkan tubuhku saat Nana menghamburkan pelukannya padaku. Baru di tinggal 4 hari dia udah melow gini, gimana kalo gue tinggal setahun? Auto blank.
" Kamu udah balik ril? " kini giliran Kak Daniel yang menyapa, aku menjawab dengan anggukan kepala lalu meminta izin untuk meletakkan koperku dulu kedalam kamar. Setelah meletakkan koper, aku kembali keluar untuk menemui tamu tamuku.
" Aril kenapa lama banget sih pulangnya? " ketus Nana bersidekap dada dengan bibir manyun khas orang ngambek.
" Perjalanan jauh " jawabku.
" Bukan itu! Maksud Nana kenapa Aril lama banget di Malangnya! Aril udah gak sayang lagi yah sama Nana?! " ujarnya dengan bibir mencabik.
" Sayang kok "
" Ya tapi kenapa gak ngabarin Nana?! "
" Gak sempat "
" Kenapa gak ngubungin saat di sana? "
" Sibuk "
" Sibuk apa? "
" Nyiapin acara lamaran "
" Lamaran siapa? " tanyanya lagi membuatku terdiam. Masa iya aku bilang acara lamaranku? Aku masih belum siap bilang kalo aku bakal nikah.
" Sepupu " dengan pandangan membuang kesegala arah, aku terpaksa menjawab bahwa sepupukulah yang akan menikah.
Maafin aku Nana...
" Kamu tahu ril? Tiap hari si Nana ngerengek minta aku buat anterin dia kekostan kamu. Mau gak mau terpaksa nganterin. " cerita Kak Daniel.
" Oh "
" Emm... bagaimana kabar kamu ril? " tanyanya nampak salah tingkah.
" Baik "
" Oh baguslah kalo baik. Aku rindu banget sama kamu Aril... " jawabnya jujur. Rindu? Benarkah dia rindu? Kok aku biasa biasa aja ya?
" Oke "
Jawaban tak sesuai harapan. Terlihat jelas semburat kecewa di tutupi senyum paksa terbit di wajahnya. Biarin aja, aku bukan orang yang suka memberikan harapan palsu pada orang orang yang berharap.
Lama kami berbincang dengan di selingi kepolosan Nana membuat harus extra sabar menghadapinya. Hingga langit mulai nampak jinga, Kak Daniel dan Nana memutuskan untuk pulang kerumah masing masing.
" Dah Aril... " lambai Nana masuk kedalam mobil Kak Daniel. Sedangkan pria itu masih berdiri di depan pintu sembari menatapku dengan senyuman yang tak pernah pudar.
Tanpa di duga, pria itu mengacak acak hijabku gemas lalu mencubit pipiku sambil tersenyum geli. " Ya udah, aku pulang dulu ya ril. Semoga kita berjodoh " pamitnya dengan senyum penuh arti.
Mobil sport merah itupun berjalan menjauh hingga menghilang di balik belokan. Saat aku berbalik ingin masuk, iris mataku menangkap seseorang yang amat familiar di mataku tengah menatapku dari balik mobilnya.
Dengan senyum menyeringai, dia menutup jendela kaca mobil lalu pergi. Eh tunggu! OMG!!! Jangan bilang dia ngira kalo Kak Daniel adalah orang yang ngelamar aku? Waduh... kok masalahnya jadi panjang gini sih? Bukannya apa. Aku takut dia ngapa ngapain Kak Daniel aja. Gak enak aku, apalagi semua itu gara gara aku.
Semoga sama Kak Daniel gak di apa apain sama di psyco itu... Aamiinn...
bikin aku gemes.
jadi pengen masukin ke kantong,
buat dibawa pulang.
'yes lampu ijo'
Thor novelnya gak dipromosikan?
padahal bagus loh
Me : Dingin Dingin bikin meleleh ya, ril?😆
tetap semangat nulisnya.
Aku suka dengan gaya bahasanya
ku udah ngirim kopi untuk kakak
semangat.....