NovelToon NovelToon
Rumah Di Samping Kuburan

Rumah Di Samping Kuburan

Status: tamat
Genre:Horor / Tamat
Popularitas:274.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rosa_Nanda

Semalaman suara gaduh di atas genteng itu membuat bulu kuduk merinding.
Entah apa yang tengah ribut di atas genteng sana. Karena, tak terlihat wujudnya.

Karena gangguan itu, akhirnya yang punya rumah membiarkan rumahnya kosong. Namun, Bu Heni tidak membiarkannya kosong begitu saja. Dia menawarkan rumah itu untuk di kontrakan dengan harga yang sangat murah.

Setiap Orang yang menempati rumah itu selalu merasakan hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal. Seperti munculnya bayangan hitam yang tinggi besar di ujung teras.

Terror bercak darah di sekeliling rumah membuat bulu kuduk merinding. Apalagi tengah malamnya muncul Makhluk aneh yang menyeramkan. Pundak terasa di tindih balok es yang super dinginpun di rasakan oleh Bunga, orang yang kesekian yang menempati rumah itu.

Bunga dan Angga tetap mencoba untuk bertahan, hingga akhirnya mereka kalah dan mundur dari rumah itu. Setelah Bunga melihat Makhluk aneh yang berwujud ular berkepala manusia yang berambut panjang serta memakai mahkota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosa_Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang mengendap-ngendap di halaman

Keesokkan harinya, Angga dan Bunga pura-pura tidak tahu. Bahwa, Bu Yati yang mengendap-ngendap semalam di halaman rumahnya.

Seperti waktu itu, Bu Yati nampak lewat di depan rumahnya.

Dia seperti yang tengah mencari sesuatu...

Bunga pura-pura tidak memperhatikannya. Dia pura-pura sibuk menjemur rompi jalanya.

"Sepertinya... Bu Yati mau melihat hasil kerjanya tadi malam." Pikirnya.

Terlihat sudah tiga kali, Bu Yati mondar-mandir, di depan rumahnya.

"Bunga... Lagi sibuk?..." Tanyanya, sambil mendekati Bunga, lalu duduk di ujung teras.

"Eh... Ada Bu Yati, iya Bu... Dari mana atau mau kemana?..." Bunga pura-pura bertanya.

"Habis dari rumahnya Bu Heni."

Jawabnya, namun ada keraguan di sana.

"Ooh... " Sahut Bunga singkat.

Kemudian Dia mengelap kusen jendela yang masih ada bekas cipratan semalam.

"Itu apa...?" Bu Yati pura-pura bertanya.

"Ini Bu... Enggak tahu apa, seperti butiran biji, yang di campur minyak" Ucap Bunga.

"Iya Ya... " Sahutnya lagi.

"Apalagi kemarin Bu... Banyak cipratan-cipratan darah di sini, malahan sekeliling rumah." Bunga memancing.

"Darah... Darah apa ?..." Dia bertanya pura-pura keheranan.

"Katanya sih darah ayam tulak, yang di beri jampi-jampi dan mantera oleh dukun dari suatu daerah, dan... Dukunnya itu kakek-kakek. Yang nyipratinnya laki-laki, kalau yang nyuruhnya... Perempuan, tapi enggak tahu siapa." Ujar Bunga. Sudut matanya melirik ke arah Bu Yati, yang wajahnya berubah jadi memerah.

"Itu... Itu... Kata siapa?" Tergagap dia berucap.

"Ibu Ustadzah Halimah yang mengatakannya. Karena, beberapa tahun yang lalu, pernah juga ada yang kena teror seperti Saya ini. Dan, motifnya sama lagi, yaitu Enggak mau kalau melihat orang lain bahagia, punya rizki dan rukun dalam rumah tangganya." Ungkap Bunga lagi.

Dia ingin tahu, bagaimana reaksinya.

"Tapi... Ya itulah, Allah juga tidak akan membiarkan yang salah yang berjaya. Akhirnya... Dia sendiri yang berantakan rumah tangganya. Ya.. Sepertinya senjata makan tuan. Syukurlah... Semoga saja, yang menerorku juga mendapatkan balasan yang setimpal." Bunga melanjutkan perkataannya.

"Eumm... Eum... Kalau Saya... Saya.. sering ke... Ke... Ke... Daerah itu... Tapi... Tapi... Bukan untuk.. ngeguna- gunain orang lain. Tetapi... Tapi... Main saja ke rumah temannya Suami saya." Ucap Bu Yati belepotan bicaranya. Kata-katanya tersendat-sendat tidak lancar.

"Ooh... Ibu yati suka ke daerah itu juga?..." Tanya Bunga, dia semakin yakin saja, pasti benar apa yang di katakan Bu Ustadzah Halimah kemarin itu.

"Eeh... Eng.. Enggak... Enggak..."

Bicaranya makin gugup saja.

"Ibu Yati... Kenapa?... Sepertinya Ibu merasa ketakutan, kok! Gugup begitu?... Bicaranya." Bunga makin penasaran.

"Bahkan Bu... Semalam juga, Aku dan Suamiku melihat ada orang yang mengendap-ngendap di depan sini. Sembunyi di balik pohon rambutan. Lalu... Dia menghampiri teras ini, dan... Menyemprotkan Sesuatu, seperti cairan kental gitu... Ke teras dan ke dinding, ya... Sebagian kena kusen dan pintu serta jendela. Ya.. Ini... Yang saya bersihkan tadi." Tutur Bunga.

Matanya tajam menatap ke arah Bu Yati.

Yang di tatap, nampak makin gugup saja tingkahnya, mukanya makin merah padam.

"Jam... Jam berapa kira-kira?" Dia masih bertanya, seakan ingin menyembunyikan kejahatannya.

"Jam dua lebih lah, Aku sama Bang Angga memperhatikannya, sampai dia selesai menyemprotkan cairan yang di plastik itu, yang dia keluarin dari kantong bajunya. Dan... Sampai dia kembali ke rumahnya." Tutur Bunga, di akhiri dengan senyuman.

Semua penuturan Bunga, membuat Bu Yati tersedak. Padahal, dia tidak sedang memakan atau meminum apapun.

"Uhk... Uhk... Uhk...!" Dia sampai terbatuk-batuk.

Angga yang dari tadi diam, dia hanya menyimak obrolan Isterinya, angkat bicara...

"Kenapa Bu...? Kok!... Ibu tiba-tiba batuk-batuk?..." Dia bertanya pada Bu Yati.

"Kalau Aku tidak kasihan dan tidak ada rasa hormat padanya, semalam mau langsung saja Aku pergoki, dan ku laporkan ke RT atau RW. Cuma... Yaitu... Masih ada rasa kasihan, takut dia malu sama seluruh Warga Kampung ini." Lanjut Angga lagi.

Sebelah matanya mengedip ke arah Isterinya.

Bungapun tersenyum, penuh arti.

"Tapi... Tenang Bu... Sudah ada kok gambarnya, semalam kan kami photo dari balik pagar halamannya. Nanti, kalau sekali lagi dia berbuat seperti itu lagi, Aku tidak akan mengampuninya." Ujar Bunga.

Dia sengaja membeberkan semuanya.

Biar dia kapok!

"Eum... Saya pulang dulu ya.." ucapnya berpamitan.

Mungkin sudah tidak kuat dengan perkataan yang di dengarnya.

"Mau kemana Bu...? Ini kan Aku lagi cerita seru." Ujar Angga.

Bu Yati pergi bergegas meninggalkan Angga dan Bunga.

Mereka langsung ngakak, setelah Bu Yati pergi dari hadapannya.

Tapi... Yakin deh, suara tertawanya pasti kedengaran jelas.

"Tahu rasa dia! Bu Yati... Bu Yati..." Ucap Angga, sambil terus tertawa.

"Bang, apakah... Yang selama ini

melakukan teror, kepada setiap penghuni rumah ini... Berarti... Bu Yati?.. " Gumam Bunga.

"Tapi untuk apa?..." Tanya Angga.

"Iya juga ya..." Kini Bunga juga merasa tak mengerti.

"Atau... Dia meneror itu, hanya kepada kita saja?" Bunga bertanya lagi.

"Bisa jadi... Eeh... Kita belum laporan tentang kejadian semalam, kepada Bu Ustadzah Halimah." Bunga baru ingat.

"Ooh.. Iya, ayo kita siap-siap untuk segera pergi ke sana." Bunga segera meloncat dari tempat duduknya.

Dia segera bersiap-siap...

" Kita berdua saja ya?..." Bunga minta pendapat Angga.

"Ya.. Berdua saja, kan kita sudah tahu tempatnya. Sudahlah... Jangan ngerepotin orang lain terus. Cukup, dia sudah ngantar kita ke sana kemarin itu." Sahut Angga.

Merekapun lalu pergi menuju rumahnya Bu Ustadzah Halimah.

"Semalam itu Bu... Aduuh... Sampai menjelang Subuh, kejadian yang mengerikan, yang membuat bulu kuduk merinding,

Meneror kami. " Angga menuturkan pengalamannya di teror kejadian aneh tadi malam.

"Apalagi Isteriku.. Aduuh kasihan banget dia, kepalanya sampai tersungkur ke lantai, terasa di tindih Sesuatu yang berat dan dingin seperti balok es, katanya." Lanjut Angga.

"Iya Bu Ustadzah... Dan... Setelah di tantang sama Suamiku, makhluk itu menampakkan wujudnya, iiih... Pokoknya sangat mengerikan. Wujudnya Raksasa, dengan mata merah menyala dan besar, ada taringnya, hitam gimbal lagi. Iiiih.... Aku enggak mau melihat yang seperti itu lagi." Bunga menceritakan pengalamannya, sambil bergidik ketakutan.

"Itulah... Jin yang tinggal di sekitar tempat itu. Makhluk itu tidak akan menggangu manusia, kalau tidak ada yang menyuruhnya. " Ucap Bu Ustadzah.

"Maksudnya?..." Bunga langsung bertanya, tak mengerti.

"Yang menampakkan wujudnya tadi malam itu, adalah wujud Genderewo... Dia itu, suka mau di mintai tolong oleh manusia, yang iri dan dengki. Dia selalu siap, Kalau ada yang menyuruh untuk mengganggu kita, manusia. Asalkan keinginannya terpenuhi." Lanjut Bu Ustadzah lagi.

"Berarti... Makhluk itu, ada yang menyuruhnya?..." Tanya Bunga.

"Iya.. Dan, sekarang kalian sudah tahu kan, siapa orang yang menyuruhnya?..." Bu Ustadzah Halimah bertanya.

"Bu yati...!" Angga dan Bunga serempak menjawabnya.

"Nah itu... Makanya, sekarang kalian harus berhati-hati. Saya sarankan.. Supaya jangan tinggal di kampung itu lagi! Kalau bisa, segera pindah dari sana, dan segera tinggalkan rumah serta kampung itu, dan... Yang paling penting lagi... Nanti, kalau sudah pindah, usahakan jangan sampai di ketahui alamatnya oleh Saudaranya Neng Bunga. Apalagi, di ketahui oleh Bu Yati. Itu, kalau Kalian mau usaha dan rizkinya lancar." Bu Ustadzah Halimah menjelaskan dengan panjang lebar.

Angga dan Bunga saling tatap, antara percaya dan tidak.

1
Ira Noviana
ada bagian yg typo
Rosananda: iya, kak ma'af🙏 maklum baru belajar hehe.
Makasih kak sudah mampir, dan makasih pula komennya.
Salam kenal
total 1 replies
Siti Arbainah
trus si Bu Mar jdi bikin usahanya Bunga dan Angga bermasalah gak thor
Siti Arbainah: iya kak😊
total 5 replies
Siti Arbainah
boleh gak sih curiga sama si Eyang Kurdi itu kan dia pernah bilang klo penghuni pohon beringin itu minta tumbal jangan" itu cma rencana dia aja dan skarang rumah itu bnyak teror jga gara" dia lgi
Irka NaArra
nurustunjung aki aki teh,,
Irka NaArra
semangat,,next bikin cerita horror lgi y,
Rosananda: InsyaAllah, terimakasih sudah mampir... dan makasih juga jejaknya.
total 1 replies
Rosananda
makasih sudah mampir
Kak Ya
sukurin kurdi
Kak Ya
jgn d ksh bu 🤭😁
Kak Ya
hindun nya cengeng bgt thorr .. takut dikit nangis. balapan nangis ma anak nya kalo lg ketakutan.
Alief As Syaikh
kok namanya ganti ganti lurr
Jhulie
wah suka nih ma novel horor, aq masukin rak dulu
Rosananda: makasih sudah mampir.
total 1 replies
Bayu Ridwan
mudah"an si kurdi kecebur got kepalanya dulu
Putri Handayani
aku mampir di sini ya kak, semangat upnya 💪💪💪
Edi yuzzardy
action nya kurang...jdi bnyak d skip n males baca lagi,banyak obrolan2 yg gk ke inti cerita...
Rosananda: ma'af kak 🙏 bukannya nyeleweng ke cerita majalah hidayah, tapi itu kan salah satu tokoh yang pernah menempati rumah di samping kuburan itu, dan meninggalnya dengan cara seperti itu. Begitu ceritanya kaka... Terimakasih sudah mampir.
total 2 replies
Edi yuzzardy
jadi nyeleweng ke cerita majalah hidayah ya wkwkwkw..pdhal tema rmh smping kuburan..apa hubungannya...ni jdul nya jgn rmh samping kuburan tp yg lain aza seauai cerita di mjlh hidayah,eyang kurdi susah di kubut hahahahaa....anehhh....jdi gk penting ke isi cerita
Nova Marlina
maaf thor nma ustadz ny soleh apa sulaiman ?
Rosananda: ma'af salah nulis.
total 1 replies
Yuzu💕
semangat thor..

salam dari "Ternyata aku keturunan RPD" mampir kak
Rosananda: makasih sudah mampir.
Salam kembali 🙏
total 1 replies
Dhina ♑
maaf 🙏🙏

"Tak mungkin... Semua rompi kan di jepit, Enggak mungkin fi terbangkan angin.

itu ☝️☝️ ga mungkin di terbangkan angin 🤔🤔
Dhina ♑: semangat berkarya, pantang menyerah
total 2 replies
Nova Marlina
ini nama suaminya anjar ap angga sih ?☺️
Rosananda: terimakasih koreksinya 🙏
total 2 replies
Nova Marlina
suka deh ceritanya..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!