Aku percaya, Tuhan memberiku kegelapan ini karena memiliki tujuan. Karena dibalik kegelapan ini, aku bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat didalam terang.
Aku percaya, Tuhan menciptakan aku karena memiliki maksud dan tujuan. Dan semua itu hanya aku yang mampu memahami dan melihatnya didalam kegelapan ini.
Cinta yang tidak pernah aku fikirkan, justru hadir memberiku setitik cahaya didalam kegelapan yang selama dua puluh empat tahun ini menemani hari hariku.
Cinta tanpa syarat, cinta tanpa melihat kekuranganku, cinta tanpa menuntut dan meminta, cinta yang rela berkorban hanya demi seorang wanita buta sepertiku, cinta dari seorang pria yang sangat sempurna, Avram Taddeo.
Seorang pria dengan segudang dosa, dan juga memiliki beban konflik keluarga yang sampai membuatnya menjadi manusia yang memiliki sifat anti akan Tuhan dan kebaikan.
Tapi Tuhan memiliki caranya untuk menyadarkan manusia agar kembali kejalan yang akan menuju kedamaian surganya. Dan disanalah kisah hidup Avram Taddeo mulai berubah, saat ia dipertemukan dengan Aludra Avante.
Gadis yatim piatu yang selama 24 tahun hidup dalam kegelapan, dan tinggal disebuah panti asuhan. Memiliki hati sebening embun pagi, bahkan senyumannya mampu memberikan sinar bagi para pemilik hati yang diselimuti kegelapan.
Tak mudah bagi keduanya untuk bersama, tak mudah bagi keduanya untuk menyatukan cinta. Seorang gadis buta dan pria tampan kaya raya nan sempurna. Cobaan pun datang silih berganti, mulai dari rasa rendah diri bahkan sampai campur tangan keluarga pun mewarnai.
Akankah.? semuanya mampu mereka lewati.
Akankah.? cinta mereka mampu melawan dan merubah kehidupan mereka dimasa depan.
Inilah kisah BERBAGI CAHAYA
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan seusai membaca ya sahabat 🙏🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegalauan
"Sepertinya akan ada yang segera beralih profesi menjadi detektif..?" goda Arsen saat Avram memasuki ruang kerjanya setelah ia usai membuntuti Aludra.
Sebagai sahabat Arsen tentu tahu semua tindak tanduk Avram, baik itu didalam urusan pekerjaan, atau pun urusan kegiatan keseharian Avram.
Dan perubahan kegiatan Avram belakangan ini, Arsen pun sudah mengetahuinya. Pagi hari dari pukul tujuh waktu California hingga pukul tiga sore, Avram akan berada diperusahaannya, menyelesaikan semua pekerjaan yang sudah menjadi beban dan tanggung jawabnya.
Dan selepas itu hingga malam hari, Avram akan mengikuti kegiatan Aludra kemana pun wanita itu pergi, sampai dimana Aludra kembali keyayasan. Barulah Avram akan kembali keperusahaannya, guna menyelesaikan pekerjaan yang belum ia selesaikan, setelah memastikan Aludra memasuki lingkungan yayasan dengan selamat dan dalam keadaan baik baik saja.
"Brengsek.!" umpat Avram seraya melepar jas yang ada ditangannya, karena terkejut akan ulah Arsen yang mengeluarkan suaranya secara tiba tiba. "Sejak kapan kamu disini..?" tanya Avram kemudian.
"ya, kira kira dua jam yang lalu." jawab Arsen dengan melihat alat penunjuk waktu yang melingkar dipergelangan tangannya.
Avram menyatukan kedua alisnya, seraya mendudukan diri disofa yang berseberangan dengan Arsen. "Ada apa..?" tanyanya kemudian.
"Tidak ada, aku hanya ingin mengajakmu bersenang senang saja." jawab Arsen.
"Aku tidak mau, dan tidak akan pernah mau lagi melakukan itu." tolak Avram tegas.
Mata Arsen membola, dan tak sengaja ia tersedak ludahnya sendiri seusai mendengar ucapan yang keluar dari mulut si pendosa Avram.
"Apa aku tidak salah dengar..? Malaikat mana yang semalam datang kemimpimu dan sudah mengancammu..?" kata Arsen.
Avram tersenyum miring seraya menggeleng gelengkan kepalanya perlahan, bayangan akan Aludra yang baru beberapa waktu lalu menjadi penghias indra pengelihatan dan pendengarannya kembali terkenang.
Dan entah atas dasar apa, Avram bisa mengucapkan perkataan yang diluar nalar.
"Apa kamu serius dengan perkataanmu..?" tanya Arsen kembali dengan mimik wajah yang tidak ingin bergurau.
Avram menganggukan kepalanya cepat, dengan bibir yang masih setia tersenyum samar.
"Apa rencanamu Avram..? Jangan bilang kamu akan menikahi wanita itu." tanya Arsen kembali.
Senyum Avram langsung menghilang dari tempatnya. Untuk sesaat pria itu tak menampakan reaksi apapun, sampai pada akhirnya ia menghembuskan nafasnya menjadi kepingan udara.
"Aku tidak layak untuk wanita sesuci Aludra." kata sendu Avram. Baru kali ini didalam hidupnya, Avram menyesali semua perbuatan buruk yang sudah ia lakukan selama ini.
Bermain dengan puluhan wanita, dan menghancurkan harga diri mereka dengan perkataan yang tak sepatutnya ia ucapkan, membenci, menjadi jiwa pendendam, tak mengenal belas kasihan, tak perduli akan penderitaan orang lain, dan lebih menyesakkan, Avram tidak mempercayai akan keberadaan Tuhan.
"Lalu mau sampai kapan kamu akan melakukan hal seperti ini..? menguntitnya dalam diam." korek Arsen sekali lagi.
"Aku akan selalu menjadi bayangannya, menjaganya dari kejauhan. Itu semua sudah cukup membuatku bahagia, dan mengetahui jika dia baik baik saja, itu sudah sangat cukup untukku." jelas Avram.
"Sudah satu bulan kamu melakukan hal bodoh itu Avram. Tidak ada manusia yang sempurna didunia ini, tapi kita layak mendapatkan kebahagiaan dan mendapatkan yang terbaik walau kita bukan orang baik. Jika kamu memang ingin berubah, kenapa kamu bisa berkata jika kamu tidak pantas bagi Aludra..?" kata Arsen.
"Apakah aku masih pantas meminta dan menginginkan sesuatu yang terbaik Arsen..?" tanya Avram merasa tak yakin.
"Kamu masih sangat pantas mendapatkan semua itu, asal kamu benar benar tulus ingin berubah. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan Avram." timpal Arsen.
"Malaikat mana yang sudah datang kedalam mimpi dan mengancamu..? sampai kamu bisa berkata bijak seperti ini." kelakar Avram menjawab perkataan Arsen.
"Sialan.!" umpat Arsen seraya melempar kembali jas Avram yang berada dipangkuannya.
Avram terkekeh, dan diikuti oleh Arsen setelah beberapa saat ia mengumpat.
"Ayo, kita berubah bersama." ajak Arsen tegas. Avram menatap wajah sahabatnya yang nampak tegas dan serius, dan kemudian senyum serta anggukan kepala Avram berikan sebagai jawaban akan ajakan Arsen.
💕
💕
💕
"Kenapa Avram belakangan ini selalu pulang larut malam..? Apa ada sesuatu yang sedang ia rencanakan..?" tanya Tina kepada Tryoon yang baru saja usai membersihkan diri.
Dengan secawan anggur merah ditangan kanannya, Tina duduk dengan begitu anggun disofa yang berada disudut kamar putranya.
"Tidak ada" jawab cepat Tryoon "kakak memang sedang banyak pekerjaan yang harus dikerjakan." jawab Tryoon lagi acuh, seolah enggan menanggapi pertanyaan sang ibu.
"Tryoon.!" seru Tina seraya menatap tajam kearah tubuh tinggi tegap pria yang berdiri tak jauh darinya.
Mata keduanya pun bertemu, hingga akhirnya Tryoon sendiri yang mengalihkan pandangannya ketempat lain, seraya menghembuskan nafas frustasi keudara.
"Aku sudah menjawab dengan benar bu." kata Tryoon kemudian.
"Lalu kenapa kamu tidak bersama Avram menyelesaikan pekerjaan itu..?" selidik Tina kembali.
"Karena memang itu pekerjaan yang harus kakak lakukan sendiri. Bukankah ibu juga tidak suka jika aku menguras tenaga dan fikiranku untuk membantu kakak, kenapa ibu sekarang mempertanyakan hal seperti ini..?" jawab Tryoon.
"Oh, jadi sekarang ayah dan kakekmu mulai ingin menjauhkanmu dengan urusan perusahaan." kata Tina.
"Jangan berfikir yang bukan bukan bu.!" timpal Tryoon.
"Berhenti membela mereka Tryoon. Hanya aku, ibumu yang wajib dan harus kamu bela. Lakukan tugasmu dengan baik, dan berhenti menasehati ibu. Karena ibu lebih tahu mana yang baik dan tidak, terutama untuk masa depanmu." kata Tina tidak ingin dibantah.
"Bu.!"
"Cukup Tryoon.!" mata Tina melotot tajam kearah Tryoon, dan pria berusia dua puluh empat tahun itu hanya bisa pasrah tanpa bisa berkata kata lagi.
Bagai menggenggam bara api, jika tidak ia lepaskan maka kulit dan daging itu akan terus terpanggang. Tapi jika ia lepaskan pun percuma saja, karena telapak tangannya pun sudah terdapat luka bakar menganga.
Tidak ada pilihan, kecuali terus menggenggam hingga bara itu padam dengan sendirinya bersama kulit dan daging yang terus terkikis, walau perih dan sakit itu terus menghujam hingga kedasar tulang.
Baktinya kepada sang ibu, yang diemban Tryoon sebagai seorang anak wajib ia lakukan. Walau sejatinya itu sangat bertentangan dengan hati nuraninya, apa lagi Tryoon harus berhadapan dengan orang orang yang juga sangat ia sayangi dan penting bagi dirinya.
Andai Tryoon bisa memilih, ia lebih baik tidak terlahir kedunia dari rahim seorang ibu yang bernama Tina. Tapi kehendak Tuhan lebih berkuasa, takdirnya tak bisa kita tolak.
Hanya doa dan harapan yang selalu terucap, suatu hari nanti akan ada keajaiban yang mampu mengembalikan ibunya kejalan Tuhan, dan menyatukan keluarganya dengan akhir yang bahagia.
sebelum tuan besar kembali memeluk dengan kasih sayang ke Avram dan Aludra beserta anaknya ...sediiiih aku thooor..😭😭😭😭
jgn lama2 up nya ya 🤭