NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Satu Malam

Terjerat Cinta Satu Malam

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Irna Mahda Rianti

Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.

Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. I've seen you

warning : Baca sampe selesai guys, jangan setengah-setengah, jangan di skip juga 🤭... jangan lupa like, komentar, dan hadiahnya ❤

Siang ini, Sagara memutuskan untuk menemui Keyza, sang kakak di perusahaannya. Perusahaan yang kini Keyza pimpin, akan Gara pimpin juga nantinya, karena Gara sudah mengalah pada adiknya, Sagata, bahwa Gara hanya akan mendapat perusahaan cabang yang berada di Indonesia.

Gara besok akan pulang ke Zürich, oleh karena itu hari ini ia menyempatkan dirinya untuk datang ke perusahaan. Gara pun telah sampai di lobi perusahaan, dan ia telah menelepon Keyza, agar ia tak salah, karena ia jarang sekali datang ke perusahaan LC.

Setelah menelepon Keyza, ia masih berdiam diri di lobi tersebut. Gara pun berjalan pelan, Ia melihat-lihat keadaan sekitar yang tak peduli akan kehadirannya. Semua staff dan karyawan di Lc (Lexus Corporindo) belum tahu siapa dirinya. Ia melihat orang yang berlalu lalang, dan melihat produktifnya karyawan disini. Tiba-tiba, jalannya terhenti, karena ia teringat akan seseorang yang sudah lama bersemayam didalam benaknya.

Dulu, aku ingin sekali datang ke Indonesia, aku pun pasrah jika aku hanya diberi perusahaan ini, karena dulu aku ingin mengejar Hila kesini, gadis yang aku rindukan. Tapi, sekarang aku merasa kehilangan. Setelah aku tahu ia telah tiada, dan aku menatap nisannya, dengan nama Sahila Tanzania, hatiku sungguh terluka. Menghadapi kenyataan, gadis yang pernah bercinta denganku, telah meninggal dunia. Aku sudah disini, tapi aku tak bisa bertemu denganmu. Aku hanya bisa melihat tempat peristirahatan terakhirmu. Aku sungguh merindukanmu, Sahila ....

Gara menyebut nama Hila dalam hatinya, nama yang selalu ia ingat, walau Gara sendiri tak tahu, perasaan macam apa yang Gara miliki terhadap Hila. Cinta? Bagaimana kah cinta itu? Gara hanya ingin bertemu Hila, Gara tidak mencintai Hila. Gara hanya merindukannya, ingin bertemu dengannya. Walau kini nama Hila, tinggal nama saja ....

S A H I L A ....

DEG. Jantung Gara berdebar, ketika ia melihat sosok gadis yang sedang berjalan bersama dengan lelaki. Gara melihat sosok Hila berjalan keluar dari lift. Gara memicingkan matanya berkali-kali, bahkan untuk memastikannya, Gara mengucek matanya sampai benar-benar yakin, bahwa gadis itu mirip sekali dengan Hila.

"Hila ..." Gara refleks memanggil nama itu, ketika ia melihat gadis yang menurutnya begitu mirip dengan Hila.

Tiba-tiba, dua orang petinggi perusahaan berjalan cepat menuju Gara,

"Tuan Gara ... anda disini rupanya, senang sekali bertemu dengan anda. Kami dari departemen pemasaran, senang sekali akhirnya saya bisa berjumpa dengan anda, Tuan." Ucap manajer itu membuat Gara kehilangan sosok gadis yang mirip dengan Hila.

Gara celingukan, ia tak mendengar ucapan orang yang menyapanya. Ia malah fokus melihat gadis yang mirip dengan Hila. Namun, lagi-lagi, lamunannya tersadar, bahwa ia ingat, Hila sudah meninggal, dan tak mungkin itu Hila.

"Tuan? Tuan Sagara?"

"Ah, i-iya. Sorry, aku tadi tak fokus. Kukira kalian tak mengenalku, ternyata ada juga yang mengenalku. Aku akan pergi keruangan Kakakku, terima kasih atas perkenalannya," ucap Gara sopan.

Gara pun berlalu dari dua orang itu. Ia menaiki lift dan mencoba menerka-nerka dengan apa yang barusan ia lihat.

Gadis yang mirip dengan Hila ... tapi, tak mungkin itu dia. Gadis itu telah meninggal dunia. Mungkin itu hanya mirip saja. Tapi, dia memang seperti Hila. Hanya saja, dia menggunakan pakaian seragam perusahaan. Aarrgghh, tidak mungkin itu Hila. Aku harus sadar, bahwa dia telah pergi dan tak mungkin kembali. Hila, tenanglah di sana, walaupun disini, aku begitu merindukanmu. Batin Gara.

Hila yang berjalan keluar dari gedung, merasa ada orang yang memanggilnya, Hila pun terdiam,

"Kayak ada yang manggil saya, Pak," ucapnya.

"Ah, enggak ada. Pede banget kamu kalau ada yang manggil kamu! Memangnya kamu pikir, kamu siapa? Gak mungkin ada yang manggil kamu," jawab Bagas.

"Ah, i-iya juga ya, Pak. Baiklah, ayo kita pulang saja."

Pertemuan Gara dan Hila pun tak terwujud, karena Gara masih percaya bahwa Hila meninggal dan gadis yang ia lihat di perusahaan itu bukanlah Hila. Semua pun berlalu, hingga waktu terus bergulir tanpa terasa. Hingga akhirnya, Gara bisa sedikit melupakan Hila dan kembali disibukkan dengan segala aktifitasnya, begitu pun juga dengan Hila, ia sibuk dengan tugas barunya di pantry, dan mulai menikmati masa-masa kehamilannya.

...❤❤❤...

8 Bulan kemudian ....

Zurich, Swiss.

Semenjak pertemuan sekilas itu, Gara dan Hila sama-sama disibukkan dengan keadaan. Gara yang tengah kuliah di semester akhir, sudah sedikit lega, karena sebentar lagi ia akan wisuda. Ia serius dan kuliah dengan baik, sehingga ia bisa wisuda lebih cepat dari perkiraannya.

Waktu juga telah membuat Gara sedikit melupakan Hila. Gara mulai melupakan Hila, dengan seorang wanita yang bernama Bianka. Bianka adalah gadis blasteran sunda-amerika. Ia tinggal di Swiss karena hidup bersama kedua orang tuanya. Karena itulah, Gara bisa dekat dengan Bianka.

Gadis itu mengisi hari-hari Gara, membuat Gara perlahan melupakan Hila. Bianka dan Gara tak berhubungan, mereka hanya dekat. Tapi, kedekatan mereka sudah seperti orang yang berpacaran. Seperti hari ini saja, Bianka terlihat sedih, ketika mendengar kabar, bahwa Gara akan pergi ke Indonesia untuk waktu yang lumayan lama.

"Aku pergi ke Indonesia sekitar dua sampai tiga minggu. Maafkan aku, Bi ..." Gara terlihat sedih.

"Kenapa lama sekali?"

"Karena sebentar lagi aku akan diangkat menjadi Direktur baru Lexus Corporindo. Ada hal yang harus aku selesaikan menjelang pengangkatan jabatanku,"

"Aku pasti merindukanmu, Gara. "I'ill miss you, when you far from me ..."

(Aku pasti merindukanmu, ketika kamu jauh dariku)

"Just for a moment, don't worry, i'll be back for you, Bi ..." Gara melebarkan senyumnya.

(Hanya beberapa saat, jangan khawatir, aku akan kembali padamu, Bi.)

"Promise?" Bianka mengacungkan hari kelingkingnya.

(janji?)

"Of course, I promise!" Gara menyatukan jari kelingkingnya dengan kelingking Bianka.

Kedekatan yang tak disengaja. Saat Gara kehilangan dan pasrah akan kenyataan bahwa gadis yang selalu ada dalam mimpinya pergi, ia pun pasrah, menanti seseorang yang akan mampu mengobati luka dihatinya. Bianka lah, orang yang mampu membuat Gara tersenyum kembali. Walaupun, bayang-bayang Hila dalam diri Gara tak bisa hilang sepenuhnya, tapi Gara bisa mencoba melupakannya sejenak dengan Bianka.

...❤❤❤...

Lima hari kemudian ....

Sagara Putra Raharsya, Sang Ayah sudah tak sabar, akan mengangkat Gara menjadi Direktur Utama LC Grup. Gara akan menempati posisi direktur, di atas Keyza. Oleh karena itu, Gara diminta untuk duduk di kursinya, dan belajar agar kedepannya ia bisa memimpin jabatan barunya.

Gara masih belum memilih sekretaris, karena a memang belum resmi menjadi Direktur. Seperti hari ini, ia seorang diri sedang berada di ruangan barunya. Tak lama, Bagas sang sekretaris Keyza pun masuk keruangan Gara.

"Selamat pagi, Tuan Sagara. Saya Bagas, saya sekretaris Bu Keyza. Untuk sementara, Tuan bisa memerintah saya, jika ada yang ingin Tuan lakukan." Ucap Bagas sopan.

"Untuk saat ini, tidak ada. Berikan aku lemon tea dan kue kering saja. Perintahkan karyawan bagian dapur untuk membawakan minuman itu untukku." Ujar Gara.

"Baik, Pak. Saya akan segera menyuruhnya,"

Bagas pun segera turun ke pantry, untuk memberi tahu pesanan yang Tuan muda inginkan. Tak butuh waktu lama, lima menit pun Bagas sampai di pantry, karena Bagas naik lift. Padahal, Bagas hanya tinggal menelepon saja, tapi entah mengapa, ia malah turun sendiri ke pantry tersebut.

Tok, tok. Pintu diketuk Bagas, dan ia pun segera masuk. Didalam pantry, hanya ada Hila. Tak ada orang lain lagi. Bagas pun celingukan.

"Kemana orang-orang?" tanya Bagas.

"Sedang mengantar pesanan para staff, Pak. Hanya saya yang standby disini." Jawab Hila.

"Tolong buatkan lemon tea dan cemilan kue kering untuk calon direktur kita yang baru." Tegas Bagas.

"Wah, Direktur baru kira sudah ada ya, Pak?" Hila pun bergegas menyiapkan apa yang diperintahkan Bagas.

"Iya, baru hari ini tiba. Hanya untuk mengecek saja, tidak akan lama dia. Kalau disini tak ada orang, masa wanita hamil dengan perut buncit sih yang mengantarkan minuman untuk direktur?" Bagas sedikit cemas.

"Yang lain kan baru saja mengantar minuman ke seluruh departemen dan staf. Gak apa-apa, biar aku aja Pak. Lagian, cuma antarkan minum saja, aku masih sanggup, kok. Kan aku diperbolehkan naik lift." Imbuh Hila semangat.

"Kamu kapan cuti sih? Perut udah buncit juga masih aja kerja!" Sindir Bagas.

"Perut aku gak terlalu buncit, kok. Cuti sekitar tiga hari lagi, karena kehamilanku ini gak tahu kapan-kapannya, jadi bisa mundur bisa maju. Sebentar lagi aku cuti, kok." ujar Hila.

"Aku ngilu lihat perut kayak balon gitu! Kalau meledak gimana? Udah deh, biar aku aja yang bawa minuman ini ke ruang direktur." saran Bagas.

Tiba-tiba, ponsel Bagas berbunyi, kepala tim produksi meneleponnya, dan meminta Bagas untuk datang ke ruangannya.

"Aduh, Hil ... saya disuruh ke ruangan kepala produksi, sekarang juga. Kayaknya, kamu aja deh yang antar ke ruangan Direktur. Apa gak apa-apa?" pinta Bagas.

"Baik, Pak. Gak apa-apa, biar saya saja. Di lantai berapa?"

"Lantai enam, Hil. Ya sudah, aku pergi dulu ya,"

"Iya, Pak."

...❤❤❤...

Hila pun membawa minuman untuk Direktur baru perusahaan itu. Hila belum tahu, siapa Direktur baru yang akan memimpin perusahaan ini. Ia begitu antusias untuk melihat Direktur baru, karena Hila tahu, pasti Direktur baru pun akan sama baiknya dengan Keyza, sang Asisten Direktur berhati malaikat.

Saat menaiki lift, perut Hila tiba-tiba merasakan kontraksi ringan, dan hal itu sempat membuat Hila mengaduh. Hila pun menguatkan diri, karena ia harus mengantarkan minuman ini untuk Direktur.

Auwh, kenapa perutku malah sakit? Bukannya perkiraan dokter itu masih jauh ya? Dan aku cuti hamil pun sekitar tiga harian lagi? Tapi, aku kan tak tahu kapan awal kehamilan ini. Aku hanya menerka-nerka. Di USG pun tidak, karena aku tak punya biaya. Ah, mungkin hanya karena aku di lift tadi, jadi kamu gak nyaman ya, Nak ... Batin Hila tetap berpikir positif.

Sesampainya di lantai enam, Hila mencari ruangan sang Direktur baru. Sambil merasakan kontraksi, Hila pun berjalan terus, karena ia tak ingin mengecewakan Direktur. Tak lama, kontraksi itu pun mulai menghilang, Hila sedikit lega dibuatnya. Hila pun berjalan dengan tenang menuju ruangan Direktur.

Sesampainya diruang Direktur, Hila pun mengetuk pintu, karena tak ada sekretaris di meja pinggir ruangan Direktur itu.

Tok, tok, tok,

"Minuman anda sudah tiba, Pak ..." Hila sedikit berteriak, agar suaranya terdengar kedalam.

"Masuk!" suara bariton itu terdengar ditelinga Hila.

Hila pun membuka gagang pintu dengan tangan satunya, sementara tangan sebelah kirinya memegang nampan yang berisi teh dan camilan khusus untuk sang direktur.

Suara sepatu Hila terdengar melangkah menuju kearah Direktur yang sedang fokus menatap laptopnya. Hila pun tengah berada didepan meja Direktur. Namun, Hila masih tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena ia menunduk dan terhalang oleh laptopnya.

"Pak Direktur, ini teh dan kue nya," ucap Hila ramah dan sopan.

Direktur itu adalah Gara, Gara yang tak disadari oleh Hila. Dan Hila, sang Office Girl yang tak disadari oleh Gara. Gara pun mendongakkan wajahnya, dan menatap Hila yang membawakannya teh.

"Silahkan taruh di mej---" Seketika itu pula, mata Gara membelalak kaget, ketika ia melihat wajah office girl yang berada dihadapannya.

DEG, DEG, DEG

Mata Hila membulat penuh, wajahnya mulai pucat berkeringat dingin, melihat sosok laki-laki yang duduk di meja direktur tersebut. Hingga tangan dan kakinya bergetar, ia seperti sedang bermimpi, tapi ia juga merasakan kakinya menapak di lantai, dan ia pun kehilangan tenaga saking lemasnya,

Prankkkkkkk, nampan yang berisi cangkir teh itu pun terjatuh ke lantai, saking kagetnya Hila, melihat Gara berada didepan matanya.

"Ya Tuhan ... Hi, Hila? Hah? Hila? Hey, siapa kau!" Gara pun bangkit dari duduknya, ia tak menyangka ada gadis yang begitu mirip dengan mendiang Hila.

Hila masih terpaku menatap Gara, ia masih kaget dan tak percaya melihat laki-laki dihadapannya,

"Sagara? Sa-sagara?" Jantung Hila berdegup begitu kencang.

"APA? KAU MENGENALKU? SIAPA KAU? APA KAU SAHILA? APA ITU KAU? YA TUHAN, APA AKU BERMIMPI?" Gara segera berlari menuju Hila yang terdiam kaku ketika menatapnya.

Gara pun berdiri tepat dihadapan Hila, menatap Hila dengan lekat, dari atas sampai bawah, Gara memperhatikan tubuh gadis itu. Pandangan Gara seketika itu pula, tertuju pada perutnya yang membuncit. Ia tahu betul, bahwa itu adalah perut buncit orang hamil.

DIA, HAMIL? SI-SIAPA DIA SEBENARNYA? KENAPA JANTUNGKU TAK BERHENTI BERDEBAR? ASTAGA ... WAJAHNYA, KENAPA KAU MIRIP SEKALI DENGAN SAHILA? Batin Gara, yang masih begitu kaget dan tak menyangka.

*Bersambung*

1
falea sezi
g rela jalang Bianca dpet gata
falea sezi
males deh di bkin mati anaknya/Shame/
falea sezi
hmmmm emank murahan klo g murahan g bsa hamil uda jalang sombongnya
Nur Aini
Luar biasa
Nur Aini
Lumayan
Sovi Yana
keren ceritanya lanjutan elang
Pitri Minarti
duh gara kata katanya menyejukkan banget👍💚
Pitri Minarti
sedih banget😭😭😭
Eka Rauf Ginting
capek capek baca bayinya meninggal.. alur ceritanya jga bertele tele..
ningnong
😭😭😭😭😭
SR.Yuni
Demi nama besar rela korbankan kebahagiaan anak, anak akhirnya cari jalan keluar yg salah dan fatal akibatnya. Mendidik anak bukan berarti menentukan jalan hidup anak.
Sri Widjiastuti
indahnya pengorbanan!!
Sri Widjiastuti
Aamiin.... setuju calista
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
kluarga gara sama jg dng keluarga sahila lebih mementingkn harta
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
aq kok kasihan sama sahila ya
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
dasar pengecut sagara, gue benci laki2 kek bgtu, pengen ku bejet2
Ernawati
iiihhh davian kok gitu sih
Ernawati
semoga gata dapat wanita yg baik karna dia sulit jtuh cinta
Chandra-Jelita
author nya ternyata termasuk gemar nonton sinetron, sampai jadi referensi di ceritanya 🤔🤣🤣🤣🤪
Kadek Bella
gimana lanjutannya Calista sama elang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!