Cinta monyet yang meninggalkan luka dan trauma di hati seorang pemuda bernama Ahmad Dzaki. Karena perasaan bersalah atas apa yang menimpa wanita yang dicintainya, Dzaki memilih menjauh dan berubah menjadi sosok arogan, kasar dan dingin.
Setelah 18 tahun, akhirnya Dzaki bertemu kembali dengan Aleya, gadis yang dicintainya. Namun pertemuan itu justru semakin membuat Dzaki sakit hati dan menyesal. Akankah Dzaki dan Aleya bisa bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilmi Syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Ketemu
Aleya sedang memandang dirinya yang sudah rapi di depan cermin. Matanya lalu tertuju di jam tangannya. Masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor.
"Gak usah terlalu dipikirkan, katamu Mas Beni itu orangnya baik" Dinda tiba-tiba muncul di belakangnya
Aleya hanya tersenyum
"Kalau boleh jujur, sebenarnya memang terlalu cepat kamu memutuskan untuk terima lamaran Mas Beni, tapi Bismillah ajalah" Lanjut Dinda
"Iyaa iyaa" Aleya setuju kalau dia memang terkesan gegabah menerima lamaran Beni.
"Tapi ngomong-ngomong aku sampai kaget loh tadi subuh, bangun-bangun malah liat banyak kue yang udah jadi, kukira ada ibu peri, tahunya temanku ini lagi galau toh" Dinda tertawa terbahak-bahak
Aleya memang membuat kue sendirian sejak pukul satu malam, dia gelisah dan tidak bisa tidur semalam suntuk. Dia selalu teringat kejadian saat makan malam di rumah Beni.
Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Makan malam di rumah Beni berjalan dengan lancar, terlalu lancar malah. Mira, ibu Beni sangat ramah dan baik pada Aleya. Dia bahkan mengajak Aleya pindah dan tinggal di rumahnya karena Beni lebih sering menginap di rumah pribadinya.
Mereka bercerita tentang banyak hal sampai akhirnya Mira menanyakan kapan putranya akan melamar Aleya secara resmi, Mira ingin Aleya dan Beni melangsungkan pernikahan secepatnya. Melihat Mira yang sangat berharap untuk hubungan mereka, Aleya menjawab sekenanya.
"Mohon doanya buk"
Tiga kata yang langsung disambut pelukan hangat Mira dan senyum mengembang dari Beni.
***
Sudah seminggu sejak Aleya menerima lamaran Beni. Mereka mulai mempersiapkan acara pernikahan yang akan diadakan dua bulan lagi. Aleya sudah mengabari Akmal, kakak Ihsan untuk menjadi wali nikahnya. Aleya yang pada dasarnya tidak memiliki banyak teman hanya akan mengundang beberapa keluarganya, saudara Ihsan dan Fitri serta beberapa saudara sepupunya yang ada di Jakarta.
Tidak banyak yang berubah dari hubungan Beni dan Aleya setelah lamaran, Aleya menolak untuk diantar jemput ke kantor karena takut akan ada fitnah sebelum pernikahan mereka.
***
Ferdy meletakkan ponselnya di meja dengan kasar. Dia hampir menggila karena bosan, beberapa hari ini Dzaki seperti orang yang akan bunuh diri dengan bekerja terlalu keras. Dzaki bahkan mengerjakan semua hal yang seharusnya ditangani oleh Ferdy, bahkan dia tidak segan-segan menggulung lengan bajunya untuk memperbaiki mesin fotocopy yang macet.
Ferdy lalu membuka berkas berisi kuesioner, berharap dia bisa sedikit terhibur dengan jawaban ibu-ibu yang kadang nyeleneh. Beberapa kali dia tersenyum sambil membolak-balikkan kertas di tangannya, tiba-tiba tatapannya berhenti di sebuh nama yang ada di lembar paling belakang
"Aleya Indah Wijaya"
Keningnya berkerut, dengan cepat dia meletakkan berkas-berkas itu lalu mulai mengetik sesuatu di keyboard komputernya. Dia membuka akses ke data karyawan JD.Corp, melakukan pencarian untuk nama Aleya dan seketika matanya terbelalak,
"KETEMU!" Ferdy tanpa sadar teriak tapi sejurus kemudian dia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Maya yang duduk tidak jauh dari kursi Ferdy menatapnya dengan mata melotot.
"Ketemu apa pak?" Tanya Maya penasaran
"Ada deh" Ferdy tersenyum senang. Kembali mengetik beberapa tombol lalu mencetak file yang ada di monitor komputernya. Setelah selesai dia mengambil kertas itu dengan cepat dan berjalan ke ruangan Dzaki dan masuk tanpa mengetuk pintu.
"Ada apa?" Dzaki terlihat tidak senang
"Saya menemukannya" Ferdy tidak memperdulikan wajah Dzaki yang terlihat marah. Dia terus melangkah sambil menyodorkan dua lembar kertas ke Dzaki
"Apa ini?" Dzaki mengambil kertas itu lalu membacanya sejenak
Melihat nama Aleya, wajah Dzaki seketika terlihat tegang. Ekspersinya sangat sulit ditebak, jantungnya berdetak cepat. Dzaki lalu melihat ke lembar kedua, disana dia melihat foto seorang wanita. Dzaki menatapnya dalam-dalam, tampak familiar, wajah cantik dengan mata bulat yang menatap sendu. Dzaki yakin ini Aleya yang dia cari, terutama dengan adanya bekas jahitan yang di pipi wanita itu.
"Dimana dia sekarang" Suara Dzaki serak, matanya mulai berkaca-kaca, tanpa menunggu jawaban Dzaki berlari keluar ruangan sambil menarik melonggarkan dasinya.
"Divisi pemasaran pak" Ferdy menjawab sambil ikut berlari menyusul Dzaki.
Mereka berdua sudah berada di dalam lift menuju lobi, Dzaki sudah terlihat tidak sabaran. Kuku tangannya terus mengetuk dinding lift seolah-olah sedang menyalurkan mantra agar lift bisa bergerak lebih cepat.
Sampai di lobi Dzaki tidak peduli dengan tatapan para karyawannya yang menatap dengan heran. Bos besar mereka sedang berlari dengan penampilan yang berantakan. Dasi dilonggarkan, dua kancing kemeja yang dilepas menampilkan lehernya yang jenjang dan kekar, lengan bajunya dilipat sampai siku. Sangat jauh berbeda dari Dzaki yang biasanya tampil rapi dari ujung kepala sampi ujung kaki.
Para karyawan semakin heran saat melihat Dzaki memasuki lift untuk karyawan. Mereka sibuk berbisik-bisik menyampaikan semua kemungkinan yang terlintas di pikiran mereka masing-masing.
Di ruangan Divisi Pemasaran.
Dzaki yang datang dengan tiba-tiba membuat semua karyawan yang melihatnya terkejut.
"Loh Pak Dzaki ada apa kesini?" Jihan tersenyum senang, dia mengira Dzaki datang untuk menemuinya.
DEG
Wajah Aleya memanas, "Pak Dzaki kesini" gumamnya. Semenjak Dzaki datang di Jakarta Aleya memang berusaha menghindari kontak dengan Dzaki. Bahkan dia tidak tergiur untuk sekadar melihat foto Dzaki yang selalu dielu-elukan para karyawan wanita. Jauh dilubuk hatinya dia kadang merasa sakit hati ketika memikirkan Ihsan meninggal saat mengantar Dzaki, semua penderitaan yang dia rasakan setelah itu berawal dari kecelakaan itu. Mengenal Dzaki hanya akan mengingatkannya pada kesedihannya.
"Mana Aleya?" Suara Dzaki tegas, Jihan menunjuk ke arah Aleya
Dzaki berjalan mendekati wanita yang ditunjuk oleh Jihan. Merasa kalau dirinya yang dicari oleh Dzaki, Aleya berdiri dari kursinya lalu memutar badannya ke arah Dzaki
"Bisa buka maskermu?" suara Dzaki tiba-tiba lembut. Dia sekarang berdiri tepat di depan Aleya
Aleya hanya diam, tidak mengerti dengan maksud Dzaki menyuruhnya melepas masker.
"Tolong, aku mau memastikan sesuatu" pinta Dzaki lagi
Aleya lalu membuka maskernya, Dzaki bernafas lega melihat wajah wanita yang ada di depannya. Orang yang selama ini dia cari. Orang yang dia pikir sudah meninggal dunia.
"Kamu gak kenal aku?" semua yang ada diruangan itu masih berusahan mencerna apa yang mereka lihat, Dzaki yang selama ini sangat tegas dan sering mengeluarkan kata-kata yang tajam kini menjadi sosok yang sangat berbeda
"Pak Dzaki? Maaf kalau saya melakukan kesalahan pak" Aleya masih bingung.
Dzaki memegang bahu Aleya dengan kedua tangannya di depan semua orang, matanya memerah menahan luapan emosinya.
"Tatap aku, kamu gak ingat aku?" Suara Dzaki serak, wajahnya memerah dengan bibir yang bergetar.
Aleya mengangkat wajahnya, menatap pria yang ada di depannya. Lalu perlahan wajah Aleya memerah, matanya berair.
"A...de?" Aleya terguncang. Dia menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya.
"Tapi Kak Sam gak pernah bilang kalau..." Suara Aleya lirik, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dia alami saat itu.
"Sam tahu kamu kerja disini?" Dzaki memotong ucapan Aleya, dia menatap wajah gadis itu dengan kening berkerut.
"Pak Sam yang membantu Aleya agar bisa diterima disini pak" Jihan menjawab Dzaki dengan cepat, ingin menegaskan bahwa Aleya berbuat curang agar diterima bekerja di JD.Corp, sejak tadi dia sudah terbakar api cemburu melihat Dzaki yang bersikap lembut ke Aleya
"KURANG AJAR!!!"
Dzaki buru-buru meninggalkan ruangan divisi pemasaran, dia ingin membuat perhitungan dengan Sam.
Bersambung...
Sudah Ku tinggalkan like banyakkk juga.dan fav
Ku juga menunggumu di Karya Ku ...Saling Dukung yukk....
MAKASIH..
..Banyakkk