Kisah cinta sepasang anak manusia yang dijodohkan. Ternyata mereka pasangan kekasih 8 tahun yang lalu, banyak yang mengincar nyawanya, musuh dari masa lalu maupun musuh dalam bisnisnya.
Akankah mereka mampu melewati ujian cinta??
tunggu kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariez Aprileo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku akan percaya padamu*
"Bunda." Sapa Edward begitu ia mendapati Bundanya sedang duduk manis membaca majalah di ruang keluarga. Pria itu langsung duduk disebelah Nyonya Yuli mengabaikan tatapan heran Bundanya.
"Are you oke?"
Edward menggeleng.
Nyonya Yuli menutup majalah yang dibaca dan bersiap mendengarkan keluhan putranya. Sedikit penasaran tentu saja.
"Apa ini tentang Aurora. Kamu belum percaya jika dia adalah Rara? Atau masih penasaran dengan liontin Aurora?"
"Bukan. Aku sudah tak mempermasalahkan hal itu. Ada hal lain yang ingin aku bicarakan."
Nyonya Yuli tercenung. Apa tentang insiden putranya menabrak orang, pikirnya.
"Aku kemarin tidak sengaja menabrak wanita. Dan sekarang kondisinya tidak baik-baik saja."
Nyonya Yuli menghela nafasnya. Kalau berita itu, ia sudah dengar. Ia tidak begitu khawatir karena dokter Rian menyakinkan jika akan diurus pria itu. Lalu apa masalahnya.
"Apa dia memintamu menikahinya?"
Edward langsung mendesis. Walau wanita itu menangis sampai berdarah, ia pun tidak akan sudi menikahinya.
"Aku membawa putranya untuk tinggal bersamaku di apartemen. Bagaimana menurut Bunda." tanya Edward.
"Ya asalkan wanita itu tidak tinggal bersamamu sih tidak masalah. Jangan memberi ruang bagi pelakor. Kamu tahu seberapa besar kemungkinan itu terjadi bukan. Saran Bunda sebaiknya anak itu tinggal disini saja. Lumayan, mansion ini jadi tambah ramai. Kamu sibuk kerja bukan."
"Akan aku pikirkan, tapi aku sepertinya suka dengan bayi itu."
"Itu tandanya kamu sudah pantas menjadi seorang ayah. Harusnya kamu waktu itu memaksa Aurora menikah. Rugi sendiri bukan. Kamu sih ngak dengerin Bunda. Sok bijak padahal dalam hati menggerutu." Sindir Nyonya Yuli.
Edward menggaruk ujung alisnya. Memangnya Aurora apaan. Mana bisa wanita itu dipaksa begitu saja. Emang siapa gue. Edward tak habis pikir dengan jalan pikiran Bundanya.
.
.
Disisi lain, saat ini Aurora sedang bersiap ke kampus, gadis itu terlihat ceria dan begitu bersemangat, padahal baru semalam gadis itu tiba di London. Gadis itu menyapa ramah dua orang yang sudah lebih dulu duduk di ruang makan.
Kiran, sang asisten yang selama ini menjadi salah satu orang kepercayaan Aurora hanya bisa tersenyum melihatnya. Wanita itu mengangguk dan memundurkan kursi yang akan dipakai Aurora duduk menikmati sarapan.
"Duduklah Kiran, lain kali tak perlu seperti itu padaku." Ujar Aurora memperingati.
Kiran tersenyum dan mengangguk.
"Begitu juga padaku. Tak perlu kamu menggunakan gaya formalmu. Panggil saja Listy, tidak perlu pakai nona." sahut Listy ikut berkomentar.
Kiran hanya mengangguk dan tak begitu mempermasalahkan.
"Kiran, apa David sudah menemuimu selama berada disini?" tanya Aurora.
"Belum nona. Tidak ada siapapun yang mengunjungi rumah ini selain anggota Dark Queen yang mengirimkan bahan bahan dapur. Apa ada masalah."
"Tidak ada. Aku hanya ingin kalian saling mengenal saja, karena kedepannya kalian akan menjadi satu tim bersama Mira dan Selly."
"Baik nona." Jawab Kiran walau ia belum tahu siapa tiga orang yang baru saja disebutkan Aurora.
.
.
Sepulang dari kantor, seorang pria tampan terlihat berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang perawatan Yuna bersama asistennya. Dua orang itu langsung masuk begitu dokter selesai melakukan kunjungan.
Suasana mendadak hening. Lukas juga sedang enggan mengeluarkan suara. Ia berada di tempat itu juga karena diminta Edward menemani agar tidak terjadi fitnah kedepannya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Edward. Pria itu duduk dikursi kosong sebelah bed pasien.
"Saya tidak bisa bilang jika baik-baik saja Tuan, tapi saya bersyukur masih bisa sadar sampai saat ini." ucap Yuna lirih.
"Saya pribadi minta maaf. Malam itu saya benar-benar tidak sengaja."
Diam sejenak.
"Putramu sudah berada di apartemenku. Jangan khawatirkan dia, saya akan merawatnya dengan baik."
Yuna mengangguk terima kasih.
"Saya berharap Brian tak membuat anda kerepotan. Tolong jangan memarahinya dan anggap dia putra anda sendiri. Saya akan merasa tenang jika sewaktu waktu harus pergi meninggalkannya."
Lukas menaikkan dua alisnya. Apa maksudnya coba.
"Kamu harus berjuang. Saya tidak bisa berjanji seperti itu. Jika kamu pergi, aku akan menaruh dia ke panti asuhan." Ujar Edward tak senang.
"Saya tidak percaya anda bisa melakukan itu. Tolong didik Brian dengan baik. Semoga dimasa depan dia menjadi anak yang membanggakan anda sekeluarga." harap Yuna.
Edward berdiri dari duduknya. Ia perlu mengakhiri pembicaraan ini. Walaupun ia bersalah dalam kasus ini, tapi ia tidak bisa jika harus mengadopsi anak itu, apalagi statusnya yang belum menikah. Jangan sampai kehadiran bayi itu meregangkan hubungannya dengan Aurora.
"Istirahatlah. Besok kamu harus menjalani operasi. Jangan berpikiran buruk dan berjuanglah." ujar Edward sebelum berlalu pergi.
Yuna hanya bisa menatap punggung Edward yang mulai hilang di balik pintu dengan pandangan sedih. Ia masih ingin mengatakan banyak hal padanya, tapi sepertinya pria itu tidak ingin mendengar perkataannya.
Edward yang telah sampai di apartementnya langsung menuju kamar yang ditempati Brian. Pria itu tersenyum ketika mendapati bayi itu tidur dengan wajah damainya. Rasanya ia ingin memiliki putra sendiri.
"Tuan, anda ingin makan malam."
"Tidak Bik, tolong pindahkan Brian ke kamarku. Bibik istirahat saja. Biar saya yang menjaganya malam ini."
Pengasuh itu terdiam. Bagaimana jika nanti bayi itu menangis pikirnya.
Usai membersihkan diri, Edward ikut merebahkan diri di sebelah Brian. Pria itu memiringkan badannya, memandang lekat bayi yang baru berusia 7 bulan itu. Tiba-tiba bibirnya mengulas senyum, wajah imut dengan tubuh gembul itu seakan mempunyai daya tarik tersendiri baginya.
"Kamu tampan sekali. Siapa sebenarnya ayahmu." Gumamnya pelan seraya mengusap pipi Brian yang sudah seperti bakpau saja.
Getaran ponsel diatas nakas tiba-tiba mengejutkannya. Pria itu segera meraih ponselnya sebelum benda canggih itu membangunkan Brian.
Edward lagi-lagi tersenyum. Tampak wajah cantik Aurora memenuhi layar ponselnya. Wanita itu menyapa hangat pria yang dirindukannya.
"Selamat malam kakak. Maaf baru menghubungimu."
"Tidak masalah. Lagi dimana sekarang. Ramai sekali."
Aurora segera mengarahkan kamera belakangnya. Dia saat ini memang sedang berada di salah satu food court bersama Kiran, Listy dan David untuk makan bersama.
"Siapa pria itu."
"Yang ini."
Aurora mengarahkan kameranya pada David yang sontak melambaikan tangannya.
Edward tak menjawab.
"Dia orangku. Jangan cemburu padanya." Aurora terkekeh diseberang sana.
"Tentu saja aku cemburu."
Brian yang merasa tidurnya terganggu akibat pembicaraan mereka, mulai menggeliatkan badannya. Bayi itu tiba-tiba menggulingkan badan untuk meraih botol dot, lalu dilemparkannya ke arah Edward.
DUK
Brian terkekeh senang.
"Ahh. Ahh." Celoteh bayi itu.
Edward mengusap dahinya. Bukan sakit, ia hanya merasa terkejut saja.
Edward segera meraih tubuh Brian dan memangkunya.
Aurora diseberang sana sampai melebarkan mata melihatnya. Bayi siapa itu. Baru ditinggal 2 hari sudah punya bayi saja.
"Kak."
"Jangan berpikiran yang tidak tidak. Ini bukan bayi hasil perselingkuhanku. Ini anak orang yang kemarin aku tabrak." Ujar Edward cepat, tak ingin Aurora salah paham.
"Oke. Apa pun itu, aku akan percaya padamu. Sebaiknya tidurkan dulu, lalu hubungi aku setelahnya. Apa kakak baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Don't worry."
Aurora mengangguk lalu mengakhiri panggilannya.
Edward mengusap wajahnya lalu menatap wajah Brian dengan wajah bertanya. Apa haus, pikirnya.
Anehnya bayi itu mengangguk dan mencoba meraih botol dot-nya kembali.
"Ahh. Ahh."
"Baiklah, akan Dad buatkan untukmu. Setelah itu janji harus bobok lagi. Dad harus menjelaskan pada mommy-mu. Oke boy." Edward terkekeh dengan perkataannya sendiri.
.
.
.
#####
kalo bisa up nya jgn kelamaan jd lupa jalan ceritanya