SEBELUM MEMBACA NOVEL INI, ADA BAIK NYA MEMBACA KISAH ORANG TUA MEREKA DULU BIAR PAHAM. KARENA KISAH INI SALING BERKAITAN DENGAN KISAH SEBELUMNYA 🙆🏻♀️
👉🏻 LOVE MY BIG BOSS ❤️
TENTANG NOVEL INI :
Mengisahkan tentang Avkha, Seorang pewaris tunggal dari keluarga Elzel Putra Pratama yang menikahi Aryn--Seorang gadis yang sudah di kenal Avkha sejak lama, tapi gadis itu sama sekali tak tau tentang dirinya dan bahkan tak menginginkan pernikahan di antara keduanya terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 NYAMAN
Selesai makan, Avkha dan Aryn tak langsung pulang kerumah. Avkha sengaja membawa istrinya itu ke Taman Kota yang masih ramai pengunjung, biar malam semakin larut. Maklum, ini malam minggu. Malam panjang untuk muda-mudi.
Tak bisa di bohongi Aryn sangat senang di bawa ketempat ini. Entah mengapa ... sejak Avkha mengakui dirinya tadi, dia merasa ada perasaan yang aneh dalam dirinya.
Cinta? Entahlah, cinta tak mungkin secepat itu. Ini hanyalah perasaan senang.
Kini, mereka berdua sedang duduk di bangku taman. Memperhatikan orang sekitar. Dengan keheningan masing-masing.
"Kenapa yang lewat depan kita selalu pada bergandengan, sih? Ish! Sok sekali pamer-pamer kemesraan!" Celetuk Aryn. Sudah berapa kali pasangan-pasangan lewat di depan mereka, membuat jiwanya meronta-ronta.
"Kamu juga mau?" Avkha tiba-tiba. Aryn tersipu mendengarnya. Lantas berdiri dan buang muka.
"Gak! Buat apa juga. Lagian malu lah, sok mesra di depan banyak orang. Aslinya, entahlah."
Seketika Avkha langsung melingkarkan tangan ke pinggang Aryn. Mereka berhadapan.
"A--apa yang kamu lakukan?!"
"Bermesraan dengan mu."
"Astaga! Di tempat seperti ini?"
Avkha terkekeh, dia melepaskan Aryn. Lalu berganti menggandeng tangannya, menuntun berjalan bersama.
"Gak apa-apalah bermesraan di depan orang banyak selagi dengan batas yang wajar. Berpegangan tangan misalnya. Mungkin itu cara si cowoknya buat memberitahukan pada orang-orang, kalau orang yang sedang bersamanya kini adalah miliknya dan sangat berarti."
"Seperti yang saat ini aku lakukan." Lanjut Avkha dengan senyuman yang mengembang sempurna di bibir.
Aryn diam. Tangannya seketika menjadi berkeringat dingin dengan perlakukan Avkha
"Kau gugup?" Avkha menatap lekat.
Aryn tak bisa berkata-kata. Hanya menggelengkan kepala menyembunyikan debaran yang menurutnya datang tanpa di undang.
Langkah mereka terus saja menyelusuri jalan taman. Berjalan bersama dengan bergandeng tangan. Bahkan tak ada yang mengira mereka adalah pasangan Suami-Istri. Orang-orang mengira, mereka hanyalah sepasang kekasih yang juga sedang menikmati malam minggu ini.
Puas dengan taman, akhirnya mereka pulang. Untuk pertama kali, tak ada perdebatan antara mereka dalam waktu yang lumayan lama. Dari taman hingga ke rumah.
*****
Avkha tersenyum kecil, melihat Aryn yang tanpa sadar mengikutinya tanpa banyak drama hingga sampai ke kamar. Aryn baru menyadari saat Avkha akan menutup pintu.
"Lho, lho? Kok, kok? Kok sudah sampai ke sini, sih?" Aryn mulai panik.
"Lha? Kamu gak sadar dari tadi?"
"Astaga! Aku seperti terhipnotis dengan kenyamanan yang diberikan orang ini!" Batin Aryn.
"Hoi! Ganti bajumu, lekas naik ke sini." Avkha sudah rebahan di atas kasur. Entah sejak kapan dirinya kini hanya mengenakan kaos putih tipis dan celana pendek.
Aryn semakin gugup. Debaran itu datang lagi.
"Nggak mau! Aku mau pakai baju ini saja. Biar kamu gak bisa ngapa-ngapain." Aryn mulai panik.
Avkha terkekeh mendengarnya.
"Astaga! Kau kira, kau sedang memakai baju besi, hingga membuat aku kesulitan melepaskannya?"
"Heh!? Jadi kau mau melepaskan bajuku? Ih, dasar! Piktor! Pikiran kotor." Aryn melotot, mengambil bantal lalu memukuli Avkha.
Avkha terkekeh.
"Padahal, kau juga menikmati setiap kali..." Belum selesai Avkha bicara, sebuah bantal melayang ke wajahnya.
"Rasain!!!" Teriak Aryn kegirangan. Tapi wajahnya kini memerah.
Avkha bangkit, menangkap Aryn. Di gendong dan di rebahkan di medan tempur mereka.
"Jangan katakan tidak." Avkha menatap sayu mata Aryn. Entah setan apa yang merasuki Aryn, dia mengangguk dan mempasrahkan semuanya.
*****
Apa ini?
Apa ini cinta?
Apakah cinta itu lahir dari rasa nyaman?
*****
Pagi,
Seperti biasa, Avkha selalu bangun lebih awal dari Aryn. Di pandangi Istrinya itu, di usap pelan kening nya kemudian di kecup mesra.
"Perlahan, cinta pasti datang." Bisik Avkha, membuat Aryn terbangun.
Melihat wajah Avkha yang tepat berada di depan wajahnya, seketika Aryn jadi merona. Kemudian mengambil bantal, dan menyembunyikan wajah di bawah bantal itu.
"Kenapa belum berangkat kerja?!" Teriak Aryn.
"Masih pagi,"
"Biasanya pagi-pagi juga udah ngilang."
Avkha tersenyum.
"Jadi kamu gak mau aku pergi?"
"Ish! Bukan itu!!!"
"Yaudah, hari ini aku gak kerja. Mau jalan-jalan?"
Aryn diam. Avkha tidak tau dengan ekspresi wajah Aryn yang kegirangan di bawah sana karena mendengar ucapannya.
"Mau, gak?" Avkha memperjelas.
"I--iya!"
"Iya apa gak kedengaran?"
"Mau pergi!"
"Apaan?"
"Mau pergi!!!"
"Hah?"
"Ihhhh! Menyebalkan!" Batin Aryn.
Aryn kesal. Lalu duduk di depan Avkha dengan wajah kesalnya.
"Mau!" Teriak Aryn, menatap sangat kesal.
"Iya, mau apa? Cium?" Avkha dengan santainya. Tidak lupa senyum manis itu selalu saja mengembang.
Aryn seketika membara.
Lagi. Wajah Avkha di timpuk bantal.
"Pagi-pagi udah piktor!!!"