Bulan gadis 18 tahun terpaksa menikah dengan Bharata, majikan ibunya karena dijebak.
Karena tidak ingin ibunya dipenjara, Bulan terpaksa menjadi istri ke 3 Bharata yang sudah berusia 39 tahun.
Tetapi setelah menikah, Bharata justru kecewa karena dibalik wajah innocent Bulan, dia menyimpan rahasia besar.
Bulan ternyata adalah sugar baby sahabatnya sendiri yang bernama Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FLASHBACK 2 ( jatuh cinta )
Bulan menemani Tiara membuat istana pasir. Mereka berdua tampak sangat akrab.
Ini pertama kalinya Bulan berlibur ke Bali. Dia berbohong pada ibunya jika harus menginap dirumah teman karena orang tua temannya sedang pergi ke luar kota.
Satria terus memandangi Bulan yang asik bermain bersama Tiara.
"Tidak Satria, kau tidak mungkin menyukai gadis kecil itu. Umurnya bahkan tidak ada setengah dari umurmu. Kau bukan pedofil. Dia anak dibawah umur, usianya belum genap 18 tahun." Satria mencoba menyangkal perasaanya sendiri.
"Papa, papa.... " Satria tersadar dari lamunannya saat mendengar teriakan Tiara. Gadis kecil itu memanggil dan melambaikan tangan padanya.
Merasa dipanggil, Satria mendekat ke arah mereka.
"Fotoin aku sama Kak Bulan dong Pa." rengek Tiara.
"Baiklah." Satria mengambil ponselnya lalu memotret mereka berdua. Setelah itu mereka berselfi bertiga.
Mereka bertiga menikmati sunset bersama lalu kembali ke resort.
Saat dikamar Satria memandangi foto Bulan di ponselnya. Mereka baru saja makan malam bersama, tapi entah kenapa dia sudah merindukan gadis itu.
Tok Tok Tok
Satria memberanikan diri mendatangi kamar Bulan.
Ceklek, mendengar suara pintu dibuka membuat jantung Satria berdegup kencang.
"Tuan." Bulan terkejut melihat Satria datang ke kamarnya. "Ada apa?"
"Kau baru pertama kali ke Bali kan? Bagaimana kalau kita berkeliling Bali malam ini."
"Tapi Tiara sudah tidur." Bulan tidur satu kamar dengan Tiara.
"Maksud saya, hanya kita berdua."
"Tapi bagaimana dengan Tiara?"
"Resort ini milik saya, banyak pekerja disini. Kau tidak usah khawatir. Aku akan menugaskan seseorang untuk menjaga Tiara."
"Baiklah kalau begitu."
"Pakailah jaket, aku ingin mengajakmu berkeliling naik motor. Kau tidak keberatan kan?"
"Tentu saja tidak." Jawab Bulan dengan senyum mengembang dibibirnya.
Satria sudah siap dengan motor matic dan dua buah helm.
Satria membonceng Bulan berkeliling Bali. Ada perasaan gugup dihati Bulan. Berada dengan jarak sedekat ini dengan Satria membuat jantungnya seperti mau meledak.
"Aw." Kepala Bulan menubruk punggung Satria saat pria itu mengerem mendadak karena lampu merah.
"Kenapa kau tidak berpegangan?" tanya Satria sambil menoleh kearah Bulan.
"Apa tidak apa apa?" Bulan takut ingin menyentuh Satria.
"Tidak apa apa." jawab Satria dengan senyum merekahnya.
Dengan ragu Bulan mulai melingkarkan tangannya dipinggang Satria. Saat lampu berganti hijau, Satria kembali memacu motor matic nya.
Bulan melihat sekeliling, indah sekali pemandangan Bali saat malam. Walaupun malam, disini sangat ramai.
Bulan merasakan kenyamanan saat memeluk punggung Satria. Bulan mulai serakah dengan menyandarkan kepalanya pada punggung Satria. Dia mendapatkan kenyamanan yang selama ini belum pernah dia rasakan.
Satria tersenyum saat merasakan tubuh Bulan yang makin menempel padanya. Dia juga merasakan kehangatan dari pelukan Bulan.
Satria menghentikan motornya disebuah cafe dipinggir pantai.
Mereka istirahat sambil menikmati kopi disana. Suara deburan ombak membuat suasana alam makin terasa.
"Apa pacarmu tidak marah kau pergi berlibur bersamaku?" tanya Satria.
"Saya tidak punya pacar."
"Benarkah? kau cantik, apakah temanmu tidak ada yang tertarik padamu?"
"Ada, tapi saya yang tidak tertarik pada mereka." Banyak sekali teman sekolah Bulan yang mencoba mendekatinya. Tapi Bulan selalu menolak. Selama ini belum ada seorang priapun yang membuat hati Bulan terketuk.
"Memangnya seperti apa lelaki yang bisa membuatmu tertarik?"
"Seperti Tuan." jawab Bulan reflek. "Em... Mak, maksud saya, yang baik seperti Tuan." Seketika Bulan menjadi gugup.
"Kenapa bisa sampai keceplosan." batin Bulan.
Satria tersenyum melihat Bulan yang salah tingkah dengan wajah yang mulai memerah.
Satria mengajak Bulan berjalan jalan menyusuri bibir pantai.
"Apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Satria.
Bulan menggeleng, tapi hatinya berkata jika saat ini dia sedang jatuh cinta.
"Usiamu sudah 17 tahun, tapi sekalipun kau belum pernah jatuh cinta. Padahal biasanya gadis seusiamu sedang dalam masa puber. Dalam masa itu seseorang pasti ingin mencoba hal baru, seperti misalnya berpacaran."
"Tapi selama ini belum ada seorangpun yang bisa membuat Bulan jatuh cinta. Kalau boleh tahu, seperti apa rasanya jatuh cinta?"
"Seperti apa ya?" Satria menggaruk garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia nampak berfikir. "Mungkin seperti rasa ingin memiliki."
"Apakah rasa seperti itu bisa disebut cinta. Bukankah itu namanya obsesi."
"Cinta bisa menimbulkan obsesi. Kau tak tahu karena kau tak pernah merasakannya. Saat kau jatuh cinta, kau akan selalu merindukan orang itu. Jantungmu akan berdegup kencang saat didekatnya. Dan kau akan memandangnya indah melebihi siapapun. Dan saat semua rasa itu berkumpul, kau akan mulai terobsesi untuk memilikinya."
"Bukankah cinta tak harus memiliki. Orang bilang kita akan bahagia saat melihat orang yang kita cintai bahagia meski bersama orang lain."
"Tapi pada kenyataannya itu hanya sebuah kata kata manis. Kita pasti akan sakit hati jika melihat orang yang kita cintai bersama orang lain. Dan rasa ingin memiliki itu pasti tetap ada walau orang yang kita cintai bersama orang lain."
"Kalau boleh saya tahu, kenapa anda bercerai dengan mantan istri anda, Apa karena anda sudah tidak mencintainya?"
"Karena sudah tidak ada kecocokan diantara kami. Kami sama sama sibuk, hingga kami tidak ada waktu untuk sekedar quality time. Cinta itu bisa pudar dengan seiring waktu jika kita tidak menjaganya dengan baik. Andaikan saat ini kau mencintai seseorang, kau tidak akan pernah tahu besok atau lusa, mungkin saja cinta itu akan pudar."
"Apa anda tidak ingin menikah lagi?"
"Aku masih menikmati kesendirianku. Aku takut akan berakhir seperti ini lagi jika aku terburu buru menikah. Perpisahan ini mungkin yang terbaik menurut kami. Tapi tidak bagi anak anak kami. Tiara dan Arjuna adalah korban dari keegoisan kami. Mereka harus tumbuh dalam keluarga yang tidak lengkap."
"Apa anda masih belum bisa move on dari istri anda?"
"Tentu saja aku sudah move on sejak lama. Perasaan itu sudah hilang saat kami masih bersama. Tapi kami masih menjaga hubungan baik demi Tiara dan Arjuna."
Bugh
"Sorry." Tiba tiba saja seorang pemuda mabuk menyenggol tubuh Bulan hingga gadis itu mau terjatuh. Satria dengan cekatan menahan tubuh Bulan. Kedua tangan Satria memegang pinggang ramping Bulan. Mata mereka saling bertatapan. Bulan merasakan jantungnya berdebar sangat cepat, begitu pula dengan Satria.
"Kau tidak apa apa kan?"
Bulan menggeleng. Entah kenapa Bibirnya serasa kelu sekarang. Perasaannya tak karuan. Dia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan.
"Ada apa dengan diriku. Apa aku benar benar jatuh cinta pada Tuan Satria? Tidak Bulan, tidak boleh. Kau bukan siapa siapa, kau tak layak untuknya. Cintamu hanya akan bertepuk sebelah tangan. Pria seperti Tuan Satria tidak mungkin menyukai gadis kecil sepertimu." Guman Bulan dalam hati.