NovelToon NovelToon
Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Nikahkontrak / Poligami / Tamat
Popularitas:372.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Indri Hapsari

Anjani, 21 tahun. Baginya memiliki suami tampan dan mapan adalah keberkahan. Namun, siapa sangka keberkahan itu akan menjadi sebuah ujian. Suami Anjani, banyak didekati wanita cantik nan sexy. Sembari menjalani peran sebagai istri sekaligus mahasiswi di kampus baru, Anjani belajar meredam kecemburuan dan prasangka macam-macam yang seringkali melemahkan kesetiaan.

Ketika Anjani hamil besar, datanglah kabar yang menguji jalinan ikatan cinta halal. Sang suami meminta izin untuk menikahi rekan bisnisnya lantaran sebuah skandal. Apakah Anjani akan mengizinkan dan bertahan menjalani takdirnya bersama sang suami, sembari menahan perih? Atau justru mengakhiri janji suci dan menikah lagi dengan teman kampus yang sedari awal dicemburui oleh sang suami?

Dapat mengobrak-abrik rasamu. Harap bijak untuk tidak baper berlebihan. Enjoy reading dan terima kasih sudah mampir. 💙

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Hapsari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 : Cemburu Lagi

Genggaman tangan Mario dilepas. Anjani mencoba mengesampingkan ego yang tak pantas, lantas mengizinkan Mario dengan ikhlash.

"Silakan gendong Ayu, Mas."

Mario tersenyum dengan kerelaan hati Anjani. Lekas dibopongnya tubuh Ayu menuju ke dalam rumah. Sementara itu, Anjani mengekor di belakangnya. Tubuh Ayu pun dibaringkan di atas sofa.

Tepat saat itu juga mendekatlah Marisa. Benar adanya, Marisa memang tidak tahu menahu tentang Anjani yang mengenal kakak iparnya. Saat tadi Anjani datang pun Marisa tidak melihatnya karena hanya berseru di ambang pintu rumah. Sehingga, sosok Anjani tidak begitu ditangkap mata.

"Anjani? Ngapain lu di sini?" Marisa agak ketus. "Itu Mbak Ayu lu apain sampai begitu? Pak Mario, ada apa ini, Pak? Kok kakak ipar saya sampai pingsan begini?" Marisa menghampiri Ayu.

Cukup terheran Anjani saat ini. Tidak menyangka pula bahwa Marisa sudah tahu nama sang suami.

"Mas, kamu datang ke rumah Ayu sudah berapa kali sampai Marisa tahu namamu?" Anjani terpancing untuk bertanya.

"Hanya ...." Kalimat Mario disela Marisa.

"Ya sering bangetlah. Sampai nggak kehitung jumlahnya. Pak Mario ini kan calon ayahnya Baby Raihan. Sudah jelas statusnya. Sekarang, lu yang siapa?" Justru Marisa yang menyahuti.

Deg!

Wajah heran bercampur keterkejutan sudah cukup menyiratkan tanda tanya besar. Kesalahpahaman pun terulang. Anjani kembali panas hati. Sulit sekali mengendalikan diri saat cemburu lagi-lagi meraja hati.

"Sudah sering ke sini? Apa benar itu, Mas?" Anjani menatap lekat ke arah Mario.

"Sayang, tolong jangan salah paham dulu. Dengarkan penjelasanku."

Mario mencoba menenangkan Anjani. Berusaha merangkulnya agar tenang, tapi gagal. Agak sebal juga Mario dengan pernyataan Marisa yang tiba-tiba. Pernyataan sepihak itulah yang membuat Anjani salah paham lagi padanya.

"Marisa, apa yang kamu maksud dengan calon ayah? Bukankah kamu sudah tahu bahwa aku ini adalah bos kakak iparmu?" Mario bersuara juga.

"Kalau itu saya sudah tahu, Pak. Selama ini kan Pak Mario sering nganterin Mbak Ayu pulang sama Baby Raihan. Apalagi sebutan yang pantas kalau bukan calon ayah untuk Baby Raihan? Pak Mario kan begitu perhatian, sampai kadang bawain makanan," jelas Marisa dengan santainya.

Semakin sesak hati Anjani mendengar penjelasan Marisa. Tanpa sepengetahuan Anjani, ternyata Mario sering mengantar Ayu dan Baby Raihan pulang. Padahal, yang Anjani tahu suaminya itu hanya dua kali ke rumah Ayu. Dulu saat menjenguk Baby Raihan bersamanya dan malam ini saat Ayu meminta bantuannya.

"Mas, benarkah itu?"

"Hanya beberapa kali saja, Sayang. Kumohon jangan berpikiran macam-macam. Aku hanya sekedar mengantar Ayu pulang!" tegas Mario.

"Eh, Anjani. Lu sebenarnya siapanya Pak Mario, sih? Kok dari tadi dipanggil sayang melulu?" Marisa tak bisa menahan diri untuk bertanya.

Fokus Anjani kini tertuju pada Marisa. Kilatan mata menunjukkan bahwa Anjani tengah menahan emosi yang meraja. Status Anjani yang tak pernah diumbar di hadapan teman-teman kuliah pun harus diungkap saat ini juga.

"Marisa, Pak Mario ini adalah suamiku! Aku istrinya. Pernikahan kami sah secara hukum dan agama!" tegas Anjani.

"Apa? Jadi maksudnya Pak Mario sudah nggak single lagi? Wah, terus ngapain Pak Mario caper sama Mbak Ayu, dong! Ada udang di balik tepung, nih!" celetuk Marisa.

"Marisa, cukup!" Mario terpancing emosi.

Marisa terdiam. Tak lama kemudian fokusnya teralihkan pada sosok Ayu yang mulai siuman. Marisa mendekat sembari menampilkan kekhawatiran. Parahnya, Marisa justru membawa-bawa nama Mario sebagai sosok pahlawan.

"Mbak Ayu sudah siuman? Syukurlah. Tadi Pak Mario rela nggendong tubuh Mbak Ayu sendirian sampai ke dalam rumah," terang Marisa.

"Benarkah? Terima kasih banyak, Pak." Ayu mencoba duduk.

"Ayu, berbaringlah. Tubuhmu masih terlihat lemah," perintah Mario sesuai kenyataan, tapi Anjani melihatnya sebagai bentuk perhatian.

Mata Anjani terpejam. Sesak hati tak lagi terhindarkan. Sedikit menyesal Anjani membeberkan status dirinya pada Marisa. Pada kenyataannya Marisa tetap mendukung Ayu dengan Mario yang telah diberi predikat sebagai calon ayah.

Astaghfirullaah. Kenapa hatiku begitu sesak melihatmu perhatian pada Ayu, Mas. Segelap inikah yang namanya cemburu buta? Batin Anjani.

Tepat saat mata Anjani terbuka, terlihat Paman Li dan pak dokter yang menampilkan wajah ceria. Pak dokter lekas mengabarkan bahwa Baby Raihan sudah baik-baik saja.

"Paman Li, tolong antar saya pulang sekarang ya," pinta Anjani tiba-tiba.

Paman Li sempat terkejut mendengarnya. Lekas menduga bahwa keadaan sedang tidak baik-baik saja. Mario apa lagi, sama terkejutnya seperti Paman Li. Mario pun langsung menghampiri Anjani.

"Sayang, aku tau kamu kembali salah paham. Duduk dulu. Akan kuminta Marisa dan Ayu memberi penjelasan padamu," ucap Mario sambil menggenggam tangan Anjani.

"Cukup, Mas. Aku mau pulang!" Anjani melepas genggaman.

"Aku antar." Mario kembali menggenggam tangan sang istri.

"Tidak perlu. Urus saja si Ayu." Kembali Anjani melepas genggaman tangan Mario. "Paman Li, ayo!"

"Baik, Nona. Mari ikut saya."

Paman Li bersama pak dokter mengekori langkah Anjani. Mario yang tak enak hati jika harus pergi tanpa memperjelas situasi pun harus menahan diri. Diperhatikannya punggung sang istri yang menjauh di samping Paman Li.

"Pak Mario, apa yang sebenarnya terjadi?" Ayu bertanya.

Mario duduk di sisi sofa satunya. Dengan sabar Mario menahan emosi untuk tidak mengolok-olok Marisa karena ucapannya yang telah membuat Anjani salah sangka.

"Ayu, bagaimana keadaanmu?" Mario tetap ramah.

"Saya sudah lebih baik, Pak. Em, Baby Raihan?" Ayu mendadak panik mengingat kondisi anaknya sebelum dia pingsan.

"Tenang, Mbak. Raihan sudah baik-baik saja. Sana gih ucapin terima kasih sama Pak Mario yang sudah repot-repot bawain dokter buat Baby Raihan." Marisa menyarankan.

Ayu tersenyum dengan manisnya. Senyuman tulus yang jarang diperlihatkannya. Jika tak kuat iman, pastilah seorang lelaki akan langsung terpana. Apalagi penampilan Ayu begitu sexy dan menggoda.

"Terima kasih banyak, Pak. Em, maaf. Bolehkah saya tau sebenarnya apa yang terjadi dengan Bu Anjani sampai bersikap seperti tadi?" Ayu memberanikan diri untuk bertanya.

"Istri saya salah paham dengan keadaan. Tadi sebelum pingsan, kamu memelukku. Istriku melihatnya dan cemburu. Kamu ingat kejadian itu?" Mario mulai meminta kejelasan.

Ayu seketika menunduk. Butuh beberapa detik hingga kemudian Ayu mengangguk. Ayu sadar apa yang tadi dia lakukan.

"Maafkan saya, Pak. Saya tidak tau jika Bu Anjani juga ikut ke sini. Pikiran saya tadi begitu kacau sampai-sampai lupa diri. Terlupa juga kalau Pak Mario sudah beristri," aku Ayu dengan sejujurnya.

"Mbak Ayu kelamaan sendiri ini. Butuh sandaran hati. Cepet nikah lagi sana, Mbak! Sama Pak Mario, tuh!" celetuk Marisa.

"Huuus! Jaga bicaramu, Dek!" Ayu menegur.

"Itu dia yang membuat istri saya semakin salah sangka. Pernyataan Marisa." Mario terus memburu klarifikasi. Tak ada lagi yang ditutup-tutupi.

Ayu langsung menatap lekat ke arah Marisa. Ayu memang tahu betul dengan tabiat adik iparnya itu. Kata-kata yang keluar seringkali tidak dipikirkan ulang. Mudah sekali membuat orang lain salah paham.

"Benar begitu, Dek?" Ayu minta penjelasan.

"Ya kan Pak Mario perhatian sama Mbak Ayu. Sering nganterin Mbak Ayu pulang. Sering bawain makanan. Peduli sama Baby Raihan. Apa salahnya kalau aku nyebut Pak Mario sebagai calon ayah Baby Raihan?" Enteng saja Marisa memberi penjelasan.

"Salah. Itu salah!" seru Ayu.

Geram, geregetan, ingin lebih menyalahkan. Itulah yang Ayu rasakan.

"Ah, kamu ini, Dek. Punya mulut mbok ya dijaga. Selalu main asal jeplak saja. Sekarang Bu Anjani salah paham sama mbak. Mau ditaruh di mana muka mbakmu ini, Dek?" Ayu tidak habis pikir dengan adik iparnya.

Marisa tak berani membalas kata-kata Ayu. Sebelum ini Marisa tidak pernah melihat kakak iparnya semarah itu. Marisa mengenal Ayu sebagai pribadi yang kalem dan tidak gampang marah. Nyatanya kali ini berbeda.

"Setelah ini mau bilang apa lagi kamu? Mau lebih mempermalukan mbak di depan Bu Anjani? Begitu?" Ayu semakin marah.

"Maaf, Mbak. Habisnya aku baru tau kalau Pak Mario ternyata suaminya Anjani. Lagian tuh si Anjani juga nggak pernah cerita ke teman-teman kalau udah bersuami." Marisa membela diri.

Mario melihat teguran Ayu pada Marisa. Sedikit banyak, Mario bisa menangkap adanya penyesalan pada raut wajah Marisa.

"Marisa, kamu teman kuliah istri saya, kan?" tanya Mario.

"Iya, Pak. Anjani teman kuliah saya, tapi saya tidak akrab, Pak!"

"Kalau begitu mulai besok kamu harus mencoba akrab dengan istri saya, karena kamu berhutang maaf padanya. Jelaskan pada istri saya bahwa semua yang kamu katakan adalah bualan," pinta Mario.

Marisa ogah-ogahan. Selama ini hubungannya dengan Anjani jauh dari kata pertemanan. Tidak akrab karena Marisa sempat cemburu melihat Riko dan Anjani begitu dekat dalam berteman.

"Saya nggak mau, Pak!" tolak Marisa.

"Harus mau. Kalau tidak, maaf, kakak iparmu tidak bisa bekerja lagi di kantorku." Mario memberi pilihan.

Bukan hanya Marisa yang terkejut dengan pilihan yang ada. Ayu pun menunjukkan ekspresi yang sama. Tak disangka-sangka Mario akan memberi pilihan di luar perkiraan mereka.

"Ma-maksudnya saya akan dipecat, Pak?" Ayu menyimpulkan.

"Maaf, saya tidak punya banyak pilihan. Saya begitu mencintai istri saya. Saat ini pun ada buah hati kami dalam kandungannya. Menjaga perasaannya adalah hal utama bagi saya," ungkap Mario.

Marisa tertohok hatinya. Sama sekali tidak menyangka bahwa bos kakak iparnya begitu mencintai istrinya. Marisa tak punya banyak pilihan, daripada kakak iparnya harus kehilangan pekerjaan.

"Dek, tanggung jawab!" desak Ayu.

"Baiklah. Akan kutemui Anjani besok di kampus." Marisa mengalah.

"Baguslah. Kalau begitu saya permisi dulu." Mario pamit.

Baik Ayu ataupun Marisa sama-sama membeku. Tak ada kata yang diseru. Ayu yang sibuk dengan pikirannya, sedangkan Marisa yang sibuk merutuki dirinya. Marisa sadar, besok harga dirinya terpaksa diturunkan gegara harus memberi penjelasan pada Anjani yang belum sepenuhnya dianggap teman.

***

Hampir pukul dua belas tengah malam mobil Mario sampai di kediaman. Pak Gun menyambutnya, lantas membantu mengunci pagar rumah.

Langkah tegap Mario seketika diayun menuju kamar. Mario langsung mendapati Anjani tengah tidur sambil menutupi wajahnya dengan bantal.

"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya Mario dengan hati-hati.

Tak ada sahutan. Mario hanya melihat tubuh Anjani berubah posisi menjadi dimiringkan. Tentu saja bantal kesayangan yang menutupi wajah masih bertahan.

Mario duduk di tepi ranjang. Diraihnya tangan Anjani perlahan, tapi tak disangka justru mendapat tepisan.

"Au. Istriku galak juga ternyata."

Mario membuat canda, berharap Anjani akan merespon dirinya. Nyatanya, percuma saja. Anjani masih bertahan dengan sikapnya.

"Hm. Anak daddy lihat, kan? Bundamu lagi ngambek, tuh. Padahal daddy lagi pengen ditemenin makan sama bunda. Daddy lapar." Mario menepuk-nepuk perutnya.

Ada respon seketika. Anjani menyingkirkan bantal yang sedari tadi menutupi wajahnya. Mario langsung tersenyum melihatnya. Kini, diperhatikannya Anjani turun dari ranjang, kemudian melangkah menuju nakas.

Tangan Anjani lincah membuka salah satu laci, mengeluarkan sebungkus roti sisa sore tadi, lantas memberikannya pada sang suami tanpa berkata-kata lagi. Usai roti diterima, Anjani kembali berbaring dan menutupi wajahnya.

"Daddy terharu lihat bundamu masih peduli." Mario memancing Anjani, tapi tidak ada reaksi lagi.

Mario pun memakan roti. Perlahan, sambil sesekali mengajak ngobrol Anjani. Meski tak ada respon dari sang istri, Mario tetap bersabar dan memaklumi.

"Aku terima kemarahanmu. Akan kutunggu hingga kamu kembali melihatku. Tidurlah yang nyenyak, istriku. I love u." Mario mengecup puncak kepala Anjani, lantas mengayukan langkah ke sisi ranjang yang satu lagi.

Bersambung ....

LIKE-nya dong buat author! 💙

***

Mampir juga ke novel pertama author yang berjudul Cinta Strata 1, ya. Kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Kenal juga sahabat baiknya Anjani, Meli. Merapat ke novel Menanti Mentari karya my best partner, Kak Cahyanti. Dukung kami 💙

***

1
Surya Hermawan
2021 dah lama banget ya, baru gabung thor baru unduh novel toon
eti rohaeti
Luar biasa
Medy Jmb
Mario gak jelas
Mimin Mintarsih
Alhamdulillah, semua bahagia
Mimin Mintarsih
Semoga jd berempat bersahabat
Mimin Mintarsih
Semoga mereka menjadi sahabat sejati
Adiba Shakila Atmarini
ending yg bhagia.sukss sllu dngn krya brikutx
Mimin Mintarsih
Aduh kenapa lagi bahagia ada ada saja
Mimin Mintarsih
Marisa naksir Riko tp tak terbalaskan
Mimin Mintarsih
Marisa nekad dan bakal kena batunya.
Adiba Shakila Atmarini
wah.laki2 sma aja sintingx..dh pnya bini hmil tua .msih mau nikah lgi..
Adiba Shakila Atmarini
jngn sampai anjani dan babyx knpa2 thor..
Adiba Shakila Atmarini
ada bau2 g sedap ni dri ayu.
Mimin Mintarsih
Semoga Anjani nyaman di kampus baru
Ai Hodijah
awalnya teman terus teman curhat lama-lama teman hidup,lupa deh sama yang di rumah
Ai Hodijah
kalau menurutku si mario dan anjani tidak tegas terhadap lawan jenis, berteman akrab boleh tapi harus ada jarak,awalnya hanya dekat lama-lama pegang yang lain kan tetep aja selingkuh
Ai Hodijah
ini si mario mikir gak sih,kan di rumah sakit pasti ada perawat,ini malah mau gendong lagi,menolong boleh tapi gak harus gitu juga di depan istri lagi bikin panas haredang aja
Ai Hodijah
sotoy kamu riko
Lina Handayani
Assalamualaikum, aku mampir, Kak. Awal yang menarik 😍😘.
Nurliana Saragih
Yang lucunya, kenapa Ayah Mario yang selalu berperan?!
Emang Mamanya kemana???
Sedangkan sewaktu Ayah Mario selepas pulang dari Bandara kan bareng Mamanya,terus kenapa " Ada tapi seakan tiada."?!
😤😤😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!