Cinta adalah anugerah ilahi. Saat cinta kepada pasangan halal didasarkan tuntunan Sang Mahacinta, semua menjadi indah.
Cinta sepasang suami istri tidak hanya sampai tua, tetapi hingga kehidupan berikutnya. Di kala senang, suasana indah dinikmati penuh syukur. Di saat susah, dihadapi bersama penuh tawakal.
Itulah yang dilakukan Azka dan Meli. Pasangan muda yang menikah saat mereka belum lama saling mengenal. Cinta tumbuh subur dalam ikatan yang halal.
Di saat cobaan melanda, mereka dengan penuh kesabaran melewatinya. Mereka saling menguatkan untuk kembali menikmati indahnya mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Tinggal
Tujuan utama Meli selesaikan terlebih dahulu. Ia mengurus syarat kepindahannya. Ternyata belum bisa semua selesai. Meli pun pergi mencari teman-temannya di gedung ekonomi.
Tak banyak yang Meli jumpai. Anjani sendiri ternyata sudah berangkat ke Jakarta.
Sepasang mata mentap Meli yang tengah ngobrol dengan teman-temannya. Ia berdiri di balik pilar besar. Meli tidak menyadari karena sedang asyik ngobrol.
Teman-teman Meli merasa sedih berpisah dengan Meli yang dikenal supel. Dalam waktu bersamaan, mereka kehilangan dua teman sekaligus karena pindah ke luar kota. Mereka banyak bertanya kepada Meli tentang tempat tinggal dan kampus barunya.
“Jadi, semester depan Meli sudah nggak kuliah di sini. Dia akan tinggal bersama suaminya. Berarti sudah nggak LDR-an lagi dan aku akan sulit menemuinya. Jangankan menemui, sekadar memandang wajahnya pun entah kapan. Kita akan makin jauh, Mel. Ah, aku harus bisa melupakan kamu. Bukan, aku harus bisa melumpuhkan perasaan kepadamu. “
Lelaki itu menghela nafas panjang. Kemudian, ia mengayun langkah gontai meninggalkan tempatnya berdiri.
“Dika! Kamu mau ke mana? Sini sebentar!” terdengar suara Berlian, teman Meli, yang membuat langkah lelaki itu terhenti.
Lelaki yang dipanggil Dika memutar badannya, berbalik menghadap Meli dan teman-temannya. Ia memaksakan diri menarik sudut bibirnya membentuk senyuman.
“Sini!” Berlian mengulang perintahnya sambil melambaikan tangan.
Dengan langkah berat, Dika mendekat.
“Ada apa, sih?” tanya Dika berlagak takt ahu apa-apa.
“Nih, Meli mau pindah mulai semester depan. Kita bakal kehilangan. Kampus jadi sepi, deh.”
“Ish, memangnya aku biang onar?” Meli cemberut.
Berlian hanya nyengir. Sementara Dika menatap Meli dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Benarkah, Mel?”Dika bertanya seolah dia baru tahu.
“Iya. Mas Azka sudah menyelesaikan magisternya. Dia juga harus mengelola salah satu anak perusahaan kakeknya,” jawab Meli.
“Wah, enak dong. Begitu lulus langsung kerja di perusahaan keluarga,” komentar salah satu teman Meli.
Meli hanya tersenyum. Sementara Dika terlihat murung.
“Dik, jangan nangis dong! Meli cuma pindah. Sewaktu-waktu dia pulang ke Jember nengok ortu. Yak an, Mel?” ucap Berlian.
“Tentu saja. Kita masih dapat ketemu. Kalau kalian ke Jogja, pintu rumah kami terbuka untuk kalian. O ya, minggu depan kami akan mengadakan resepsi di Jogja. Kalian bisa datang, nggak? Untuk transportasi dan akomodasi, kami siapkan deh. Ini undangan untuk kalian.”
Meli mengeluarkan lipatan kertas tebal dari tasnya. Ia menyerahkan kepada Berlian.
“Tolong didistribusikan. Sekalian hubungi aku berapa orang yang bisa berangkat ke Jogja.”
Berlian mengangguk. Ia membaca nama teman-temannya yang tercetak di undangan.
“Makasih ya. Aku pamit dulu,” ucap Meli sambil menutup tasnya.
“Mel, kita makan-makan dulu sebelum berpisah, dong!” pinta teman Meli.
“Aduh, maaf ya. Sebentar lagi Mas Azka pasti jemput aku.”
Baru saja Meli mengucapkan kalimat penolakan, terdengar nada dering dari dalam tasnya. Meli segera mengambil alat komunikasi cerdasnya.
“Assalamualaikum.”
….
“Ya, Meli sudah selesai kok. Tunggu sebentar, Meli jalan ke situ. Assalamualaikum.”
Meli menyimpan kembali benda pipih yang baru ia gunakan.
“Beneran ni Mas Azka sudah jemput. Maaf, ya, aku harus segera pulang. Kutunggu kedatangan kalian di Jogja. Assalamualaikum.”
Meli bergegas meninggalkan teman-temannya. Dari kejauhan ia sudah bisa melihat suami tampannya yang tengah duduk di jok motor.
Ia tersenyum bahagia merasakan perhatian Azka. Namun, senyum itu segera memudar. Bibir yang semula ditarik ke samping berubah ke depan.
Meli begitu kesal ketika melihat tiga gadis melintas di dekat Azka. Mereka berhenti sejenak dan melambaikan tangan.Kekesalan Meli makin menjadi saat melihat suaminya menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Mas Azka!” seru Meli.
Yang dipanggil langsung menatap ke sumber suara. Senyum kembali mengembang di biir.
“Mas Azka kok senyum-senyum ke mereka, sih?” rengek Meli manja.
“Mereka tersenyum ke Mas, masa Mas diam saja. Kan cuma senyum. Nanti kalau Mas cuek, mereka pikir Mas orang sombong mereka nyumpahin Mas jomlo terus, gimana coba?” Azka memasang tampang memelas.
“Ih, Mas Azka kan bukan jomlo. Mas sudah menikah. Jangan-jangan lupa siapa istrinya.” Meli mengomel.
Azka hanya terkekeh. Ia mengambil helm yang diletakkan di spion lalumenyerahkan kepada Meli.
“Ayo naik, istriku!Kita langsung pulang atau mau jalan-jalan?’
“Pulang saja, Mas,”jawab Meli sambil duduk di belakang Azka.
“Siap, Tuan Putri.”
Tak lama berselang motor bebek Meli mulai melaju menjauhi komplek kampus. Tempat Meli menimba ilmu yang menyimpan banyak kenangan itu sebentar lagi akan ditinggalkan.
Rasa kehilangan tentu tak dapat dihindarkan. Apalagi bagi Dika. Pria itu menyimpan banyak cerita juga luka. Ia harus membunuh perasaan yang belum sempat tersampaikan. Ia harus merelakan cintanya layu sebelum berkembang
*
Azka dan Meli melangkah menuju teras rumah Via. Sang nyonya rumah tengah menanti bersama bocah tampan.
“Assalamualaikum,” ucap Azka dan Meli hampir bersamaan.
“Waalaikumsalam,” jawab Via.
“Ikumcalam,” Zayn ikut menjawab dengan kata yang belum begitu jelas.
“Aha, anak soleh yang ganteng apa kabar?” sapa Azka sambil mengulurkan tangan kepada keponakannya.
“Baik, Om,” jawab Zayn.
Mereka beriringan masuk ke rumah. Azka menggendong Zayn yang menggemaskan.
“Mas Farhan belum pulang?” tanya Azka.
“Belum. Tadi pagi bilang kalau ada acara makan malam bersama relasi,” jawab Via.
Azka dan Meli dipersilakan duduk di ruang keluarga. Via meninggalkan mereka untuk mengambil sesuatu sekaligus meminta Mbok Marsih, ART-nya, menyiapkan minuman.
Zayn begitu gembira dengan kedatangan om dan tantenya. Ia berceloteh tentang kegiatannya. Azka dan Meli menanggapi setiap cerita Zayn. Sesekali tawa mereka menggema.
“Silakan diminum dulu,” kata Mbok Marsih setelah meletakkan 3 cangkir teh dan camilan.
“Terima kasih, Mbok,” sahut Meli.
Kedua pasangan muda itu kembali bercanda dengan Zayn hingga Via kembali.
“Zayn duduk tenang, ya! Bunda mau bicara sama Om dan Tante,” kata Via.
“Ya, Bun,” jawab Zayn patuh.
Via meletakkan map di atas meja. Ia menatap Azka sekilas lalu beralih ke Meli.
“Ada apa, Mbak?” tanya Meli sedikit was-was.
“Maaf aku terpaksa membahas inisekarang dan melibatkan kalian khususnya Dek Azka.”
“Soal apa?” Azka tak sabar.
“Soal Ratna, Mas Rio, dan Om Danu. Bagaimana keputusan Ratna, harus kita ketahui. Ini menyangkut solusi yang akan kita berikan, “ kata Via tenang.
“Memangnyakenapa harus segera?” tanya Azka lagi.
“Kalau Ratna setuju Om Danu tinggal bersama mereka, aku akan membeli ruko di sebelah Azrina. Nantinya kedua ruko disatukan. Lantai 2 digunakan untuk menyimpan barang Jadi, mereka bisa tinggal di lantai 1 ruko sebelah.”
“Sepertinya aku nggak lihat ada tulisan di ruko itu kalau akan dijual,” gumam Meli.
“Memang benar. Pemiliknya masih ragu. Tapi kalau memang Ratna menerima Om Danu, aku akan minta tolong Om Andi melobi pemiliknya. Aku yakin dengan harga yang pantas dan dibayar tunai, pemiliknya mau melepas.”
Azka mengangguk paham. Ia tahu persis kemampuan anak buah kakaknya. memang bisa diandalkan.
“Lalu, kalau Ratna menolak, bagaimana?” Azka tampak ragu.
“Ada 2 alternatif. Om Danu tetap di panti atau kita cari rumah kontrakan dekat ruko.”
“Lalu, siapa yang menunggui dan merawat Om Danu?” Azka kebingungan.
“Aku akan mencarikan perawat.”
Azka hanya bisa mengagumi kakak iparnya diam-diam.
“Sejak dulu memang otakmu encer, bisa cari jalan keluar yang tepat. Beruntung sekali Mas Farhan memilikimu. Ish, mikir apa aku ini?”
Azka mencoba kembali tenang. Ia seolah sedang mempertimbangkan ucapan Via.
“Boleh juga. Kalau begitu, aku telpon Rio dulu.”
Azka mengambil gawainya. Ia segera menghubungi Rio. Selama kurang leih mereka bercakap-cakap membicarakan Danu.
“Apa kata Rio? Dia sudah tahu jawaban Ratna?” Via tampak tak sabar.
“Rio belum dapat jawaban,” ucap Azka. Tampak kekecewaan terpancar di wajahnya.
“Bagaimana kalau dia diminta menemui Ratna besok? Dengan begitu, kita bisa dapat jawaban Ratna secepatnya. Masalahnya, pembelian ruko harus gercep.”
“Oke.Aku telepon Rio lagi.”
Rio kembali menghubungi Rio. Tak lama kemudian, ia sudah mengakhiri percakapan.
“Besok Rio mau menemui Ratna. Dia minta aku temani.,” tutur Azka.
“Dek Azka menyanggupi?” tanya Via.
Azka mengangguk. Ia tak tega menolak teman baiknya.
***
Bersambung
Bagaimana sikap Ratna? Apa dia bisa menerima Danu? Tunggu jawabannya esok, ya. Kunjungi juga novel yang mengisahkan sahabat Meli, karya Kak Indri Hapsari, Takdirku Bersamamu dan Ikatan Cinta Alenna. Dukung kami dengan memberi like dan komentar. Terima kasih
semoga bs SEGERA UP nya....