Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Sentuhan Kecil
Keramaian di keluarga Alvian sedikit membuat Medisya merasa tidak tenang. Apalagi saat Abraham dan suaminya Farah, Dion, pulang dari kerjanya. Kini mereka, para pria, sedang mengobrol di ruang tengah. Sedangkan yang wanita sibuk dengan urusan dapur.
Tapi Medisya masih betah memangku Varo di sofa kecil yang letaknya tidak jauh dari dapur. Harum wangi dari tubuh bayi itu membuat Medisya betah menjaganya. Tadi Medisya ikut memandikan Varo. Farah bilang, sekalian latihan agar jika anaknya lahir nanti, Medisya tidak kesulitan untuk mengurusnya.
Deru nafas tenang dari bayi mungil itu menjadi perhatian utama Medisya. Kata Farah, bayi seusia Varo memang masih suka tidur dibanding membuka matanya. Ia hanya akan bangun ketika haus.
"Masih tidur?"
Medisya mendongak, mendapati Alvian yang sedang bersandar di dinding pembatas antara dapur dan ruang tv. Kepalanya mengangguk kecil kemudian melanjutkan aktivitasnya memainkan jemari kecil Varo.
Namun kehadiran Alvian membuat Medisya terdiam. Laki-laki itu berlutut di hadapannya dengan kedua siku bertumpu pada sofa. Mengampit kaki Medisya.
Cup...
Satu kecupan berhasil Alvian berikan di pipi Varo. Ia menunduk dan hendak mencium Varo lagi, namun tangan lembut Medisya menahan pipinya lalu mendorongnya pelan.
"Jangan digangguin. Nanti bangun Varo-nya, ih," ucap Medisya melarang.
Bukannya mendengarkan, Alvian justru mencekal pergelangan tangan kanan Medisya dan kembali memberi kecupan-kecupan kecil untuk Varo. Bahkan sesekali Alvian menyatukan hidungnya dengan hidung Varo.
"Mas Alviaaan," sebut Medisya sedikit kesal karena suaminya itu membuat Varo menggeliat tidak nyaman. Bahkan bayi itu hampir menangis jika saja Alvian tidak menghentikannya.
"Biarkan Varo bangun. Dia pasti lelah tidur seharian," ucap Alvian kembali menahan tangan Medisya.
Perhatian Medisya yang sejak tadi tersita pada kegemasan Alvian pada Varo kini terhenti. Tubuhnya menegang ketika tangan kanan Alvian menyelinap ke punggungnya. Memberikan usapan kecil di sana tanpa menghentikan aktivitasnya menganggu Varo.
Medisya tidak bisa melakukan apapun karena tangan kirinya menahan bantalan yang digunakan bayi kecil di pangkuannya. Sedangkan tangan kanannya ditahan oleh Alvian.
Akhir-akhir ini laki-laki itu memang sering memberikannya sentuhan tanpa berkata apapun. Sejujurnya sentuhan itu tidak membuat Medisya terganggu. Tapi entah kenapa rasanya sangat canggung. Mengingat hubungan mereka masih berada di titik bawah. Yaitu saling memberi perhatian tanpa ada rasa apapun.
"Hey, kamu tidur terus dari tadi," ucap Alvian pada Varo yang mengerjapkan matanya.
Dengan santainya Alvian mengajak Varo berbicara. Mengabaikan Medisya yang tanpa sadar mencengkram pinggiran bantal Varo ketika Alvian memasukan tangannya ke dalam piyama Medisya.
"Mas Alvian."
"Hm?"
"Mendingan Mas Alvian ngobrol lagi sama papah, deh."
Alvian mengangkat satu alisnya. Ia jelas tau alasan Medisya memberikan usiran halus itu. Bukan karena ia menganggu Varo, tapi karena tangannya yang tidak berhenti meraba punggung mulusnya.
Sudut bibir Alvian terangkat lalu melepaskan tangan Medisya. Dan benar saja! Perempuan itu langsung menjauhkan tangan Alvian dari punggungnya.
"Kamu disentuh suami sendiri seperti disentuh pria lain," ucap Alvian dingin.
Medisya yang mendengarnya menjadi merasa bersalah. Apalagi saat Alvian bangkit dan mengambil segelas air di meja makan lalu meminumnya hingga tandas. Sepertinya itu menjadi kebiasaan Alvian saat sedang kesal.
"Vian, tolong jemput Lily di rumah temannya, ya?!" Seru Melinda ketika Alvian hendak kembali ke ruang tengah.
Sejenak Medisya melirik Alvian. Menunggu jawaban pria itu. Medisya sekarang tau bahwa Lily adalah adik Alvian. Tadi siang Farah dan Melinda sempat menceritakan tentang Alvian yang begitu menyayangi Lily.
"Pak Surya aja ya, Mah? Alvian tidak enak badan," balas Alvian sambil berlalu. Membuat semua orang yang mendengarnya mengernyit heran. Biasanya Alvian tidak pernah menolak perintah apapun yang berhubungan dengan Lily.
Seakan mengerti bahwa sedang ada masalah dengan hubungan Alvian dan Medisya, Farah mendekati Medisya dan mengambil alih Varo darinya. "Sebaiknya kamu susulin Vian deh, Sya."
Medisya menggeleng singkat. "Aku takut tante," jujurnya mengingat Alvian marah karena ia menolak disentuh tadi.
"Takut kenapa? Apa Alvian sering kasar sama kamu? Atau dia selalu memaksa kamu menuruti keinginannya?" Tanya Farah beruntun.
"Enggak. Tapi Mas Alvian sering bentak-bentak aku kalau dia marah," adu Medisya.
Melinda yang diam-diam mendengarkan berjalan mendekati menantunya itu. "Alvian tidak akan seperti itu jika kamu mau menurutinya, Medisya. Jadi sekarang, lebih baik kamu dekati dia dan tanyakan apa maunya. Kalau kamu sama-sama meninggikan ego kamu, maka kemarahan Alvian nggak akan berhenti."
"Masalah dalam suatu hubungan tidak akan berhenti jika salah satu dari kalian tidak ada yang mengalah. Mamah minta maaf atas sikap Alvian. Tapi bisa 'kan kamu menggantikan mamah untuk memahaminya? Semua keinginannya sekarang bergantung sama kamu Medisya," ucap Melinda berusaha membuat Medisya mengerti. Melinda tidak mempunyai hak untuk ikut campur masalah rumah tangga anaknya. Tapi ia masih punya kewajiban untuk menasehati mereka.
"Nanti ya, mah? Sekarang pasti Mas Alvian lagi marah banget. Nunggu emosinya reda dulu. Aku takut," kata Medisya membuat Melinda tersenyum lega.
"Bantuin mamah siapin makan malam ya? Biar Tante Farah yang jaga Varo."
###
Alvian memijit keningnya ketika merasakan pusing yang sangat menyiksa. Sejak tadi ia tidak bisa tidur karena tidak nyaman dengan posisinya. Di kamarnya ini tidak ada sofa. Jadi Alvian memutuskan untuk tidur dengan kursi kerjanya. Padahal Medisya sudah berpesan bahwa Alvian bisa tidur di sampingnya setelah perempuan itu terlelap. Namun ia takut Medisya terganggu karena kedekatan mereka.
"Jangan,,,"
Suara kecil itu membuat Alvian langsung menatap Medisya. Lagi? Ucap Alvian dalam hati.
Apa perempuan itu akan selalu mengigau saat tidur di tempat lain?
"Aku takut,,"
Menghembuskan nafasnya kasar, Alvian mendekati ranjang dan duduk di sebelah Medisya. Tangannya terjulur mengelus kening Medisya yang mengerut gelisah.
"Medisya," panggil Alvian pelan sembari mengguncang bahu istrinya itu. Membuat Medisya terbangun dari tidurnya.
"Mimpi buruk lagi?" Cecar Alvian membantu Medisya duduk dan memberinya air putih.
Medisya yang belum mendapatkan kesadaran penuh hanya menganggukan kepala. Ia menaruh gelas di nakas kemudian memandang Alvian sayu. Mimpinya tadi masih sama dengan mimpi-mimpi sebelumnya. Tentang Alvian yang kembali menyentuhnya. Medisya merasa takut karena sentuhan itu terasa sangat nyata.
"Takuut," rengek Medisya tanpa sadar.
"Apa yang kamu takutkan, hm? Itu hanya mimpi Medisya," sentak Alvian berusaha menyadarkan Medisya.
"Kamu bermimpi aku menyentuhmu lagi?"
Medisya mengangguk kecil membenarkan tebakan Alvian. Membuat Alvian berdecak kecil. Meskipun merasa kesal, Alvian tidak dapat menyalahkan Medisya atas mimpi yang datang diluar kehendaknya itu.
"Apa kamu selalu memikirkan tentang malam itu?" Tanya Alvian datar.
"Kalau Mas Alvian marah, aku pasti kepikiran tentang itu."
"Dari mana kamu menyimpulkan jika aku marah?"
"Sikap Mas Alvian berubah jadi dingin waktu aku jauhin tangan Mas Alvian di punggung aku."
"Jika seperti itu, seharusnya kamu belajar untuk tidak membangkitkan emosiku. Aku pikir sentuhan-sentuhan kecil itu bisa membantu menghilangkan trauma yang kamu miliki. Tapi jika itu membuatmu terganggu, aku minta maaf."
Melihat Medisya mulai terisak membuat Alvian menghembuskan nafasnya. "Tidur lagi. Aku tidak akan menyentuh kamu."
Medisya menurut. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan memakai selimut. Namun ia tidak bisa kembali terlelap.
Alvian yang menyadari itu langsung bangkit dan menuju lemari pakaiannya. Ia mengambil hoodie-nya yang berukuran besar dan melemparkannya ke arah Medisya.
"Pakai itu lalu turunlah. Aku akan mengantar kamu ke rumah orang tuamu!"
###