NovelToon NovelToon
Sistem Misi Polisi

Sistem Misi Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.

Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Pelaku?

Tawa renyah sekelompok remaja perlahan memudar seiring mereka melangkah keluar dari pintu kaca restoran.

Di tepi jalan, mereka saling melempar lambaian tangan sebelum melangkah ke arah yang berbeda.

​Seorang gadis remaja berdiri sejenak di trotoar, menatap punggung teman-temannya yang kian menjauh. Ia menghela napas panjang seraya memeluk tas sekolahnya erat-erat.

​"Kenapa sih rumahku harus beda arah sendiri?" gumamnya gelisah. "Jadi pulang sendirian kan... kalau tau begini mending gak ikut nongkrong."

​Perasaan tidak tenang mulai menggerogoti benaknya.

Jalanan di sekitarnya perlahan membelakang dari keramaian kota.

Udara sore yang kian mendingin menambah rasa takut yang menjalar di tengkuknya.

Tanpa membuang waktu, jemarinya yang gemetar menyambar ponsel di saku dan menekan nomor ayahnya.

​"Halo, Ayah? Jemput aku dong... aku takut pulang sendirian," rengeknya begitu panggilan terhubung.

​Dari seberang telepon, suara berat sang ayah terdengar menghela napas gusar. "Kan Ayah sudah bilang dari tadi, jangan pulang kesorean! Malah ngeyel. Ya sudah, tunggu di dekat persimpangan biasa, Ayah jalan sekarang."

​"Iya, Ayah. Cepat ya..."

​Gadis itu mematikan sambungan, lalu berjalan menuju sebuah bangku kayu di bawah pohon rindang dekat persimpangan jalan. Ia duduk bergeming, mengedarkan pandangan ke sekeliling.

​Suasana di sana mendadak menjadi sangat sepi.

Tidak ada satu pun kendaraan yang melintas. Keheningan yang janggal itu justru membuat dadanya makin berdebar kencang.

​"Kenapa sepi sekali sih? Tidak ada orang sama sekali..." bisiknya, menggigit bibir bawahnya.

​Tanpa disadari gadis itu, di balik bayangan pepohonan beberapa meter di belakangnya, seorang pria paruh baya memperhatikan setiap gerak-gerik sang remaja.

Pria itu menyunggingkan seringai tipis yang menjijikkan. Ini adalah kesempatan emas.

​Pria itu melangkah tanpa suara, mendekat bagaikan predator yang mengintai mangsanya.

Sebelum sang gadis sempat menyadari keberadaannya, sebuah lengan membekap lehernya dari belakang.

Sebuah kain putih yang telah dibasahi cairan kimia pekat menutup rapat hidung dan mulut gadis itu.

​Gadis itu sempat memberontak, meronta-ronta menendang udara, namun dalam hitungan detik pandangannya melingkup gelap.

Tubuhnya melemas dan terkulai pasrah. Pria itu menyeringai puas, dengan sigap memapah tubuh sang gadis dan membawanya pergi menyusuri gang sempit.

​Namun, di sudut persimpangan yang gelap, ada pasang mata lain yang menyaksikan seluruh kejadian itu.

​Seorang pria berdiri tegak dalam bayangan. Ia menatap kepergian penculik itu dengan tatapan mata yang luar biasa tajam, dingin, dan menusuk.

Tanpa bersuara sedikit pun, sosok itu perlahan melangkah mengekor dari kejauhan.

​Beberapa menit kemudian, deru mesin sepeda motor meraung memecah kesunyian persimpangan.

Ayah dari gadis tadi menghentikan motornya tepat di depan bangku kayu. Ia menengok ke kanan dan ke kiri dengan raut wajah bingung.

​"Ke mana anak itu? Katanya menunggu di sini..." gumamnya panik.

Ia menyambar ponselnya dan mencoba menelpon, namun nomor putrinya mendadak sudah tidak aktif.

...***...

​Di lokasi berbeda, Nathan, Niko, dan Reno berdiri di sebuah lahan kosong dekat muara sungai, salah satu lokasi penemuan mayat korban penculikan berantai sebelumnya. Udara di tempat itu terasa lembap dan berbau busuk.

​"Tidak ada petunjuk sama sekali di sini. Semuanya bersih total," ujar Reno sambil mengusap wajahnya yang lelah. "Pelakunya terlalu rapi."

​Nathan menyilangkan tangan di dada, matanya menatap tajam ke arah tanah yang lembap.

"Justru karena terlalu rapi, Reno. Tidak mungkin ada penjahat yang bisa menghapus seluruh jejak forensik secara sempurna di tempat terbuka seperti ini... kecuali ada orang dalam yang membantunya."

​Niko yang berdiri di sebelah mereka membisu. Pikirannya melayang jauh pada sosok rekan mereka. "Devan... dia yang memegang kendali atas sebagian besar pengarsipan dan penanganan berkas kasus ini. Bagaimana kalau dia yang mengatur semua ini dari belakang? Setiap kali kita menemukan bukti, ujung-ujungnya selalu jalan buntu secara janggal," batin Niko dengan kecurigaan yang kian membesar.

​Nathan menoleh ke arah Niko dan Reno. "Kalian tahu Devan ada di mana sekarang?"

​Reno mengedikkan bahu. "Katanya sih dia sedang mengurus hal lain di distrik sebelah."

​Mereka bertiga menghela napas berat. Sebelum melanjutkan pencarian, mereka menyempatkan diri mendatangi rumah keluarga salah satu korban hilang.

Isak tangis dan ratapan keputusasaan dari ibu korban menyayat hati mereka, menambah beban berat yang terpatri di dada ketiga detektif tersebut.

​Berhari-hari berlalu tanpa kejelasan, hingga sebuah berita pemicu akhirnya tiba di meja kerja Nathan. Laporan penculikan seorang gadis remaja, korban ke lima baru saja masuk.

​Namun kali ini, ada yang berbeda. Nathan menatap peta titik lokasi hilang dengan dahi berkerut.

​"Aneh..." gumam Nathan. "Kenapa penculik kali ini terlihat sangat ceroboh? Pola aksinya kasar dan berantakan, sama sekali tidak sesempurna penculikan-penculikan sebelumnya. Aku punya beberapa perkiraan lokasi tempat dia menyembunyikan korban. Kuajak kalian sekarang, semoga korbannya belum diapa-apakan!"

​Reno mengepalkan tangannya. "Bagus! Ayo kita sisir tempat-tempat itu!"

​Tanpa melibatkan Devan yang sedang bertugas terpisah, Nathan, Niko, dan Reno bergerak cepat menaiki mobil operasional.

Mereka menyisir beberapa rumah dan bangunan yang masuk dalam daftar kecurigaan, memeriksa satu per satu sesuai dengan prosedur hukum.

​Saat mendatangi rumah kedua di area pemukiman yang agak padat, Nathan mendadak menghentikan langkahnya di halaman depan.

Ia terdiam cukup lama, menatap layar ponselnya yang menampilkan peta rute GPS pelacakan sinyal.

​Niko yang sadar Nathan tertinggal langsung berbalik. "Ada apa, Nathan? Kenapa melamun?"

​Nathan menyimpan ponselnya ke dalam saku jaket.

Wajahnya tampak sangat serius dan sulit diartikan. "Tidak apa-apa. Kalian lanjutkan periksa rumah ini. Aku akan berpisah sebentar, ada sesuatu yang harus aku pastikan sendiri."

​Niko dan Reno saling pandang dengan bingung. "Yaudah, terserah kamu. Biarkan saja dia, mungkin ada petunjuk terpisah yang mau dia cek," kata Reno.

​Baru saja Nathan menghilang di belokan jalan, ponsel Reno berdering nyaring. Panggilan dari Komisaris Polisi Distrik 2.

​Mata Reno membelalak lebar mendengar penuturan di balik telepon. "Apa?! Baik, Pak! Kami meluncur sekarang!"

​Reno menoleh ke Niko dengan wajah tegang. "Niko, cepat naik mobil! Tim gabungan baru saja menemukan lokasi eksekusi utama di sebuah area bangunan terbengkalai!"

​Keduanya melaju kencang menuju lokasi yang dimaksud. Ketika tiba, beberapa mobil polisi dengan sirine menyala sudah mengepung sebuah pabrik tua yang terbengkalai. Suasana di sekitar bangunan itu sangat mencekam.

​Reno dan Niko memimpin pasukan masuk ke dalam.

Udara di dalam bangunan itu terasa sangat pekat dan menusuk hidung—bau anyir darah membusuk bercampur kelembapan dinding beton.

Di sepanjang dinding, terdapat bercak-bercak darah kering yang terciprat sembarangan, serta berbagai peralatan besi karatan yang tergeletak di lantai.

​Namun, pemandangan di sudut ruangan paling dalam membuat seluruh polisi yang hadir membeku dalam amarah dan kemualan yang hebat.

​Gadis remaja yang diculik sore itu, korban ke lima— erbaring di atas lantai dingin dalam keadaan tanpa busana.

Tubuhnya dipenuhi lebam kebiruan, gemetar hebat dengan mata terbuka lebar yang memancarkan trauma mendalam.

Ia masih bernapas, tetapi jiwanya tampak sudah hancur.

​"Sialan!" bentak Reno sambil mengepalkan tinju hingga buku-buku jarinya memutih. "Penjahat keparat ini benar-benar tidak pantas hidup!"

​Niko dengan tangan gemetaran segera mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat untuk melaporkan penemuan mengerikan ini kepada Nathan.

​Sementara itu, di sudut lain kota, Nathan berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang diapit oleh rumah-rumah tetangga yang rapat. Suasana di sekitar gang itu tampak tenang.

​Nathan menatap rumah di hadapannya dengan kerutan mendalam di dahi. "Jadi di sini rumahnya? Kenapa jejak orang ini tiba-tiba berbalik arah ke sini sebelum pergi ke bangunan terbengkalai itu?" pikirnya bingung.

​Tiba-tiba ponsel di sakunya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Niko:

​Niko: "Nathan, korban kelima sudah ditemukan di pabrik terbengkalai. Kondisinya kritis dan trauma berat. Tapi pelakunya tidak ada di lokasi."

​Membaca pesan itu, rahang Nathan mengeras. Amarah yang sangat besar membakar dadanya. Ia mengepalkan tangan erat-erat, matanya menyala tajam.

​Nathan mengamati sekeliling. Setelah memastikan tidak ada warga atau tetangga yang memperhatikan, ia melangkah cepat menuju pintu samping rumah tersebut, membobol kuncinya dengan tenang, dan menyusup ke dalam.

​Di saat yang bersamaan, jauh di dalam bagian paling bawah rumah tersebut...

​Di sebuah ruang bawah tanah yang lembap dan tersembunyi, seorang pria berusia 30 tahun, pria yang membekap sang gadis remaja terbaring telentang di atas pitar kayu.

​Pria itu dalam kondisi bugil sepenuhnya. Kedua tangan dan kakinya diikat rantai besi tebal hingga tidak bisa bergerak sedikit pun.

Di sekelilingnya, terhampar berbagai alat bedah, tang pemotong, dan jarum-jarum besar yang masih bersimbah darah segar.

​Wajah pria 30 tahun itu menyiratkan ketakutan yang teramat sangat.

Matanya membelalak liar, napasnya tersengal-sengal memburu.

Ia mencoba berteriak memohon ampun, namun lidahnya yang sudah terluka berat membuat suaranya hanya keluar sebagai erangan tertahan yang tidak jelas.

​TAP... TAP... TAP...

​Suara derap langkah kaki yang tenang dan teratur bergaung merambat turun dari tangga ruang bawah tanah.

​Setiap pijakan langkah itu membuat tubuh pria di atas meja gemetar kian hebat.

Ia meronta-ronta panik, mencoba melarikan diri dari takdir mengerikan yang sedang menunggunya.

​Sesosok tubuh jangkung perlahan muncul dari balik kegelapan, melangkah masuk ke dalam jangkauan cahaya bohlam kuning yang remang-remang.

Sosok itu mengenakan sarung tangan kulit hitam, menatap pria yang terikat di depannya dengan pandangan yang sangat dingin, hampa, dan tanpa belas kasihan sedikit pun.

​"Sudah bangun ternyata..." suara itu mengalun rendah, tenang, namun menyematkan bulu kuduk hingga ke tulang.

​Cahaya remang-remang itu akhirnya menyinari wajah sang penyiksa.

​Dialah Devan.

1
Kaisar surgawi
sorry ini gw skip , karna apa ? sistemnya cuman memberikan uang, tidak kemampuan
Maul: gapapa kak. terima kasih sudah baca /Pray/
total 1 replies
Dragonovic
up👍👍👍
Dragonovic
up👍
Jonatan Revan
novel yang sangat baguss
Maul: terima kasih banyak atas ulasannya. yuhuh🍜/Determined/
total 1 replies
Jonatan Revan
saran yah thor bab nya bisa di kasih panjang lagi gak terlalu pendek
Maul: di usahakan ya hehe/Smile/
total 1 replies
Maul
🍝
Maul
🍜
Maul
/Coffee//Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
🍜/Coffee/
Maul
🍝🥘
Maul
🍔🍹
Maul
/Rice/🍜
Maul
/Coffee//Watermalon/
Maul
/Cake/
Maul
/Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙞𝙠𝙨𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖. 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖
Maul
...
Maul
𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!