NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Pak Joni terkejut ketika melewati jalan setapak menuju ladangnya pada pagi hari. Di tengah jalan yang biasa ia lalui, ia menemukan Bu Lilik terbaring di tanah, seolah-olah sedang tertidur dengan hasil ladang yang berserakan di sekelilingnya. Padahal, tidak ada alasan bagi Bu Lilik untuk tidur di tempat tersebut, apalagi di pinggiran belantara. Pikiran Pak Joni seketika dipenuhi kekhawatiran.

Lelaki paruh baya itu tertegun sejenak, memandang Bu Lilik yang terbaring tak bergerak. Matahari pagi masih menyisakan embun di daun-daun, dan suara burung yang biasa terdengar menyambut hari kini terasa begitu jauh dan sunyi. Detak jantungnya berdegup cepat, sementara pikirannya mulai membayangkan hal-hal yang tidak diinginkan. Ia melangkah perlahan mendekati Bu Lilik, memeriksa napasnya, mencoba memastikan apakah ada tanda-tanda kehidupan.

Tangannya bergetar ketika menyentuh pundak Bu Lilik, dan ia mendapati tubuh itu masih hangat. Hatinya sedikit lega, tetapi rasa cemas tetap mencengkeram. Mengapa Bu Lilik bisa berada di sini? Tak ada jejak orang lain di sekitar, hanya Bu Lilik dan hasil panen yang berserakan. Ubi, jagung, dan beberapa sayuran yang telah diikat rapi.

"Bu Lilik... Bu Lilik, bangun," bisiknya, menggoyangkan tubuh Bu Lilik perlahan.

Perlahan-lahan, Bu Lilik membuka matanya, menatap Pak Joni dengan pandangan linglung. "Pak Joni...? Di mana saya?" tanyanya lirih, seolah baru tersadar dari mimpi buruk.

Pak Joni mencoba menenangkan sambil membantu Bu Lilik duduk. "Bu, apa yang terjadi? Mengapa Ibu ada di sini? Apa Ibu baik-baik saja?"

Bu Lilik terdiam sesaat, menatap sekeliling dengan ekspresi kebingungan yang masih lekat. "Saya. saya tidak tahu, Pak," katanya dengan suara pelan, seolah-olah ingatannya hanyut dalam kabut pagi yang dingin.

Namun beberapa saat kemudian ia melebarkan mata, tiba-tiba Bu Lilik bangkit dengan tergesa-gesa. Wajahnya dipenuhi ketakutan yang nyata, matanya membelalak seakan-akan ia baru saja melihat sosok paling mengerikan. Tanpa sepatah kata pun, ia berlari menjauhi Pak Joni, berlari cepat ke arah desa tanpa menoleh ke belakang.

Pak Joni hanya bisa berdiri terpaku, melihat punggung Bu Lilik yang semakin menjauh. "Ada apa dengan Bu Lilik?" gumamnya penuh kebingungan.

Tingkah laku Bu Lilik pagi ini sungguh aneh dan tak biasa. Namun, setelah beberapa saat, Pak Joni menggelengkan kepalanya, tidak mau terlalu memikirkannya. Ia punya ladang yang harus diurus, dan waktu semakin beranjak siang. Dengan langkah berat, ia melanjutkan perjalanannya menuju ladang, meski perasaan aneh masih mengganjal di benaknya.

*

Hanan, anak Bu Lilik, merasa sangat cemas. Semalaman ia mencari ibunya yang tak kunjung pulang, bahkan sudah bertanya ke beberapa tetangga sekitar, namun tak ada yang tahu di mana Bu Lilik berada. Hanan menghabiskan malam dengan perasaan gelisah. Ketika pemuda itu beranjak keluar rumah untuk mencari ibunya di pagi hari, tiba-tiba Bu Lilik muncul di pintu depan.

"Astaga Ibu, dari mana saja? Aku baru saja akan mencari Ibu lagi" tanya Hanan melangkah mendekati ibunya.

Namun anehnya, Bu Lilik tak menggubris Hanan dan langsung masuk ke kamar dengan langkah tergesa-gesa penuh ketakutan. Pintu kamar pun dibanting rapat. Hanan yang masih dalam kebingungan hanya bisa berdiri terpaku.

Dengan langkah hati-hati, Hanan mendekat ke pintu kamar. Ia mencoba memanggil dengan lembut, "Ibu... ada apa? Apa yang terjadi di luar sana?" Namun, tak ada jawaban, hanya suara napas Bu Lilik yang terengah-engah dari balik pintu.

Hanan mengetuk pintu pelan. "Ibu, tolong cerita sama Hanan. Hanan khawatir…”

Setelah beberapa saat, Bu Lilik akhirnya menjawab, suaranya pelan dan bergetar hebat. "Hanan, jangan keluar rumah dulu... jangan pergi ke hutan. Ibu... Ibu melihat sesuatu… sesuatu yang tidak bisa Ibu jelaskan…”

Mendengar ucapan ibunya yang misterius itu, Hanan merasa bulu kuduknya meremang. "Ibu, tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin Hanan bisa membantu," desaknya.

Namun, Bu Lilik hanya bergumam lirih dari balik pintu, “Ada… ada sesuatu di sana, Hanan… sesuatu yang mengerikan. Huhuhu…” wanita itu menangis terisak-isak, memeluk erat tubuhnya sendiri yang gemetar akibat bayangan ngeri Nina dan Gendis.

*

Sementara itu, Hana berjalan berkeliling desa membawa buku catatannya, mendatangi rumah demi rumah untuk menagih utang. Namun kini suasana telah berubah. Wajah-wajah warga desa yang dulu tersenyum, kini memancarkan kecemasan dan ketegangan saat melihatnya mendekat.

Kehadiran Hana kini dikenal sebagai lintah darat yang tak berbelas kasih. Bunga pinjamannya yang dulu kecil kini membengkak hebat, mencekik leher warga. Setiap kali Hana mengetuk pintu, rasa gemetar menguasai hati para peminjam. Dalam diam, warga merelakan harta yang tersisa demi melunasi utang yang tak kunjung habis.

Saat sampai di rumah Bu Lilik, Hana melihat Hanan sedang berdiri bingung di depan rumah.

"Hei, Hanan! Panggilkan ibumu. Waktunya membayar utang!" ujar Hana dengan suara keras tanpa sopan santun.

Hanan menghela napas, lalu masuk ke dalam rumah memanggil ibunya. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Bu Lilik keluar dengan wajah lesu dan pandangan kosong.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bu Lilik berjalan perlahan mendekati Hana yang menunggu di halaman. Hana mengamati raut Bu Lilik yang aneh.

"Bu Lilik, waktunya bayar utang," kata Hana dengan nada menuntut.

"Aku belum punya uang," jawab Bu Lilik dengan suara dingin dan datar.

Hana membalas dengan tegas, "Aku tidak peduli. Cepat bayar!"

Namun tiba-tiba, tanpa diduga, Bu Lilik membentak dengan suara yang amat tajam, berat, dan sama sekali tidak wajar!

"PERGI DARI INI!"

Bentakan itu begitu keras hingga menggetarkan udara. Anehnya, nada dan intonasi suara itu bukan lagi milik Bu Lilik, melainkan persis seperti suara Nina, istri Roni yang telah mati terbakar!. Suaranya mengganda terdengar seperti dari dunia lain.

Hana terperanjat kaget, menatap Bu Lilik dengan tatapan ngeri. Mata Bu Lilik yang tadinya lelah kini memancarkan kilatan merah yang aneh, dan sebuah senyuman mengerikan yang amat dingin mulai terukir di wajahnya. Senyuman penuh dendam kesumat milik Nina!

Tubuh Hana seketika gemetar hebat, bulu kuduknya berdiri tegak, dan hawa dingin yang mencekam menyelimuti punggungnya. Tanpa berpikir panjang, Hana berbalik dan langsung berlari kesetanan meninggalkan rumah itu, terbirit-birit ketakutan.

Setelah Hana menghilang, tubuh Bu Lilik mendadak ambruk begitu saja di tanah.

"Ibu! Ibu!" seru Hanan panik, berlari mengguncang tubuh ibunya yang tak sadarkan diri. Pemuda itu segera berteriak meminta bantuan warga.

Beberapa saat kemudian, Bu Lilik akhirnya tersadar. Ketika matanya perlahan terbuka, ia melihat sekelilingnya telah dipadati oleh para tetangga dan warga desa yang khawatir. Di antara warga yang berkumpul, Pak Joni berdiri mendampingi Hanan. Lelaki itu kembali pulang karena pikirannya tidak nyaman setelah menemukan bu Lilik di tengah jalan tadi.

Hanan menggenggam erat tangan ibunya. "Bagaimana keadaan Ibu?" tanyanya melihat sang ibu sudah siuman.

Pak Joni yang tampak cemas mendekati Bu Lilik dan berkata, "Bu Lilik, tadi pagi saya menemukan Ibu pingsan di jalan dekat hutan. Saat bangun, Ibu terlihat bingung lalu lari ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi di sana?"

Bu Lilik yang masih lemas hanya bisa memandang para warga. Bayangan mengerikan tentang sosok wanita berpakaian lusuh dengan luka bakar mengelupas, serta anak kecil berkepala bolong yang mengucurkan darah segar, kembali membanjiri ingatan Bu Lilik.

Warga yang hadir menunggu dengan penasaran dan napas tertahan.

"Aku... aku melihat Nina di dalam hutan," ucap Bu Lilik pelan namun sangat jelas.

Suasananya seketika berubah menjadi mencekam. Para warga saling pandang dengan raut wajah memucat.

"Tapi, Bu... Mbak Nina kan sudah meninggal terbakar di gubuknya," ujar Hanan dengan nada bingung dan cemas.

Bu Lilik menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. "Aku tahu, Hanan. Tapi aku benar-benar melihatnya! Aku melihatnya duduk di bawah pohon sambil memangku anaknya, Gendis. Tapi dia bukan lagi manusia... Wajahnya penuh luka bakar, dan kepala anaknya... kepalanya bolong! Dia kembali... arwahnya kembali untuk menuntut balas!"

Mendengar pengakuan jujur itu, beberapa warga mulai gemetar ketakutan, sementara yang lain terdiam kaku mengingat perlakuan mereka dulu yang mengusir Nina dan anaknya.

Berita tentang arwah penasaran Nina dan Gendis yang bangkit dari abu kebakaran pun mulai menyebar cepat ke seluruh pelosok desa, membawa teror gaib yang siap menggulung siapa saja yang terlibat dalam fitnah kejam tersebut.

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!