NovelToon NovelToon
Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.

Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.

Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.

Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.

Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah Dalam Nada

"Kenapa nggak ngajakin aku ke pembukaan Ruang Kopi, Kak?" protes Bara saat Abas sudah sampai di rumah. Abas menatap adiknya itu dengan tatapan dingin.

"Acara pembukaan biasa. Nggak perlu terlalu banyak perwakilan yang datang," kata Abas. Bara menghela napas panjang.

"Kenapa Kak Abas nggak nyuruh aku aja yang dateng? Biasanya Kak Abas males ke acara pembukaan, apalagi kafe," kata Bara. Abas menarik napas dalam-dalam.

"Sebenarnya Pak Joni yang mau datang, tapi ada acara mendadak sama keluarganya. Pak Joni telepon aku di menit-menit terakhir. Nggak ada waktu buat hubungi kamu," kata Abas datar lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Bara menatap punggung kakaknya sambil mengerutkan dahi.

"Katanya acara pembukaan biasa. Kalau dateng telat nggak masalah kan?" gumam Bara.

Langkah Abas sempat terhenti sesaat ketika mendengar kata-kata Bara. Namun dia tidak menoleh dan memilih melanjutkan berjalan menuju kamarnya.

"Aneh," lanjut Bara masih sambil menatap punggung Abas yang menjauh.

"Apanya yang aneh, Bara?" tanya Nyonya Baskara di belakang Bara. Bara tersentak.

"Mama ih! Bikin kaget aja," kata Bara sambil menyentuh dadanya. Nyonya Baskara tersenyum.

"Jangan usilin kakakmu dulu. Perasaannya baru kacau," kata Nyonya Baskara mengingatkan sambil berjalan menuju sofa ruang tengah. Bara berjalan mengikuti mamanya.

"Harusnya Mama nyuruh Bara usilin Kak Abas, biar dia terhibur," kata Bara santai. Nyonya Baskara menggelengkan kepalanya perlahan.

"Kamu kayak nggak tahu kakakmu aja. Selera humornya cuma seujung kuku," kata Nyonya Baskara sambil menempelkan ibu jari dan jari telunjuknya. Bara tertawa.

"Untung aja ada Mama di rumah. Coba cuma ada Kak Abas sama Papa doang. Apa jadinya hidup Bara?" kata Bara dengan sisa tawa yang ada.

"Hush! Mereka itu cuma terlalu tegang aja. Terlalu serius. Papa kamu kalau Mama bercandain juga bisa ketawa," kata Nyonya Baskara.

"Iya. Cuma sama Mama doang. Sama aku nggak pernah," kata Bara dengan nada sedikit kesal.

"Namanya juga pria, Bar. Kayak nggak tahu aja papamu gimana," kata Nyonya Baskara. Bibir Bara masih mengerucut.

"Kenapa masih cemberut?" tanya Nyonya Baskara.

"Nggak diajakin Kak Abas ke pembukaan Ruang Kopi," kata Bara. Nyonya Baskara tersenyum.

"Kamu itu cuma mau nongkrong aja kan? Besok-besok juga bisa. Kalau kesana tadi, kamu dateng bukan buat nongkrong tapi buat jadi perwakilan perusahaan, harus jaga sikap dan wibawa," kata Nyonya Baskara.

"Yaelah, Ma. Kalau nongkrong juga Bara jaga sikap kok," kata Bara.

"Iya, Mama tahu. Cuma kamu kan anaknya... sedikit..."

"Apa?"

"Nggak bisa diem," lanjut Nyonya Baskara.

"Apa salahnya?"

"Nggak salah, Bara. Mungkin Abas cuma khawatir kamu salah sikap aja," kata Nyonya Baskara mencoba membuat Bara mengerti keputusan Abas.

Bara menghela napas panjang. Meskipun apa yang mamanya katakan benar, tapi, Bara masih merasa kesal Abas terus menganggapnya seperti anak kecil yang suka main-main.

'Dasar, Pangeran Es nyebelin!'

***

Melodi menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur kosnya setiba dari Ruang Kopi. Dia menatap langit-langit kamar kosnya. Sedetik kemudian dia mengangkat tangan kanan dan menatap telapak tangannya.

"Besar dan... dingin," gumam Melodi lalu menghela napas panjang sambil menurunkan tangannya. Dia masih memikirkan Abas, pria yang selalu nampak muram di matanya.

"Apa dia tidak bisa tersenyum sedikit saja?" tanya Melodi sambil menatap langit-langit kamar kosnya.

Melodi lalu memiringkan badannya. Ditatapnya tas gitar yang bersandar di meja belajarnya. Melodi bangun lalu mengeluarkan gitarnya. Dia kembali duduk di tepi tempat tidur lalu memetik gitar sambil termenung memikirkan pria tanpa ekspresi yang baru saja dikenalnya.

"Ting ting ting... Ting..."

Melodi jadi teringat cerita Bara tentang Abas yang batal menikah. Melodi bertanya-tanya, apa yang menyebabkan calon istrinya menolak Abas di saat-saat terakhir.

"Padahal kelihatannya orangnya baik. Kenapa bisa batal nikah?" gumam Melodi masih sambil memetik gitar.

"Taruhan. Kalau dia ke kampus, udah pasti Lala heboh. Apalagi kalau tahu aku kenal dia, pasti langsung minta dikenalin," lanjut Melodi.

"Mas-mas kayak Bang Alto aja udah cukup bikin Lala melting apalagi kalau kayak dia yang spek drakor favoritnya," gumam Melodi sambil tersenyum membayangkan reaksi Lala.

"Ting ting ting... Ting ting ting..."

"Eh?"

Melodi kembali mengulang nada yang baru saja keluar dari gitarnya. Dia memetik nada yang sama berkali-kali.

"A minor, F, C, G," gumam Melodi sambil beranjak mengambil buku catatan lagunya.

"Oke. Apa tadi? A minor, F, C, terus... G," Melodi bergumam sambil menulis chord yang baru saja dia temukan. Dia kembali memetik gitar di nada yang baru saja dia tuliskan.

"Hm hm hm hm hm hm hm..."

"Yang ini juga keren," katanya sambil kembali mengulang chord lain yang baru saja dia temukan.

"A minor, F, D minor, E," kata Melodi sambil menuliskan chord-chord yang baru saja mengalun di kepalanya.

Dia menatap kembali catatannya lalu memetik lagi gitarnya. Dia mengulang-ulang chord itu sambil merasakan nadanya. Tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Aneh sih..."

'Entah mengapa, memimirkan pria itu, dapat menghasilkan nada sesendu ini,'

***

Abas duduk di tepi tempat tidurnya sambil mengendurkan dasinya dengan tangan kirinya. Dia menatap telapak tangan kanannya dan masih mengingat saat ketika dia menjabat tangan Melodi.

"Melodi," gumam Abas.

"Namanya... terdengar berisik..." lanjutnya masih sambil menatap telapak tangan kanannya.

"... dan... hangat,"

Dering ponsel Abas menyadarkannya. Dia merogoh saku celananya. Sebuah pesan singkat dari Pak Rendi berisi ucapan terimakasih yang disertai banyak foto acara pembukaan kafe dan beberapa video. Abas mengklik foto-foto itu. Ibu jarinya mengusap perlahan layar ponselnya, menggeser satu per satu foto yang dikirim Pak Rendi.

Saat satu foto terpampang di layar ponselnya, ibu jari Abas berhenti menggeser layar. Dia menatap foto itu cukup lama. Foto Melodi sedang bernyanyi sambil bermain gitar. Ibu jari Abas bergerak lagi perlahan, menggeser foto itu. Foto berikutnya, masih foto Melodi yang tersenyum sambil memetik gitarnya. Abas berhenti cukup lama di foto itu. Dia merasa dadanya tiba-tiba sesak.

Sedetik kemudian, dia menggeser lagi layar ponselnya. Wajah Melodi masih menghiasi layarnya. Namun kali ini, Melodi terlihat tersenyum pada pria berhoodie di sampingnya yang juga tersenyum padanya. Abas menatap wajah pria itu dalam-dalam. Tangannya menggenggam ponsel semakin erat. Sedetik kemudian dia mematikan layarnya. Wajahnya terpantul pada layar ponsel yang kini gelap. Abas menarik napas dalam-dalam lalu meletakkan ponselnya di atas nakas.

Abas menatap ponselnya dengan dingin. Dia lalu beranjak, berjalan menuju balkon kamarnya. Angin malam yang dingin menyapanya. Abas menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang. Seketika wajah tersenyum Melodi terlintas. Abas mengusap wajahnya lalu tertunduk.

'Ini... nggak masuk akal,'

***

1
Ne Ajja
tanya langsung sama orangnya, Bas...
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
Purnamanisa: kepo banget emang si Abas, tapi sok cool 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
ada yg panas tapi bukan kompor 😂
Purnamanisa: apa tuuuh 😅😅🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
belokin dong, Bar...
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
Purnamanisa: Kalo dibelokin langsung Abasnya ngambek, Kak... biarkan dia belok sendiri 😅😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ngga, Bas...
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Purnamanisa: 😅😅
Melodi dimana2 🤣🤣
btw, video Senja Dalam Diam sudah ada di tiktok Purnamanisa ya, kak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Suka sama lagunya.
Hafal bagian reffnya🤭
Purnamanisa: senjaaa... katakan padanya...🤭🤭
total 1 replies
Ne Ajja
"rasa" hadir tanpa butuh alasan...
eaaa....🤭
Purnamanisa: terimakasih kakaaak... biasanya kalo udah eps 20 keatas baru rame kak 😅😅 bantuin up dan share ya kalo menurut kakak ceritanya keren 🙏🙏 terimakasih udah selalu baca karya2 author 😊😊
total 3 replies
Ne Ajja
arahin, Mel 🤭
Purnamanisa: lupa ga bawa kompas, Kak 😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ohhh....astaga...
bener2 plot twist nya..

jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
Purnamanisa: daripada nikah tapi kebayang2 cowok lain kan yaa 😅😅😅
total 3 replies
Ne Ajja
aku udah vote + gift...
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪
Ne Ajja: sami2 ka...
total 2 replies
Ne Ajja
👍👍👍👍👍
Ne Ajja: okeh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!