Setelah menyelesaikan misi terakhirnya, Aurora Veyra, seorang agen pembunuh bayaran, tewas akibat kecelakaan konyol dan terbangun di dalam novel favoritnya. Sialnya, ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan Shen Yuxin, istri kejam yang gemar menyiksa suaminya, Lu Zhichen, Raja Mafia paling ditakuti di Beijing.
Mengetahui akhir tragis yang menantinya, Aurora bertekad mengubah jalan cerita. Namun, bisakah ia meluluhkan hati suami yang telah terluka, menghindari takdir kematiannya, dan menulis ulang akhir kisah nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Mendadak Dari Musuh
Mobil hitam milik keluarga Lu melaju tenang meninggalkan kediaman keluarga Shen. Suasana di dalam mobil jauh lebih hening dibanding biasanya.
Shen Yuxin duduk di samping Lu Zhichen.
Sementara Han Mo berada di kursi depan, sesekali memberikan instruksi kepada iring-iringan mobil pengawal melalui alat komunikasi.
Yuxin melirik Zhichen.
"Kok tiba-tiba nyusul sih?"
Zhichen tersenyum tipis.
"Aku takut mereka mempersulit dirimu. Dan ternyata benar... Aku jadi merasa bersalah melihat kondisi ibumu," kata Zhichen penuh penyesalan. Apalagi melihat kondisi ibu mertua nya yang seperti itu.
Yuxin tersenyum lembut.
"Bukan salahmu juga. Ibu dan aku sudah terlalu lama hidup seperti itu. Dan mulai sekarang, aku tidak akan tinggal diam lagi seperti dulu. Aku akan melindungi ibu." katanya sambil menatap wajah Zhichen.
Senyuman di bibir Zhichen, yang sangat jarang terlihat, kini terbit bagaikan mentari di musim dingin. Sangat menghangatkan. Dan entah kenapa, senyuman itu malah membuat hati Yuxin terasa tidak tenang.
"Aku akan selalu mendukungmu. Jangan lupa, di belakangmu akan selalu ada aku," kata Zhichen.
Kata-kata sederhana itu nyatanya mampu membuat perasaan Yuxin terasa seperti diobrak-abrik. Namun, dengan cepat Yuxin segera menggeleng.
Zhichen adalah takdir Xiaoran. Dia tidak boleh memiliki perasaan lebih. Atau mungkin saja nasibnya akan berakhir tragis seperti di novel aslinya.
Suara Han Mo memecah suasana di antara mereka.
"Master."
"Ada tiga mobil yang mengikuti kita sejak lima menit lalu," kata Han Mo dengan pandangan waspada. Tangannya secara refleks mengambil pistol di dashboard mobil.
Mata Zhichen langsung berubah tajam.
"Jangan panik. Terus pantau. Jangan membuat mereka sadar bahwa kita sudah mengetahui keberadaan mereka," perintah Zhichen.
"Baik," jawab Han Mo tegas begitu pun dengan sang sopir, dia juga sudah menyiapkan senjata di samping nya. Siap bergerak di saat yang di butuhkan.
Han Mo melihat ke kaca spion. Dan dia dapat melihat ada lima mobil yang mengikuti mereka. Dan dapat di lihat dengan samar mereka semua bersenjata.
Han Mo menggenggam pistol di tangannya, mencari celah yang tepat untuk bertindak.
"Master... Waspada! Mereka semakin mendekat!"
Zhichen segera menarik tubuh Yuxin ke dalam pelukannya. Jemarinya sibuk merogoh senjata di pinggangnya, sementara pandangannya yang tajam memindai sekitar, takut jika penyerang itu tiba-tiba muncul.
DOR!!
Suara tembakan memecah keheningan.
PRANG!!
Kaca belakang mobil langsung retak dihantam peluru. Mereka ternyata bergerak lebih dahulu daripada yang sudah diperkirakan.
Yuxin refleks menoleh.
"Ya ampun! Kita diserang!" serunya panik.
Zhichen semakin mempererat pelukannya. Ia takut jika melonggarkan pelukannya sedikit saja, nyawa istrinya mungkin berada dalam bahaya.
Namun, di dalam tubuh Yuxin adalah jiwa Aurora yang bebas. Dia dengan cepat berontak dan melepaskan diri dari pelukan Zhichen.
Sedangkan sopir langsung menginjak pedal gas sedalam-dalamnya.
VROOOOM!
Mobil melesat membelah jalan raya.
Di belakang mereka... lima mobil masih dengan gigih mengejar mobil mereka.
DOR! DOR! DOR!
Rentetan peluru kembali menghantam bodi mobil. Percikan api beterbangan.
Zhichen memandang Yuxin tajam.
"Yuxin, kembali ke sini! Atau merunduklah di bawah!" perintah Zhichen dengan tegas. Tatapannya tajam, tak ingin dibantah.
Namun, bukan Aurora jika dia akan menurut begitu saja.
"Han Mo, apakah masih ada senjata lagi?" tanya Yuxin.
Han Mo mengernyit bingung, tetapi pandangannya tetap waspada memindai sekitar.
"Masih, Madam."
"Ada berapa lagi?" tanya Yuxin cepat.
"Lima," jawab Han Mo singkat.
"Berikan padaku satu," perintah Yuxin.
Zhichen langsung melotot tajam pada Yuxin.
"Yuxin... Jangan aneh-aneh! Patuhlah!" kata Zhichen dengan nada yang mulai meninggi. Namun, sikap waspada nya tetap terjaga.
"Han Mo, berikan!" kata Yuxin tidak sabar.
"Tidak!" seru Zhichen sambil melirik Han Mo tajam.
Han Mo menjadi bimbang sendiri.
"Cepat, Han Mo!" perintah Yuxin lagi.
"Tidak!" potong Zhichen tak ingin kalah.
Yuxin memutar bola matanya karena kesal.
"Kita semua akan mati jika kau tetap keras kepala seperti ini!" bentak Yuxin frustrasi.
Namun, Zhichen tak kalah frustrasi menghadapi istrinya yang sulit sekali diatur. Padahal keadaan di luar benar-benar genting. Sepertinya istrinya ini kebanyakan menonton drama. Jadi mungkin dia berpikir bahwa menggunakan senjata adalah hal yang mudah.
Karena tidak ada pergerakan sedikit pun dari Han Mo, Yuxin yang cerdik segera merebut pistol di tangan Zhichen dengan mudah. Sebab, Zhichen masih fokus pada musuh dan situasi di sekitar mereka.
"Yuxin, kau... benar-benar..."
Suara Zhichen tertahan ketika melihat mobil musuh yang sudah hampir sejajar dengan mobil mereka, dengan moncong pistol mengarah ke arah mereka.
Sebelum sempat Zhichen bereaksi, Yuxin sudah lebih dulu menoleh cepat, menurunkan kaca jendela, lalu berusaha berlindung di balik pintu mobil.
DOR! DOR! DOR!!
Tembakan beruntun dilepaskan oleh Yuxin. Dua peluru mengenai dua musuh yang hampir menembak mereka. Dua peluru lainnya ia gunakan untuk menembak ban mobil musuh, membuat mobil itu oleng tak terkendali.
SIIITTT...
Suara bodi mobil yang menggesek aspal terdengar nyaring.
BRAK!!
Mobil musuh akhirnya menghantam keras pepohonan.
Zhichen membeku. Begitu pula Han Mo.
Bagaimana mungkin wanita biasa seperti Yuxin dapat menggunakan senjata sebaik itu? Semua bidikannya melesat dengan sempurna. Tak ada satu pun yang meleset. Seolah sudah terlatih selama bertahun-tahun.
Namun, mobil musuh yang lain segera menyusul, membuat Zhichen dan Han Mo cepat tersadar.
"Han Mo, berikan senjatanya padaku!" perintah Zhichen cepat.
Han Mo dengan sigap mengulurkan senjata yang masih tersisa di dashboard mobil.
DOR! DOR! DOR!!
Tembakan dari kedua kubu terjadi begitu sengit.
Yuxin membuka sedikit pintu mobilnya, lalu hendak melongok ke luar. Namun, Zhichen sudah lebih dahulu menarik tubuhnya.
"Jangan gila, Yuxin!!" teriak Zhichen dengan napas memburu. Dia benar-benar khawatir dengan keselamatan istrinya. Namun, Yuxin justru seolah menganggap enteng nyawanya sendiri.
"Kau yang gila! Kenapa menarikku? Padahal sedikit lagi aku bisa menembak ban mobil mereka!" teriak Yuxin tak kalah kesal.
Han Mo bergerak cepat menembaki musuh, dibantu sang sopir yang sesekali juga melepaskan tembakan sebisanya.
Sedangkan pasangan suami istri itu sesekali masih terlihat beradu mulut.
Namun, keduanya tetap waspada. Saling melindungi satu sama lain.
Pemandangan itu seketika membuat Han Mo sadar.
Madam telah berubah.
Meski kemampuan Yuxin sangat mencurigakan, melihat Yuxin beberapa kali melindungi Zhichen dari serangan musuh membuat kepercayaannya kepada Yuxin perlahan mulai tumbuh.
Dan tidak bisa dimungkiri, Han Mo benar-benar terkesan dengan kemampuan Yuxin yang tidak mungkin dimiliki oleh orang biasa.
Han Mo dapat melihat dengan jelas. Semua gerakan Yuxin sudah terlatih sejak lama. Tidak mungkin orang yang baru belajar bisa seakurat itu.
di novel aja ya, kalau di RL hus... hus... jauh" serem
berarti emng dia ga ada perasaan apa" sama zhichen ya...
😁😁😁😁😁