NovelToon NovelToon
Lentera Alexandria

Lentera Alexandria

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:676
Nilai: 5
Nama Author: Pemandu Jiwa

"Duniaku gelap, sampai aku bertemu dengannya yang justru membawa badai."

​Randita Alexandria terbangun tanpa identitas, namun membawa bakat berbahaya yang membuat nyawanya terancam.

Ia dikelilingi oleh musuh yang menyamar sebagai keluarga, dan satu-satunya orang yang bisa ia percaya adalah Andika—cowok yang selama ini dikenal sebagai pemberontak sekolah.

​Andika seharusnya menjadi penjaganya karena perintah, namun berubah menjadi pelindungnya karena cinta.

​Apakah cinta bisa tumbuh di tengah pelarian yang penuh darah? Dan apakah Dita bisa menemukan jati dirinya sebelum ia hancur oleh kebenaran yang selama ini sengaja disembunyikan?

​Sebuah kisah tentang amnesia, peretasan, dan keberanian untuk mencintai di tengah konspirasi mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pemandu Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Gema di Balik Ketenangan

Pagi di Kupang tidak pernah terasa seindah ini. Sinar matahari menyusup melalui celah gorden kamar apartemen yang baru saja kubeli bersama Alvian, menari-nari di atas permukaan meja kayu yang tertata rapi.

Di sudut ruangan, sebuah layar monitor 48 inci masih menyala redup, menampilkan barisan kode yang sedang berjalan secara otomatis—sisa-sisa dari sistem keamanan yang kubangun untuk melindungi hidup kami yang kini tenang.

​Alvian ada di dapur, suara denting sendok yang beradu dengan cangkir kopi menjadi simfoni pagi yang paling menenangkan.

​"Kopi, Dit?" teriak Alvian dari arah dapur.

​"Hitam, dua gula, Kak!" jawabku sambil merenggangkan tubuh.

​Aku merasa... normal. Kata itu terasa asing sekaligus memuaskan. Tidak ada lagi helikopter yang menderu di atas kepala, tidak ada lagi detak jantung yang memburu karena dikejar bayang-bayang.

Aku adalah Randita Alexandria yang bekerja sebagai analis data lepas, dan Alvian adalah kakak yang kini bisa tersenyum tanpa takut akan diseret keluar dari rumahnya.

​Namun, di balik permukaan yang tenang itu, aku tahu ada sesuatu yang rapuh. Setiap kali aku memejamkan mata, aku masih bisa melihat wajah Profesor Aris di balik kaca gudang itu. Aku masih bisa merasakan dinginnya rantai besi yang menjerat pergelangan tanganku.

​Aku berjalan menuju meja kerja, menatap layar monitor. Kehidupan baru ini adalah hasil dari usaha keras kami meretas dan mengungkap kebobrokan jaringan Proyek Lentera. Tapi malam ini, sesuatu terasa berbeda. Udara di apartemen terasa lebih berat.

​Aku mematikan monitor dan berjalan menuju ranjang. Kelelahan yang luar biasa menghantam, seolah ada beban tak terlihat yang menekan pundakku.

​Mimpi itu datang lagi.

​Kali ini, warnanya bukan hitam putih, melainkan merah menyala. Bau bensin yang menyengat menusuk hidungku, begitu tajam hingga membuatku mual.

​Aku berada di dalam sedan hitam itu lagi. Hujan di Kupang malam itu turun seperti jarum-jarum es. Aku melihat sosok Alvian muda di sampingku, tangannya mencengkeram setir dengan buku jari yang memutih. Kami tidak sedang dalam perjalanan pulang, kami sedang melarikan diri.

​"Dita, dengarkan aku!" suara Alvian terdengar di antara dentuman guntur. "Mereka punya interface yang bisa masuk ke dalam saraf kita. Jika kita tertangkap, mereka akan menghapus segalanya. Mereka akan menjadikanku dan dirimu sebagai hardware hidup bagi server Alexandria."

​Aku melihat ke kaca spion tengah. Dua SUV hitam tanpa plat nomor membuntuti kami dengan kecepatan tinggi, lampu depan mereka menyilaukan mata.

​"Apa yang harus kulakukan, Kak?" aku menangis, suaraku parau.

​Alvian menoleh, matanya merah karena menahan amarah dan ketakutan. Dia mengeluarkan sebuah perangkat kecil—sebuah chip memori yang sudah dimodifikasi.

"Simpan ini. Ini bukan milikku, ini adalah bagian dari ingatanku yang aku ekstraksi sebelum mereka menangkapku. Jangan biarkan mereka mengambilnya."

​BRAK!

​Sebuah tabrakan keras dari samping membuat mobil kami terpelanting. Dunia terbalik. Kaca pecah menjadi ribuan butiran tajam yang menghujani wajahku.

Aku melihat tangan Alvian mencoba menggapai tanganmu, tapi sebuah tangan bersarung tangan kulit hitam menariknya keluar melalui jendela yang hancur.

​"BASKARA!" Aku berteriak memanggil nama aslinya, nama yang bahkan aku sendiri nyaris lupa.

​Pria bertopeng itu menoleh ke arahku. Dia tidak membunuhku. Dia justru mendekat, wajahnya mendekat ke jendela yang hancur, dan dia berbisik dengan suara yang terdengar seperti gesekan logam,

"Tidurlah, Subjek 01. Saat kau bangun nanti, kau hanya akan menjadi gadis SMA biasa yang tidak tahu bahwa kau adalah kunci dari segalanya."

​Dia menyuntikkan sesuatu ke leherku. Cairan dingin yang menjalar ke otakku, mematikan memori, mematikan identitas, mematikan diriku.

​"TIDAAAAAK!"

​Aku tersentak bangun.

Napasku memburu, tubuhku basah kuyup oleh keringat dingin. Aku mendapati diriku terduduk di atas tempat tidur, tanganku mencengkeram sprei hingga buku jariku memutih.

​Pintu kamar terbuka dengan cepat. Alvian masuk dengan wajah cemas, disusul oleh Andika yang baru saja datang untuk sarapan.

​"Dit? Kau mimpi buruk lagi?" Alvian segera duduk di sampingku, wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang mendalam.

​Aku menatap mereka berdua dengan pandangan kabur. Bayangan pria bertopeng itu masih menari-nari di retinaku.

"Mereka tidak hanya menghapus ingatanku, Alvian. Mereka menanamkan sesuatu. Sesuatu yang lain."

​Andika mendekat, menatapku dengan sorot mata yang tajam dan protektif.

"Dita, tenangkan dirimu. Sistem Proyek Lentera sudah runtuh. Tidak ada lagi yang bisa menyentuhmu."

​"Tidak," bisikku sambil menggeleng keras. "Mimpi itu bukan sekadar ingatan. Itu adalah trigger. Seseorang... seseorang baru saja mengirimkan sinyal ke otakku. Mereka mencoba mengaktifkan kembali sesuatu yang tertidur di dalam sana."

​Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Fajar baru yang kupikir telah kami raih, mendadak terasa seperti fatamorgana. Andika menatap Alvian, sebuah komunikasi bisu yang penuh kecemasan.

​Aku menatap tanganku sendiri. Di balik kulit pergelangan tanganku, aku seolah bisa merasakan detak mekanis yang tidak seharusnya ada di sana. Perang yang kupikir telah usai, ternyata baru saja memasuki babak yang lebih dalam, lebih gelap, dan lebih pribadi.

​Ruangan itu masih terasa dingin meski matahari Kupang sudah mulai terik di luar sana. Alvian mengambilkan segelas air, tangannya sedikit gemetar saat menyodorkannya padaku.

Andika tidak duduk; dia mondar-mandir di depan jendela, tatapannya menyapu jalanan di bawah apartemen, mencari ancaman yang mungkin saja sedang mengintai.

​"Dita," Alvian memulai, suaranya berusaha tenang. "Kau bilang mereka menanamkan sesuatu? Kau yakin itu bukan efek samping dari recovery sarafmu?"

​Aku menggeleng, memegang kepalaku yang masih berdenyut. "Tidak, Kak. Saat aku mimpi tadi, itu bukan sekadar ingatan. Aku melihat deretan angka—koordinat—yang terproyeksi di balik kelopak mataku. Itu adalah key-string. Itu adalah kode enkripsi yang sama dengan yang kupakai untuk meretas server bawah laut waktu itu."

​Andika berhenti mondar-mandir. Dia mendekat, berjongkok di depanku sehingga pandangan kami sejajar. "Berarti sistem mereka tidak sepenuhnya hancur. Atau setidaknya, ada salinan data yang mereka pasang di dalam dirimu sebagai cadangan."

​Rasa mual kembali menyerangku. Aku bukan sekadar orang yang membawa informasi; aku adalah informasinya.

​"Alvian, ambil laptop cadanganku," pintaku dengan suara parau.

​Alvian segera bergerak. Dia tahu bahwa saat aku berada dalam mode ini, aku bukan lagi Dita yang lemah. Aku adalah Randita Alexandria—hacker yang mampu membelah arsitektur digital paling rumit sekalipun.

​Aku membuka laptop itu, tanganku bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar. Jari-jariku menari di atas keyboard seolah-olah sudah hafal di luar kepala. Aku mulai melakukan deep-scan terhadap sistem sarafku sendiri. Bukan menggunakan mesin medis rumah sakit, tapi menggunakan interface yang pernah kami rakit dari sisa-sisa server Proyek Lentera.

​"Dita, ini berbahaya," Andika memperingatkan, tangannya memegang bahuku dengan erat, berusaha menahan gerakan tanganku. "Kalau kita memicu program itu terlalu dalam, itu bisa merusak jaringan sarafmu sendiri."

​"Aku tidak punya pilihan, Andika!" seruku, menatapnya dengan intensitas yang membuat Andika terdiam. "Jika kode itu aktif dengan sendirinya, mereka bisa mengendalikan gerakanku, atau lebih buruk lagi, mereka bisa mencuri data yang ada di otakku tanpa aku sadari. Aku harus memutus koneksi itu sekarang."

​Layar laptop mulai menampilkan grafik gelombang otakku yang tidak stabil. Ada sesuatu yang tidak wajar. Sebuah backdoor yang terkunci sangat rapat, menyamar sebagai bagian dari memori jangka panjangku.

​Alvian membelalakkan mata saat melihat layar itu. "Itu... itu protokol 'Sleeping Ghost'. Aku pernah dengar tentang ini saat masih di dalam lab Profesor Aris. Itu adalah perangkat lunak yang dirancang untuk tetap dormant dan hanya aktif jika ia mendeteksi sinyal frekuensi tertentu."

​"Frekuensi?" Andika menatap Alvian. "Maksudmu, ada seseorang yang sedang memancarkan sinyal itu di sekitar kita sekarang?"

​Aku membeku.

Seluruh bulu kudukku berdiri.

Aku menatap jendela apartemen yang terbuka. Kota Kupang yang tampak tenang itu mendadak terasa seperti jaring laba-laba raksasa.

​"Mereka bukan hanya ingin menangkapku," bisikku ngeri. "Mereka sedang mengujiku. Mereka ingin melihat apakah aku sudah cukup 'siap' untuk ditarik kembali ke dalam sistem mereka."

​Andika berdiri, matanya berubah menjadi dingin dan tajam—tatapan yang selalu muncul saat dia siap untuk bertarung. Dia menarik pistol yang selalu dia simpan di balik lemari.

"Kalau begitu, kita tidak akan menunggu mereka datang. Kita akan melacak asal sinyal itu."

​"Aku butuh waktu untuk menanamkan firewall di otakku," kataku pada Alvian. "Kak, bantu aku. Hubungkan otakku langsung ke server lokal. Aku akan masuk ke dalam lapisan memori yang terinfeksi itu dan menghapus protokol tersebut dari dalam."

​Alvian menatapku dengan keraguan yang terlihat jelas. "Itu berisiko tinggi, Dita. Kamu bisa kehilangan memori permanenmu kalau kamu salah langkah."

​"Aku lebih memilih menjadi kosong daripada menjadi boneka mereka," jawabku tegas.

​Andika menggenggam tanganku sebentar, memberiku kekuatan yang aku butuhkan. "Aku akan jaga di sini. Tidak ada satu pun orang yang bakal masuk ke apartemen ini, bahkan kalau itu setan sekalipun."

​Aku berbaring di sofa, memejamkan mata, dan mulai masuk ke dalam ruang gelap di dalam ingatanku sendiri. Di sana, di antara serpihan-serpihan memori masa kecilku, aku melihat sebuah pintu besi yang tidak seharusnya ada. Itu adalah pintu masuk menuju Sleeping Ghost.

​Saat aku menyentuh pintu itu, sebuah suara muncul di kepalaku—suara Profesor Aris yang tenang dan menusuk.

​"Selamat datang kembali, Subjek 01. Aku tahu kau akan kembali ke sini."

​Perang di dalam kepalaku dimulai, sementara di dunia nyata, Andika dan Alvian mulai bersiap menghadapi musuh yang bahkan belum terlihat batang hidungnya.

​Aku memejamkan mata, membiarkan kabel-kabel data yang dihubungkan Alvian ke pelipisku membawa kesadaranku ke dalam kedalaman sistem sarafku sendiri. Seketika, realitas apartemen menghilang.

Aku tidak lagi berada di ruang tamu, melainkan berdiri di tengah koridor putih tanpa ujung yang dingin. Ini adalah manifestasi visual dari backdoor yang ditanamkan mereka.

​Di ujung koridor, bayangan digital Profesor Aris berdiri membelakangiku. Sosoknya bukan manusia, melainkan gumpalan data yang berdenyut dengan warna biru neon.

​"Kau tahu, Dita," suara itu bergema, bukan di telinga, tapi langsung di pusat pemikiranku. "Kau bisa membangun gedung-gedung komunitas, kau bisa menulis kode kebajikan, tapi kau tidak bisa menghapus apa yang sudah tertanam di tingkat molekuler. Aku adalah bagian dari dirimu sekarang."

​Aku mengangkat tangan, memusatkan seluruh sisa memori pertahananku menjadi senjata digital. "Aku bukan subjekmu lagi, Profesor."

​"Bukan?" Dia tertawa, suaranya pecah menjadi distorsi data. "Lihat sekelilingmu."

​Dinding-dinding koridor itu mulai retak, dan di balik retakannya, aku melihat kilasan kehidupan baruku dengan Andika. Tapi itu bukan foto, itu adalah log data. Setiap percakapan kami, setiap sentuhan, setiap rencana yang kami buat, semuanya telah terekam dan terkirim ke server pusat yang belum mati. Aku merasa dikhianati oleh tubuhku sendiri.

​Sementara itu, di dunia nyata, Andika bergerak seperti predator. ​Matanya menyapu jalanan di bawah dari balik tirai. Dia tidak menggunakan lampu ruangan agar tidak terlihat dari gedung seberang.

Tiba-tiba, sebuah titik laser merah kecil muncul di kaca jendela apartemen, bergerak perlahan, mencari sasaran.

​"Alvian! Tiarap!" Andika berteriak sambil mendorong Alvian ke balik sofa.

​PRANG!

​Kaca jendela pecah berkeping-keping akibat tembakan peredam suara. Peluru itu menanamkan diri di dinding, tepat di posisi kepala Alvian beberapa detik yang lalu.

Andika tidak menunggu.

Dia melompat keluar melalui pintu apartemen, berlari menuruni tangga darurat dengan kecepatan yang luar biasa. ​Dia tahu dari mana arah tembakan itu berasal: gedung tua di seberang jalan yang atapnya menghadap langsung ke kamar kami.

​Andika berlari menembus kegelapan gang, pikirannya hanya terfokus pada satu hal: siapa pun yang berani menyentuh Dita akan menemui ajal mereka hari ini.

Dia mencabut pistolnya, memastikan pelurunya dalam kondisi siap. Di benaknya, dia melihat bayangan Dita yang terkapar di sofa, terhubung dengan mesin-mesin itu. Dita harus aman. Dita harus tetap hidup.

​Di gedung seberang, seorang pria dengan pakaian serba hitam sedang membereskan senapan runduknya. Dia tidak menyadari bahwa di balik pintu atap, Andika sudah berdiri dengan napas yang tertahan, otot-ototnya menegang seperti pegas yang siap meledak.

​"Jangan bergerak," suara Andika rendah, dingin, dan mematikan.

​Pria itu terdiam, perlahan mulai berbalik. "Kau selalu saja ikut campur, Andika. Kau anak yang baik, tapi kau memilih sisi yang salah."

​"Aku memilih sisi yang membuatku tetap punya hati," balas Andika. Tanpa memberi kesempatan pria itu untuk bicara lagi, Andika menerjang. Mereka beradu fisik di atas atap yang licin karena sisa hujan. Pria itu bukan lawan sembarangan; dia terlatih, kuat, dan memiliki gerakan yang sangat efisien.

​Andika dipukul di bagian rusuk, membuatnya terhuyung. Tapi rasa sakit itu justru membuat matanya semakin tajam. Dia tidak lagi bertarung sebagai Andika sang berandal, tapi sebagai pelindung yang telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa tidak ada lagi yang bisa mengambil kebahagiaan dari hidup Dita.

​Di dalam pikiranku, aku mulai merasakan serangan itu. Profesor Aris tidak lagi hanya bicara, dia mulai menyerang memori tentang Alvian.

​"Jika kau menghapusku, kau juga akan menghapus ingatan tentang kakakmu," ancamnya. "Kau akan kembali menjadi gadis yang benar-benar sendirian di dunia ini. Pikirkan itu, Dita. Apakah kau sanggup membayar harga itu demi kebebasanmu?"

​Aku ragu.

Tanganku yang tadinya siap menghapus protokol itu, kini gemetar hebat. Jika aku kehilangan ingatan tentang Alvian—tentang semua perjuangannya—apa gunanya kemenangan ini?

​"Dita, lawan dia!" Alvian berteriak dari dunia nyata, suaranya terdengar seperti dari balik air yang dalam. "Jangan dengarkan dia! Ingatanku bukan untuk diselamatkan, tapi untuk diteruskan! Lepaskan aku jika itu perlu!"

​Suara Alvian memberikan kekuatan baru. Aku sadar, masa lalu adalah tentang belajar, bukan tentang terjebak.

​"Aku tidak butuh protokolmu untuk mengingat siapa kakakku!" seruku, dan dengan satu gerakan tangan yang mantap, aku merobek inti data Profesor Aris.

​Ledakan digital terjadi di dalam kepalaku.

​Andika menghantamkan kepalanya ke dahi musuh itu, suara tulang beradu terdengar nyaring. Pria itu oleng, kehilangan keseimbangan di tepi atap. Sebelum dia sempat jatuh, Andika mencengkeram kerah bajunya dan menekan pistol ke dagunya.

​"Siapa yang mengirimmu?" bentak Andika.

​Pria itu tersenyum, darah mengalir dari hidungnya. "Kau pikir ini berakhir? Dita telah membuka pintu gerbangnya. System-Wide Recall sudah dimulai. Dia bukan lagi target... dia adalah host-nya sekarang."

​Sebelum Andika sempat menarik pelatuk, pria itu menelan kapsul kecil yang disembunyikan di balik giginya. Tubuhnya kejang sesaat, lalu terkulai lemas. Mati. Andika menggeram penuh amarah, membuang mayat itu, dan segera berlari kembali menuju apartemen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!