Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelangi Di Desa Pande Sikek
Meskipun telah diberi izin beristirahat total selama satu minggu penuh di rumah agar memulihkan tenaga dan kekakuan otot akibat latihan yang berat, bagi Erwin Rasyad Chaniago, Bhumi, dan Bayu, kata “berhenti” seolah tidak pernah ada dalam kamus hidup mereka. Sejak matahari baru mengintip dari balik punggung Gunung Singgalang, ketiga pemuda berusia delapan belas tahun itu sudah bangun lebih awal dari siapa pun di rumah. Begitu udara pagi yang sejuk dan segar mulai berhembus turun dari puncak gunung, mereka sudah melangkah menuju lereng yang landai namun cukup menanjak, tempat yang selama ini menjadi tempat favorit mereka untuk mengasah fisik dan ketahanan tubuh.
Bagi mereka, istirahat bukan berarti berbaring malas seharian tanpa melakukan apa-apa. Justru, masa ini mereka manfaatkan untuk melatih ketahanan napas, melenturkan kembali otot-otot yang masih terasa kaku, serta menyempurnakan gerakan-gerakan dasar yang telah dipelajari. Di bawah pengawasan sesekali dari Arlan Rasyad Sikumbang, mereka berlari menanjak, melompat melewati bebatuan, dan melakukan gerakan peregangan yang menuntut kelenturan tubuh maksimal. Keringat membasahi seluruh tubuh mereka, namun wajah mereka tetap terlihat segar dan penuh semangat. Bagi mereka, latihan adalah bagian dari napas hidup, dan tidak ada satu hari pun yang terasa lengkap tanpa menggerakkan seluruh tenaga yang ada. Hari berganti hari, rutinitas itu berjalan terus tanpa putus, hingga sore menjelang malam tiba, saat mereka kembali ke rumah dengan tubuh lelah namun pikiran yang tenang.
Ketika matahari benar-benar terbenam dan langit berubah menjadi semarak warna jingga keunguan, suasana di dalam rumah keluarga Sikumbang mulai terasa hangat dan akrab. Meja makan besar sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan lezat khas Minangkabau yang mengundang selera, hasil olahan tangan para wanita di rumah itu. Semua anggota keluarga berkumpul mengelilingi meja, siap menyantap makan malam sambil berbincang santai melepas lelah seharian. Namun, di tengah suasana yang tenang dan penuh kehangatan itu, tiba-tiba terdengar suara dering telepon genggam yang berbunyi cukup nyaring dari arah saku celana Bayu.
Suara itu memecah keheningan sejenak. Bayu segera mengangkat tangan, meminta izin sebentar, lalu mengeluarkan ponselnya. Setelah melihat nama yang tertera di layar, wajahnya langsung berubah sedikit canggung namun tersenyum malu-malu. Ia mengangkat panggilan itu dan menyapa dengan nada lembut, namun tak lama kemudian ia mengulurkan gawai itu ke arah Bhumi yang duduk di sampingnya.
“Bang,Buat kamu,” bisik Bayu sambil menahan senyum. “Anindya yang menelepon. Dia menanyakan kabarmu dan bagaimana keadaan di sini.”
Bhumi menerima telepon itu dengan pipi yang sedikit memerah, lalu berdiri pelan-pelan. Merasa percakapan pribadi tidak pantas didengar orang banyak, ia segera melangkah pergi dari meja makan.
“"Maaf, Mak Etek jo Pak Etek, den ka pai ka biliak dulu untuak bacarito sabanta.(Ma'af Paman Dan Bibi Saya bicara di kamar dulu sebentar,)” ucapnya singkat sambil melambaikan tangan, lalu berjalan cepat menuju kamar tidur yang menjadi tempatnya beristirahat.
Begitu sampai di dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat, suaranya berubah menjadi lebih lembut dan santai, bebas dari rasa malu yang tadi terasa. Ia duduk di tepi tempat tidur, bercerita dengan tenang soal suasana di rumah, latihan ringan yang masih ia jalani, hingga menanyakan kabar sekolah dan kegiatan Anindya sehari-hari. Percakapan itu berlangsung cukup lama, sampai akhirnya Bhumi mengakhiri panggilan dengan senyum yang masih tergambar di wajahnya, lalu keluar kembali menuju ruang makan untuk bergabung lagi dengan keluarga.
Melihat Bhumi yang baru keluar dari kamar dengan raut wajah yang terlihat bahagia, Sarlina Wati Chaniago Bibinya Yang Berdiri di ujung meja tak bisa menahan rasa penasaran. Sambil menuangkan teh hangat ke dalam gelas satu per satu, ia bertanya dengan nada ramah.
“"Bayu, sapo nan manalipon Abang ang tadi? Kok raso suaro anak padusi, yo? Apo iyo inyo pacar ang, Bhumi? Kalau bana, bara umua inyo kini, Nak?(Bayu,siapa yang menelepon Abang Kamu tadi? Sepertinya suara anak perempuan ya? Apakah itu pacarmu, Bhumi? Kalau benar, berapa umurnya sekarang,Nak?)”
Mendengar pertanyaan itu, Bhumi langsung tertunduk malu dan tidak berani menjawab, hanya diam membeku seolah lidahnya terikat. Sementara Erwin sudah mulai menahan tawa melihat tingkah saudaranya itu. Namun, sebelum sempat ada yang berkata apa-apa, Bayu yang masih santai dan tidak berpikir panjang langsung menjawab dengan nada datar dan apa adanya:
“"Iyo, Mak Etek. Namonyo Anindya. Umua inyo baru ampek baleh taun, indak lamo lai masuak limo baleh taun. Asa inyo dari Jakarta, jo kini masih sakolah di kelas duo SMP.(Iya Bibi, namanya Anindya. Umurnya baru empat belas tahun, sebentar lagi mau jalan ke lima belas tahun,dari Jakarta Anak kelas Dua SMP.)”
Seketika itu, tangan Bibi Sarlina Wati Chaniago yang sedang memegang teko teh langsung berhenti di udara. Ia baru saja selesai menuangkan teh ke gelas terakhir, lalu perlahan meletakkan teko itu kembali ke meja dengan gerakan yang terasa berat. Wajahnya berubah sedikit terkejut, lalu ia menghela napas panjang sambil mengucapkan kalimat dengan suara yang jelas namun lembut:
“La ilaha illallah... Astaghfirullahal 'azim... Ya Allah, Bhumi, anak nan sapandiam ko... Masya Allah...(La ilaha illallah… Astaghfirullah hal adzim…, Bhumi Anak Sependiam ini...Masya Allah)...”
Ia pun segera meraih tasbih yang tergantung di lehernya, mulai memutar butiran demi butiran sambil matanya terpejam sejenak, berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang terasa terkejut mendengar usia yang masih sangat muda itu.
Sementara itu, Bhumi hanya bisa diam terpaku, kepalanya makin tertunduk dalam, wajahnya memerah padam dari ujung dahi sampai ke leher, tidak berani menatap siapa pun di sekeliling meja. Ia hanya bisa memainkan ujung kain sarungnya dengan jari-jari yang gemetar, merasa sangat malu dan canggung mendengar reaksi Bibi dan pandangan semua orang yang kini tertuju padanya.
Melihat pemandangan itu, Erwin Rasyad Chaniago tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak sampai tercekik, menepuk-nepuk pahanya sendiri sambil menunjuk ke arah Bhumi yang diam membeku itu.
“"Wkwkwk! Astago, cubo caliak ang tu! Bapacaran jo anak ABG nan masih sakolah di SMP. Adiak sapupu den nan pandiam ko malah jadi Gagah bana jo barani bana ang, Bhumi!(Wkwkwk! Astaga, lihatlah dirimu! Pacaran sama anak ABG yang masih duduk di bangku SMP.Adik Sepupu Pendiam Aku Keren dan Berani juga kau, Bhumi)!” ejek Erwin dengan nada yang semakin membuat tawa itu meledak.
Di sisi lain, Arlan Rasyad Sikumbang yang menjadi kepala keluarga hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar, matanya menyipit menahan tawa. Baginya, tingkah muda seperti itu adalah hal yang wajar dan lucu, selama tidak melampaui batas kesopanan dan aturan agama. Sedangkan Ainun Rasyad Chaniago, adik bungsu mereka yang masih belia, hanya duduk diam dengan mata terbelalak bingung, tidak mengerti mengapa Bibi berucap begitu dan mengapa kakaknya Bhumi hanya diam saja.
Suasana yang kacau dan penuh tawa itu belum selesai. Erwin yang merasa asyik mengejek Bhumi, tiba-tiba mengajak Bayu untuk keluar sebentar.
"Lah, indak usah dibasaran bana. Ayo, Bayu, tamani den bajalan sabanta ka pasa malam di tapi nagari. Caliak sajo dulu suasano di lua.(Sudahlah, jangan dibesar-besarkan. Ayo, Bayu, temani aku jalan sebentar ke pasar malam di pinggir nagari. Lihat saja suasana di luar),” ajak Erwin sambil berdiri bersiap beranjak.
Namun, sebelum Erwin melangkah jauh, Bayu yang merasa sudah Sering dijadikan obat nyamuk sama Kakak Sepupunya Erwin Rasyad Chaniago cukup lama langsung membalas serangan dengan senjata yang paling ampuh. Dengan wajah tetap datar namun penuh senyum licik, Bayu nyeletuk begitu saja:
“"Eh, Uda Erwin ko malah barani mangajak bajalan. Padahal Uda surang juo naksia bana ka kaponakan Mak Etek nan tingga di sabalah rumah tu, lo!(Lha, kakak Erwin ini malah berani mengajak jalan, padahal dia sendiri juga naksir keponakan Bibi yang tinggal di sebelah rumah itu lho)!”
Mendengar ucapan tiba-tiba itu, Bibi Sarlina Wati Chaniago segera berhenti memutar tasbihnya dan menatap Bayu dengan wajah penasaran.
"Kaponakan Mak Etek nan tingga di sabalah rumah tu, sapo tu? Sapo nan ang maksud, Bayu(Keponakan Bibi yang sebelah rumah Siapa? Maksudmu siapa, Bayu)!?” tanya Bibi Sarlina Wati Chaniago dengan nada ingin tahu.
Baru kemudian Bayu menjelaskan dengan jelas, membuat semua orang yang mendengarnya langsung menoleh ke arah Erwin:
"Nan den maksud tu Uni Yunita Aprilia Tanjuang, kakak sapupu awak juo. Inyo anak gadangnyo Paman Ibrahim Sulaiman Chaniago, uda kanduang Mak Etek tu, jo Bibi Siti Dawiyah Tanjuang. Baru masuak kuliah taun ko. Di kampuang ko inyo dijuluki kembang desa. Tiok hari lalu di muko rumah awak, tapi diam-diam Uda Erwin ko manyimpan raso ka inyo(Maksud saya itu Kakak Yunita Aprilia Tanjuang, Kakak Sepupu kami juga. Dia kan anak sulungnya Paman Ibrahim Sulaiman Chaniago Kakak Sulungnya Bibi Tuh, dengan Bibi Siti Dawiyah Tanjuang. Yang baru saja masuk kuliah tahun ini, dijuluki kembang desa di sini. Setiap hari lewat depan rumah Kok, tapi diam-diam saja Kak Erwin ini menyimpan rasa padanya)!”
Seketika itu, suasana berbalik arah. Kini giliran Erwin yang tertegun, wajahnya langsung berubah pucat lalu memerah padam mendengar rahasianya dibongkar secara terang-terangan. Bahkan, ibu mereka yang duduk di samping Arlan langsung terkejut, tangannya segera memegang dadanya seolah terasa sesak napas, wajahnya menampakkan ekspresi terkejut setengah mau pingsan mendengar bahwa anaknya menyukai keponakan dan sepupu sendiri yang tinggal berdekatan.
"BAYU! Ang ko bana-bana adiak barangah! Kurang aja! Indak tau diuntuang! Barani bana ang mambukak rasio urang! Kamari ang! Kujitak kapalo ang kini(BAYU! Kau ini adik brengsek! Kurang Ajar, Nggak Tau Diuntung Berani sekali membocorkan rahasia orang,Sini Kamu- Kujitak Kepalamu)!” bentak Erwin dengan nada marah namun tetap terasa malu, matanya melotot tajam ke arah Bayu.
Tanpa menunggu lama, Erwin langsung melangkah cepat hendak menangkap adiknya itu. Namun Bayu sudah siap siaga. Begitu melihat gerakan Erwin, ia langsung melompat mundur, lalu berbalik arah dan berlari sekencang-kencangnya mengelilingi meja makan sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kaja lah den kalau sanggup, Kak! Jan pandai marah se nyo!(Kejar saja kalau bisa, Kak! Jangan cuma bisa marah saja)!” teriak Bayu sambil terus berlari menghindari tangkapan Erwin.
Pemandangan itu membuat Arlan Rasyad Sikumbang tertawa terbahak-bahak, suaranya bergema memenuhi ruangan. Ia menonton tingkah anak dan keponakannya itu dengan perasaan senang melihat kehangatan persaudaraan yang terjalin begitu akrab dan bebas. Sementara itu, Ainun yang masih bingung hanya menatap ke sana kemari, mengikuti gerakan kedua kakaknya yang saling kejar-kejaran, matanya makin terbelalak tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dan di sudut meja, Bhumi masih duduk diam menunduk, sesekali melirik sekilas ke arah keributan itu, merasa lega karena perhatian orang sudah beralih dari dirinya.
Di tengah keributan dan tawa yang meledak itu, malam itu pun berlanjut dengan suasana yang hangat dan penuh warna. Meskipun tubuh mereka lelah berlatih di lereng gunung seharian, hati mereka terasa ringan dan bahagia. Bagi keluarga Sikumbang, momen-momen konyol seperti ini adalah perekat yang membuat ikatan persaudaraan dan kasih sayang mereka semakin kuat, mengingat bahwa di balik kekuatan fisik dan ilmu bela diri yang mereka miliki, mereka tetaplah sekelompok pemuda biasa yang penuh canda, tawa, dan kisah masa muda yang tak terlupakan .Hanya Ainun kecil yang masih bengong Dia mikir obrolan Orang Dewasa Ini , Mungkin katanya dalam hati.