Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Ralat Ditengah
Aeros memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Kata-kata terakhir Sael sebelum turun berputar di kepalanya.
𝘋𝘪𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘰𝘬.
Aeros mendengus sinis, Sael tidak akan bisa melihat ketertarikan yang diperlihatkan oleh Arka.
Keesokan harinya, Aeros sengaja mampir ke rumah Sael sebelum berangkat ke kafenya sendiri, beralasan ingin mengembalikan map kosong milik Sael yang tertinggal di mobilnya semalam.
Aeros melihat Sael sedang terburu-buru mengikat rambut sambil menyampirkan tas kerja tanpa sempat menyentuh sarapan.
Tanpa banyak bicara, Aeros meletakkan sebuah kotak bekal berwarna biru di dekat laptop Sael.
"Apa ini, Kak?" tanya Sael, melirik kotak bekal itu dengan kening berkerut.
"Roti panggang isi daging. Habiskan di mobil atau di kantor," jawab Aeros.
"Ini buat minta maaf atas kesalahanku kemarin," ujarnya lagi.
Sael berkedip heran, lalu mendengus pelan namun tetap memasukkan kotak bekal itu ke dalam tasnya. "Iya... Makasih."
Aeros hanya bergumam pendek, menyembunyikan senyum tipisnya saat berbalik memunggungi Sael.
Ruang sidang Pengadilan Negeri dipenuhi oleh atmosfer yang menegangkan. Suara ketukan palu hakim bergema, menandakan dimulainya sidang pembacaan replik atas kasus sengketa bisnis.
Sael berdiri di balik meja penasihat hukum, postur tubuh yang tegak, dan pembawaan yang sangat berwibawa. Sael tampak begitu menawan sekaligus mengintimidasi.
Di sampingnya, Arka duduk sebagai ketua tim, memperhatikan setiap gerak-gerik Sael dengan saksama.
Saat giliran Sael berbicara, suaranya terdengar jernih, dan penuh penekanan di setiap kata yang ia sebutkan, mematahkan satu per satu argumen dari pihak lawan tanpa keraguan sedikit pun.
Arka yang duduk di sebelahnya tidak bisa menyembunyikan binar kekaguman di matanya. Pria itu sesekali tersenyum tipis, mengangguk setuju, dan dengan sigap menyodorkan lembaran berkas pendukung tepat saat Sael membutuhkannya. Kerja sama mereka begitu bagus.
Bagi Arka, saat pertama kali Sael masuk ke firma, Arka menganggap gadis itu sebagai rival potensial yang terlalu datar, dingin, dan tidak punya ambisi.
Namun, semua pandangan itu telah berubah sejak kejadian di kantin waktu itu dan melihat bagaimana Sael dengan tenang membalikkan keadaan di ruang sidang, Arka sadar bahwa ia telah salah besar. Sael yang selama ini dianggapnya rival, ternyata adalah seorang jenius yang menyembunyikan kemampuannya di balik sifat cueknya. Dan orang yang sangat perhatian dengan sekitarnya.
Sejak sidang itu dimulai dan ketukan palu terakhir berbunyi, pandangan Arka tidak bisa lagi lepas dari Sael.
"Sidang yang luar biasa, Sael," ujar Arka begitu mereka melangkah keluar dari ruang sidang menuju koridor pengadilan yang cukup ramai.
Sael mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan rileks. Ia melepas kacamata bacanya dan memijat pangkal hidungnya yang terasa pening karena kurang tidur.
"Makasih, Ka. Itu juga karena draf kamu berikan kemarin sore udah matang."
Arka terkekeh pelan. Ia menghentikan langkahnya, membuat Sael ikut berhenti dan menoleh menatapnya.
"Aku serius. Kamu keren banget di dalam tadi," ucap Arka dengan nada suara yang melunak,
Sebelum Sael sempat merespons, Arka tiba-tiba mengulurkan tangan. Pria itu dengan hati-hati menyelipkan beberapa helai anak rambut Sael yang keluar ke belakang telinganya.
Sael sempat tersentak kecil, refleks memundurkan kepalanya, Arka yang menyadari reaksi Sael segera menarik tangannya kembali, "Mukamu pucat banget karena begadang semalam. Ayo, aku traktir makan siang di tempat biasa."
Sael terdiam sejenak, "Maaf, Ka, aku ada urusan di kantor yang belum aku laporkan ke Pak Hamdan" Sael menolak pelan.
"Oke " Arka mengangguk paham meski ada sedikit rasa kecewa.
𝐃𝐈 𝐊𝐀𝐍𝐓𝐎𝐑
Sael yang sedang pusing menatap layar komputer di kantornya dikejutkan oleh kedatangan OB yang membawakan sebuah paper bag besar dari kafe milik Aeros. Di dalamnya terdapat menu makan siang premium lengkap dengan sebotol besar es 𝘮𝘢𝘤𝘩𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘵𝘦 kesukaannya.
Di atas botol itu, ada secarik kertas nota kecil dengan tulisan tangan yang kaku.
𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘬𝘰𝘱𝘪 𝘩𝘪𝘵𝘢𝘮. 𝘔𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘪𝘯𝘪, 𝘐𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘨𝘶𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵.
Sael yang membaca nota itu hanya menggelengkan kepala. "Dasar aneh. Sejak kapan Kak Aeros hobi kirim makanan begini?" gumam Sael cuek, lalu mulai menyantap makan siangnya dengan lahap tanpa tahu bahwa Aeros memantau laporan pengiriman itu dari ruang kerjanya dengan napas lega.
Pukul 17.30 WIB, langit di atas kota mendadak gelap. Hujan deras disertai angin kencang mengguyur jalanan, Sael berdiri di lobi kantor, menatap rintik air dengan helaan napas pasrah. Sialnya, malam ini ia tidak membawa payung, dan aplikasi taksi daring di ponselnya terus-menerus menampilkan layar sibuk karena 𝘩𝘪𝘨𝘩 𝘥𝘦𝘮𝘢𝘯𝘥. Dan Kael susah dihubungi.
"Lagi main futsal ini anak" gumamnya.
"Belum balik, Sael?" Sebuah suara familiar mendekat kearahnya.
Sael menoleh dan mendapati Arka berjalan mendekat dengan payung lipat hitam di tangannya. Pria itu tersenyum ramah. "Bareng aku aja. Kebetulan hari ini aku bawa mobil sendiri."
Sael baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab, namun sebuah klakson mobil yang cukup keras dari arah depan lobi memotong pembicaraan mereka.
Sebuah SUV hitam yang sangat Sael kenal menerobos genangan air dan berhenti tepat di depan tangga lobi. Pintu kemudi terbuka, dan sosok Aeros keluar dari sana. Pria itu mengenakan jaket denim hitam, memegang sebuah payung besar berwarna biru tua.
Langkah Aeros tampak tergesa-gesa saat menaiki tangga lobi, matanya langsung tertuju pada posisi Arka yang berdiri terlalu dekat di samping Sael.
Aeros berdiri di depan Sael, membuka payung besarnya lebar-lebar, lalu menyerahkan gagangnya ke tangan Sael.
"Pegang," titah Aeros pendek.
Sael yang bingung refleks menerima gagang payung itu. "Loh, Kak Aeros kok bisa di sini? Aku lagi nunggu Kael jemput"
"Aku habis dari vendor di dekat sini, sekalian lewat," alibi Aeros—yang tentu saja bohong, karena ia sengaja berkendara menembus hujan badai selama tiga puluh menit hanya untuk menjemput Sael.
Aeros kemudian berbalik, menatap Arka dengan tatapan dingin yang tak bersahabat. Tanpa sepatah kata pun,
"Sael balik bareng aku," ujar Aeros datar, ia mengambil payung Arka meletakkan ditangan Arka dengan penuh penekanan.
"Oke. 𝘛𝘩𝘢𝘯𝘬𝘴 tumpangannya buat Sael, Bro." balas Arka.
Aeros tidak membalas ucapan Arka. Ia langsung berbalik menghadap Sael, mengambil kembali kendali gagang payung besar di tangan gadis itu, lalu merapatkan tubuhnya ke sisi Sael agar gadis itu tidak terkena air hujan.
"Ayo masuk mobil," ucap Aeros, menundukkan kepalanya sedikit agar wajahnya sejajar dengan Sael.
Sael hanya bisa pasrah saat lengan Aeros menempel di bahunya, melewati rintik hujan menuju pintu mobil yang sudah dibukakan.
Selama beberapa detik dalam perjalanan singkat menuju mobil itu, Sael bisa merasakan kehangatan tubuh Aeros dan aroma parfum maskulinnya di tengah dinginnya hujan sore itu.
Begitu pintu mobil tertutup rapat, Sael menoleh ke arah Aeros yang sedang mengeringkan rambutnya yang sedikit basah dengan tisu.
"Kak Aeros sengaja ke sini ya?" tanya Sael,
Aeros menghidupkan mesin mobil, " Nggak ada sengaja, ini kebetulan" jawab Aeros.
Sael menyipitkan matanya, tidak sepenuhnya percaya, namun ia memilih untuk bersandar dan menikmati kehangatan mobil.
Di balik kemudinya, Aeros mencengkeram setir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya diam-diam menurunkan suhu penghangat kabin agar Sael merasa nyaman.
Aeros memutar kemudi, membawa SUV hitamnya keluar dari area parkir. 𝘞𝘪𝘱𝘦𝘳 mobil bergerak ritmis, menyapu air hujan yang terus mengguyur kaca depan.
Di dalam kabin, aroma teh hijau hangat yang sengaja Aeros siapkan di 𝘤𝘶𝘱 𝘩𝘰𝘭𝘥𝘦𝘳 perlahan menguar.
Sael melirik termos kecil di dekat transmisinya. "Ini apa, Kak?"
"Teh hijau hangat. Minumlah," jawab Aeros pendek, matanya tetap fokus menembus jalanan yang mulai macet karena genangan air. "Biar baju mu yang agak basah tadi nggak bikin kamu masuk angin."
Sael mengambil termos itu, Ia menyesapnya perlahan. Rasanya sangat enak, Sael menatap profil samping wajah Aeros yang tampak menawan di bawah temaram lampu jalanan.
"Kak," panggil Sael,
"Hm?"
"Kakak... nggak capek?" tanya Sael ragu-ragu. "Akhir-akhir ini kakak sering banget repot gara-gara aku. Mulai dari berkas kafe, bekal tadi pagi, makan siang, sampai jemput hujan-hujanan gini."
Aeros terdiam sejenak. Ia mengembuskan napas pendek melirik Sael sekilas sebelum kembali menatap jalanan.
"Nggak ada yang repot kalau itu buat kamu, Sael," ucap Aeros. Suaranya terdengar sangat rendah.
Sael sedikit tersentak. Ia menoleh penuh ke arah Aeros, mengerjapkan matanya tidak percaya. Kalimat itu terdengar begitu tulus, terlalu aneh untuk ukuran hubungan 'Teman masa kecil'.
Jantung Sael mendadak berdegup kencang, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Menyadari atmosfer di antara mereka mulai bergeser ke arah yang berbahaya, Aeros buru-buru berdeham,
"Maksudku... kamu itu udah kayak adikku sendiri," ralat Aeros cepat,
Mendengar alasan itu, Sael menarik napas panjang, entah mengapa ada sedikit rasa kecewa yang samar di lubuk hatinya. Namun, ia segera menepis perasaan itu.
"Ohhh... Begitu ya?" Sael mengangguk paham.
Ia menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi dan mulai memejamkan mata.
Aeros melirik Sael yang perlahan mulai memejamkan mata dengan napas yang teratur. Pria itu menurunkan sedikit volume radio, lalu mengulurkan tangan kirinya untuk mengambil jaket denim cadangan di kursi belakang, menyampirkannya dengan sangat hati-hati ke atas tubuh Sael.
Aeros menatap wajah tidur Sael yang damai dari sudut matanya. Rasa cemburunya pada Arka perlahan menguap.