NovelToon NovelToon
Di Pacarin Brondong Kaya

Di Pacarin Brondong Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dya Veel

Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pencarian kos!

Sementara itu di lain sisi.....

Kayla baru saja tiba di komplek perumahan Blok Rameti dengan tukang ojeknya. Selesai membayar ia langsung membuka maps untuk memastikan lokasi kos-kosan yang akan dirinya survey siang ini.

"Jalan lurus 300 meter habis itu belok kanan," gumam Kayla.

Gadis itu kemudian berjalan mengikuti arahan dari maps, tak lama kemudian sampailah ia di kos-kosan yang ia tuju. Tempat itu sangat besar, dan luas, terlihat seperti kos eksklusif.

Beda jauh mah sama kos-kosan Kayla yang imut, kecil, dan sempit itu. Senyum tipis muncul pada wajahnya, sepertinya Kayla sudah hampir menemukan tempat yang akan menjadi tempat tinggal barunya!

Beberapa saat kemudian salah seorang ibu-ibu keluar dari sana dan menyambut kedatangannya.

Ibu itu tersenyum ramah dan menyapa Kayla hangat.

"Mbak Kayla, ya? Yang WA saya kemarin malam?"

Kayla mengangguk cepat, "Iya ibu, saya Kayla."

"Oh, saya Asih. Pemilik kos-kosan ini, ayo neng saya antar keliling!" ajak ibu Asih.

Kayla melangkah riang membuntuti Ibu Asih melewati gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Halaman depannya luas sekali, cukup untuk memarkir belasan mobil, lengkap dengan jajaran pohon palem yang asri. Lantai kosannya menggunakan keramik marmer putih yang berkilau, membuat Kayla makin yakin kalau keputusannya untuk pindah dari kosan Bu Arin adalah rencana terbaik abad ini. Selamat tinggal kamar sempit, selamat tinggal mantan menyebalkan!

"Kosan di sini fasilitasnya lengkap, Mbak. Kamar mandi dalam, kasur ukuran besar, AC, sama gratis air mineral galon setiap bulan," jelas Ibu Asih sambil menunjukkan deretan kamar di lantai satu yang pintunya terbuat dari kayu jati tebal.

"Wah, lengkap banget ya, Bu. Lingkungannya juga tenang," puji Kayla, matanya berbinar-binar.

"Iya, Neng. Di sini mah aman, tentram, paling kalau malam Jumat agak ramai sedikit," sahut Ibu Asih santai sembari membetulkan posisi sanggulnya.

Kayla mengernyitkan dahi sejenak. "Ramai kenapa, Bu? Anak-anak kos pada kumpul nonton bareng atau gimana?"

Ibu Asih mendadak tertawa kecil, kedengarannya agak renyah namun entah kenapa membuat bulu kuduk Kayla meremang tipis. "Bukan, Neng. Ramai sama suara... ah, itu, anak-anak kos suka main musik. Iya, main musik tradisional malam-malam."

"Oh, anak seni ya, Bu," jawab Kayla mangut-mangut, mencoba berpikiran positif meskipun agak aneh juga ada anak kos yang mendadak hobi latihan gamelan jam dua malam.

Ibu Asih kemudian mengajak Kayla naik ke lantai dua melalui tangga melingkar yang cukup megah. Di tengah tikungan tangga, terdapat sebuah vas bunga keramik yang sangat besar. Saat melewati vas tersebut, hidung Kayla mendadak menangkap aroma yang sangat menyengat. Bukan wangi parfum ruangan, melainkan perpaduan aroma kembang melati segar dan asap kemenyan yang samar-samar.

Kayla menghentikan langkahnya, matanya melirik ke dalam vas besar itu. Di balik dedaunan hiasan yang rimbun, ia melihat ada sebuah piring kecil berisi tiga buah jeruk purut, beberapa kuntum mawar merah, dan secangkir kopi hitam pekat yang masih penuh.

"Eh, Bu Asih... ini di dalam vasnya kok ada kopi hitam sama bunga-bunga ya?" tanya Kayla heran, menunjuk ke arah piring tersembunyi itu.

Ibu Asih menoleh, lalu dengan cepat menggeser daun hiasan untuk menutupi piring tersebut sambil tersenyum lebar—terlalu lebar, hingga matanya tidak berkedip.

"Oh, itu! Biasa, Neng, itu pewangi ruangan alami warisan leluhur. Biar kos-kosannya terhindar dari nyamuk demam berdarah. Nyamuk zaman sekarang kan takutnya sama kopi hitam, bukan sama obat semprot," jawab Ibu Asih dengan nada bercanda yang dipaksakan.

Kayla terkekeh kaku. Nyamuk sejak kapan seleranya jadi kayak bapak-bapak pos ronda begini? batinnya mulai merasa ada yang tidak beres.

Rasa curiga Kayla makin bertambah saat mereka sampai di koridor lantai dua. Suasananya mendadak terasa lebih dingin dari bawah, padahal tidak ada AC di lorong tersebut. Keadaan koridor sangat sepi, tidak ada satu pun anak kos yang terlihat keluar masuk kamar.

"Ini kamar yang kosong, Neng. Nomor 13. Kebetulan posisinya paling pojok, jadi tenang banget kalau mau belajar," ujar Ibu Asih sambil membuka sebuah pintu kamar.

Kamarnya memang luas dan bersih. Namun, perhatian Kayla justru langsung tersedot pada sebuah cermin rias besar berkusen kayu yang diletakkan di sudut kamar. Di atas meja rias tersebut, lagi-lagi ada mangkuk kecil berisi kembang kantil dan sebutir telur ayam kampung yang masih mentah.

Lebih parahnya lagi, tepat di bagian atas bingkai pintu kamar mandi, ada selembar kain hitam kecil yang dipaku dan ditulis dengan aksara kuno berwarna merah darah.

Kayla meneguk ludahnya dengan susah payah. Bulu kuduknya sekarang sudah berdiri tegak seperti sedang upacara bendera. Rasa senang karena melihat kosan mewah langsung menguap, digantikan oleh rasa ngeri yang perlahan merayap di dadanya.

"Anu... Bu Asih," panggil Kayla, suaranya agak bergetar. "Itu di atas pintu kamar mandi ada kain hitam tulisan merah apa ya, Bu? Semacam jimat pengusir kecoak?" Kayla mencoba melawak demi menenangkan hatinya sendiri, padahal tangannya sudah mulai dingin.

Ibu Asih melirik kain hitam itu, lalu beralih menatap Kayla dengan pandangan mata yang intens dan tidak lepas. "Oh, itu cuma dekorasi, Neng Kayla. Biar kamarnya kelihatan est—eh, kelihatan bagus unik gitu. Biar anak-anak kos di sini betah, rezekinya lancar, dan... selalu 'terikat' sama kosan ini." Ibu Asih mendekat satu langkah ke arah Kayla, senyumnya masih terkembang kaku. "Gimana, Mbak Kayla? Langsung DP hari ini saja? Kamar ini jodoh banget lho sama kamu."

Mendengar kata 'terikat' dan melihat senyuman Ibu Asih yang mendadak kelihatan menyeramkan di bawah temaram lampu kamar, alarm bahaya di otak Kayla langsung berbunyi kencang. Ia melirik sereal di dalam tasnya, lalu membayangkan kalau dia nekat tinggal di sini, bisa-bisa besok paginya dia tidak sarapan sereal, melainkan dijadikan sesajen pendamping kopi hitam.

"Eh... b-bagus banget sih, Bu. Kamarnya luas," kata Kayla sambil berjalan mundur perlahan menuju pintu keluar, meniru taktiknya saat gagal kabur dari Raka tadi pagi. "Tapi... tapi kayaknya saya harus diskusi dulu sama orang tua saya, Bu. Soalnya mama saya sensitif banget sama... sama nyamuk yang suka minum kopi hitam."

"Loh, bisa langsung diputuskan sekarang kok, Neng. Ibu kasih diskon khusus buat kamu," desak Ibu Asih, langkah kakinya ikut maju mengikuti Kayla yang terus mundur ke koridor.

"Nggak usah, Bu! Makasih banyak! Saya... saya permisi dulu ya, Bu! Ada urusan mendadak!" tanpa menunggu jawaban dari Ibu Asih, Kayla langsung memutar tubuhnya dan mengambil langkah seribu.

Persetan dengan jinjit-jinjit jinjit anggun, Kayla berlari menuruni tangga melingkar itu secepat yang ia bisa, hampir saja menendang vas bunga berisi kopi hitam di tengah tangga. Begitu berhasil keluar dari gerbang besi hitam kosan eksklusif tersebut, Kayla langsung berlari kencang menuju jalan raya depan kompleks tanpa berani menengok ke belakang lagi, merutuki nasib apesnya yang berniat mencari tempat baru namun malah nyasar ke sarang misterius.

1
Arin
Udah gak usah dengerin tuh si mantan. Cuman mau gertak aja sama kamu Kayla. Jangan mau balikan lagi ya
Arin
Hari apesmu Kayla.... memang gak boleh pindah kos-kosan.... 🤣🤣🤣🤣
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan
Arin
Saingan Juna malah ikut kos disana juga😁😁😁. Makin seru persaingan buat menarik Kayla
Arin
Lah ibu.... orang cuman jalan berduaan diributin. Itu sebelah kamar Kayla apa kabar??? Lagi mendesah bersama..... Udah halal apa belum???? 🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!