NovelToon NovelToon
Penaklukan Sang Asisten

Penaklukan Sang Asisten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?

"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."

Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Kamu Dipecat!

Dunia Ben Arganza yang selama ini tersusun atas data, fakta, dan probabilitas, seketika runtuh.

Jempolnya yang dingin berhenti bergerak di atas layar ponsel Nadya yang retak. Di log panggilan terakhir, tertulis jelas: Lala. Pesan teks yang belum terbaca terbuka secara otomatis karena layar yang sedikit error:

"Proyek sudah di tangan. Dia mulai percaya. Tunggu instruksiku."

Dunia di sekitar Ben seolah berhenti berputar.

Rahangnya mengeras hingga otot di pelipisnya menonjol. Ia membaca kalimat itu sekali, dua kali, dan setiap kali ia membacanya, sensasi dingin merayap dari tengkuk turun ke tulang belakangnya. Dia mulai percaya. Siapa yang dimaksud? Baron? Atau... dirinya sendiri?

"Informan," desis Ben, suaranya bukan lagi dingin, melainkan penuh dengan nada pengkhianatan yang mematikan.

Segala hal yang tadinya tampak sebagai "kecelakaan" kini berubah menjadi skenario yang dirancang dengan sangat brilian.

Pertemuan di lobi, sketsa yang brilian namun berantakan, insiden menumpahkan teh ke rok Gita—semuanya bukan ketidaksengajaan. Itu adalah teknik social engineering untuk menyusup ke lingkaran terdalam keluarga Frederick.

"Jadi itu sebabnya kau tidak takut padaku," gumam Ben pada bayangannya sendiri di kaca mobil yang gelap. "Kau bukan desainer ceroboh. Kau adalah aktris kelas satu."

Firasat buruk yang tadi hanya berupa bisikan, kini meledak menjadi jeritan peringatan di otaknya. Ben teringat bagaimana Lala sering berada di dekat dokumen-dokumen penting, bagaimana gadis itu selalu bisa menemukan alasan untuk berada di ruang kerjanya, dan bagaimana dia dengan mudah mendapatkan kepercayaan Gita.

Ben tidak membuang waktu. Ia menyambar pistol dari sarungnya, bukan untuk menyerang, tapi untuk memastikan ia siap menghadapi "musuh" yang paling berbahaya: musuh yang sudah tidur di sofa apartemennya, yang telah memakai kemejanya, dan yang telah membuat robot ini merasa "hidup."

Ia menaiki mobil, tidak lagi dengan kecepatan tinggi yang membabi buta, melainkan dengan ketenangan seorang algojo. Ia tidak memacu mobilnya kembali ke kantor, melainkan memutar arah menuju tempat yang lebih sunyi.

Ia menghubungi tim keamanannya, namun bukan untuk memerintahkan perlindungan.

"Ganti rencana," perintah Ben melalui alat komunikasi, suaranya sedatar batu nisan.

"Tahan pengawalan di ruang desain. Biarkan dia keluar. Aku ingin dia berpikir dia sudah berhasil."

Ia memutus sambungan. Ben menatap jalanan di depannya dengan pandangan kosong. Kebencian, kemarahan, dan rasa sakit karena dikhianati bercampur menjadi satu. Namun, ada satu hal yang masih tertahan di balik dadanya yang sesak: Apakah semua tawa Lala di hadapan Alba tadi juga palsu?

Ben menepikan mobil di pinggir jalan yang sepi. Ia mengeluarkan kemeja yang sempat terselip di kursi belakang—kemeja yang ia ambil dari Lala tadi pagi. Ia menatap kain itu dengan tatapan penuh kebencian, lalu meremasnya hingga menjadi bola tak beraturan di tangannya.

"Kau memainkan peran yang sangat bagus, Lala," ucap Ben lirih, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. "Tapi kau lupa satu hal. Aku adalah sistem itu sendiri. Dan tidak ada sistem yang tidak memiliki celah untuk menghancurkan virusnya."

Ben kembali memacu mobil, kali ini menuju markas Frederick Group dengan satu misi: membuat "desainer ceroboh" itu menyesal telah mencoba memanipulasi tangan kanan sang penguasa.

Ben melangkah masuk ke lobi Frederick Group dengan aura yang begitu menekan hingga para resepsionis yang biasanya menyapa dengan ramah, mendadak menunduk ketakutan. Ben tidak membalas sapaan siapa pun. Ia tidak menoleh ke kiri maupun ke kanan. Langkahnya berat, pasti, dan penuh dengan niat yang gelap.

Ia melewati ruang desain dengan sengaja, berhenti sejenak di depan pintu kaca yang tertutup. Di balik kaca itu, ia melihat Lala sedang duduk di meja kerja. Gadis itu tidak sedang mendesain. Ia sedang memegang ponselnya dengan kedua tangan, mengetik dengan ekspresi serius yang tidak pernah Ben lihat sebelumnya—ekspresi tanpa kecerobohan, tanpa noda kopi, dan tanpa rasa gugup.

Ben tidak masuk. Ia memutar balik dan menuju ruang kerja pribadinya, lalu duduk di kursi kebesarannya. Ia menekan tombol interkom.

"Bawa desainer baru itu ke ruanganku sekarang. Sendirian," perintahnya singkat.

Lima menit kemudian, ketukan pintu terdengar.

"Masuk," sahut Ben datar.

Lala masuk ke dalam ruangan. Ia tampak sedikit terkejut melihat Ben yang duduk membelakanginya, hanya menatap layar monitor besar yang penuh dengan kode keamanan. Ben tidak menoleh, namun ia bisa merasakan kehadiran Lala yang melangkah mendekat dengan langkah yang—entah kenapa—kini terasa jauh lebih teratur.

"Tuan Ben? Ada apa? Apa ada masalah dengan desainnya?" tanya Lala. Suaranya terdengar lembut, sangat manis, namun bagi Ben, suara itu sekarang terdengar seperti racun yang terbungkus gula.

Ben berbalik perlahan. Ia tidak berdiri. Ia hanya duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di atas meja, menatap Lala dengan tatapan yang bisa meruntuhkan mental siapa pun.

"Duduk," perintah Ben dingin.

Lala tampak ragu, namun ia menarik kursi di hadapan Ben dan duduk dengan anggun.

"Anda terlihat... lelah, Tuan. Apa terjadi sesuatu di lapangan?"

Ben tertawa kecil—sebuah tawa yang kering dan sangat sarkastik. Ia meraih ponsel Nadya yang sudah hancur dari laci mejanya, lalu melemparkannya ke atas meja marmer dengan bunyi dentuman yang cukup keras.

"Aku baru saja mengurus informanmu, Lala," ucap Ben, matanya mengunci mata Lala tanpa berkedip. "Nadya Fransiska. Dia mengirimkan salam untukmu. Atau lebih tepatnya, dia sedang menunggumu memberikan instruksi selanjutnya."

Lala terpaku. Wajahnya yang tadi tenang berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Ia menelan ludah, namun tangannya—yang berada di bawah meja—mengepal erat.

"Saya... saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, Tuan," suara Lala bergetar, namun Ben melihat sebuah perubahan di sudut mata gadis itu. Kilatan ketakutan itu perlahan menghilang, digantikan oleh sorot mata yang tajam dan dingin.

"Tidak perlu berakting lagi," Ben bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mengelilingi meja, langkahnya seperti predator yang sedang mengunci mangsanya.

"Aku sudah melihat log panggilanmu. Aku sudah melihat pesanmu. Kau adalah pion yang dikirim oleh Mano Fransiska untuk masuk ke lingkaran dalam Frederick, untuk mencari tahu tentang keamanan, dan untuk menghancurkan kami dari dalam."

Ben langsung meraih leher jenjang Lala dan mencekiknya. Wajah Ben begitu dingin meskipun ada sesuatu di sudut hatinya yang sedang terusik.

"Kamu saya pecat! Pergi dari sini!" ucap Ben dengan rahang mengeras.

***

Like dan Like ya gaess, komen juga boleh.

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sakit kerasnya itu pegangan hingga memutih itu buku"
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
darrrr derrrr dorrrr derrrr durrrrr pasti itu suara harinya ben.... uhhhhhh kayak mau turun hujan badai donk bun
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
karna semuanya di luar kendalimu...
jadi nikmati aja alurnya
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
aisssstttttt mulai menghayal yang tidak" dehhh lala
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
makanya la sedia air sebelum terbakar
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
berarti selama ini setiap keputusan nya selalu salah donk dalam hidupnya
nur annisa
tarik nafas huffft
nur annisa
baru muncul Thor 💪
Bubu
harus update pokoknya😄
Bubu
Ben pokoknya aku padamu🤭
Raffi975
update lagi dong Thor pliss😍
Raffi975
waduhh
Raffi975
lanjut Thor, kayaknya Mas Ben udah jatuh cintrong nih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
Servis donk biar top cer lagi arus listriknya.... hihihi
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
tidak di pecat.. tapi di pikat... 😇🤭😃😄
Raffi975
kacian mas Ben, pertemukan lagi dong Thor
Raffi975
lanjut Thor
Raffi975
oh tidak
Raffi975
waduhhh plot twist nya keren
Raffi975
jangan mau dipengaruhi sama Nadya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!