NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada di posisi itu.

Tanganku terus bergerak pelan, mengikuti ritme yang sama—tenang, stabil, seperti yang dulu selalu kulakukan untuk ibu.

Ruangan itu hening.

Namun bukan hening yang canggung.

Lebih seperti… hening yang bisa diterima.

“Tadi… dokter bilang tidak ada perubahan.”

Suara Adrian tiba-tiba terdengar.

Aku sedikit terkejut.

Tanganku sempat berhenti sepersekian detik… lalu kembali melanjutkan pijatan.

“Iya,” jawabku pelan.

Ia tidak menoleh.

Tatapannya lurus ke depan.

“Sudah lama seperti itu,” lanjutnya. “Hasilnya selalu sama.”

Aku diam.

Mendengarkan.

“Aku bahkan sudah tidak berharap apa-apa lagi.”

Kalimat itu keluar datar.

Seolah bukan sesuatu yang menyakitkan.

Padahal… jelas itu berat.

Tanganku tetap bergerak perlahan.

“Aku bukan dokter,” kataku pelan. “Aku juga tidak tahu apakah ini akan membantu atau tidak.”

Aku menunduk sedikit.

“Tapi… kalau ada kemungkinan sekecil apa pun…”

Aku berhenti sebentar.

“…aku ingin mencobanya.”

Sunyi.

Beberapa detik.

“Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri.”

Aku mengangkat wajahku sedikit.

“Hm?”

Adrian akhirnya menoleh.

Menatapku.

“Semua hal tidak harus kamu tanggung sendiri,” katanya pelan.

Aku sedikit terdiam.

Kalimat itu…

terasa familiar.

Namun dari arah yang berbeda.

“Aku tidak merasa terbebani,” jawabku pelan.

Ia mengernyit sedikit.

“…Tidak?”

Aku menggeleng kecil.

“Dulu mungkin iya,” kataku jujur. “Tapi sekarang… tidak.”

Aku menatap tanganku sendiri yang masih menyentuh kakinya.

“Sekarang aku melakukan ini… karena aku mau.”

Sunyi lagi.

Namun kali ini…

Tatapannya tidak berpindah.

Beberapa menit berlalu.

Aku terus memijat dengan perlahan.

Sampai akhirnya aku berhenti.

“Cukup untuk hari ini,” kataku pelan.

Tanganku sedikit pegal, tapi tidak terlalu.

Aku berdiri perlahan.

Namun sebelum aku sempat menjauh—

“Alina.”

Aku berhenti.

Menoleh.

“Iya?”

Adrian menatapku.

Tatapannya tidak setajam biasanya.

Lebih… tenang.

“Besok… lakukan lagi.”

Aku sedikit terkejut.

“…Iya.”

Jawabanku keluar pelan.

Namun di dalam dadaku…

ada sesuatu yang terasa hangat.

Hari-hari berikutnya mulai berubah.

Sedikit demi sedikit.

Aku mulai punya rutinitas baru.

Pagi hari, aku memasak sarapan.

Kadang Adrian ikut makan.

Kadang hanya kopi.

Siang hari, aku membaca, berjalan di taman rumah, atau sekadar duduk diam.

Dan sore atau malam…

aku kembali ke ruangannya.

Untuk memijat kakinya.

Hari pertama.

Hari kedua.

Hari ketiga.

Tidak ada perubahan.

Tidak ada reaksi.

Tidak ada tanda-tanda apa pun.

Namun aku tetap melakukannya.

Tanpa bertanya.

Tanpa berharap terlalu tinggi.

Sampai suatu hari—

Hari itu seperti biasa.

Aku duduk di samping kursi rodanya, memijat dengan perlahan.

Adrian diam seperti biasa.

Namun kali ini…

ada sesuatu yang berbeda.

Aku tidak langsung menyadarinya.

Sampai—

Tanganku berhenti.

“…Tunggu.”

Aku menatap kakinya.

Mengernyit sedikit.

“Ada apa?” tanya Adrian.

Aku tidak langsung menjawab.

Fokusku sepenuhnya pada tanganku.

“Barusan…”

Aku menyentuh bagian kakinya lagi.

Lebih pelan.

Lebih hati-hati.

“Barusan… kamu ngerasain sesuatu?”

Sunyi.

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia terlihat sedikit bingung.

“…Apa maksudmu?”

Aku menelan ludah.

“Kayak… sedikit gerakan. Atau reaksi kecil.”

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Aku tidak yakin.

Mungkin aku salah.

Mungkin hanya perasaanku saja.

Adrian menatap kakinya.

Lalu kembali menatapku.

“…Tidak.”

Jawabannya singkat.

Namun tidak terdengar sepenuhnya yakin.

Aku diam.

Menatap tanganku sendiri.

“…Mungkin aku salah,” gumamku pelan.

Aku kembali memijat.

Namun kali ini lebih fokus.

Lebih pelan.

Lebih hati-hati.

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

Tanganku membeku.

Aku merasakannya lagi.

Sangat kecil.

Sangat halus.

Tapi…

ada.

Aku langsung mengangkat wajahku.

“Adrian…”

Suaraku hampir berbisik.

Ia langsung menatapku.

“Apa?”

Aku menggenggam kakinya sedikit lebih erat.

“Coba fokus,” kataku pelan. “Ada… sedikit respon.”

Sunyi.

Waktu terasa melambat.

Adrian tidak bergerak.

Tatapannya serius.

Untuk pertama kalinya…

aku melihat sesuatu di matanya.

Bukan dingin.

Bukan datar.

Tapi…

harapan.

Kecil.

Rapuh.

Namun ada.

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

Ia menghela napas pelan.

“…Aku tidak yakin.”

Aku mengangguk.

“Aku juga tidak.”

Kami saling diam.

Namun kali ini…

tidak ada yang ingin mengakhiri momen itu.

Aku menatapnya.

“Kalau ini benar…”

Aku berhenti.

Tidak berani melanjutkan.

Adrian menatapku balik.

Lama.

Sangat lama.

Lalu berkata pelan—

“Jangan berharap terlalu cepat.”

Kalimat itu terdengar seperti peringatan.

Namun tidak seperti sebelumnya.

Kali ini…

bukan untuk menolak.

Tapi untuk… melindungi.

Aku tersenyum kecil.

“Iya.”

Namun di dalam hatiku—

Sesuatu mulai berubah.

Untuk pertama kalinya…

harapan itu tidak terasa menyakitkan.

Dan mungkin…

di antara semua hal yang tidak pernah aku pilih dalam hidup ini—

Ada satu hal kecil

yang akhirnya mulai berubah

karena pilihanku sendiri.

Hari yang dijadwalkan akhirnya tiba.

Pagi itu terasa berbeda.

Bukan karena suasana rumah berubah—mansion itu tetap sunyi seperti biasa—tapi karena… perasaanku.

Ada sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.

Harapan.

Kecil. Rapuh.

Tapi ada.

Aku berdiri di depan cermin, merapikan bajuku.

Tanganku sempat berhenti.

Bayangan hari-hari sebelumnya kembali muncul di pikiranku.

Pijatan itu.

Reaksi kecil itu.

Atau mungkin… hanya perasaanku saja?

Aku menutup mata sejenak.

“Jangan berharap terlalu cepat…”

Suara Adrian terngiang di kepalaku.

Aku membuka mata perlahan.

“Iya…” bisikku.

Saat aku turun ke bawah, Adrian sudah menunggu seperti biasa.

Namun kali ini…

aku merasa lebih gugup.

Entah kenapa.

“Ayo,” katanya singkat.

Aku mengangguk.

Seperti biasa, aku berdiri di belakangnya dan mulai mendorong kursi rodanya keluar.

Langkahku sedikit lebih pelan dari biasanya.

Lebih hati-hati.

Seolah hari ini… penting.

Di dalam mobil, suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.

Aku beberapa kali melirik ke arah Adrian.

Ia menatap lurus ke depan.

Tenang.

Terlalu tenang.

“Adrian…” panggilku pelan.

Ia menoleh sedikit.

“Iya?”

Aku ragu sejenak.

Lalu berkata,

“Kamu… ingat yang kemarin?”

Ia tidak langsung menjawab.

Namun aku tahu… ia ingat.

“…Iya,” jawabnya akhirnya.

Sunyi lagi.

“Menurutmu… itu apa?” tanyaku pelan.

Ia menghela napas kecil.

“Aku tidak tahu.”

Jawaban jujur.

Seperti biasanya.

“Tapi…” ia berhenti sejenak, “aku juga merasakannya.”

Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

“Kamu… merasakannya?” ulangku.

Ia mengangguk kecil.

“Sedikit. Sangat kecil.”

Aku tidak bisa menyembunyikan ekspresiku.

Ada harapan yang langsung tumbuh lagi di dalam dadaku.

Namun aku menahannya.

Berusaha tetap tenang.

“Kita lihat saja nanti,” katanya.

Aku mengangguk.

“Iya.”

Mobil berhenti di depan rumah sakit yang sama.

Langkah kami terasa familiar sekarang.

Aku membantu Adrian seperti biasa.

Mendorongnya masuk.

Namun kali ini…

tanganku terasa sedikit dingin.

Gugup.

Kami langsung diarahkan ke ruang dokter.

Dokter yang sama menyambut kami.

“Ah, kalian datang lagi,” katanya ramah.

Adrian mengangguk singkat.

Aku duduk di samping, seperti sebelumnya.

Namun kali ini…

aku tidak bisa setenang sebelumnya.

Pemeriksaan dimulai.

Dokter memeriksa seperti biasa.

Menggerakkan kaki Adrian.

Meminta respon.

Melihat reaksi.

Awalnya…

tidak ada perubahan.

Aku mulai menunduk pelan.

Mungkin memang hanya perasaanku.

Namun—

“Tunggu.”

Dokter itu berhenti.

Alisnya sedikit berkerut.

Aku langsung mengangkat wajahku.

“Ada apa, Dok?” tanyaku.

Dokter itu tidak langsung menjawab.

Ia kembali mencoba menggerakkan kaki Adrian.

Lebih fokus kali ini.

Lebih teliti.

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

“…Ada respon.”

Kalimat itu membuat dunia terasa berhenti.

Aku membeku.

Adrian juga.

“Apa?” suaraku hampir tidak terdengar.

Dokter menatap layar, lalu kembali ke kaki Adrian.

“Ini sangat kecil,” katanya. “Tapi… ada reaksi saraf.”

Jantungku berdetak sangat cepat.

“Jadi… itu berarti—?”

“Belum bisa disimpulkan terlalu jauh,” potong dokter itu hati-hati. “Tapi ini perkembangan yang… tidak biasa.”

Aku menoleh ke Adrian.

Tatapannya… berubah.

Untuk pertama kalinya—

aku melihat sesuatu yang sangat jelas di matanya.

Harapan.

Nyata.

“Sejak kapan ini mulai terjadi?” tanya dokter.

Aku menelan ludah.

“…Beberapa hari lalu.”

Ia menatapku.

“Kami… mencoba sesuatu,” lanjutku pelan.

“Apa?”

Aku ragu sejenak.

Lalu menjawab jujur—

“Aku memijat kakinya.”

Sunyi.

Dokter itu terlihat sedikit terkejut.

“Setiap hari?”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Ia berpikir sejenak.

Lalu berkata,

“Stimulasi seperti itu… memang bisa membantu dalam beberapa kasus.”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Lanjutkan,” kata dokter itu tegas. “Terapi tetap berjalan, tapi pijatan itu… jangan dihentikan.”

Aku mengangguk cepat.

“Iya, Dok.”

Pemeriksaan selesai.

Namun suasana di ruangan itu… sudah berubah.

Saat kami keluar dari ruangan dokter, aku masih tidak bisa benar-benar mencerna semuanya.

Langkahku terasa ringan.

Seolah aku berjalan di udara.

Kami sampai di lorong.

Aku berhenti sejenak.

Menatap Adrian.

“…Kamu dengar itu, kan?” tanyaku pelan.

Ia tidak langsung menjawab.

Tatapannya lurus ke depan.

Namun tangannya… sedikit mengepal.

“…Iya,” katanya akhirnya.

Aku tersenyum kecil.

Tidak bisa menahannya.

“Berarti… itu bukan perasaanku.”

Ia menoleh ke arahku.

Dan untuk pertama kalinya—

senyum tipis muncul di wajahnya.

Sangat tipis.

Tapi nyata.

“Terima kasih.”

Aku terdiam.

“Kamu tidak perlu bilang itu,” jawabku pelan.

Ia menggeleng kecil.

“Tidak,” katanya. “Aku harus bilang.”

Sunyi.

Lalu ia melanjutkan—

“Aku tidak pernah berharap… ada perubahan.”

Aku menatapnya.

“Tapi sekarang… aku tidak tahu harus bagaimana.”

Aku tersenyum kecil.

“Kita jalani saja.”

Ia menatapku beberapa detik.

Lalu mengangguk.

“…Iya.”

Saat aku kembali mendorong kursi rodanya keluar dari rumah sakit,

langkahku terasa berbeda.

Lebih ringan.

Lebih pasti.

Karena untuk pertama kalinya,

masa depan yang dulu terasa gelap…

mulai menunjukkan sedikit cahaya.

Dan kali ini—

bukan hanya aku yang melihatnya.

Tapi juga… dia.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!