NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Tersenyum Dengan Gigi Tajam

📖 BAB 16: Rumah yang Tersenyum Dengan Gigi Tajam

Pintu utama kediaman keluarga Qin tertutup perlahan di belakang Lin Qingyan.

Suara kayu berat dan logam itu terdengar seperti gerbang penjara.

Ia berdiri di aula utama dengan punggung tegak, menolak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Di sekelilingnya, langit-langit tinggi dipenuhi lukisan keluarga, lampu gantung kristal, dan marmer mengilap yang memantulkan langkah kaki setiap orang.

Tempat ini terlalu indah.

Dan terlalu dingin.

Madam Qin Lirong berjalan di depannya dengan langkah anggun.

“Mulai hari ini, staf akan memanggilmu Nona Yue.”

Qingyan menjawab tenang.

“Mulai hari ini, staf akan memanggilku sesuai nama yang kupilih.”

Madam Qin menoleh sekilas.

“Kau keras kepala.”

“Aku baru lima menit di sini.”

“Itu cukup untuk menilai.”

Qingyan tersenyum tipis.

“Kalau begitu penilaian kita sama.”

Di belakang mereka, kepala pelayan hampir tersedak napasnya sendiri.

---

Ia dibawa ke sayap timur mansion.

Lorong panjang dipenuhi karpet tebal dan jendela besar menghadap taman pribadi. Setiap sudut terlihat mahal, namun tidak ada satu pun benda yang terasa hidup.

Kepala pelayan membuka pintu kamar.

Ruangan itu lebih besar dari apartemen lamanya.

Tempat tidur canopy putih, ruang duduk pribadi, lemari pakaian penuh, balkon menghadap danau buatan.

“Ini kamar Anda, Nona.”

Qingyan berdiri di ambang pintu.

“Berapa orang diusir agar aku bisa tidur di sini?”

Kepala pelayan menunduk.

“Ruangan ini memang selalu disiapkan.”

“Untukku?”

“Untuk pewaris.”

Jawaban itu membuat kulitnya merinding.

---

Begitu pintu tertutup, Qingyan langsung memeriksa ruangan.

Laci. Ventilasi. Cermin. Bingkai foto. Vas bunga.

Ia mengangkat lukisan di dinding.

Benar saja.

Kamera kecil tertanam di belakang bingkai.

“Psikopat kaya,” gumamnya.

Ia mengambil tisu, menutup lensa kamera, lalu melambai ke arahnya.

“Kalau kalian mau menonton, bayar tiket.”

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal.

Kamera kiri atas masih aktif. Yang tadi cuma umpan.

Qingyan membeku.

Ia menoleh ke lampu gantung.

Sebuah titik merah kecil berkedip.

Ia menatap ponsel.

Siapa ini?

Balasan datang cepat.

Orang yang dulu gagal menyelamatkanmu.

Nomor itu sama seperti semalam.

Jantung Qingyan berdegup keras.

---

Sebelum ia sempat membalas, pintu diketuk.

Qin Serin masuk tanpa menunggu izin.

Hari ini ia mengenakan gaun krem sederhana, rambut diikat santai. Cantik dengan cara yang membuat orang sulit membencinya.

Itu justru berbahaya.

“Kau mengobrak-abrik kamar di hari pertama?” Serin menatap laci terbuka. “Ikonik.”

Qingyan menyimpan ponsel.

“Kau masuk tanpa izin. Lebih ikonik.”

Serin tertawa kecil dan duduk di sofa.

“Aku datang memberi nasihat.”

“Aku alergi.”

“Sayang. Aku tetap akan bicara.”

Ia menyilangkan kaki.

“Di rumah ini, orang tersenyum saat menusuk. Kalau seseorang terlalu baik padamu, hitung sendok peraknya.”

Qingyan menatapnya.

“Kenapa kau membantuku?”

“Siapa bilang aku membantu?”

“Kalau begitu?”

Serin memandang jendela.

“Aku bosan.”

Jawaban yang mungkin jujur. Mungkin juga jebakan.

---

Saat makan siang, seluruh keluarga inti hadir.

Meja panjang kembali terasa seperti arena perang.

Madam Qin di ujung.

Armand di kanan.

Serin di kiri.

Qingyan di tengah.

Kursi di sampingnya kosong.

Entah kenapa ia sadar siapa yang biasanya duduk di sana.

Dan itu mengganggu.

Armand menuang air.

“Bagaimana kamar barumu?”

“Lebih besar dari harga diriku.”

“Humor defensif. Menarik.”

“Wajah terlalu percaya diri. Melelahkan.”

Serin menepuk meja pelan.

“Aku suka dia semakin hari.”

Madam Qin memotong dingin.

“Mulai besok, Yue akan menghadiri rapat keluarga.”

Qingyan mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Karena nama dan wajahmu kini memengaruhi saham perusahaan.”

“Aku bahkan belum tahu letak dapur.”

“Kau akan belajar cepat.”

“Aku benci kursus intensif.”

Madam Qin menatap lurus.

“Di rumah ini, orang lambat akan diinjak.”

---

Setelah makan siang, seorang staf membawa Qingyan ke perpustakaan tua.

Ruangan itu dipenuhi rak kayu gelap dan aroma buku lama.

Di tengah ruangan berdiri Qin Taishan dengan tongkat hitamnya.

Pria tua itu tidak menoleh saat ia masuk.

“Kau datang.”

“Pilihan saya sedikit.”

“Orang yang kuat selalu merasa pilihannya sedikit.”

Qingyan tak menanggapi.

Ia menatap rak-rak buku.

“Kau ingin apa dariku?”

Qin Taishan berbalik perlahan.

“Menguji.”

“Selalu membosankan kalau orang tua bicara begitu.”

Untuk pertama kali, sudut bibir pria itu bergerak.

“Bagus.”

Ia melempar sebuah map ke meja.

“Baca.”

Di dalamnya ada dokumen medis lama. Foto bayi. Diagram penelitian. Nama kode.

Subjek #07 – Stabil

Tanggal lahirnya.

Qingyan menegang.

“Kenapa menunjukkan ini?”

“Karena kau harus tahu. Kau tidak lahir dari cinta.”

Ia mengangkat kepala tajam.

“Lalu?”

“Kau lahir dari ambisi.”

Ruangan membeku.

Pria tua itu melanjutkan datar,

“Pertanyaannya sekarang: apakah kau akan mati sebagai korban... atau hidup sebagai hasil terbaik kami?”

Qingyan menutup map perlahan.

“Pilihan ketiga.”

Taishan menyipitkan mata.

“Apa?”

“Aku hidup sebagai diriku. Dan menghancurkan siapa pun yang menganggapku proyek.”

Sunyi.

Lalu tongkat pria tua itu mengetuk lantai satu kali.

“Benar-benar mirip Elena saat marah.”

---

Malam hari, Qingyan akhirnya sendirian di kamar.

Ia berdiri di balkon, menatap taman luas yang gelap.

Angin malam dingin.

Ia sadar sudah beberapa kali membuka ponsel tanpa alasan.

Tidak ada pesan baru.

Tidak dari nomor misterius.

Tidak dari Beichen.

Ia mendecak kesal pada dirinya sendiri.

“Kenapa aku menunggu pria menyebalkan itu?”

Ponsel bergetar.

Nama di layar:

Gu Beichen

Ia menatap tiga detik sebelum mengangkat.

“Apa?”

Suara pria itu tenang seperti biasa.

“Kau masih hidup.”

“Kekecewaan besar ya?”

“Sedikit.”

“Kasar.”

“Bagaimana rumah sakit mewahmu?”

“Rumah ini tersenyum dengan gigi tajam.”

“Artinya kau mulai paham.”

Qingyan bersandar di pagar balkon.

“Kenapa menelepon?”

“Han bilang sinyal ponselmu aktif tiga menit di balkon.”

“Kau melacakku?”

“Ya.”

“Kau mengakuinya dengan bangga?”

“Efisien.”

Ia menutup mata sambil tersenyum tanpa sadar.

Menyebalkan.

---

Tiba-tiba suara langkah terdengar dari dalam kamar.

Qingyan menegang.

Pintu balkon terbuka sedikit.

Siluet seorang pria berdiri di sana.

Bukan Beichen.

Armand.

“Maaf mengganggu,” katanya santai. “Bibi ingin bertemu.”

Qingyan menjawab dingin, masih memegang ponsel.

“Masuk kamar wanita malam-malam kebiasaan keluarga kalian?”

Armand tersenyum.

“Tidak. Hanya aku.”

Dari telepon, suara Beichen berubah dingin.

“Siapa itu.”

Qingyan hampir lupa sambungan masih aktif.

“Gangguan kosmetik.”

Armand tertawa.

“Apakah itu Tuan Gu? Sampaikan salam.”

Beichen menjawab langsung dari speaker.

“Kalau kau masih di kamar dia dalam lima detik, aku datang.”

Armand mengangkat alis.

“Menarik.”

Qingyan menutup panggilan sebelum dua pria itu berubah jadi bencana nasional.

---

Ia mengikuti Armand ke ruang kerja Madam Qin.

Wanita itu berdiri di depan perapian, membawa segelas anggur.

Tanpa basa-basi, ia menyerahkan sebuah amplop.

“Buka.”

Di dalamnya ada foto lama.

Seorang wanita muda memeluk bayi.

Wajah wanita itu sangat cantik.

Dan sangat mirip Qingyan.

“Elena,” bisik Qingyan.

Madam Qin mengangguk.

“Foto diambil seminggu sebelum kebakaran.”

Tangan Qingyan gemetar.

Lalu ia melihat detail lain.

Di sudut belakang foto, ada seorang pria berdiri setengah tertutup bayangan.

Wajahnya samar.

Namun bentuk tubuh itu dikenalnya.

Sangat dikenalnya.

“Tidak mungkin...” bisiknya.

Madam Qin menatapnya tajam.

“Kau mengenalnya?”

Qingyan merasa napasnya hilang.

Karena pria dalam foto itu...

terlihat seperti Gu Beichen.

BERSAMBUNG

1
Karo Karo
terus Madan gu itu siapa Thor ahhhhhhh pusing pala Barbie 🫨
Karo Karo
kamu asisten di mna2 Han 🤣
Karo Karo
lah aku kira dah mati
Karo Karo
🤣 kurang romantis Han
Karo Karo
🤣🤣🤣 antrian kemana alam baka 🤭
Karo Karo
kau membuat pembaca seperti ku mumet thor belum selesai Maslah 1 muncul lagi untung di selingi tawa 😭 serah lu lah Thor 🫰🏻
Karo Karo
sabar Han 🤣
Karo Karo
aku kira benci dulu nanti cinta 🤣🤣🤭
Karo Karo
aku juga baiming 🤣🤣🤣🤣
Karo Karo
mantap aku suka gayamu 🤭🤣
Karo Karo
🤣 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!