Amora (23) mengira takdirnya hanya sebatas membungkus es teh manis dan beradu urat dengan kuli panggul di pasar pelabuhan yang becek. Di balik tabiatnya yang ramai, dia tidak pernah tahu bahwa dirinya adalah darah daging Dinasti Klan—pemilik kasta tertinggi yang sengaja dilesapkan ke lumpur kemiskinan akibat tragedi belasan tahun lalu. Yang dia tahu, hidup kasarnya selalu aman karena dijaga oleh Hamdan (29), pria berkemeja hitam yang dingin laksana es.Namun, ketenangan itu koyak saat Gavin Raka (33), miliarder asal Swiss, datang membawa kepingan silsilah yang hilang. Amora diseret paksa masuk ke dunia elite yang penuh manipulasi finansial internasional, fitnah hubungan sedarah, hingga cakar fisik dari saingan cintanya, Elif Azra Karaca.Saat gurita dana rahasia Hamdan bergerak dingin meruntuhkan bursa efek Eropa murni demi melindunginya, seuntai anyaman gelang rumput kering di tangan Amora perlahan mulai mengoyak kabut amnesia bawah sadarnya. Dan tepat ketika rahasia malam kebakaran itu robek seutuhnya, sebuah bayangan dari masa lalu bersiap bangkit untuk meruntuhkan seluruh takhta kekuasaan dunia kelas atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Merah di Atas Tahta
Malam itu, suasana di kediaman mewah keluarga Tarkan kelihatan mentereng sekali. Lampu gantung kristal ukuran raksasa di langit-langit aula utama menyala terang, memancarkan warna emas ke tiap sudut ruangan sampai bikin permukaan gelas-gelas mahal di sana ikut berkilau. Di ujung tangga, Layla Tarkan berdiri tegak sambil memasang senyum puas yang sama sekali nggak ditutupi lagi. Tepat di sebelahnya, ada Elif—anak perempuan menteri asal Turki yang kelihatan cantik pakai gaun sutra warna pastel lembut. Perempuan itu membawakan aura kalem dan penurut, persis seperti kriteria menantu idaman yang dicari Layla buat menjinakkan putranya sendiri.
Tapi kondisi di dalam kamar pribadi yang letaknya agak jauh dari keramaian pesta justru terasa bertolak belakang. Suasananya senyap, tapi terasa begitu menegangkan.
Zahra Tarkan menarik napasnya dalam-dalam pas jemarinya selesai mengancingkan bagian belakang gaun yang dipakai Amora. "Nah, selesai," bisik Zahra sampai matanya kelihatan agak berkaca-kaca. "Nggak ada lagi sebutan gadis pasar yang bisa direndahkan orang. Nggak ada lagi mawar yang mesti disembunyikan rapat-rapat. Malam ini, kamu bakal jadi badai buat mereka, Amora."
Amora memandangi bayangan dirinya sendiri di cermin besar yang tingginya sampai menyentuh langit-langit kamar. Dia memakai gaun sutra warna merah darah yang kelihatan menyala banget. Potongan pundak yang terbuka memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus, lengkap dengan kalung mawar pemberian Hamdan yang melingkar cantik di sana. Pilihan warna merah ini bukan cuma urusan selera kain, tapi cara dia menantang perang secara terang-terangan. Riasan di bagian matanya dibikin tajam, menunjukkan martabat kelas atas yang selama tujuh belas tahun ini sempat tenggelam gara-gara hidup susah.
Sementara itu di aula utama, Hamdan berdiri tegak dengan ekspresi wajah yang kaku banget layaknya es. Dia kelihatan gagah pakai setelan jas hitam formal, ditambah dasi sutra merah yang sengaja disamakan dengan warna keberanian Amora. Setiap kali Elif mencoba mendekat, menyentuh lengannya, atau melempar candaan manja buat mencairkan suasana, Hamdan cuma merespons lewat pandangan mata kosong yang bikin orang salah tingkah karena ngerasa diintimidasi.
"Hamdan, tolong mukanya dikondisikan," bisik Layla. Dia sengaja mendekat sambil mendesis pelan penuh tekanan. "Keluarga menteri dari tadi merhatiin kamu terus. Elif ini masa depan yang udah Ibu siapin susah payah buat kamu."
"Masa depanku baru aja nyampe di depan pintu, Ibu," sahut Hamdan ketus tanpa menoleh ke ibunya sedikit pun. Pandangan matanya lurus mengunci pintu kayu besar aula yang posisinya masih tertutup rapat.
Nggak lama setelah itu, alunan musik harpa yang awalnya bikin tenang mendadak berhenti total. Seisi aula langsung hening seketika waktu pintu ganda ukuran raksasa di ujung ruangan didorong terbuka lebar dari luar. Farid berdiri tegap di ambang pintu, lalu berteriak lantang mengumumkan sesuatu sampai suaranya menggema ke seluruh ruangan:
"Menyambut kedatangan... Pewaris Tunggal Dinasti Klan, Nona Amora Gayana Klan!"
Amora mulai melangkah masuk. Tiap kali tumit sepatunya mengetuk lantai marmer, bunyinya terdengar konstan seperti detak jantung yang lagi berpacu cepat. Dia jalan dengan pembawaan yang anggun, kepalanya terangkat tegak tanpa beban, mirip seorang penguasa yang baru pulang buat mengambil lagi takhtanya yang sempat direbut. Gaun merah darahnya menjuntai panjang menyapu lantai, bikin mata siapa aja yang dulu pernah meremehkan dia ngerasa silau sekaligus minder.
Para tamu undangan yang hadir di sana langsung terkesiap kaget. Suara bisik-bisik kagum dari kanan-kiri menyebar cepat mirip api. Elif yang awalnya ngerasa jadi bintang utama di pesta itu mendadak kelihatan pucat. Dia ngerasa pesonanya langsung tenggelam waktu disandingkan sama aura berkelas yang keluar dari tubuh Amora.
Nggak peduli sama gurat muka ibunya yang udah kelihatan marah banget, Hamdan langsung jalan cepat membelah kerumunan orang di aula. Dia berhenti tepat di depan Amora, lalu membungkukkan badannya agak dalam—sebuah tanda hormat paling tinggi yang cuma bakal dilakukan pria dari keluarga Tarkan buat perempuan yang berharga di hidupnya.
"Kamu datang terlambat, Mawar-ku," bisik Hamdan pelan. Suaranya terdengar berat tapi penuh rasa sayang pas dia meraih telapak tangan Amora lalu mengecup punggung tangannya dengan takzim.
"Aku cuma mau mastiin aja, apa panggung yang disiapin malam ini udah cukup megah buat menyambut kedatanganku, Bang," balas Amora pakai suara jernih yang sengaja dibikin kedengaran jelas sampai ke sudut aula.
Amora lalu memutar badannya buat melihat ke arah Layla dan Elif. Sambil memasang senyum miring yang kelihatan elegan, dia berjalan santai mendekati dua perempuan itu. "Selamat malam, Nyonya Layla. Makasih banyak ya, udah repot-repot bikin pesta penyambutan seseru ini buat merayakan kembalinya namaku. Terus buat kamu, Nona Elif... kalau dilihat-lihat, warna merah kayaknya jauh lebih pas buat ruangan ini ketimbang warna baju kamu yang kelihatan pucat itu, kan?"
Atmosfer di tengah aula utama langsung berubah drastis jadi tegang banget, mirip aliran listrik yang tinggal nunggu waktu buat meledak. Elif yang posisinya cuma berjarak beberapa jengkel dari Amora mencoba sekuat tenaga buat tetap kelihatan tenang dengan cara mendongakkan dagunya, walaupun jemari tangannya yang lagi memegang gelas kristal kedengaran agak gemetaran.
"Nona Amora," kata Elif pakai aksen Turki yang kedengaran kental tapi intonasinya tajam. "Cara kamu datang memang kelihatan dramatis. Tapi modal tampang cantik sama selembar gaun merah nggak bakal bisa ngegantiin relasi politik yang aku bawa buat Tarkan Group. Kita semua yang ada di sini tahu jelas kok, siapa orang yang sebenarnya lagi dibutuhkan sama Hamdan sekarang."
Amora cuma merespons ucapan itu lewat senyuman kecil—jenis senyuman dingin yang sama sekali nggak kelihatan di matanya. Dia melirik sedikit ke arah Hamdan yang posisinya udah bergeser ke belakang tubuhnya. Pria itu menaruh tangan besarnya di pinggang Amora dengan gerakan posesif, seolah mempertegas kepemilikan.
"Kamu lagi bahas soal stabilitas bisnis?" Amora melangkah maju satu tapak, bikin jarak mereka jadi dekat banget sampai Elif refleks mundur selangkah karena merasa terintimidasi. "Tarkan Group nggak butuh sokongan dari luar, karena akulah pondasi utama yang selama ini mereka cari. Dinasti Klan nggak butuh bantuan menteri mana pun buat tetap jaya, tapi menteri kamu... mungkin bakal butuh restu dari aku sebagai pemegang aset sah Klan kalau mau semua urusan investasinya di negara ini berjalan aman."
Mendengar hal itu, muka menteri asal Turki yang posisinya berdiri nggak jauh dari mereka langsung berubah tegang. Pria paruh baya itu sempat menatap istrinya sebentar, sebelum akhirnya memandangi Amora dengan tatapan penasaran sekaligus gurat hormat yang mendadak muncul. Detik itu juga mereka baru sadar penuh kalau perempuan bergaun merah di depan mereka ini bukan sekadar "saudara tiri" yang kena gosip miring, melainkan raksasa ekonomi yang baru aja bangun dari tidur panjangnya.
Layla Tarkan yang udah nggak tahan melihat situasinya langsung memotong pembicaraan pakai suara yang agak bergetar gara-gara menahan emosi yang meluap. "Amora, jaga ya omongan kamu! Ini acara perjamuan kehormatan!"
"Bener banget, Ibu," potong Hamdan cepat. Suaranya kedengaran dingin, mutlak, dan nggak bisa diganggu gugat. "Ini emang perjamuan kehormatan buat merayakan kembalinya tunanganku, pewaris sah dari keluarga Klan. Jadi, kalau misal ada tamu undangan yang merasa nggak nyaman sama kehadirannya di sini, pintu keluar sebelah sana terbuka lebar dari sekarang."
Hamdan lalu memberi kode lewat tangan ke arah pelayan buat membuka pintu ruang makan utama. Dia menyodorkan lengannya ke Amora, mengabaikan keberadaan Elif yang cuma bisa berdiri kaku dengan mata yang mulai kelihatan berkaca-kaca gara-gara menahan malu yang luar biasa.
"Yuk jalan, Mawar-ku. Kursi utama di dalam udah nungguin kamu," bisik Hamdan lembut.
Kondisi aula yang tadinya berisik langsung senyap, cuma menyisakan kasak-kusuk pelan dari para undangan yang hadir. Amora berjalan dengan dagu terangkat tinggi, membiarkan cahaya lampu kristal mengenai gaun merah darahnya sampai dia kelihatan menonjol banget di tengah ruangan yang kaku itu.
Elif sempat mencoba menatap balik mata Amora pakai sisa keberaniannya, tapi sorot mata dari perempuan Dinasti Klan itu terlalu tajam, seolah-olah bisa melihat semua kepalsuan yang ada di balik senyum ramahnya.
"Nona Amora," Elif angkat bicara lagi, kali ini suaranya agak dikeraskan sengaja supaya kedengaran sama orang-orang di sekitar mereka. "Perempuan dari keluarga terpandang biasanya tahu kapan waktu yang pas buat datang dan gimana cara menghargai acara orang lain. Warna merah emang bagus, tapi apa nggak kelihatan mencolok banget buat orang yang status namanya baru aja dibersihin?"
Amora malah tertawa kecil, suara tawanya terdengar berkelas tapi terasa dingin menusuk hati. "Pilihan warna merah ini bukan bikin kamu tertarik, Nona Elif. Merah ini tanda peringatan. Peringatan kalau pemilik asli rumah ini udah pulang, dan dia nggak bakal menyambut baik tamu yang datang punya niat mau mengambil sesuatu yang bukan hak miliknya."
Habis ngomong gitu, Amora langsung menoleh ke arah menteri Turki—ayahnya Elif—yang dari tadi cuma bisa diam di tempat. "Tuan Menteri, saya sempat dengar kalau Anda lagi tertarik sama proyek pelabuhan di bagian utara, ya? Wilayah itu secara hukum sah terdaftar sebagai tanah warisan milik Dinasti Klan. Mungkin nanti pas makan malamnya selesai, kita bisa ngobrol lebih lanjut secara profesional. Tanpa perlu diselingi drama perjodohan yang... jujur aja, kelihatan melelahkan begini."
Menteri itu langsung kaget, matanya melotot antara heran sekaligus waspada. Sebagai orang yang biasa main di dunia politik, dia langsung paham kalau tetap memihak ke Layla Tarkan adalah langkah keliru yang bisa bikin dia kehilangan proyek besar tersebut.
Hamdan yang dari awal berdiri pas di belakang Amora laksana tembok pelindung, semakin merapatkan rangkulannya di pinggang Amora dengan gerakan yang protektif banget. Dia memandangi ibunya, Layla, pakai tatapan mata tajam yang menandakan kalau semua urusan negosiasi udah ditutup rapat.
"Acara yang Ibu bikin udah selesai sampai di sini," kata Hamdan datar. "Sekarang perjamuan ini sepenuhnya jadi hak Amora. Kalau Elif masih mau ikut makan, silakan duduk di kursi tamu biasa. Tapi kalau nggak mau, Farid udah nyiapin mobil di depan buat mengantar kalian balik ke hotel malam ini juga."
Layla Tarkan cuma bisa memegang kipas sutra mahalnya kencang-kencang sampai patah. Dia terpaksa menyaksikan pakai mata kepalanya sendiri gimana cara Hamdan menuntun Amora dengan penuh rasa bangga menuju ke meja makan utama, meninggalkan Elif yang cuma bisa mematung sendirian di tengah aula sebagai penanda kekalahan telak.
Malam itu, di depan pasang mata orang-orang kelas atas yang hadir, posisi Amora Gayana Klan resmi berdiri kokoh di kasta tertinggi, sekaligus membungkam selamanya mulut-mulut orang yang dulu pernah merendahkan dia sebagai "gadis pasar".
To be continued...