Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat
Pagi itu, langit Jakarta cukup cerah, matahari menyinari penjuru kota dengan lembut. Sebelum berangkat ke kantornya, Danish menyempatkan waktu berkunjung ke kantor Barra -- pemilik jasa agen detektif swasta, yang terkenal sangat handal dalam menangani berbagai kasus rumit sekalipun. Sekaligus ayahanda Vira, kakak iparnya. Kedatangan Danish disambut ramah dan hangat oleh pria paruh baya itu, lalu keduanya bersalaman dengan akrab.
"Ada angin apa ini, tumben sekali Mas Danish datang kemari? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Papa Barra sembari mempersilakan Danish duduk di kursi tamu.
Danish mengangguk, kemudian menyampaikan maksud kedatangannya ke tempat itu.
"Begini, Om. Saya ingin meminta bantuan untuk menyelidiki seseorang. Namanya Nova, dia suami dari sahabat saya," ujarnya serius sembari menatap lurus ke arah Papa Barra.
"Ada indikasi Nova ini memiliki istri selain Alma, sahabat saya. Bahkan mereka sudah memiliki anak. Saya butuh data lengkap; siapa wanita itu, bagaimana status perkawinannya dengan Nova, apakah dia istri pertama, atau sahabat saya yang tanpa sadar justru berada di posisi sebagai istri kedua?"
"Selain itu, saya juga ingin tahu apa motif sebenarnya yang mendasari Nova menikahi Alma. Saya curiga ada tujuan tersembunyi di balik pernikahan itu, bukan sekadar perasaan biasa."
Papa Barra menyimak perkataan Danish dengan saksama. Pria paruh baya itu mengangguk paham, sambil mencatat secara garis besar apa yang Danish katakan.
"Baik, saya mengerti maksudmu. Mas Danish tenang saja, hal seperti ini biasa kami tangani. Nanti tim saya akan segera bergerak untuk menelusuri semua data dan rekam jejak dia, sampai semuanya mencapai titik terang. Begitu ada hasil, saya akan langsung kabari."
Danish menarik napas lega, sambil tersenyum tipis. "Semoga ini bisa membantu Alma lepas dari lelaki ba*ing*n itu."
...
Sementara itu, di rumahnya Alma baru saja bersiap untuk berangkat ke kampus setelah kemarin ia absen. Namun, tepat pada saat hendak masuk ke dalam mobilnya terdengar suara klakson dari arah jalan depan rumahnya. Alma jelas tahu siapa pemilik mobil tersebut. Ia yang tak bisa berbasa basi hanya menatapnya datar. Sikapnya tidak seperti biasa yang setiap kali suaminya pulang ia akan menyambut dengan antusias.
Nova mengernyit heran melihat reaksi Alma yang dingin. "Tumben sekali dia nggak langsung berlari menyambutku? Ah... Mungkin dia hanya sedang merajuk. Dengan sedikit rayuan pasti dia akan luluh seperti sebelumnya," gumamnya berusaha tetap berpikir positif.
Pria itu segera turun dari mobil dan bergegas menghampiri Alma dengan wajah penuh senyum, terlihat sangat mencintai istrinya. "Sayang, maafkan Mas ya. Kemarin itu benar-benar ada masalah mendesak di proyek, dan aku sudah berusaha secepat mungkin membereskannya supaya bisa cepat pulang," ucapnya lembut, sambil menatap Alma penuh kasih sayang.
"Aku ngerti kok, kamu pasti sudah kangen berat sama Mas, kan?" sambungnya, dengan nada bicara yang sangat manis.
Alma tersenyum tipis, jika dulu sebelum mengetahui kebusukan Nova, hatinya akan berbunga-bunga dengan pipi merona, maka sekarang hal itu justru membuat Alma ingin muntah di wajah pria itu.
"Dasar tukang kibul, kamu pikir kali ini aku akan percaya lagi? "Hahhh...Apa katanya tadi? Kangen...? Nggak bakalan!" cibirnya keras di dalam hati.
"Oh ya, Sayang. Ayo, masuk sebentar! Mas bawakan oleh-oleh khusus untukmu. Kamu pasti menyukainya," katanya sambil menarik tangan Alma lembut, bermaksud membawanya masuk ke dalam rumah.
"Maaf, Mas. Aku harus segera berangkat ke kampus. Hari ini ada jam kuliah pagi dan aku nggak mau terlambat. Permisi." Alma menolak dengan halus. Ia menarik tangannya dan buru-buru membuka pintu mobilnya lalu masuk ke dalam.
Tanpa menunggu respon lebih lanjut, Alma langsung menyalakan mesin, memundurkan mobilnya dengan cepat dan pergi meninggalkan halaman rumahnya.
Nova terpaku menatap kepergian Alma, senyum manis di wajahnya perlahan menghilang. Berganti dengan rahang yang mengeras serta kedua tangan mengepal erat di sisi tubuhnya.
Nova menghela napas panjang, berusaha menahan amarah yang tiba-tiba meluap. Ia tak jadi masuk rumah melainkan berjalan kembali ke mobilnya dengan langkah berat. Di dalam mobil, ia tidak langsung menyalakan mesin, tetapi benaknya sibuk berpikir tentang perubahan sikap Alma.
"Ada apa dengan wanita bodoh itu? Kenapa hari ini dia sangat berbeda? Biasanya dia selalu bersikap manja padaku. Nggak mungkin dia tahu tentang aku sama Marsha...atau jangan-jangan...?" gumam Nova pelan.
"Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan," batinnya menduga-duga.
"Aku harus bisa membuat Alma kembali tunduk padaku. Dia adalah pion untuk mencapai tujuanku!"
.
Alma tiba di kampus tepat waktu. Setelah beberapa saat berada di ruangannya, ia pun langsung bergegas menuju gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tempatnya membagikan ilmunya. Penampilannya begitu tenang dan elegan mencerminkan sosok dosen yang cerdas dan profesional di mata mahasiswanya. Tak ada satu pun yang bisa menebak, bahwa wanita yang tampak begitu berkarisma, tengah mengalami pergolakan batin yang hebat dalam rumahtangganya.
Sesampainya di ruang kelas, Alma meletakkan berkas materi dan laptop di atas meja, lalu menatap para mahasiswa yang sudah duduk tertib.
"Selamat pagi, semuanya," sapanya dengan senyum ramah, memenuhi ruangan. "Hari ini kita akan membahas materi inti: Perencanaan Strategis dan Analisis Kelayakan Bisnis. Di sini, kalian akan belajar bagaimana merencanakan langkah usaha, menyusun strategi yang matang, dan memastikan setiap keputusan yang diambil memiliki dasar yang kuat serta menguntungkan."
Alma mulai menjelaskan materi dengan sangat luwes, mengalir, dan mudah dipahami. Ia menyelipkan contoh-contoh kasus nyata, mengajak mahasiswa berdiskusi, dan menjawab setiap pertanyaan secara terperinci. Hingga dua jam kemudian kelas pun selesai.
"Oke, materi hari ini selesai sampai di sini, selamat pagi."
Alma langsung bergegas meninggalkan kelas. Baru saja ia duduk di kursi kerjanya seseorang langsung menghampirinya.
"Al, kamu sudah tahu belum, si Marsha kemarin melahirkan anak keduanya. Aku rencananya mau jenguk dia di rumah sakit, kamu mau ikut nggak?" kata Fanny, sahabat Alma yang akrab dari mereka SMU.
Alma berpikir sesaat, seperti menimbang-nimbang sesuatu, sampai akhirnya ia menggangguk setuju. "Baiklah, aku ikut kamu."
Selanjutnya, setelah jadwal mengajar selesai sepenuhnya, mereka berdua langsung berangkat menuju rumah sakit tempat Marsha dirawat.
Namun, begitu tiba di halaman rumah sakit, kening Alma langsung berkerut tajam, seolah teringat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang. "Ini kan, rumah sakit tempat istrinya Nova dirawat?" gumamnya dalam hati.
"Fan, kamu yakin ini rumah sakit tempat Marsha melahirkan?" tanya Alma mencoba meyakinkan dirinya.
"Iya lah, Al. Kemarin aku sudah tanya dan konfirmasi dia langsung lewat pesan, kok," jawab Fanny dengan yakin.
Alma menghela napas dalam, perasaan aneh tiba-tiba menyergap ke seluruh ruang di hatinya. "Ya Tuhan, kenapa perasaanku jadi nggak begini?
Ia pun berusaha menepis firasat buruknya. "Ah, mungkin cuma kebetulan saja rumah sakitnya sama. Nggak ada apa-apa, pikir positif saja" begitu ia mencoba menenangkan diri.
Keduanya pun lantas memasuki lobi rumah sakit, kemudian menyusuri koridor panjang hingga akhirnya berhenti di depan ruang rawat yang mereka tuju.
Tubuh Alma seketika menegang kaku. Darah serasa berhenti mengalir, napasnya tertahan di kerongkongan. "Astaghfirullah, nggak mungkin kan, kalau Marsha itu istrinya Nova?"