Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan tak ada guna
Dalam hitungan detik... Mobil itu terbalik. Suara benturan membuat beberapa kendaraan berhenti.
Orang-orang mulai keluar dari mobil masing-masing.
Sementara di dalam mobil... Raffa tidak bergerak.
Tubuhnya terhantam keras.
Tangannya masih berada di kemudi,.Napasnya berat, ia hampir tak bisa bicara. Pandangan matanya mulai kabur.
Suara orang-orang di luar terdengar samar.
"Pak, ada satu orang di dalam!"
"Bantu panggil ambulans!"
Raffa mencoba membuka mata. Namun semuanya gelap. Pikirannya hanya dipenuhi satu wajah.
Shintia.
"Shin..."
Bibirnya bergerak pelan. Lalu semuanya benar-benar gelap.
Di dalam mobil Tari. Shintia masih menangis sambil menunduk, sampai tiba-tiba Tari melihat sesuatu dari kaca spion.
Wajahnya berubah. Ia mengurangi kecepatan.
Lalu matanya membesar.
"Shin..."
Nada suara Tari membuat Shintia langsung menoleh.
"Apa?"
Tari menghentikan mobil. Tangannya menunjuk ke arah belakang.
"Shin..."
"Raffa."
Shintia mengernyit.
"Apa?"
Tari menatapnya dengan panik.
"Raffa, Shin..."
"Mobilnya..."
Suaranya mulai bergetar.
"Mobilnya terbalik."
Seketika tubuh Shintia membeku.
"Apa?!"
Tari segera membuka pintu mobil. Shintia masih diam beberapa detik. Seolah otaknya menolak mendengar kalimat itu.
"Shin!"
Panggilan Tari membuatnya tersadar. Tanpa berpikir panjang... Shintia turun dari mobil.
Kakinya langsung berlari menuju arah kecelakaan.
Jantungnya berdebar keras, Semua rasa marah, rasa kecewa semuanya hilang. Yang tersisa hanya satu ketakutan.
Takut kalau sesuatu terjadi pada laki-laki itu.
"Raffa..."
Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir. Nama itu keluar dari bibirnya bukan dengan amarah.
Tapi dengan rasa takut.
Dan saat melihat mobil yang hancur itu... Wajah Shintia langsung pucat.
"Tidak..."
"Tidak mungkin..."
Tari menyusul di belakangnya.
"Shin..."
Namun Shintia tidak menjawab. Matanya hanya tertuju pada mobil itu. Pada laki-laki yang beberapa menit lalu ia hindari.
Laki-laki yang ia benci, Laki-laki yang ia katakan jangan muncul lagi.
Sekarang... Justru laki-laki itu terbaring tak berdaya karena mengejarnya.
Suara sirene ambulans memecah keramaian di sekitar lokasi kecelakaan.
Shintia berdiri membeku di tengah kerumunan. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar hebat ketika melihat petugas medis berusaha mengeluarkan Raffa dari mobil yang sudah ringsek.
Ada darah.
Banyak darah.
"Raffa..."
Lututnya hampir lemas. Tari segera memegang bahunya agar tidak jatuh.
"Shin..."
Namun Shintia tidak menjawab. Matanya tidak bisa lepas dari sosok laki-laki itu.
Laki-laki yang beberapa menit lalu masih mengejarnya, Laki-laki yang ingin ia jauhi.
Dan kini terbaring tak sadarkan diri.
Shintia menembus beberapa orang yang tengah melihat itu, tak terasa air matanya mengalir.
"Raffa..." ucapnya akhirnya tak tertahan lagi,
Beberapa orang menoleh padanya, Tari segera mendekat memegang bahu Shintia.
"Kita harus segera bawa ke rumah sakit." ucap salah satu petugas medis.
Raffa akhirnya di bawa ke rumah sakit, setelah berhasil di keluarkan.
Tari menuntun Shintia ke dalam mobil, mereka akhirnya memutuskan untuk mengikuti mobil ambulans yang membawa Raffa.
Di dalam mobil, Shintia menangis menjadi-jadi, hingga menyalahkan diri sendiri. "ini... Ini karena aku, Tar. Kalau aku mau dengarkan ucapannya tadi, dia gak akan kayak gini, Tari."
Tari yang tengah fokus menyetir, sesekali menoleh dan menepuk tangan Shintia, "sudah, ini bukan kesalahan kamu... Sudah, kamu harus berfikir positif, Pak Raffa pasti baik-baik saja, ya."
Shintia menoleh dengan air matanya yang bercucuran. "baik gimana, Tar. Lihat kondisinya aja kaya gitu. Aku takut, Tari."
"iya-iya, udah. Kamu tenang. Intinya berdoa yang baik, Shin. Plis oke."
...
Sampai di rumah sakit, setelah Raffa di bawa ke ruang IGD, Shintia terduduk lemas di lantai, Tari jongkok di sampingnya merangkul untuk menenangkan.
"udah Shin... Kita tunggu kak Andreas ya, tadi aku udah chat kakak kamu, biar dia ke sini."
Shintia hanya menangis tak menjawab ucapan Tari, ia benar-benar merasa bersalah tapi juga tidak mengerti, seperti apa ketulusan Raffa, foto itu selalu terngiang di ingatan Shintia, namun kecelakaan ini tak memungkiri bahwa dirinya mungkin salah, terlalu menghindari Raffa.
Tak lama, orang tua Raffa datang bersama Asisten Raffa yaitu Aswin.
Tari menoleh, Aswin mendekat pada mereka. "maaf, ini bukannya mba Shintia dan anda temannya?"
Tari mengangguk, "iya pak, saya teman Shintia."
"mba, kenapa bisa terjadi kecelakaan dengan pak Raffa? Apa mba tahu penyebabnya?"
Tari berdiri, sembari membantu Shintia berdiri sebelum menjawab ucapan Aswin. "pak, kami tidak tahu penyebabnya. Yang jelas... Pak Raffa tadinya mengikuti kita. Karena ingin bicara dengan Teman saya ini. Dia tidak mau bicara dengan pak Raffa, karena teman saya merasa di bohongi."
Aswin mengusap wajahnya, "astaga, jadi mba Shintia sudah melihat foto itu? Jadi mba Shintia sudah kemakan dengan foto itu? Itu semua gak bener mba... Ada orang yang sengaja ingin menjelekkan nama baik pak Raffa."
Tak lama, Andreas datang... Dengan gugup ia segera menghampiri Shintia.
"Shintia!"
"kak Andre?" ucap Tari.
Shintia tak menjawab, ia hanya tenggelam dengan tangisnya, trauma dan rasa takut.
"ada apa ini? Kenapa kalian di rumah sakit?"
"ini siapa?" ucapnya kembali sembari menunjuk pada Aswin.
"saya asisten pribadi direktur utama hotel permata, yaitu pak Raffa. Orang yang mengalami kecelakaan tadi."
"hah? Raffa... Kecelakaan?" jawabnya sepontan, lalu menoleh pada Shintia, "tapi kamu nggak apa-apa Shintia?"
"kami tidak apa-apa kak, karena kami beda mobil. Pak Raffa mengikuti kami karena Ingin jelasin entah apa, aku sendiri tidak tahu masalah mereka."
Andreas menepuk jidatnya sendiri. "astaga... Kenapa malah jadi begini?"
"saya tekankan sekali lagi mbak, bahwa pak Raffa tidak pernah salah. Saya bukan membela tapi ini kenyataannya... Beliau hanya korban tuduhan, beliau malam itu memang bertemu dengan managernya yaitu mba Sella. Tapi hanya sekedar atasan dan bawahan."
Andreas mulai sedikit percaya... Ia mengangguk mencoba menerima.
Shintia masih belum juga mau bicara, ia takut dan sangat takut... Terlebih nampak jelas, ia melihat Kondisi Raffa.
Tak bisa berlama-lama Aswin lantas pamit, karena harus mengurus semuanya.
Sementara Shintia melihat mamah Raffa dari jarak yang tak begitu dekat, menyadari bahwa wanita itu tidak asing baginya, ia seperti pernah bertemu... Namun kekacauan pikirannya lebih kuat di banding ia harus mengingat siapa wanita itu, dan di mana ia pernah bertemu .
Di sampingnya Tari terus mengusap bahu Shintia, dan Andreas mengajaknya untuk pulang lebih dulu namun Shintia menggeleng. Ia ingin tahu kabar kondisi Raffa dari dokter.
...
Setelah hampir setengah jam ia menunggu, Dokter akhirnya keluar, namun ia hanya bisa menunggu dari jarak yang tak bisa dekat, sebab ia tidak/ belum mengenal orang tua Raffa. Hanya Andreas yang berani bertanya.
Raffa tertabrak.? 🥲🥲
di tunggu updatenya ya author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuuu🥰🤗💪
tapi syg nya Shintia terlanjur marah 🥲🥲
kira² Andreas bakal cerita ke Raffa gk yaa??
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu
tetap semangat Sayyyy quuu 🤗🥰💪
pasti Shintia salah paham🥲
duhhh kapan Raffa sadar akan berita itu yaaa
duhhh gmn nnt reaksi nya Raffa jika tahu yaaa
takutnya Shintia kecewa 🥲🥲
fuhhh Sella...
kasihan Andreas punya pacar kyak Sella
kira² Andreas bakal kasih tau Shintia gk yaaa??
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗