NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:292
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Matahari mulai tergelincir di langit, memancarkan sinar teriknya menjadi lebih hangat di atas pulau kecil yang teronggok di tengah sungai yang lebar. Laura, Roni, Amelia, dan Ariana, empat sahabat yang terdampar, menatap sekeliling dengan perasaan bercampur aduk. Perut yang terasa lapar dan haus yang terasa dahaga membuat mereka berpikir untuk suatu tindakan yang lain.

"Sampai detik ini, perkembangan ranting yang coba dirakit sama sekali tak membuahkan hasil yang memuaskan. Aku khawatir pekerjaan itu hanya akan berakhir sia-sia. "Ucap Laura menyimpulkan pekerjaan Roni. "Jadi baiklah, kita butuh strategi," Tambahnya lagi, "Air bersih, makanan, dan tempat berlindung. Itu yang kini paling prioritas."

Roni, yang otaknya selalu bekerja cepat, melihat ke sekeliling. "Sungai ini pasti sumber air. Tapi kita harus merebusnya. Dan untuk itu, kita butuh api."

Amelia mengangguk setuju. "Aku akan mencoba membuat lubang di tanah untuk tungku sederhana. Sementara itu, kita butuh kayu bakar kering."

Ariana, dengan semangat yang masih tersisa dan berusaha menjaganya agar tak padam, menawarkan diri. "Aku dan Laura akan mencari kayu bakar. Roni, coba periksa bebatuan di tepi sungai, siapa tahu ada yang bisa dipakai untuk alat atau semacamnya."

"Untuk kayu bakar, proyek rakitan ranting yang gagal ini bisa kita pergunakan." Seru Roni.

Mereka berpisah, tekat untuk tetap berjuang kembali menyala. Laura dan Ariana menyusuri pinggiran pulau, mengumpulkan beberapa dahan dan daun kering. Pulau itu sebenarnya tidak terlalu besar, selama mereka tak memasuki ke area tengah sana, tidak ada alasan untuk mereka khawatir tersesat. Sesekali, mereka berpapasan dengan bekantan, serangga aneh atau burung dengan kicauan merdu di langit, namun sejauh ini tidak ada tanda-tanda hewan yang mungkin dapat dijadikan makanan.

Sementara itu, Roni berhasil menemukan beberapa batu pipih yang cukup tajam di tepi sungai. Dengan sedikit imajinasi, ia bisa membayangkan bagaimana batu-batu itu bisa menjadi pisau atau alat pengikis. Namun, tantangan terbesarnya adalah menyalakan api. Ia sudah mencoba menggesekkan ranting kering, akan tetapi hanya menghasilkan panas dan sedikit asap.

Amelia, dengan sabar, mulai menggali lubang dangkal di tanah. Ia melapisi dasarnya dengan batu-batu kecil, membentuk tungku darurat. Ia tahu betul, api adalah salah satu kunci untuk kelangsungan bertahan hidup.

Setelah beberapa waktu, Laura dan Ariana kembali dengan beberapa dahan dan kulit kayu. Melihat Amelia yang sibuk dengan tungku dan Roni yang masih bergulat dengan percikan api, Laura teringat sebuah teknik yang pernah ia baca.

"Roni, coba kita buat busur api!" seru Laura. "Kita butuh tali, sebuah papan kayu datar, dan sebatang ranting yang lurus."

Dengan sedikit percobaan dan kegagalan, mereka berhasil mengikat tali dari serat tumbuhan kering ke sebuah busur dari dahan yang lentur. Ujung ranting lurus mereka kaitkan ke tali busur, dan dengan gerakan cepat, Roni mulai menggerakkan busur maju-mundur, memutar ranting di atas papan kayu datar yang sudah diberi sedikit cekungan.

Asap mulai mengepul. Laura dan Amelia meniup perlahan, memberi oksigen pada percikan api yang mulai muncul. Akhirnya, setelah perjuangan yang panjang, api kecil mulai menyala! Mereka bersorak gembira, seolah menemukan harta karun yang terpendam. Api itu adalah harapan yang menghangatkan hati.

Api sudah ada, sekarang giliran air. Dengan hati-hati, mereka mengisi salah satu kerang kosong yang ditemukan Ariana dengan air sungai. Amelia meletakkan kerang itu di atas api, dan tak lama kemudian, gelembung-gelembung kecil mulai muncul. Air sungai telah direbus, aman untuk diminum. Rasa air yang tawar dan hangat itu terasa seperti air surga bagi tenggorokan mereka yang kering.

Setelah rasa haus terobati, perhatian mereka beralih ke perut yang keroncongan. "Kita butuh ikan," ucap Roni, menatap sungai. "Tapi bagaimana caranya?"

Ariana, dengan mata jeli, melihat beberapa ikan kecil berenang di dekat tepi. "Aku punya ide! Kita bisa mencoba membuat tombak dari ranting pohon!"

Mereka mencari ranting yang lurus dan kuat. Roni menggunakan batu tajam yang ia temukan untuk meruncingkan ujung ranting. Dengan gerakan hati-hati, ia mencoba menusuk ikan yang berenang di dekat tepi. Berkali-kali ia gagal, namun akhirnya, setelah percobaan kesekian puluh kali, seekor ikan ukuran sedang berhasil ia tangkap.

Dengan api yang menyala, mereka memanggang ikan itu. Meskipun hanya seekor ikan yang didapat, rasanya sangat lezat karena bumbu rasa lapar yang mendera, dan itu cukup bagi mereka untuk sedikit mengganjal perut.

Kepulan asap naik ke langit, Laura tampak duduk mengingat-ingat sesuatu yang ia dapati di rumah tua, masih sangat jelas, terutama suara bentakan yang ia dengar dengan kondisi terjaga. Sedangkan Amelia, ia terlihat berdiri di tepi sungai berusaha membersikan pakaiannya, dan mengumpulkan kembali air yang dapat direbus.

Adapun Roni dan Ariana, keduanya memutuskan menjelajahi bagian pinggir pulau yang belum sempat dijamah, berpikir kalau-kalau ada sesuatu seperti buah atau tumbuhan yang dapat dimakan.

Mereka berdua lalu berjalan meniti menyusuri pinggir hutan kecil di pesisir pulau, mata mereka jeli mencari tanda-tanda kehidupan yang bisa menjadi sumber makanan. Sesekali, Ariana akan berseru gembira saat menemukan beberapa karamunting liar yang terlihat aman untuk dimakan. Roni akan membantunya mengumpulkan dan membersihkannya.

"Beruntung ada kamu, pengamatanmu cukup jeli." Puji Roni sambil tersenyum tipis, menatap Ariana yang sedang sibuk memetik buah kecil yang berwarna gelap. "Kamu selalu menemukan hal-hal yang tidak kulihat."

Ariana tersipu, membalas lempar senyumnya. "Kamu juga, Ron. Tanpa keahlianmu membuat api dan alat, kita mungkin sudah kelaparan dan kedinginan."

Mereka terus berjalan, semakin masuk ke dalam semak-semak yang lebih rimbun. Di sana, pepohonan lebih rapat, memberikan naungan yang teduh. Sebuah area kecil yang sedikit tersembunyi, terlindung dari pandangan Laura dan Amelia.

Roni berhenti sejenak, membiarkan Ariana berjalan mendahuluinya beberapa langkah. Ketika Ariana menoleh, ia melihat Roni menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Ada keraguan, namun juga sesuatu yang lebih dalam di matanya.

"Ariana..." panggil Roni pelan, seperti berbisik meminta sesuatu.

Ariana menghentikan langkahnya. "Ya, Roni?"

Roni melangkah mendekat, perlahan. Suasana di antara mereka tiba-tiba menjadi lebih intens. Jantung Ariana berdegup sedikit lebih cepat.

"Semalam... saat kita berjaga, dan ada suara dari sungai itu..." Roni memulai, suaranya sedikit bergetar. "Aku takut."

Ariana menatapnya, terkejut. Roni adalah sosok yang kuat, yang selalu terlihat penuh percaya diri dan tenang di bawah tekanan.

"Aku takut kita tidak akan bisa keluar dari sini," lanjut Roni, matanya sayu menatap jauh ke depan. "Aku takut di antara kita terjadi sesuatu. Aku takut... aku tidak akan bisa lagi melihatmu tersenyum ceria seperti ini."

Ariana merasakan sentuhan yang hangat. Roni telah meraih tangannya. Jari-jemari mereka bertaut lembut.

"Roni..." bisik Ariana. Ia tidak tahu harus berkata apa.

Roni menoleh, menatap langsung ke mata Ariana. Ketakutan itu masih ada, namun kini disusupi oleh tekat dan keyakinan. "Kamu tahu kan, sejak dulu... aku selalu..."

Roni tidak menyelesaikan kalimatnya. Namun, di mata Ariana, ia bisa membaca apa yang ingin Roni ungkapkan. Perasaan yang telah lama terpendam, dan kini mencuat ke permukaan di tengah situasi yang tak menentu.

Ariana membalas genggaman tangan Roni. Ia tidak perlu kata-kata. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang meyakinkan Roni.

"Kita akan keluar dari sini, kita harus percaya," kata Ariana, suaranya ringan dan menanangkan. "Kita berempat. Dan kita akan baik-baik saja."

Roni membalas senyum itu. Kekhawatiran di wajahnya sedikit memudar, digantikan oleh kelegaan dan kehangatan yang nyaman. Untuk sesaat, di tengah semak-semak yang rimbun itu, di tengah naluri perjuangan untuk bertahan hidup, mereka berdua berbagi sebuah momen yang hanya milik mereka. Sebuah pengakuan tanpa kata, sebuah janji yang tak terucap.

Mereka tahu bahwa tugas mereka belum selesai, terlebih Laura dan Amelia kini sedang menunggu. Namun, momen singkat itu memberikan mereka kekuatan baru, sebuah alasan lain untuk terus berjuang. Keduanya berbalik keluar dari semak, kembali ke tugas mereka dengan hati yang sedikit lebih ringan, dan sebuah rahasia kecil yang tersimpan di antara mereka berdua.

Menjelang sore, Laura mulai memikirkan tempat berlindung, sebab apabila malam datang, dan kondisi mereka sama seperti malam sebelumnya, maka itu akan sangat rentan dan berbahaya. Pohon-pohon di pulau ini tidak terlalu besar untuk dipanjat, dan mereka membutuhkan sesuatu yang bisa melindungi mereka dari hawa dingin, atau mungkin hujan yang bisa saja mengguyur.

"Kita bisa membuat tenda primitif," usul Laura yang dari tadi berpikir keras. "Kita butuh beberapa dahan besar sebagai tiang, dan daun-daun lebar sebagai atap."

Dengan kerja sama, mereka mematahkan beberapa dahan yang cukup kuat. Roni menancapkan empat dahan di tanah, membentuk persegi. Amelia dan Ariana mengumpulkan daun-daun lebar dari semak-semak. Laura menata daun-daun itu di atas dahan, menumpuknya rapat-rapat untuk membentuk atap yang cukup kedap. Meskipun sederhana, tenda itu cukup untuk memberikan mereka naungan, menahan hembusan angin dan tempat perlindungan dari serangga.

Saat matahari terbenam, mereka duduk di dalam tenda, memandang api yang menari-nari. Mereka telah berhasil melewati hari itu. Mereka punya api, air minum yang aman, sedikit makanan, dan tempat berlindung. Meskipun masih ada ketidakpastian di depan, mereka tahu bahwa mereka memiliki satu sama lain. Kekuatan persahabatan mereka, dan kecerdikan mereka, adalah modal terbesar untuk bertahan hidup.

Kegelapan perlahan menyelimuti pulau kecil di tengah sungai. Suara jangkrik mulai terdengar bersahutan, bersamaan dengan deru sungai yang mengalir tak henti. Laura, Roni, Amelia, dan Ariana meringkuk di dalam tenda primitif mereka. Api unggun yang mereka jaga tetap menyala di luar, memancarkan kehangatan dan secercah cahaya yang menembus celah-celah dedaunan kering.

Udara malam mulai terasa dingin, menusuk hingga ke belikat. Meskipun mereka telah menumpuk dedaunan kering di dalam tenda sebagai alas, kelembaban dari tanah tetap terasa. Ariana, yang biasanya ceria, kini hanya bisa terdiam, menggigil pelan. Amelia mencoba menghangatkan tangannya di atas api kecil yang mereka buat di dalam tungku darurat, sementara Roni terus menambahkan ranting-ranting kecil agar api tidak padam.

Laura duduk bersila mengamati wajah teman-temannya. Kelelahan terpancar jelas, namun ada juga tekad yang kuat di mata mereka. Ia tahu, rasa takut adalah musuh terbesar mereka sekarang.

"Kita sudah berhasil melewati banyak hal hari ini," ucap Laura, memecah keheningan. Suaranya terdengar lembut, berusaha menenangkan. "Api, air, makanan, dan tempat berlindung. Itu sudah pencapaian besar."

Roni mengangguk. "Ya, tapi ini baru permulaan. Kita tidak tahu berapa lama kita akan terjebak di sini. Apakah orang-orang sengaja meninggalkan dan membiarkan kita seperti ini? Aku tidak mengerti apa yang sebanarnya terjadi."

"Jangan terlalu banyak berpikir tentang itu sekarang," sahut Amelia. "Fokus kita adalah melewati malam ini. Tidur, dan kumpulkan energi untuk besok."

Namun, tidur bukanlah hal yang mudah. Setiap suara kecil di hutan di seberang sungai terasa seperti ancaman. Gesekan dedaunan karena angin, gemerisik serangga, atau bahkan suara ikan yang melompat di sungai, semuanya membuat mereka waspada. Mereka bergantian berjaga, memastikan api tetap menyala dan tidak ada bahaya yang mendekat.

Saat Laura mendapat giliran jaga, ia duduk di dekat mulut tenda, memandangi api. Bayangan dari api menari-nari di dinding tenda, menciptakan bentuk-bentuk aneh yang terkadang menyerupai monster. Ia mencoba mengusir pikiran negatif, fokus pada keindahan bintang-bintang yang bertebaran di langit hitam pekat. Jauh di atas sana, bintang-bintang berkelip seperti jutaan mata yang mengamati mereka.

Ia teringat rumah, keluarga, dan semua kenyamanan yang dulu ia anggap biasa. Air keran, lampu listrik, makanan hangat... semua itu kini terasa seperti kemewahan yang tak terjangkau. Namun, ia tidak boleh menyerah. Ia punya tanggung jawab untuk menjaga semangat teman-temannya.

Tiba-tiba, suara gemuruh kecil terdengar dari arah sungai. Laura segera membangunkan Roni.

"Ada apa?" tanya Roni, terbangun dengan sigap.

"Suara dari sungai," bisik Laura. "Sepertinya ada sesuatu yang mendekat."

Mereka berdua mengintip dari balik dedaunan tenda. Dalam kegelapan, mereka melihat siluet bayangan besar bergerak perlahan di permukaan air. Bayangan itu sangat besar, lebih besar dari yang mereka kira.

Jantung Laura berdegup kencang. Apakah itu buaya? Atau mungkin binatang lain yang lebih berbahaya? Mereka berdua menahan napas, berharap apa pun itu tidak menyadari keberadaan mereka. Bayangan itu sepintas memperlihatkan bagian punggung yang berwarna merah, sebelum bergerak menjauh, lalu perlahan menghilang ke dalam kegelapan sungai.

Setelah beberapa saat, Roni menghela napas lega. "Syukurlah, gerakan aneh itu sepertinya hanya sedang melintas, tapi entah ke mana perginya?"

Mereka kembali berjaga, dengan kewaspadaan yang lebih tinggi. Sepanjang malam, mereka terus saling menguatkan, berbisik tentang rencana esok hari, tentang bagaimana mereka akan membangun rakit kedua yang lebih baik, atau mencari pertolongan.

Ketika fajar mulai menyingsing, mewarnai langit timur dengan gradasi jingga dan ungu, mereka akhirnya bisa menghela napas lega. Malam telah terlewati. Meskipun dingin dan penuh kecemasan, mereka berhasil bertahan.

Keempat sahabat itu keluar dari tenda, meregangkan tubuh yang kaku. Matahari pagi terasa begitu hangat, mengusir dingin yang semalam membekap. Api unggun masih mengepulkan asap, sebuah simbol kecil dari kegigihan dan perjuangan malam yang baru saja mereka lalui.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!