NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Garis Merah Di Atas Takdir

Fajar di desa itu biasanya membawa kedamaian, namun bagi Kinara, pagi ini adalah sebuah badai.

Saat cahaya keemasan baru saja mengintip dari celah dinding kayu, perutnya terasa diaduk-aduk oleh gelombang mual yang menyesakkan.

Ia mencoba bangkit, namun kepalanya berputar hebat, seolah gravitasi sedang mencoba menyeretnya kembali ke lantai.

​Dengan napas yang tersenggal dan tangan yang mencengkeram dinding, Kinara berlari menuju kamar mandi di luar rumah. Di dalam ruangan kecil dengan bau kayu lembap itu, pertahanannya runtuh. Kinara jatuh berlutut di atas lantai semen yang dingin.

​“Huekk... huekk...”

​Ia memuntahkan cairan bening sampai dadanya terasa panas dan sesak.

Tubuhnya gemetar hebat, peluh dingin membanjiri keningnya. Di tengah rasa lemas itu, ada sebuah benda yang sudah ia simpan di balik kain sejak dua hari lalu.

Dengan tangan yang bergetar seperti daun kering ditiup angin, ia mencoba memastikan firasatnya.

​Kinara menunggu.

Detik demi detik terasa seperti jarum jam yang berdetak di dalam kepalanya.

Hingga akhirnya, muncul satu garis... lalu perlahan, garis kedua mulai menebal.

Merah.

Nyata.

Tajam.

Garis itu seolah-olah sedang menghakimi sekaligus memberikan nafas baru padanya.

​"Tuhan..." bisik Kinara.

Air matanya jatuh seketika, membasahi lantai semen.

Di rahimnya, ada sebuah kehidupan yang tumbuh—sebuah nyawa yang berasal dari pria yang hampir saja ia hancurkan hidupnya.

​Tiba-tiba, pintu kayu kamar mandi digedor dengan keras.

​"KINARA! Buka!" suara Arlan terdengar sangat parau, penuh dengan kepanikan yang liar.

"Kin! Aku dengar kamu muntah! Kin, jangan buat aku gila! Buka pintunya atau aku dobrak sekarang!"

​Arlan tidak menunggu jawaban.

Dengan sekali sentakan bahu, pintu yang hanya dikunci dengan palang kayu itu terbuka paksa.

Matanya yang merah karena kurang tidur langsung menangkap sosok istrinya yang sedang duduk bersimpuh di lantai, tampak begitu rapuh, kecil, dan pucat pasi.

​"Kin!" Arlan langsung menjatuhkan lututnya di lantai yang basah, tidak peduli dengan pakaian mahalnya.

Ia merengkuh bahu Kinara, tangannya yang besar membungkus wajah istrinya yang sedingin es.

"Kenapa? Kamu sakit? Kita ke kota sekarang! Aku akan panggil ambulans, aku akan telepon dokter pribadi dari Jakarta—"

​"Arlan, diamlah..." suara Kinara serak, nyaris habis.

​"Bagaimana aku bisa diam?! Kamu begini karena aku paksa ikut ke sawah kemarin? Bodohnya aku! Pukul aku, Kin! Hukum aku, tapi tolong jangan sakit begini!" Arlan mulai meracau, mode protektifnya berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik.

​"Arlan, lihat ini dulu." Kinara memotong kalimat Arlan dengan menyerahkan benda kecil itu.

​Arlan terdiam seketika. Ia menerima benda plastik itu dengan jemari yang kasar.

Matanya yang tajam, yang biasanya digunakan untuk membedah strategi bisnis bernilai triliunan rupiah, kini terpaku pada benda kecil seharga beberapa ribu rupiah itu.

Ia menatap dua garis merah itu tanpa berkedip.

Satu detik...

lima detik...

sepuluh detik...

​Dunia seolah berhenti berputar di sekitar Arlan.

Suara burung berkicau dan desiran angin desa tiba-tiba senyap.

Yang terdengar hanyalah suara detak jantungnya yang menghantam dada dengan liar, seolah ingin melompat keluar.

​"Dua garis..." suara Arlan bergetar hebat. Suara pria yang biasanya terdengar memerintah dan dingin itu kini pecah.

"Kin... ini... ini artinya..."

​"Ada bayi di sini, Arlan," bisik Kinara, tangannya yang mungil menuntun tangan besar Arlan untuk menyentuh perutnya yang masih datar.

"Anak kita. Dia hadir di saat kita baru saja mulai belajar saling memaafkan."

​Seketika itu juga, pertahanan Arlan runtuh total. Pria yang selama ini dikenal sebagai batu karang yang tak tersentuh itu mendadak hancur berkeping-keping.

Arlan langsung menyembunyikan wajahnya di perut Kinara.

Ia meraung, menangis tersedu-sedu seperti seorang pria yang baru saja diberikan pengampunan atas dosa paling berat di dunia.

​"Terima kasih... Ya Tuhan, terima kasih..." isak Arlan.

Suaranya teredam oleh baju Kinara, namun getaran hebat di bahunya menunjukkan betapa dahsyatnya badai emosi di dalam dirinya.

​Arlan memeluk pinggang Kinara dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang memegang satu-satunya jangkar di tengah badai semesta.

Ia menciumi perut Kinara berkali-kali, air matanya yang panas membasahi kulit istrinya.

​"Aku akan jadi Ayah, Kin? Aku?" Arlan mendongak, matanya yang basah menatap Kinara dengan tatapan yang sangat hancur namun penuh cinta yang tumpah ruah.

"Pria monster seperti aku... diberikan kesempatan untuk memiliki malaikat sepertimu dan dia?"

​Kinara menghapus air mata Arlan dengan jemarinya, meski air matanya sendiri tak kunjung berhenti.

"Kamu bukan monster, Arlan. Kamu Ayahnya. Dia datang karena dia tahu ayahnya sudah pulang ke rumah yang sebenarnya."

​Arlan kembali memeluk Kinara, kali ini lebih lembut, seolah ia takut sentuhannya akan melukai nyawa kecil yang ada di dalam sana.

"Aku janji, Kin... Aku bersumpah demi sisa nyawaku. Anak ini tidak akan pernah merasakan dinginnya dunia seperti yang aku rasakan. Dia akan punya rumah yang paling hangat, dia akan punya ayah yang tidak akan pernah melepaskan tangannya..."

​Arlan mencium kening Kinara dengan sangat lama, sebuah kecupan yang terasa seperti sumpah suci di hadapan Tuhan.

Di kamar mandi kecil yang pengap itu, sebuah takdir baru telah dipahat.

Bukan lagi tentang dendam masa lalu, bukan lagi tentang pengkhianatan paman, tapi tentang sebuah kehidupan baru yang akan menjahit semua luka mereka.

​"Kita pulang ke Jakarta, Kin," bisik Arlan tepat di depan bibir Kinara, napas mereka bersatu. "Bukan sebagai tahanan, tapi sebagai ratu di istanaku. Aku akan bangun surga untuk kalian. Aku akan merombak seluruh hidupku untuk anak ini. Aku janji."

​Kinara hanya bisa mengangguk, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan Arlan yang kini terasa begitu penuh dengan harapan dan masa depan.

Di rahimnya ada kehidupan, dan di pelukannya ada seorang pria yang akhirnya menemukan alasan sesungguhnya untuk hidup.

catatan :

heiiii gayssss gimana??? kalian terharu ngakk😭😭 sekarang ada bayi loh...sedikit lagi mereka sudah bertiga......gimana reques lanjutnya gimana dong nantii🥹🤍

tetap stay dengan cerita nya yah..

lvyouuuuu🤍

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!