Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan
Keesokan harinya, pagi buta di kediaman keluarga Lin Feng sudah dipenuhi kesibukan. Lin Han didudukkan di depan cermin perunggu tua di kamarnya. Dua orang pelayan wanita tua yang biasa merias pengantin di Kota Bilou mulai mengerjakan tugas mereka. Rambut Lin Han disisir rapi dan diikat dengan kain merah, simbol keberuntungan bagi pernikahan manusia fana.
Lin Han tidak bergerak sedikit pun. Matanya menatap bayangannya sendiri di cermin perunggu itu tanpa ekspresi. Setelah para pelayan selesai dan meninggalkan kamar, pintu terbuka perlahan.
Ji Lianyue melangkah masuk dengan langkah pelan. Matanya memeriksa penampilan putranya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Ia mendekat, merapikan sedikit lipatan kain di bahu Lin Han yang sebenarnya sudah rapi.
"Kau jangan berpikir ayah dan ibu kejam. Ini semua demi kebaikanmu, demi masa depanmu."
Lin Han bangkit dari kursinya, untuk menatap wajah ibunya.
"Ibu... Lin Han tahu itu. Ayah dan ibu sangat menyayangi Lin Han, tidak mungkin melemparkan anak satu satunya ke jurang."
Suaranya tetap datar, tapi Ji Lianyue bisa merasakan ketulusan di dalamnya.
Ji Lianyue tersenyum lembut. "Mari kita pergi ke Klan Liu. Ayahmu sudah menunggu, bersama paman dan bibimu."
Lin Han mengangguk.
Keduanya keluar dari kamar. Lorong kayu rumah mereka yang sempit terasa lebih panjang dari biasanya pagi itu. Ketika mereka melangkah keluar menuju halaman utama Klan Lin, pemandangan yang sudah diduga langsung menyambut.
Paman, bibi, dan para sepupu sudah berkumpul di halaman. Mereka berdiri dalam kelompok kelompok kecil, berbisik bisik sambil sesekali melirik ke arah Lin Han. Senyuman sinis tersungging di wajah mereka, tapi ada juga rasa puas yang tidak disembunyikan. Beban klan akhirnya akan pergi. Sampah ini akan menjadi milik Klan Liu sekarang.
Ji Lianyue menggenggam tangan anaknya, menuntunnya menuju kereta kuda yang sudah dihias dengan kain merah dan bunga bunga kertas. Kuda penariknya berwarna coklat tua, berdiri tenang seolah tidak peduli dengan keramaian di sekitarnya.
Saat mereka melewati Lin Dan yang berdiri paling depan di antara para sepupu, pemuda itu memiringkan tubuhnya sedikit ke arah Lin Han. Bibirnya nyaris tidak bergerak saat berbisik.
"Selamat menempuh hidup baru bersama janda pembawa sial. Kalian pasangan yang telah ditakdirkan. Jadi aku ucapkan selamat untuk mu sepupuku."
Lin Han tidak menjawab. Matanya bahkan tidak bergerak ke arah sepupunya. Setelah tiba di depan kereta, Lin Feng yang sudah berdiri di sana menyambut dengan senyum lebar.
"Bagus sekali! Putra ayah sangat tampan dengan pakaian pengantin ini." Suaranya keras dan penuh semangat. "Dulu saat ayah muda..."
Belum selesai kalimatnya, Ji Lianyue sudah mengangkat telapak tangannya ke depan wajah suaminya. Lin Feng refleks menggaruk pipinya yang kemarin baru saja ditampar. Orang orang di sekitar yang melihat interaksi itu tertawa kecil. Suasana yang tadinya tegang sedikit mencair.
Ji Lianyue menurunkan tangannya lalu berbalik menghadap anggota klan yang berkumpul.
"Semuanya, hari ini salah satu keturunan Klan Lin akan menikah. Untuk itu mari kita antarkan Lin Han putraku bersama sama."
Anggota klan mengangguk, sebagian dengan semangat pura pura, sebagian lagi karena memang tidak punya pilihan lain. Menolak akan membuat mereka kehilangan muka di depan Patriak.
Lin Han, Ji Lianyue, dan Lin Feng naik ke dalam kereta pertama. Kereta itu cukup luas untuk lima orang, tapi hanya mereka bertiga yang berada di dalamnya. Anggota klan lainnya seperti paman dan bibi naik ke kereta kedua yang lebih kecil dan tidak dihias. Para pemuda klan, termasuk Lin Dan harus berjalan kaki mengiring arak arakan pengantin.
Rombongan mulai bergerak. Kereta kuda berjalan pelan melewati jalan utama Kota Bilou. Penduduk kota yang sedang memulai aktivitas pagi mereka menoleh melihat arak arakan itu. Beberapa berbisik, sebagian lagi hanya menonton tanpa minat. Tidak ada yang benar benar peduli dengan pernikahan sampah Klan Lin.
Perjalanan menuju Kota Baishi hanya memakan waktu dua puluh menit. Jarak dua kilometer antara kedua kota itu ditempuh dengan kecepatan santai. Ketika gerbang Kota Baishi mulai terlihat, Lin Han melirik keluar jendela kecil kereta. Gerbang batu tua itu sama persis seperti yang ia ingat dari kunjungan beberapa tahun lalu. Tidak ada yang berubah.
Rombongan memasuki jalan utama Kota Baishi, lalu berbelok ke sebuah lorong besar yang cukup untuk dilewati kereta kuda. Di ujung lorong itu, gerbang kediaman Klan Liu sudah terbuka lebar. Hiasan kain merah dan lampion menggantung di sepanjang dinding luar, pertanda bahwa keluarga ini sedang mengadakan perayaan.
Begitu kereta berhenti, Lin Han turun lebih dulu, diikuti oleh kedua orang tuanya. Patriak Liu Bei dan istrinya Hong Jie sudah berdiri di depan gerbang, tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka.
Liu Bei melangkah maju dan langsung memeluk Lin Feng. Tangannya yang besar menepuk nepuk bahu sahabat lamanya itu.
"Saudara Feng, akhirnya kalian tiba." Ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Lin Feng dengan mata berbinar.
"Terima kasih sudah bersedia menikahkan putramu dengan putri kami."
Lin Feng membalas senyuman itu. "Sama sama, Saudara Bei. Kami yang seharusnya berterima kasih."
Keduanya tertawa bersama. Suara tawa mereka menggema di halaman depan kediaman Liu. Ji Lianyue dan Hong Jie ikut tertawa anggun di samping suami masing masing, menjaga sopan santun sebagai istri patriak.
Lin Han hanya diam di tempatnya. Matanya menatap lurus ke depan, tidak fokus pada apapun. Sementara itu di belakangnya, Lin Dan tersenyum puas. Akhirnya sampah ini akan menjadi milik orang lain. Ia bahkan sudah membayangkan bagaimana ia akan menceritakan hal ini kepada teman temannya nanti.
Patriak Liu Bei mengalihkan pandangannya ke Lin Han. Matanya memeriksa pemuda itu dari atas ke bawah, lalu mengangguk puas.
"Kemarilah, kita masuk. Upacara sudah kami siapkan."
Lin Han menganggukkan kepalanya.
Liu Bei dan Hong Jie berbalik dan memimpin rombongan tamu memasuki halaman utama Klan Liu. Begitu melewati gerbang, Lin Han bisa melihat dekorasi di mana mana. Kain merah, lampion emas, bunga bunga segar dalam vas besar. Semua diatur dengan rapi dan teliti.
Dari dalam salah satu kamar di sisi timur halaman, pintu kayu berukir burung phoenix terbuka perlahan. Dua orang pelayan wanita keluar lebih dulu, diikuti oleh seorang wanita berpakaian pengantin merah lengkap dengan kain penutup wajah yang serasi. Langkahnya pelan tapi mantap, dibimbing oleh kedua pelayan di sisi kanan dan kirinya.
Wanita itu berjalan mendekati Lin Han. Setiap langkahnya kecil dan terukur, seperti sudah dilatih dengan sempurna. Hanya dalam beberapa saat, ia sudah berdiri di samping Lin Han, cukup dekat hingga pemuda itu bisa mencium samar aroma bunga plum dari tubuhnya.
Liu Bei berdiri di hadapan mereka berdua, senyumnya semakin lebar.
"Lin Han, perkenalkan. Ini putriku... namanya Liu Mei."
Lin Han mengangguk singkat.
Tanpa banyak bicara lagi, kedua mempelai diarahkan langsung menuju aula utama. Lin Han berjalan di samping Liu Mei. Ia tidak bisa melihat wajah wanita itu, tapi ia bisa melihat proporsi tubuhnya dengan jelas. Bahu yang ramping, pinggang yang kecil, postur yang anggun. Meskipun wajahnya tertutup kain merah, dari apa yang terlihat, wanita ini pasti sangat cantik.
Tapi bagi Lin Han, hal itu tidak berarti apa apa. Kecantikan tidak bisa membantu kultivasinya. Kecantikan tidak bisa menghancurkan sumbatan di meridiannya. Di dunia ini, tanpa kultivasi, apapun tidak ada gunanya.
Aula utama Klan Liu sudah dipenuhi tamu dari kedua belah pihak. Anggota Klan Liu duduk di sisi kanan, anggota Klan Lin di sisi kiri. Di tengah aula, sebuah meja altar kecil dengan dua batang lilin merah dan secangkir teh melambangkan penyatuan dua keluarga.
Upacara berlangsung dengan tenang dan khidmat. Tidak ada kejadian aneh seperti yang sebagian orang harapkan. Lin Han dan Liu Mei mengikuti setiap instruksi yang diberikan oleh pemimpin upacara.
Membungkuk ke langit dan bumi.
Membungkuk kepada orang tua.
Membungkuk satu sama lain.
Hingga akhirnya, keduanya resmi menjadi suami istri.
Pemimpin upacara kemudian memberikan instruksi terakhir.
"Mempelai pria, silakan buka penutup wajah mempelai wanita."
Lin Han menghela napas panjang. Tangannya terangkat perlahan, jari jemarinya menyentuh ujung kain merah yang menutupi wajah Liu Mei. Keduanya kini berhadapan langsung. Dari jarak sedekat ini, Lin Han bisa melihat samar bentuk wajah di balik kain tipis itu.
Ia menarik kain itu perlahan lahan. Kain merah bergeser turun, melewati dahi, melewati mata, melewati hidung, dan akhirnya terhenti di atas rambutnya.
Lin Han melihat wajah Liu Mei. Hanya wajah.
Wanita itu sangat cantik. Bukan cantik biasa, tapi kecantikan yang langka. Hidungnya mancung dan proporsional. Bulu matanya lentik dan hitam pekat, membingkai sepasang mata yang bersinar dingin. Wajahnya putih bersih tanpa cela. Tapi yang paling menarik perhatian Lin Han adalah tatapan matanya.
Dingin. Hampa. Sama persis seperti tatapannya sendiri.
Liu Mei juga menatap balik ke arah Lin Han. Ia melihat mata pemuda di hadapannya yang memantulkan hal yang sama. Kehampaan. Penerimaan tanpa perlawanan.
Dua pasang mata itu bertemu.
Tidak ada percikan, apalagi getaran, hanya pengakuan diam diam, bahwa mereka berdua adalah jiwa yang sama sama kosong.
Di kursi tamu utama, Lin Feng terhuyung kecil lalu memukul dadanya sendiri dengan pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Liu Bei dan berbisik dengan nada suara yang terdengar seperti keluhan.
"Saudara Liu, kenapa kau tidak pernah bilang kalau putrimu secantik ini? Apakah dia benar benar janda?"
Liu Bei menghela napas. "Benar sekali."
Dia lalu berbisik. "Liu Mei baru tiba seminggu yang lalu dari Kota Qianqi. Sejak kecil dia selalu tinggal bersama neneknya di sana. Karena itu tidak ada yang tahu keberadaannya, baik itu orang di Kota Baishi maupun Bilou. Jadi jangan terkejut."
Lin Feng mengangguk pelan, lalu berbicara lagi dengan nada yang lebih rendah.
"Aku menikahkan putraku dengan putrimu, jujur saja itu karena aku menghargai hubungan kita. Jika aku tahu dia secantik ini... Aku yang akan mengirimkan lamaran resmi mewakili putraku."
Liu Bei terkekeh mendengar kejujuran sahabatnya. "Saudara Feng ini... kau selalu berterus terang."
Sementara itu di sisi lain aula, paman dan bibi Lin Han duduk dengan wajah pucat. Tangan bibi Lin Han gemetar di atas pangkuannya. Matanya tidak bisa lepas dari wajah Liu Mei. Bagaimana mungkin janda pembawa sial memiliki wajah seperti itu?
Lin Dan yang berdiri di belakang kursi orang tuanya terhuyung hebat. Matanya membelalak lebar, mulutnya setengah terbuka. Tangannya mencengkeram sandaran kursi di depannya begitu kuat hingga kuku kuku jarinya memutih. Dadanya terasa sesak. Kepalanya berputar.
Ia telah mengejek Lin Han selama ini. Ia telah menyebutnya sampah yang akan menikahi janda pembawa sial. Tapi kenyataan di depan matanya sekarang adalah kebalikannya. Wanita yang sekarang menjadi istri Lin Han adalah wanita yang bahkan para kultivator muda dari kota besar pun akan perebutkan.
Pandangan Lin Dan mulai kabur. Suara di sekitarnya terdengar seperti dengungan jauh. Kaki kanannya mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi. Tubuhnya bergoyang. Dan akhirnya, ia tidak sanggup menahan guncangan di dalam dadanya.
Lin Dan jatuh pingsan di lantai aula, tepat di belakang kursi orang tuanya.
Tidak ada yang benar benar peduli. Upacara tetap berlanjut. Kedua mempelai masih berdiri berhadapan, saling menatap dengan mata yang sama sama kosong. Dua jiwa hampa yang sekarang terikat dalam satu ikatan pernikahan, tanpa tahu apa yang menanti mereka di depan.