NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Api Unggun Dan Jurit Malam

Sore hari di area Persami menghadirkan perjuangan tersendiri bagi para peserta, terutama dalam urusan mandi. Antrean di depan kamar mandi putri SMA 1 Nusa Bangsa mengular panjang seperti barisan semut. Cinta berdiri di tengah antrean sambil memeluk totebag kainnya yang berisi handuk dan perlengkapan mandi, sesekali menyeka keringat yang membasahi lehernya. Udara yang mulai mendingin menjelang senja membuat air di ember terasa sedingin es, namun rasa gerah setelah seharian beraktivitas di bawah terik matahari mengalahkan segalanya.

"Aduh, Cin, kalau antreannya sepanjang ini, bisa-bisa kita baru mandi pas api unggun sudah menyala," keluh Sarah yang berdiri tepat di belakang Cinta sambil bertumpu pada bahu sahabatnya itu.

Cinta terkekeh pelan. "Sabar, Sar. Namanya juga kemah. Anggap saja ini latihan kesabaran sebelum jurit malam nanti."

Setelah menunggu hampir empat puluh lima menit, giliran Cinta akhirnya tiba. Guyuran air sumur sekolah yang segar berhasil membasuh seluruh rasa lelahnya. Ketika ia keluar dengan wajah yang jauh lebih segar dan pakaian pramuka yang bersih, malam telah sepenuhnya turun menyelimuti sekolah.

...****************...

Tepat pukul delapan malam, seluruh peserta Persami berkumpul membentuk lingkaran besar di lapangan utama. Di tengah-tengah mereka, tumpukan kayu gelondongan siap menyambut kobaran api. Suasana malam itu terasa magis. Ketika Kak Pembina menyalakan api utama, percikan jingga melesat ke langit malam yang pekat, diikuti oleh tepuk tangan riuh dan sorak-sorai dari ratusan siswa. Rasa dingin yang sempat menusuk kulit perlahan sirna digantikan oleh kehangatan yang menjalar dari kobaran api unggun.

Setelah sesi renungan malam yang khidmat selesai, acara beralih ke agenda yang paling dinanti-nantikan oleh para siswa, panggung unjuk bakat. Peraturannya bebas dan santai, siapa saja yang memiliki keberanian boleh maju ke tengah lingkaran untuk menampilkan apa saja, mulai dari puisi, komedi tunggal, hingga bernyanyi.

Beberapa perwakilan kelas sudah maju dan berhasil mencairkan suasana dengan aksi-aksi kocak mereka. Rio bahkan sempat maju bersama beberapa anak laki-laki kelas lain untuk menampilkan tarian modern yang mengundang gelak tawa seluruh lapangan.

"Ayo, selanjutnya siapa lagi? Jangan mau kalah dengan kelas sebelah!" seru Kakak Dewan Ambalan yang bertindak sebagai pembawa acara menggunakan pelantang suara.

Tiba-tiba, Sarah menyenggol lengan Cinta dengan heboh. "Cin, kamu maju dong! Suaramu kan bagus banget. Ayo, tunjukkan pesona Sekretaris MIPA 1!"

Cinta terbelalak, langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Ih, enggak mau, Sar! Malu, dilihatin seangkatan begini."

Namun, Sarah bukan tipe orang yang mudah menyerah. Gadis itu justru berdiri dan berteriak kencang, "Kak! Ini Kak, Cinta dari MIPA 1 mau menyanyi!"

Mendengar teriakan Sarah, perhatian Rio dan anak-anak MIPA 1 lainnya langsung teralih. Dengan cepat, mereka ikut bersorak memprovokasi. "Cinta! Cinta! Cinta! Ayo maju!"

Cinta merasa wajahnya memanas karena mendadak menjadi pusat perhatian. Ia melirik ke sekeliling, mencoba mencari perlindungan, namun matanya justru menangkap sosok Rian yang duduk di seberang lingkaran. Cowok itu tidak ikut berteriak, ia hanya menatap Cinta dengan senyum tipis yang sarat akan dukungan, seolah berkata, 'Kamu pasti bisa.'

Merasa terdesak dan tidak enak jika merusak suasana, Cinta akhirnya berdiri dengan pasrah. Langkah kakinya terasa agak goyah saat berjalan menuju tengah lapangan, dekat dengan kehangatan api unggun. Kakak pembawa acara menyerahkan sebuah gitar akustik dan pelantang suara kepadanya.

Cinta menarik napas panjang untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh. Ia memosisikan jari-jarinya pada senar gitar, lalu mulai memetik sebuah melodi yang sangat familiar di telinga remaja masa kini yaitu sebuah lagu pop Indonesia yang manis tentang perasaan yang terpendam.

Begitu bait pertama mengalir dari bibirnya, suara riuh di lapangan perlahan mereda. Suara Cinta terdengar begitu jernih, lembut, namun berkarakter, berpadu indah dengan petikan gitarnya yang rapi.

"...Dan taukah kamu, akulah yang paling tahu..."

Saat menyanyikan lirik-lirik penuh perasaan itu, sesekali Cinta memberanikan diri untuk melirik ke arah Rian. Di bawah pendar cahaya api unggun yang menari-nari, tatapan mata Rian terasa begitu intens. Cowok itu mendengarkan setiap bait dengan saksama, seolah lagu itu memang ditujukan khusus untuknya. Senyum tipis tidak pernah lepas dari bibir Rian, membuat debaran di dada Cinta semakin menggila.

Ketika lagu berakhir, seluruh lapangan sempat hening sesaat sebelum akhirnya meledak dalam tepuk tangan yang sangat meriah. Banyak siswa yang ikut bernyanyi bersama, membuat penampilan Cinta terasa begitu hidup dan menyatu dengan suasana malam. Cinta membungkuk pelan, mengembalikan gitar, lalu berjalan kembali ke tempat duduknya dengan perasaan lega yang membuncah.

"Gila, Cin! Keren banget! Lihat tuh, anak-anak kelas lain sampai melongo," puji Sarah heboh saat Cinta kembali duduk di sampingnya.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Suasana riuh kembali mereda ketika sesosok gadis dengan langkah anggun berjalan menuju tengah lapangan. Dia adalah Clarissa. Rupanya, ia tidak ingin kalah saing setelah melihat bagaimana Cinta berhasil memukau seluruh lapangan, terutama setelah melihat cara Rian menatap Cinta tadi.

Clarissa menerima mikrofon dengan percaya diri. Tanpa menggunakan gitar, ia memilih menggunakan musik pengiring dari ponselnya yang disambungkan ke pengeras suara. Detik berikutnya, alunan musik bernuansa jazz melodi barat mulai mengalun. Clarissa menyanyikan sebuah lagu berbahasa Inggris yang bergenre cukup berat dan populer di kalangan tertentu di Jakarta.

Suara Clarissa sebenarnya tidak buruk, bahkan bisa dibilang cukup terlatih. Namun, atmosfer di lapangan perlahan berubah menjadi canggung. Lagu berbahasa Inggris dengan cengkok yang rumit itu terasa asing bagi sebagian besar siswa SMA 1 Nusa Bangsa yang lebih menyukai kebersamaan dan kesederhanaan. Alih-alih ikut bernyanyi atau bertepuk tangan mengikuti irama seperti saat Cinta tampil, para siswa justru mulai berbisik-bisik sendiri. Beberapa di antaranya bahkan asyik mengobrol, membuat penampilan Clarissa terasa dingin dan berjarak.

Clarissa menyelesaikan lagunya dengan senyum yang dipaksakan. Tepuk tangan yang ia terima terdengar sopan namun seadanya. Saat berjalan kembali ke barisannya, ia sempat melemparkan pandangan tajam ke arah Cinta, namun Cinta memilih untuk tidak membalasnya.

...****************...

Pukul sepuluh malam, acara api unggun resmi ditutup. Kakak Dewan Ambalan menginstruksikan seluruh peserta untuk segera masuk ke dalam tenda masing-masing dan beristirahat total, karena mereka akan dibangunkan kembali tepat tengah malam untuk agenda yang paling mendebarkan yaitu jurit malam.

Di dalam tenda yang remang-remang, Cinta berbaring berbantalkan tas kecilnya. Sebagai salah satu pengurus OSIS kelas XI, awalnya Cinta sempat berpikir bahwa ia akan ditugaskan untuk menjadi hantu yang menakut-nakuti peserta di sepanjang rute. Namun ternyata, setelah briefing singkat tadi, aturan dari sekolah menetapkan bahwa hanya pengurus OSIS kelas XII saja yang diperbolehkan menjadi hantu demi keamanan dan koordinasi yang lebih matang. Tugas kelas XI hanya fokus mengikuti kegiatan sebagai peserta.

Tepat pukul dua belas malam, suara peluit panjang yang melengking memecah kesunyian malam. Suasana mendadak menjadi tegang. Dengan mata yang masih setengah mengantuk, para siswa dibangunkan secara paksa dan dikumpulkan berdasarkan kelompok yang sudah dibentuk sebelumnya. Tiap kelompok terdiri dari empat orang.

Cinta berdiri di dekat koridor kelas yang gelap bersama timnya: Rian, Sarah, dan Rio. Di tangan Rio, sebuah senter kecil dengan cahaya yang mulai meredup menjadi satu-satunya sumber penerangan mereka.

Seorang Kakak Dewan Ambalan berdiri di depan mereka memberikan instruksi terakhir dengan wajah serius. "Tugas kalian di jurit malam ini adalah mengumpulkan stiker logo pramuka sebanyak-banyaknya yang telah disebar di dalam area gedung sekolah bagian barat. Waktu kalian hanya 15 menit dari sekarang. Kelompok dengan stiker terbanyak akan mendapatkan poin penuh. Ingat, jaga kekompakan!"

Setelah peluit tanda mulai ditiup, kelompok Cinta segera melangkah memasuki lorong gedung barat yang tampak sangat berbeda dari siang hari. Kegelapan gulita, bayangan pepohonan yang bergoyang tertiup angin malam, serta suara-suara aneh dari kejauhan langsung memicu rasa takut.

Baru saja berjalan beberapa meter di lorong, Sarah tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik menatap mereka. "Guys, dengerin deh. Area gedung barat ini luas banget, dan kelasnya ada banyak. Kalau kita berempat jalan bareng-bareng terus dalam waktu 15 menit, kita nggak bakal bisa dapat stiker banyak."

"Terus mau kamu gimana, Sar?" tanya Rio sambil mengarahkan senternya ke langit-langit koridor yang berdebu.

"Kita bagi dua tim saja. Aku sama Rio cari di lantai bawah, nah Cinta sama Rian cari di lantai atas. Jadi adil dan kita bisa mencar agar dapat stiker lebih banyak," usul Sarah dengan mata berbinar, seolah merencanakan sesuatu.

Cinta langsung membelalakkan matanya, menolak dengan cepat. "Eh, jangan, Sar! Nanti kalau kita melanggar aturan gimana? Takutnya didiskualifikasi kalau ketahuan mencar dari kelompok."

Sarah mengibaskan tangannya santai. "Lagipula tadi Kakak Dewan Ambalan cuma bilang jaga kekompakan, mereka tidak ada bikin aturan tertulis kalau keempatnya harus tetap gandengan tangan sepanjang waktu, kan? Yang penting pas keluar dari gedung ini, kita kumpul berempat lagi."

"Tapi, Sar—"

"Sudah, aman! Rio, ayo kita ke arah laboratorium dulu!" potong Sarah cepat, langsung menarik lengan baju kemeja pramuka Rio sebelum Cinta sempat menyelesaikan protesnya. Rio yang dasarnya penakut namun penasaran hanya bisa pasrah ditarik oleh Sarah menembus kegelapan lorong bawah.

Kini, di ujung tangga menuju lantai dua, tinggallah Cinta dan Rian berdua. Suasana mendadak terasa jauh lebih sunyi dan mencekam. Suara gesekan daun pohon beringin di luar jendela koridor terdengar seperti bisikan misterius. Cinta merapatkan jaket pramukanya, tubuhnya sedikit gemetar karena kombinasi antara udara dingin malam dan rasa takut yang mulai merayap.

Rian yang menyadari perubahan sikap gadis di sebelahnya itu perlahan menggeser posisinya menjadi lebih dekat. Tanpa sepatah kata pun, ia mengulurkan tangan kanannya dan meraih jemari tangan kiri Cinta, menggenggamnya dengan sangat erat dan hangat.

Cinta tersentak kecil, menoleh ke arah Rian dalam kegelapan. Meskipun ia tidak bisa melihat wajah Rian dengan jelas, kehangatan dari telapak tangan cowok itu mengalir langsung ke hatinya, seketika meredakan rasa panik yang sempat menguasai dirinya.

"Jangan takut," bisik Rian dengan nada suara yang sangat tenang dan menenangkan di dekat telinga Cinta. "Ada aku di sini. Aku tidak akan melepaskan tanganmu."

Cinta menelan ludah, detak jantungnya kini berdegup kencang bukan lagi karena takut pada kegelapan, melainkan karena perlakuan manis Rian yang tiba-tiba. Ia tidak menolak, justru membalas genggaman tangan Rian dengan sedikit lebih erat. "I-iya. Ayo kita mulai cari kelasnya."

Dengan satu senter cadangan yang dibawa Rian, mereka mulai melangkah menaiki anak tangga satu per satu, bersiap memasuki ruangan-ruangan kelas di lantai dua untuk mencari stiker misterius di tengah malam yang mencekam.

1
Restu Siti Aisyah
mampir kak👍
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!