"Setiap orang memiliki alasannya sendiri mengenai bagaimana ia harus bersikap. Jadi, tugas kita bukanlah untuk membenci ataupun bertanya mengapa? tapi kita wajib menghargainya"
.
Aisyah Raina Abdullah, gadis cantik yang memilih menutup dirinya, demi untuk menjaga marwah pribadinya juga keluarganya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia mengenal sifat. Ada yang murah senyum, ada pula yang dingin layaknya es.
Saat itu juga, Raina menemukan sosok pria yang sangat berbeda baginya, namanya Malik Fajar Admajaya. Akrab di sapa Fajar, ia adalah laki-laki yang memiliki sifat sedingin es.
Ia juga sangat membenci sosok wanita, kecuali sang Ibunda. Selama ini ia tak mau perduli dan tersenyum pada wanita manapun, kalaupun ia memiliki seorang 'wanita' itu hanyalah permainan baginya.
.
Kemudian, dua anak manusia yang berbeda karakter itu dipersatukan dalam mahligai cinta yang halal.
Walaupun pasti banyak rintangan yang akan menghadang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tris riyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Jatuh Cinta
Raina Pov
Aku tak tahu pasti kapan rasa ini timbul,
namun, yang aku tahu..
aku merasa nyaman berada didekatmu.
Apakah ini cinta? Aku tak tahu..
Atau.. ini hanya caramu saja, agar aku bahagia?
...-----♡●♡-----...
Malam ini jantungku agaknya tak mau diajak berkompromi. Setelah sosok Kak Fajar menghilang meninggalkanku di kamar, jantung ini masih saja tak mau berhenti malah semakin kencang saja dia berdetak.
Kemudian aku teringat, untuk menenangkan perasaan kita, kita bisa menggunakan air wudhu, segera dengan langkah cepat aku pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu untuk menangkan jantungku.
Walaupun tidak berdetak secara normal, setidaknya jantungku bisa sedikit relax setelah aku mengambil wudhu.
Setelah itu, aku merapihkan kembali pakaianku dan juga jilbab serta niqabku, aku harus cepat menghampiri Kak Fajar di meja makan. Jika tidak, entah apa yang akan dilakukannya nanti padaku.
Namun.. ketika aku turun dan hampir sampai di ruang makan, mataku tak bisa melihat apa-apa karena disini lampunya sudah dipadamkan.
Lalu kemana Kak Fajar? Bukankah dirinya juga bilang mau makan, dan menungguku di sini?
Segera aku menghidupkan ponselku dan mengaktifkan fitur senter yang ada, kuarahkan senter ponselku ke meja makan. Dan ternyata Kak Fajar sudah duduk manis disana, tanpa ekspresi apapun dan masih sibuk menata piring di atas meja.
Langsung saja aku mendekat dan mengambil salah satu kursi yang berada disamping Kak Fajar.
“Kok lampunya mati Kak?” tanyaku pelan.
Namun, tanpa menjawabku ia malah mengambil sebuah piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk.
Ok deh, mungkin dia masih marah padaku – batinku, dan aku masih memperhatikan Kak Fajar yang tengah sibuk dengan makanannya.
Aku kemudian memutuskan untuk diam dan mencoba mencari tempat yang cocok, untuk meletakkan ponselku agar bisa menerangi makan malam kami.
“Nggak usah di taruh senternya, pegang aja,” katanya, yang semakin menguji kesabaranku malam ini.
“Mana bisa makan aku, kalau pegang senter,” cicitku pelan, sepelan suara hati, hehe. Dan ku fikir Kak Fajar pasti tidak mendengarnya.
Namun secara tidak terduga dan tanpa aba-aba, kak Fajar menyuapkan nasi menggunakan tangannya padaku, dengan menggeserkan niqab yang kukenakan.
Kaget? Pastilah, kak Fajar memang susah untuk ditebak. Malahan setelah menyuapiku, ia tak mengatakan apapun atau bertanya sesuatu padaku.
Suasana hening sangat terasa malam ini, setelah menyuapkan nasi kedalam mulutnya, ia kemudian melihat kearahku dan sedikit tersenyum kali ini.
Kak Fajar tersenyum untuk pertama kalinya, dan itu ketika menghadap kearahku? – batinku yang masih terkesan, pada senyuman pertama yang Kak Fajar berikan.
Rasanya itu.. seperti aku sedang terbang bersama kawanan burung, yang sedang menikmati udara yang sejuk di atas awan. Yang ditemani oleh suara kicauan yang memabukkan, ya.. aku mabuk dengan senyumannya.
“Raina..” sapanya lembut kali ini padaku, yang membuatku tersadar dari pikiranku, yang sedang mabuk karena senyuman Kak Fajar.
“Iya.. Kak Fajar,” jawabku gugup.
Mungkin jika aku tidak memakai niqab, Kak Fajar akan melihat pipiku yang memerah seperti udang rebus.
Hatiku kehilangan kendali malam ini, bahkan jika aku menolaknya pun pasti tak akan bisa.
“Emmm.. mungkin rasanya aneh, untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu ini. Aku mencoba untuk menerima segalanya, dan kembali pada diriku yang dulu,” ucapnya terhenti.
Kemudian, ia tampak mencuci tangannya, lalu menghadapkan tubuhnya padaku.
Matanya tampak mencari celah, yang bisa membuatnya nyaman ketika berbicara padaku dengan menatap mataku.
“Betul, kamu akan bersedia menemaniku? Menerima kekuranganku? Atau bahkan jika aku bersalah, kamu akan memaafkanku dengan lapang dada, Raina?” katanya pelan, masih menatapku dengan penuh kelembutan.
Aku masih belum bisa menangkap perkataan Kak Fajar saat ini, aku masih sibuk dengan fikiranku dan senyumannya padaku.
Mungkin, karena tak mendapatkan jawaban dariku, Kak Fajar langsung menarikku dan seperti kejadian tadi, ia menyatukan hidung mancungnya dengan hidungku lagi.
“Aku ulangi sekali lagi. Dengarkan.. karena aku tidak akan mengulanginya lagi.”
Mendengarkan katanya kali ini, membuatku memasang baik-baik pendengaranku dan juga memperhatikan setiap kata yang ia ucapkan.
“Betul, kamu akan bersedia menemaniku? Menerima kekuranganku? Atau bahkan jika aku bersalah, kamu akan memaafkanku dengan lapang dada, Raina?”
Dengan tatapan nanar, aku menganggukan kepalaku pelan, sebagai tanda aku menerimanya.
Aku tak mengerti perasaan apakah yang sedang menghinggapi hatiku, nyaman rasanya berada sedekat ini dengan kak Fajar.
Dan apa ini? tanpa izin dariku, bulir bening dimataku tumpah. Itu pun karena perkataan lembut kak Fajar, rasanya sanubariku tersentuh oleh kelembutannya.
“Jika kamu ingin bahagia denganku dan melihat kebahagiaanku, serta memulai membangun kehidupan kita, jangan pernah teteskan air matamu Raina,” ucap kak Fajar sambil menyeka pelan mataku yang basah.
Kemudian kak Fajar melanjutkan katanya, “Jika kamu belum siap untuk membuka cadarmu, aku tidak akan pernah memaksamu. Karena aku tahu, kamu adalah wanita yang terjaga, dan apa lah aku yang banyak mempermainkan wanita selama ini.”
Aku masih tak memiliki kata-kata untuk menanggapi segala ucapan Kak Fajar. Aku tertegun, dan merasa tak percaya dengan semua kejadian di malam ini.
Jika memang Kak Fajar akan berjuang untuk senyumannya, maka aku adalah orang yang pertama yang akan menyambutnya, - batinku yang masih tak berani berbicara padanya.
Mungkin karena melihatku terdiam dan tidak menanggapinya, ia kemudian langsung beranjak pergi menuju kamar kami.
Ingin rasa aku memanggilnya dan mengatakan, iya Kak Fajar, aku akan bersedia menemani setiap perjalanan hidupmu.
Tapi apa yang bisa ku lakukan? Lidahku rasanya kelu dan jantungku rasanya berdetak semakin kencang.
Apakah ini cinta? Apakah aku benar-benar telah bersedia menyerahkan hidupku untuknya? Pertanyaan ini selalu menggangguku dan aku tak tahu akan sampai kapan, dan siapakah yang akan menjawabnya.
Setelah selesai dengan makan malam ku dan aku juga sudah membersihkan meja makan. Kemudian aku langsung memutuskan untuk masuk kedalam kamar, kubuka pintu secara perlahan.
Kulihat Kak Fajar sudah tertidur pulas di kasur bagian miliknya. Kulihat selimutnya tidak sempurna menutupi kakinya, segera aku menarik selimut itu untuk menutupinya.
Aku kemudian juga langsung merebahkan tubuhku, di tempat yang sudah Kak Fajar siapkan. Setelah mencoba untuk memejamkan mataku, aku masih belum bisa juga tertidur, aku masih memikirkan semua yang terjadi.
Aku masih memikirkan bagaimana nanti aku dan Kak Fajar. Bukankah akan aneh jika dia tak menghunuskan mata tajamnya lagi padaku? selama ini aku cukup nyaman dengan kebenciannya padaku.
Lalu.. jika ia berubah, aku harus apa? Apakah aku harus tersenyum padanya? Atau aku harus menyapanya ketika baru membuka matanya? Atau.. aku harus mengusap rambutnya?
Aaah.. aku harus apa?
Sedari tadi aku membolak-balikkan tubuhku, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB malam. Aku harus memaksa untuk memejamkan mata dan masuk kedalam alam bawah sadarku. Dan akhirnya aku berhasil juga terlelap.
...-----♡●♡-----...
Alhamdulillah bisa up lagi😁
Emm.. eps kali ini gimana ya menurut teman-teman?🤔
Support Raina dan Fajar terus yah, dengan cara..
Like🖒komen😀 dan vote ya🌷
Jazakillah Khair💖
semangat terus ya thor...
tetap semangat untuk karya selanjutnya .... love you full....😍😍😍
semangat ya....
aku udah baca sampai sini....
lanjut terooos....💪💪💪💪💪💪
di tunggu kelanjutan nya 👍👍❤❤❤
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa