Inayah, gadis cantik nan solehah, lahir disalah satu desa di kota Semarang harus menjalani takdir yang tak di sangka-sangka sebelumnya.
Tragedi tenggelam di sungai demi menyelamatkan baju kesayangan Ibunya, membawa dirinya harus menerima takdir menikah dengan laki-laki menyelamatkannya.
Menikah didesak warga karena sebuah kesalahfahaman. Menerima takdir adalah keputusan akhir yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Inayah yang berprinsip tidak mau berpacaran, dan Mas Gagah yang beberapa bulan lalu di tolak saat melamar kekasihnya. Mereka berdua ditakdirkan menjadi suami istri secara mendadak.
Bagaimana ya perasaan Inayah dan Mas Gagah, campur aduk tentunya.
Bagaimana kisah mereka yang sebenarnya??
Nantikan terus ya setiap episodenya, jangan lupa like, komen dan Vote😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Assalamualaikum, selamat membaca semoga hari ini sehat selalu yah.
Terimakasih sudah membaca.
Jangan lupa like, komen dan vote, terimakasih.
☘️☘️ Selamat membaca ☘️☘️
Aku menatap Mas Gagah yang sedang menelfon, seolah-olah aku tidak percaya bahwa Mas Gagah benar-benar akan serius akan menikahiku.
" Mas, aku mohon pikirkan kembali," Celetukku sambil menatapnya.
" Mas sudah yakin Nay"
Aku mendengus kesal, bukannya aku tidak mau dengan Mas Gagah, tapi pernikahan atas dasar 'tragedi' tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Bi Asih dan Mang Sobar perlahan meninggalkanku dan juga Mas Gagah. Mereka sangat tahu aku dan Mas Gagah memang perlu bicara serius.
" Apa aku tidak pantas untukmu Nay?"Tanya Mas Gagah.
Aku kaget mendengar Mas Gagah yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti itu. Aku menggeleng perlahan.
"Justru aku yang minder Mas, aku gadis biasa dari desa, tidak sepadan dengan Mas Gagah." Aku menunduk, mataku mulai berkaca-kaca, aku takut jika keluarga Mas Gagah tidak menginginkanku.
"Kamu bicara apa Nay, bukankah semua manusia sama dimata Tuhan, yang membedakan hanya keimanan."
Aku melirik Mas Gagah, aku tiba-tiba menemukan sisi lain dari Mas Gagah yang tidak aku temukan sebelumnya.
"Tapi orangtuamu Mas? Aku tidak yakin kalau keluargamu akan menerimaku."
"Mas sendiri yang akan meyakinkan keluarga Mas, kamu jangan khawatir."
Jawaban Mas Gagah sedikit membuatku tenang.
Kini saatnya aku ingin menanyakan kenapa Mas Gagah ingin menikahiku.
" Mas ... kenapa Mas begitu sukarela ingin menikahiku?" aku sangat penasaran dengan isi hati Mas Gagah.
" Karena kamu pantas dinikahi, bahkan kata teman-teman Mas waktu dipesta kemarin, bukankah mereka menilaimu sebagai calon istri idaman," jawab Mas Gagah.
"Kamu selalu menanyakan kenapa Mas tidak menikah saja, jadi Mas tidak perlu menyewa Asisten kan? Nah sekarang Mas akan menikahimu, kan kamu sudah hafal semua yang harus kamu lakukan jadi Mas tidak perlu mengajari istri Mas lagi nanti,"sambung Mas Gagah sambil terkekeh.
Aku sedikit tersenyum, pertanyaan yang malah membuatku serasa mendapat serangan balik atas pertanyaanku sendiri.
" Nanti pasti kita akan terasa canggung Mas"
" Kita akan perlahan saling mengenal, bukankah itu yang kamu inginkan, tidak ingin pacaran dan langsung menikah?"
Benar apa yang diucapkan Mas Gagah, mungkin ini adalah jawaban dari prinsipku selama ini.
Aku lalu berpamitan pada Mas Gagah ingin melaksanakan sholat istikharah untuk lebih meyakinkan diri lagi.
Rosulullah menjelaskan jika umatnya memiliki keinginan atau memilih keputusan yang terbaik, maka disunahkan untuk melaksanakan sholat istikharah. Sholat istikharah bisa dilaksanakan kapan saja, tapi alangkah lebih baik dilaksanakan pada waktu sepertiga malam.
Sholat istikharah adalah sholat yang bertujuan untuk meminta petunjuk atas masalah yang dihadapi oleh manusia. Karena sejatinya manusia adalah makhluk yang lemah. Ia memiliki keterbatasan kemampuan dan ilmu sehingga perlu petunjuk. Keputusan yang tepat untuk mendapat petunjuk adalah dengan meminta kepada Yang Maha Mengetahui yaitu Allah SWT.
Aku mengambil wudlu terlebih dahulu, lalu masuk kedalam kamar untuk melaksanakan sholat istikharah. Selesai sholat seperti biasa aku berzikir terlebih dahulu, setelah itu baru aku berdoa. Sebelum memulai doa aku diam sejenak, kejadian tadi pagi seolah-olah berputar kembali dalam ingatanku. Aku lalu menengadahkan kedua tanganku.
" Ya Allah, aku meminta petunjuk kebaikan Mu, dengan ilmu Mu, aku memohon keputusan Mu, dengan qudrat Mu dan aku meminta dengan karunia Mu yang besar, karena sesungguhnya Engkau yang berkuasa sedangkan aku tidak berkuasa. Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui dan Engkau yang Maha mengetahui segala yang gaib. Ya Allah sekiranya Engkau ketahui bahwa Mas Gagah nanti baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir dari perkaraku ini, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah ia dan berkahilah aku padanya. Namun jika sekiranya Engkau ketahui bahwa Mas Gagah nanti buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir dari perkaraku ini, maka hindarkanlah aku darinya, kemudian takdirkanlah untukku kebaikan bagaimanapun adanya, lalu berilah aku keridhoan dengannya, aamiin." Aku lalu mengusapkan telapak tanganku pada wajahku.
Aku memutuskan untuk istirahat sejenak karena siang nanti setelah sholat dzuhur rencananya aku, Mas Gagah, Bi Asih juga Mang Sobar akan menjenguk Ibu di rumah sakit. Aku dan Bi Asih istirahat di kamar Ibu, sedangkan Mas Gagah istirahat di Kamarku, sementara Mang Sobar ternyata sudah tertidur disofa ruang tamu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
( Minta komentarnya dong tentang novel terbaru ini, tadinya novel ini yg mau di bukukan, tp tiba-tiba Author ga PD, takut ga laku, akhirnya sudah lewat platform seperti biasa)
menurut ku ya thor 🤭✌