Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran dan Kekaguman yang Tersembunyi
Pagi ketiga di Hamptons, udara terasa jauh lebih dingin. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam yang menyengat di hidung. Arthur, Manuel, dan Elena sudah berada di dalam rumah kediaman Senator Grant sejak pukul tujuh pagi. Ruang tamu yang dulunya tampak begitu mewah kini telah berubah fungsi menyerupai markas taktis darurat, dengan meja yang dipenuhi tumpukan map berkas, laptop Elena yang terus menyala, serta foto-foto dokumentasi tempat kejadian perkara yang tersebar di mana-mana.
Arthur berdiri tegak di depan dinding yang dipenuhi oleh barisan catatan, sementara tangannya memegang secangkir kopi hitam. Elena duduk di depan komputer jinjingnya dengan jari-jari yang menari cepat di atas keyboard. Di sudut ruangan, Manuel berdiri lesu sambil memegang cangkir kopi ketiganya hari itu.
"Kau lihat ini?" kata Arthur sambil menunjuk ke arah salah satu foto makro. "Kartu King of Spades ini diletakkan dalam posisi terbalik. Itu jelas bukan sebuah kebetulan. Pembunuhnya ingin menyampaikan pesan bahwa Senator adalah seorang raja palsu."
Elena melirik sekilas tanpa menolehkan kepalanya sepenuhnya. "Kau kembali bertingkah sok psikologis. Posisi terbalik itu bisa saja terjadi karena pembunuhnya sedang terburu-buru."
Arthur menyunggingkan senyum miring, lalu melangkah mendekati meja kerja Elena. "Terburu-buru, tetapi sempat membersihkan seluruh jejak DNA tanpa cela? Kau ini sebenarnya seorang ahli teknologi atau ahli dalam membuat alasan?"
Elena menoleh tajam, sepasang mata birunya seketika menyala. "Dan kau ini sebenarnya seorang mantan pembunuh atau ahli dalam membuat drama? Setiap kali menemukan sesuatu yang kecil, kau langsung menyusun teori besar seolah-olah kau adalah Tuhan yang baru turun ke bumi."
"Wah, singa betina Rusia mulai marah," goda Arthur sambil bersandar santai di tepi meja. "Kau terlihat cantik kalau sedang marah. Namun, sayang sekali, pola pikirmu masih sekaku vodka yang membeku."
Elena berdiri secara tiba-tiba, membuat tinggi badannya kini hampir sejajar dengan Arthur. "Kau pria asal Wales yang suka minum teh dan berpura-pura intelek, padahal sebenarnya hanya tahu bagaimana cara menusuk orang dari belakang. Jangan sok mengajariku soal pembacaan bukti digital."
Manuel yang sedang meneguk kopinya langsung memijat pelipisnya dengan sangat kuat. "Demi Tuhan… baru jam delapan pagi dan kalian sudah mulai lagi. Aku benar-benar butuh cuti."
Arthur tertawa kecil, merasa terhibur. "Lihat, Manuel. Elena ini benar-benar menyerupai kucing Rusia, berwajah cantik tetapi langsung mencakar jika sedikit saja diganggu."
Elena menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Dan kau menyerupai anjing Wales yang suka menggonggong tanpa tahu kapan harus menutup mulut."
Keduanya saling melempar tatapan intens yang tajam. Udara di dalam ruangan terasa memanas meskipun mesin pendingin ruangan menyala dengan maksimal. Manuel hanya bisa mendesah panjang sambil melangkah pasrah menuju dapur kecil untuk mengambil beberapa butir aspirin.
Namun, secara diam-diam, saat Arthur membalikkan badannya untuk kembali memeriksa catatan lain di dinding, Elena menatap punggung pria itu dengan ekspresi yang perlahan melunak. Dia bergerak sangat cepat, pikir Elena dalam hati. Bagaimana mungkin hanya dengan melihat selembar foto lama, Arthur sudah bisa membaca simbolisme sedalam itu? Jika pria Wales ini terus berada di dalam tim, kasus serumit apa pun pasti bisa diselesaikan dengan jauh lebih cepat.
Elena menggigit bibir bawahnya pelan untuk mengusir perasaan aneh di dadanya, lalu kembali mengetik. Ia sama sekali tidak sudi jika Arthur sampai tahu bahwa di balik pertengkaran sengit ini, rasa kagum mulai tumbuh di dalam dirinya.
Beberapa jam kemudian, kerja keras Elena akhirnya membuahkan hasil yang krusial.
"Aku berhasil mendapatkan jejaknya," kata Elena tiba-tiba dengan nada suara yang berubah serius. "Server yang digunakan pelaku untuk mematikan kamera pengawas memiliki sistem enkripsi yang sangat canggih. Namun, ada sebuah backdoor berukuran kecil yang sengaja ditinggalkan di sana. Tampaknya pembunuh ini memang ingin kita menemukannya."
Arthur segera mendekat, mengambil posisi berdiri tepat di belakang kursi Elena. Aroma parfum ringan khas wanita itu tercium samar di indra penciumannya. "Tunjukkan padaku."
Elena memperbesar tampilan pada layar monitornya. "Lihat karakteristik pola kodenya. Ini jelas bukan hasil kerjaan peretas amatir. Ini adalah karya dari seseorang yang memiliki akses langsung ke dalam sistem jaringan pemerintahan."
Arthur menyipitkan matanya, mengamati barisan kode digital tersebut. "Atau bisa jadi dilakukan oleh seseorang yang pernah bekerja langsung di bawah perintah Senator Grant. Elena, coba kau periksa riwayat seluruh karyawan yang dipecat secara tidak hormat dalam kurun waktu dua tahun terakhir."
Elena melirik ke arah Arthur sekilas. Dia benar lagi, batinnya. Cara pria ini menghubungkan setiap titik petunjuk yang berserakan terasa sangat menakutkan, sekaligus luar biasa mengagumkan.
Namun, gengsi membuat mulutnya tetap mengeluarkan kalimat tajam. "Kau pikir aku belum memeriksa bagian itu? Jangan sok bertingkah menjadi bos di sini, Wales."
Arthur menyeringai lebar. "Aku tidak sok menjadi bos. Aku hanya sedang menjadi orang yang lebih pintar darimu hari ini."
"Hanya di dalam impianmu," balas Elena sambil memutar bola mata, meskipun sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman tipis.
Manuel yang baru saja kembali dari dapur hanya bisa mengembuskan napas panjang sambil kembali memijat dahinya. "Aku serius dengan ucapan ini. Kalau kalian berdua tidak bisa berhenti beradu mulut, aku akan mengunci kalian di dua kamar terpisah seperti anak kecil."
Arthur dan Elena menjawab secara bersamaan dengan kompak, "Dia yang mulai!"
Manuel mendesah frustrasi. "Aku benar-benar membenci pekerjaanku."
Sepanjang siang hari itu, riak pertengkaran kecil di antara mereka terus berlanjut. Namun, saat Elena berhasil memulihkan sebuah rekaman audio yang samar dari dalam server, Arthur langsung bergerak cepat menganalisis intonasi suara serta frasa kata yang terdengar di sana.
"Suara itu mengatakan, ini untuk yang dulu," kata Arthur dengan dahi berkerut. "Ini adalah manifestasi dari sebuah dendam lama yang mengakar, bukan sekadar urusan persaingan politik semata."
Elena mengangguk pelan, menyetujui analisis tersebut meskipun di depan umum ia tetap menyanggahnya. "Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan. Bisa saja kalimat itu hanyalah sebuah kode pengalih perhatian."
Jauh di dalam lubuk hatinya, Elena justru semakin terpesona. Arthur tidak hanya memiliki otak yang pintar, melainkan juga intuisi yang sangat tajam. Jika pria ini tetap bertahan di dalam tim dinas ini, ia merasa tidak akan keberatan sama sekali.
Sore harinya, mereka bertiga duduk beristirahat di teras belakang rumah Grant sambil menikmati secangkir kopi hangat di tengah embusan angin laut yang bertiup kencang. Arthur menyandarkan tubuhnya ke kursi, dengan Elena yang duduk tepat di sebelahnya, sementara Manuel berdiri mengawasi dari jarak yang agak jauh.
"Kau tahu," kata Arthur pelan, menatap kosong ke arah ombak, "aku dulu tidak pernah membayangkan akan bisa bekerja di dalam sebuah tim seperti ini. Dulu aku selalu menyelesaikan segalanya sendirian. Sekarang, justru ada kalian berdua yang selalu hobi berantem bersamaku."
Elena meliriknya diam-diam dari samping. Wajah tampan Arthur tampak gurat kelelahan, tetapi sepasang mata hijaunya tetap memancarkan fokus yang jernih. Dia benar-benar sedang berjuang untuk berubah, pikir Elena. Meskipun masa lalunya dipenuhi oleh lumuran darah, pria ini sedang mengetuk pintu kemanusiaannya untuk menjadi sosok yang lebih baik.
Namun, bibir Elena tetap memilih jalur sarkasme. "Jangan terlalu percaya diri. Aku berada di sini karena perintah kedinasan dari atasan, bukan karena aku sudi berteman denganmu."
Arthur tersenyum tipis, sangat paham dengan watak wanita di sebelahnya. "Aku tahu. Namun, diam-diam kau sebenarnya sangat mengagumiku, kan?"
Elena memutar bola matanya jengkel, meskipun semburat merah muda tidak bisa disembunyikan dari kedua permukaan pipinya. "Itu hanya ada di dalam mimpi basahmu, Wales."
Manuel yang mendengar percakapan itu dari kejauhan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menyunggingkan senyum kecil. "Kalian berdua ini, entah kapan bisa berdamai sehari saja."
Malam pun semakin larut menyelimuti kota, dan mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Di dalam kamarnya yang sunyi, Elena duduk sendirian di depan laptop. Ia membuka kembali berkas kasus dan mengamati lembar catatan psikologi yang ditulis oleh Arthur. Analisis pria itu sangat tajam, dengan pembedahan aspek psikologis yang luar biasa mendalam.
Elena mengembuskan napas pelan, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Bodoh," gumamnya pada diri sendiri di dalam kesunyian. "Kenapa aku justru berharap agar dia bisa terus bertahan di dalam tim ini?"
Di kamar sebelah yang hanya dibatasi dinding, Arthur sedang berbaring telentang di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. Sebuah senyuman kecil muncul di bibirnya saat memikirkan kembali riuh pertengkarannya dengan Elena hari ini. "Gadis Rusia yang galak… ternyata sangat menarik."
Pusaran kasus pembunuhan keluarga Senator Grant terbukti bergerak semakin dalam dan berbahaya. Namun, di tengah riuh pertengkaran dan rasa kagum yang sengaja disembunyikan, sebuah tim kecil yang solid perlahan-lahan mulai terbentuk, meskipun dengan cara yang paling tidak biasa di dunia.