Dikhianati kekasih dan juga sahabat sendiri adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang Gea Anastasya. Gadis 24 tahun itu sangat syok melihat secara langsung pengkhianatan dari dua orang yang sangat ia percayai.
Rasa kecewa Gea membuatnya mati rasa terhadap pria manapun, sampai akhirnya ia tak sengaja bertemu dengan Duda anak satu yang berhasil mematahkan janji Gea pada dirinya untuk tidak membuka hatinya kepada siapapun.
Mau tau cerita selanjutnya? Langsung klik subscribe yaaa!!! ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 16 : Persiapan Menjelang Pernikahan
Gea mulai merasakan kejenuhan yang tiada henti untuk persiapan menjelang pernikahannya dengan Radit. Belum lagi ia harus berulang kali izin untuk pergi ke KUA karena ada beberapa berkas yang belum lengkap.
Jam makan hingga jam istirahat Gea benar-benar terganggu hingga Gea harus minum vitamin untuk menunjang kesehatannya agar tidak jatuh sakit.
Melihat putrinya yang semakin hari semakin pusing dengan persiapan menjelang pernikahan, membuat Ibu Sri khawatir mengenai kondisi kesehatan Gea.
“Nak, kamu lebih baik istirahat lebih awal. Makan juga harus benar-benar teratur. Apa perlu Ibu yang menyuapi kamu agar kamu mau makan dengan teratur?” tanya Ibu Sri khawatir.
“Ibu jangan mengkhawatirkan Gea berlebihan seperti ini. Gea baik-baik aja kok, Ibu. Ini juga Gea selalu tidur lebih awal,” jawab Gea yang baru saja pulang dari kerja.
Gea menghela napas panjang setelah ia menerima pesan singkat dari Radit yang isinya adalah mengajak Gea untuk pergi fitting gaun pernikahan di butik langganan keluarga Radit.
Gadis itu tak bisa menolak ajakan Radit, meskipun sebenarnya Gea membutuhkan sekali yang namanya tidur.
“Ibu, Gea mau ganti baju dulu ya. Sebentar lagi Radit datang dan mengajak Gea keluar,” ucap Gea yang hanya bisa pasrah dengan kemauan Radit tersebut.
“Sekarang? Kenapa tidak makan dulu?” tanya Ibu Sri pada Gea yang berjalan menuju kamarnya.
“Gea makannya nanti aja Bu, bareng Radit.”
Tak berselang lama Radit datang menjemput Gea yang sudah menunggunya di ruang tamu.
Radit yang juga merasa lelah dan malas untuk keluar dari mobilnya, meminta Gea untuk bergegas masuk ke dalam mobilnya tanpa ada niatan untuk menemui calon mertuanya itu.
Melihat sikap Radit tersebut, Ibu Sri merasa sedih sekaligus kecewa karena Gea pergi menghampiri Radit keluar dan bukannya Radit yang mendatangi dirinya.
“Apa Radit benar-benar pilihan yang tepat untuk Gea Ya Allah?” tanya Ibu Sri bermonolog sembari mengamati mobil Radit yang sudah menjauh.
Di dalam mobil, Gea memilih untuk diam karena kesal dengan sikap Radit tersebut.
Menyadari bahwa Gea tak bersuara sedikitpun membuat Radit bertanya-tanya dan mengira kalau Gea sedang sakit.
“Kamu kenapa Gea? Kamu sakit ya?” tanya Radit sambil terus mengemudikan mobilnya menuju butik langganan.
“Kamu yakin nggak tahu apa kesalahan kamu, Radit?” tanya Gea lirih.
“Apa? Kesalahan apa?” tanya Radit yang tak mengerti dengan apa yang dikatakan Gea tersebut.
“Sudahlah, aku rasa tidak penting juga untuk membicarakan hal ini,” balas Gea yang memilih untuk diam daripada berdebat dengan Radit.
Radit menganggukan kepalanya sambil terus mengemudikan mobilnya dan akhirnya mereka sampai di butik tersebut.
“Ayo turun! Kamu harus mendapatkan gaun pernikahan secantik mungkin dan setelah itu aku akan mengajakmu ke rumah,” ucap Radit.
“Ke rumah? Aku rasa tidak perlu,” balas Gea yang masih kaku untuk menemui orang tua Radit.
“Kamu kenapa bicara begitu? Sebentar lagi mereka juga akan menjadi orang tuamu. Lagipula aku ingin kita bisa makan bersama di rumah,” tutut Radit seraya menyentuh lembut punggung tangan Gea.
“Benarkah? Kalau begitu setelah makan kamu harus segera mengantarkan aku pulang!”
“Tentu saja, apa kamu ingin kita tidur bersama,” ucap Radit serius.
Gea reflek memukul lengan Radit dan meminta Radit untuk tidak membahas hal tersebut sebelum terjadinya pernikahan.
Radit mengiyakan permintaan Gea dan berjanji tidak akan membahas ha apapun yang menurut Gea tidaklah pantas untuk dibicarakan.
“Ayo turun,” ucap Radit mengajak Gea untuk segera masuk ke dalam butik.
Pertama kali masuk ke dalam butik tersebut, Gea sangat terpukau sekaligus merasa tidak percaya diri. Semua pakaian yang ada di dalam butik itu sangatlah mewah dan Gea merasa kalau dirinya tidaklah cocok dengan gaun-gaun pernikahan di dalam butik tersebut.
“Selamat datang!” Beberapa pelayan di butik tersebut menghampiri mereka berdua dengan sangat ramah.
Malam Hari.
18 hari menuju pernikahan, Gea merasa semuanya terasa berat dan juga cukup melelahkan pikiran.
Belum lagi sikap orang tua Radit yang setiap bertemu dengan Gea tak banyak bicara. Orang tua Radit seakan tak menyukai dirinya dan hanya nampak seperti formalitas saja ketika bertemu dirinya.
“Assalamu'alaikum,” ucap Gea seraya memasuki rumah yang kala itu pintu rumah terbuka lebar seakan sedang menanti kepulangannya.
“Wa'alaikumsalam.” Ayah Budi dan Ibu Sri rupanya belum tidur karena menunggu Gea yang malam itu belum juga pulang.
“Ayah dan Ibu sudah makan?” tanya Gea seraya meletakan nasi goreng yang ia beli untuk kedua orang tuanya.
“Gea sendiri bagaimana? Apakah sudah makan?” tanya Ayah Budi yang lebih mengkhawatirkan Gea.
“Ayah sama Ibu jangan khawatir, Gea dan Radit tadi sudah makan.” Gea yang sudah sangat lelah memilih untuk masuk ke dalam kamar.
Setelah masuk ke dalam kamar, Gea tanpa sadar meneteskan air matanya. Ia tiba-tiba teringat dengan sikap Mama Rosa yang tak lain adalah Mama kandung dari Radit.
Beberapa jam yang lalu Radit mengajak Gea untuk menikmati makan bersama keluarganya dan selama berada di meja makan, orang tua Radit selalu membahas tentang teman wanita Radit yang telah sukses.
Meski Gea berusaha terlihat baik-baik saja, namun setiap perbincangan mereka mengisyaratkan kalau dirinya bukanlah siapa-siapa. Hanya wanita kelas bawah yang sebentar lagi dinikahi oleh Radit yang notabene adalah anak orang kaya.
“Sudahlah, untuk apa aku menangisi hal yang tak seharusnya aku pikirkan. Lebih baik aku mandi dan setelah itu tidur nyenyak,” ucap Gea menghibur diri agar tak berlarut dalam kesedihan.
Disaat yang bersamaan, Intan terkejut mendengar kabar bahwa Radit akan menikah dengan Gea yang jelas-jelas bahwa Gea sudah melihat dirinya tidur dengan Radit.
Intan tentu saja tidak akan tinggal diam setelah tahu kabar buruk tersebut. Ia tak ingin pernikahan Radit dan Gea terjadi. Terlebih lagi Intan sudah mengandung hasil cintanya dengan Radit.
“Aku harus mencari cara agar bisa bertemu dengan Gea dan memberitahu segalanya. Aku tidak ingin pernikahan diantara mereka terjadi,” ucap Intan bermonolog.
Malam itu juga, Intan mencoba menghubungi Radit untuk meminta penjelasan dari Radit soal pernikahan tersebut. Akan tetapi, nomor telepon Radit sama sekali tidak bisa dihubungi yang membuat Intan semakin frustasi.
Intan menginginkan penjelasan Radit sejelas mungkin karena saat itu posisi Intan benar-benar dipertanyakan. Intan tidak ingin bayi yang sedang dikandungnya lahir tanpa seorang Ayah.
“Apa aku harus menemui Mas Radit dijam malam seperti ini? Bagaimana kalau Mas Radit tidak ada di rumahnya?” tanya Intan bermonolog.
Pada akhirnya Intan mengurungkan niatnya menemui Radit di malam tersebut dan akan bertemu Radit keesokan harinya.