Kini aku sudah resmi menjadi istri dari Anggara Putra Gibson. Namun, aku menjadi istri kedua. Aku yang masih duduk di perkuliahan semester delapan, menyusun skripsi sembari menata hidup baru bersama lelaki yang sudah mempunyai istri itu, dan dia adalah suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustinara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16 KELUARGA NIDA
Lelaki dan perempuan itu saling tatap. Tiga detik mereka berdua menahan adegan saling pandang itu, akhirnya Luna menyunggingkan senyumnya duluan. Butuh dua detik untuk Anggara membalas senyuman calon istrinya itu.
Anggara berlalu melanjutkan langkah kakinya ke arah lantai dua. Luna berdungus dan juga lanjut melangkahkan kakinya ke pantry.
Anggara memasuki kamar pribadinya yang bernuansa biru tua itu. Ia terduduk diatas kasur sembari mulai mengotak-atik ponselnya. Ada beberapa e-mail dan pesan. Salah satu pesan yang masuk yaitu dari istrinya, Silvi.
Jantung Anggara berdetak kencang saat ia mulai memutuskan untuk membuka ruang pesan itu.
From: Wife
Telefonku kenapa gak diangkat? (18.01)
Angga? Kenapa sih? (19.54)
Angga pokoknya transfer aku uang sekarang ya, uangku udah menipis :( (20.30)
Yaampun kemana sih? Kamu ketiduran lagi ya? Atau ponsel kamu ketinggalan dikantor? (21.35)
Anggara menarik nafas dan membuangnya kasar. Bagaimana bisa SIlvi mengirim pesan seperti itu? Menanyakan kabar saja tidak. Ia hanya meminta uang untuk di kirim.
Tanpa membalas pesan dari istrinya, Anggara langsung membuka M-Bankingnya dan mentransfer sejumlah uang. Ia langsung me-screenshoot-kan bukti transfer ke ruang chatnya bersama Silvi tanpa mengetikkan apa-apa.
Dilihatnya pesan lain dari sekertarisnya, Cika. Ternyata Cika mengirimkan beberapa rentetan nama yang sudah ia kirimi undangan. Anggara membalasnya dengan stiker jempol saja. Lalu ia mencoba merebahkan badannya di atas kasur sembari menonton langit-langit kamar.
Ia memikirkan Silvi. Sedang apa ya dia? Di China sekarang sudah jam berapa? Apa dia makan dengan baik? Dia berbelanja apa saja sampai meminta uang untuk ketiga kalinya dalam bulan ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di otaknya. Ayolah Anggara, apa kau lupa bahwa Silvi baru saja berkhianat padamu? Seketika ia mengingat kembali foto-foto Silvi bersama lelaki lain. Tentu saja setelah mendapatkan sebuah foto yang janggal didalam akun seseorang, Anggara langsung menyelidiki segalanya tentang Silvi.
Ia mengecek keberangkatan pesawat yang sama dengan keberangkatan Silvi, mengecek rombongan mahasiswa dan dosen yang ikut, menyadap keberadaan Silvi di China, dan hal lain seperti potretan langit-langit kamar dan potret lain yang ia dapat dari seorang hacker.
Hacker yang Anggara sewa, melakukan pembajakan ponsel Silvi dengan cara memotret segala sesuatu yang ada di depan kamera ponsel. Ia bisa mengambil kejadian yang terjadi hari ini dari kamera depan dan belakangnya. Hebat bukan? Tentu saja. Temannya ini seorang hacker terkenal. Dia bekerja di suatu bank untuk keamanan ketat data dan uang bank swasta tersebut. Hal semacam bajak ponsel, ia bahkan bisa melakukannya dengan mata tertutup.
Anggara mengacak rambutnya asal dan mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar kalut sekarang. Tak sabar ingin menanyai segala yang sudah ia ketahui. Ingin rasanya ia menelfon istrinya sekarang dan meminta penjelasan. Tetapi, rencana pembalasan yang lebih besar sedang ia siapkan.
Anggara mulai menstabilkan amarah yang ada didalam tubuhnya. Mengatur nafas yang dari tadi terengah-engah karena emosi yang hampir memuncak. Ingin Anggara berteriak kencang dan langsung menyusuli istrinya, lalu memukuli selingkuhannya hingga mati.
Karena pasti Anggara tidak bisa istirahat detik ini. Ia mulai membuka laptopnya dan mengerjakan sesuatu yang bisa ia kerjakan. Walaupun faktanya pekerjaan kantor sedang tidak menumpuk. Kedua sekertarisnya memang hebat. Mereka mengerjakan tugasnya dengan sempurna.
***
Luna sudah membersihkan tubuhnya dari jam setengah enam pagi. Ia memakai pakaian yang sopan dan rapi hari ini karena akan ada keluarga calon suaminya. Walaupun semalam Luna baru bisa tidur dari jam dua pagi karena menunggu keluarganya sampai di Bandung, ia sebisa mungkin memaksimalkan diri untuk terlihat segar dan fresh.
Berkali Luna menelfon keluarganya yang sedang dalam perjalanan ke Bandung. Menanyakan rombongan itu sudah sampai dimana. Luna sudah pasti tidak bisa tidur atau mencoba tidur. Dan sampai telefon dari kakaknya Vina, memberitahu bahwa mereka sudah sampai di hotel dekat rumah yang Luna tinggali. Akhirnya ia bisa bernafas lega.
Luna sudah berkutik di dapur bersama Lala dan bunda. Walaupun Lala masih berumur sekitar dua puluh tahun, makanan yang ia buat sebagai koki di rumah ini sangat lezat. Bunda mendapatkannya di cafe temannya dua tahun yang lalu. Pertama kali Lala dekat dengan Luna saat ia menginjakkan kaki di rumah ini. Hingga Lala termotivasi dari Luna untuk berkuliah. Kini Lala mengikuti perkuliahan Akademi Tata Boga dengan uang gaji yang ia punya juga kegiatan lain diluar rumah Gibson.
Hari ini banyak sekali menu makanan yang mereka sajikan. Nasi liwet sudah jadi maskot makanan hari ini. Karena ini masih pagi, Luna dan Lala menyiapkan sarapan terlebih dahulu dan Nida menyiapkan makanan yang akan disajikan nanti siang.
Luna sangat pandai membuat salad buah. Dengan berbagai potongan buah segar juga saus mayones dicampur keju dan perasan jeruk lemon, membuat salad tersebut dirasa segar dan wangi. Luna memang ahlinya dalam makanan sehat.
Sekitar pukul tujuh, keluarga bunda Nida sampai ke kediaman keluarga Gibson. Kakek dan Nenek Anggara pun turut serta beserta kedua pamannya. Nida anak yang paling besar, mempunyai adik lelaki kembar yang masing-masing sudah menikah.
Ibunda Nida atau mbah putri dari Anggara dan Adhitya bernama Narti dan Ayahnya Nida atau mbah lanang dari Anggara dan Adhitya bernama Sukidjo. Nida mempunyai kedua adik lelaki yaitu Buntoro dan Bintara. Mereka sudah menikah. Buntoro memiliki anak lelaki yang baru menginjak bangku SMA yakni Sandika dan Bintara mempunyai anak pertama yang baru memasuki SMP yaitu Adelina dan balita kembar lelaki dan perempuan yakni Adelio dan Adelia.
Anggara sudah turun dari kamarnya dengan pakaian kerja. Luna sedikit heran mengapa Anggara memakai setelan bekerja, padahal seharusnya ia berdiam diri dirumah dan lagi hari ini adalah hari sabtu. Namun Luna tak mau ambil pusing tentang itu. Biarlah ia lakukan apapun sesuka hatinya. Yang terpenting Luna akan bersikap baik dan tetap menjadi diri sendiri dihadapan calon keuarga barunya.
Melihat wajah mereka, Luna sangat gugup. Ia sangat takut akan kedatangan mereka kemari. Apalagi tentang jawa yang tidak terlalu lekat dengan Luna karena dirinya tidak pernah menetap di Yogjakarta. Tetapi saat Luna bersalaman dengan semuanya, mereka seolah terkagum-kagum akan dirinya.
Wajahnya yang lokal, senyumnya yang manis, tutur sikap dan bahasa yang sopan, juga ramahnya seorang Luna membuat semua menatap Luna dengan hangat. Bahkan sikembar Adelio dan Adelia langsung ingin memanjat tubuh Luna. Ia jadi rindu kepada Zara, keponakannya yakni anak dari Vina. Dengan semangat Luna menggendong keduanya.
Tetapi ntah kenapa, Anggara sedikit kasihan melihat Luna yang mungkin sedikit kerepotan. Akhirnya Anggara mengambil Adelia dari gendongan Luna. Seisi rumah melihat kedua calon pasutri dengan mata berbinar.
"Yaampun le, kamu ni cah lanang serasi banget sama si neng." ujar mbah putri memuji. Muka Luna langsung memerah.
"Iyo to Anggara. Nah begini toh cari perempuan yang ayu dan juga sama-sama orang jawa. Semoga setelah menikah nanti kalian langsung dikasih kepercayaan anak ya.. Kasihan to mbakku ini ingin cucu" ucap Buntoro sembari melontarkan tatapan menggoda pada Anggara. Yang disindir hanya tersenyum remeh mendengarnya. Sedangkan Luna, ia hanya menunduk karena mukanya sekarang sangat memerah dan panas.
Belum mereka berlama di sofa, bunda Nida sudah cerewet untuk mengajak semua melangkahkan kaki ke meja makan. Sambil berjalan, Anggara berbisik kepada bundanya.
"Papah mana bun?"
"Dia kekantor"
"Lah? Ngapain?"
"Gantiin kamu sekalian liat-liat perusahan. Kan kamu besok nikah mas, gak boleh kemana-mana" ucap bunda dan langsung buru-buru berjalan mendahului anak sulungnya.
Adelio tak mau turun dari pangkuan Luna. Terpaksa Luna makan dengan sembari memangku dan menyuapi balita tersebut. Sedangkan Adelia, ia merengek ingin digendong papahnya karena mungkin Anggara tidak bisa menggendongnya dengan benar. Sehingga Adelia tak nyaman berada di pangkuan Anggara.
Semua berjalan dengan lancar. Mereka makan dengan lahap dan dengan kebahagiaan. Anggara melihat wajah bunda dan yang lainnya sangat ceria. Kecuali kakek. Ia sama sekali belum banyak bicara. Tetapi ia sempat menyapa Luna dan tersenyum hangat padanya. Ntah apa yang ada difikiran kakeknya itu, Anggara tak bisa membaca.
***
"Mas, suruh pak Edi jemput aku di Bandara nanti ya. Aku take of sebentar lagi" ucap Adhitya dari seberang sana.
"Iya. Hati-hati dek" ucap Anggara dan langsung menutup teleponnya.
Anggara sudah berganti pakaian dengan mengenakan pakaian santainya. Ia berganti baju karena tak diperbolehkan pergi bekerja oleh bunda. Dengan terpaksa, ia menurutinya.
Anggara turun dari lantai dua dan menghampiri kedua pamannya dan Sandika yang sedang duduk sembari bercengkrama di ruang tamu.
"Gimana usaha kamu Ngga? Lancar?" ucap Bintara.
"Lancar kok pakle. Rencana sih papah mau beli lahan di Palembang buat bisnis baru kelapa sawit"
"Ohiya? Kapan kamu bakal survei? Kebetulan pakle Bin mau kesana nih tahun depan. Istri pakle Bin kan orang sana, adiknya nikahan katanya" ucap Bintara.
"Kalo gitu sekalian dong temenin Angga kalo gitu. Mau kan pakle?" pinta Anggara.
"Hayuk lah."
"Ohiya San, sekolahmu gimana?" kini pandangan Anggara beralih ke calon ABG yang ada di sebelahnya.
"Lancar dong mas.. Banyak nerima surat cinta nih" ucap Sandika dengan sikap sombongnya. Tiba-tiba Anggara menjitak kepala Sandika dan yang dijitak meringis kesakitan.
"Gak boleh pacaran dulu! Sekolah yang bener kamu San! Awas ya kalau mas denger kamu macem-macem disekolah atau nakal mainin cewek!" ucap Anggara tegas.
"Dih mas, yang penting kan bukan San yang godain mereka duluan. Lagian gak tertarik tuh sama orang jawa. Cita-cita ku nikah sama orang bule! Bukan orang lokal" yang disofa semua tertawa.
Pandangan Anggara beralih ke kakeknya yang sedang duduk diluar dekat kolam renang. Dibalik kaca bening itu, terlihat kakeknya sedang duduk sembari menatap Adelia dan Adelio berenang dengan diasuh oleh pengasuhnya.
"Pakle, mbah kenapa ya? Dari tadi diem tuh" ucap Anggara menuduhkan arah pandangnya.
"Gatau juga aku le, padahal dia paling semangat tadi pas mau naik pesawat. Gak tau deh nyampe rumah malah bete gitu" ucap Buntoro dan Anggara mengangguk.
Ia pamit dari duduknya dan menghampiri kakeknya. Anggara duduk dikursi sebelah kiri kakeknya. Sukidjo menatap singkat dan kembali ke arah pandang semua, kolam renang. Anggara menghela nafasnya dan membuangnya perlahan.
"Mbah? Lagi mikirin apa?" ucap Anggara. Kini Sukidjo menoleh kepada Anggara dan menatapnya sendu. Ia lalu menarik nafasnya dan membuangnya sedikit kasar.
"Mbah lupa kalau ini pernikahanmu yang kedua. Mbah kira, Adit yang nikah sekarang. Mbahmu ini sudah tua ya nduk" ucap Sukidjo. Anggara tercengang dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kenapa? Kamu tidak menghamilinya kan?"
"Apa?! Kok mbah mengira Angga kayak gitu sih?" tanya Angga heran. Lagi-lagi mbah lanangnya itu menghela nafas. Tak lama dari situ, Luna datang dengan nampan yang diatasnya sudah ada dua gelas teh manis hangat. Ia merengkuh dan meletakan kedua gelasnya di atas meja yang membatasi kursi yang diduduki Anggara dan kakeknya.
Sukidjo menatap lekat-lekat dari tiap inci wajah Luna. Dugaannya kali ini semakin mantap. Ia mengenal seseorang yang sangat mirip dengan calon cucu iparnya ini di masa lalu.
"Silahkan.. " ucap lembut Luna. Sukidjo tersenyum lalu Luna berlalu setelah membalas senyuman calon kakeknya itu tanpa menoleh kearah Anggara.
"Ya selain itu, memang alasannya apa?" ucap Sukidjo yang kini hendak menyeruput teh manisnya.
"Saya mencintainya mbah"
***
Bonus foto Luna deh karena ada yg nunggu cerita ini😍
Bonus Anggara juga deh dari foto masa kuliahnya 😍
Udah up nih, jangan lupa komen dan like yaa...
kasihan mbak luna yg jd korban.
tapi y sdh lah, takdir kehidupan terus berlanjut, dengan jln ny masing2
Mugi yg bosan dengan usaha ny tuk tanggung jawab pergi.
raasain lo dilvi nikmati hasil yg kau tanam
pantes aja si silvi ngelunjak.
Anggara ny yg bego
udah di selinguhi, masih ja mau baikan.
stukurin ..bakalan ngebesarin anak orang yg nitip benih ny ke rahim silvi
tapi takut di cerai kan 😀😀😀
takit gsk dapatateri dari kamg Anggara 😁😁😁
gak bisa mov on dari istri tercinta ny yg terang2 an selingkuh di belakang ny.