Rivaldo Xendrick yang mengalami cacat fisik akibat terkena siraman air keras dari selingkuhan kekasihnya yang bernama Lucas Anderson.
Kecacatan fisik itu, membuat hidupnya menderita dan dicampakkan oleh semua orang. Banyak orang yang menjauh darinya karena menganggap bahwa Rivaldo sebagai monster yang menakutkan. Hidup menggelandang tanpa siapapun yang peduli akan hidupnya, sampailah suatu hari, ada seorang wanita yang suka rela merawat dirinya dengan tulus.
Bagaimana kehidupan Rivaldo setelah itu? Akankah ia bisa bangkit kembali dari keterpurukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liska Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Seorang Bos Mafia : Episode 16
Roma, Italia.
Rivaldo dan Nathan telah sampai di Roma, Italia. Ia menginap di salah satu hotel megah milik Mr. Johan yang ada di sini.
Mr. Johan adalah salah satu rekan bisnisnya, ia hadir di sini atas undangan dari pria itu. Bagaimanapun, Johan adalah sahabat dekat Ayahnya pada waktu lalu.
Pria itu telah berpakaian rapi mengenakan texudo miliknya. Dasi yang melingkar di kera bajunya, dihiasi jam tangan melingkar di pergelangan tangannya. Aroma tubuh pria itu berbau vanila, membuat Rivaldo semakin mempesona.
Dilihatnya jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Jarum jam telah menunjukan waktu yang tepat untuk acara undangan itu dimulai.
"Bos, apakah Anda telah selesai? Anak buah Mr. Johan telah menunggu kita untuk datang ke kantor peresmian," jelas Nathan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Tampak pria itu juga memakai stelan yang sama dengan Rivaldo.
"Ya, ayo berangkat sekarang!" seru Rivaldo sambil mengembuskan nafasnya dengan panjang, membawa tas mini miliknya yang berisi beberapa senjata pengaman.
Di balik penutup tubuhnya terdapat beberapa senjata di sana, dan di dalam kaos kakinya terdapat salah satu pistol mini, sengaja diletakannya di sana, sebagai pengaman, jika sesuatu yang buruk, terjadi pada mereka.
Rivaldo melangkah lebar, menuju loby. Di luar gedung hotel, sudah ada beberapa pria bertubuh kekar menyambut kedatangannya. Dan sebuah mobil, yang akan mebawanya ke kantor peresmian nanti.
"Nathan, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan nanti, jangan sampai lupa! Kita berada di Negara orang, maka dari itu, kita harus menjaga keselamatan diri kita masing-masing. Kita pergi berdua dan tidak membawa beberapa penjaga," peringatan Rivaldo kembali kepada Nathan. Agar berjaga-jaga nantinya. Musuh tak kasat mata, seringkali membuat mereka dalam bahaya.
"Aku mengerti, Boss." sahut Nathan mengatakan dengan serius. Kali ini, mereka jauh lebih waspada.
Musuh siap menerkam di manapun dan kapanpun ia mau, itulah musuh tak kasat mata. Seorang pemimpin seperti Rivaldo, tidak mungkin tidak memiliki musuh tak kasat mata. Bisa jadi, orang terdekat menjadi musuhnya dalam selimut.
Kedua pria itu masuk ke dalam mobil. Mobil yang membawa mereka melaju dengan kecepatan sedang. Selama di perjalanan, Rivaldo bersikap tenang dan damai. Sedangkan Nathan, sedikit merasa gelisah, takut jika sesuatu yang buruk menimpa mereka.
Entahlah, atau hanya sebuah firasat saja. Tapi hatinya, seakan tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi kepada mereka. Pria itu berusaha membuang semua pikirannya yang berkecamuk di dalam kepalanya. Semua firasat buruk, menyelimuti hatinya. Ada apa sebenarnya?
Tidak butuh waktu lama, mobil yang membawa mereka telah sampai di salah satu kantor peresmian Mr. Johan. Salah satu kantor cabang terbesar di Roma, Italia. Nantinya.
"Welcome, Sir," sapa beberapa pria bertubuh kekar sambil membukakan pintu mobil, mempersilakan kedua pria itu turun.
"Thank you." balas Rivaldo tersenyum ramah. Ia turun dan segera berjalan mendekat ke arah Mr. Johan, yang tengah berdiri di depan pintu gedung pencakar langit tersebut.
Rivaldo melangkah lebar berjalan ke arah Mr. Johan, diikuti oleh Nathan di belakangnya. Ia melewati kerumunan ramai itu, beberapa orang memenuhi lokasi tersebut. Begitu banyak Wartawan yang akan meliput berita ini.
"Selamat datang, Rivaldo," sambut Johan dengan bahagia. Melihat kedatangan orang yang paling berpengaruh di Asia.
"Kapan acaranya dimulai, Mr?" tanya Rivaldo langsung to the point.
"Ayo masuk, acara Konferensi Pers akan digelar sebentar lagi, menunggu kedatanganmu," kata Rohan dengan bahagia, karena tamu yang paling sibuk ini bisa datang ke acara peresmian kantor cabang miliknya.
"Baiklah, ayo!" seru Rivaldo sedikit merasa tersanjung. Ia mengembangkan senyumannya di wajahnya.
Ketika pria itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung, beberapa Wartawan memotret momen itu dengan perasaan bahagia, bisa mendapatkan gambar seseorang yang paling berpengaruh di Asia ini.
Tampak di dalam gedung, begitu banyak tamu undangan yang sama halnya berpengaruh, semua rekan bisnis Johan tampak sudah berkumpul di dalam ruangan tersebut. Semua mata menatap kedatangan Rivaldo bersama Nathan. Ada yang memberi selamat, dan ada yang merasa tidak suka akan kehadiran pria itu.
Rivaldo mendudukan bokongnya di salah satu kursi yang telah disediakan oleh Johan, bersama Nathan di sampingnya.
Acara dimulai, Johan mempersilakan para Wartawan meliput berita yang sedang berlangsung dengan meriah ini. Namun saat acara berlangsung, Rivaldo merasakan sedikit ada yang aneh, apa yang aneh dari dirinya? Entahlah ia pun tidak mengerti. Firasat buruk menyelimuti hatinya, pikirannya berkecamuk memikirkan Viona, kekasihnya.
Ada apa dengan Viona?
Laki-laki itu meraih ponsel yang ada di dalam saku celananya. Ia beranjak dari kursi itu lalu melangkah pergi dari ruangan. Nathan mengikuti langkah kaki pria itu dengan cepat.
"Bos, ada apa?" tanya Nathan sambil mengimbangi gerak jalan pria itu.
"Entahlah, Nath. Hatiku terasa sangat gelisah untuk sekarang waktu. Apa yang sedang terjadi pada Viona?" tanyanya cemas dan khawatir.
Saat sudah memasuki area sepi gedung tersebut. Rivaldo menekan panggilan untuk menelfon kekasihnya Viona, ia harus mencari tahu ini semua. Ada apa dengan wanitanya?
Panggilan itu ditolak mentah-mentah. Membuat Rivaldo menjadi semakin cemas dan khawatir dengan keadaan Viona. Apakah gadis itu sekarang baik-baik saja? Ataukah sebaliknya?
Tidak lama panggilan ditolak, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Terlihat pesan gambar itu, menunjukan foto Viona yang tengah tertidur di dalam pelukan Lucas, begitu banyak tanda kepemilikan Lucas di sana. Membuat Rivaldo mengertakan giginya marah, rahangnya mengeras.
Setelah menerima foto tersebut, ia membaca tulisan yang dikirim ke ponselnya.
"Wanitamu ada bersama denganku, aku sangat suka dengan pelayanannya, dia sedang ada bersama denganku, jika kau ingin melihat dengan mata kepalamu sendiri. Silakan datang ke lokasi Xxx dan jalan Xxx." Rivaldo membaca pesan itu dengan teliti.
Beraninya Viona bermain gila dibelakangnya. Selama ini, ia selalu memberikan ketulusan kepada wanita itu. Tapi sekarang, wanita itu berani mengkhianati dirinya dengan hal menjijikan seperti itu?
BRAKK!
Rivaldo menghempaskan ponselnya ke atas lantai dengan cukup keras. Emosi membara di dalam dirinya, perasaan kesal, marah, kecewa, sakit hati, menyesal, berkecamuk di dalam hatinya. Ia menyesal telah mempercayai wanita itu bahwa Viona begitu setia pada dirinya. Namun nyatanya gadis itu tega mempermainkan hatinya.
Nathan melihat kemarah pria itu begitu terlihat jelas di matanya.
"Argkhhh!" pekik Rivaldo marah, ia meremas kepalanya sendiri, ia merasa frustrasi sekarang waktu. Wanita yang telah dipercayanya, berani menduakan dirinya dengan cara murahan seperti itu, sungguh memalukan sekali.
"Bos ... Tenangkan diri Anda terlebih dahulu, Anda tidak boleh emosi untuk sekarang, di sini begitu banyak Wartawan, mereka bisa saja meliput Anda dan masuk ke dalam media cetak ataupun online," Nathan menasehati pria itu agar tidak emosi di sini.
"Urus acara di sini, aku akan segera pulang ke Indonesia, mengurus dua penjilat itu!" pinta Rivaldo dengan marah, rahangnya mengeras, dan bola matanya memancarkan aura kebencian.
Kala bener Rivaldo seorang Mafia, dia akan menugaskan anak buah nya utk membuntuti dan melaporkan setiap gerak gerik nya Viona, melaporkan segala rencana buruknya...
Tapi Rivaldo bukan Mafia, cuma pedagang senjata aja...